Hari ini, saya memikirkan beberapa orang. Tepatnya teman-teman yang sedang berada, atau pernah mengunjungi negeri lain. Baik yang jauh maupun dekat. Baik yang hanya terpisah garis imajiner, sampai yang terpisah oleh lautan dan dataran lain. Saya sering berandai-andai sebagai orang yang berada di sana. Pasti rasanya menyenangkan sekali, melihat tempat-tempat baru yang belum pernah dikunjungi dan selama ini hanya dilihat di televisi. Namun saya takut. Ya, saat ini saya tengah terjebak dalam sebuah kasur empuk menyenangkan dengan bantal guling dan selimut yang lembut pada pagi yang dingin berhujan. Itulah definisi zona nyaman menurut saya. Padahal sudah pukul 6 pagi. Alarm sudah berbunyi sejak tadi. Saya merasa gelisah dan ingin bangkit, namun kasur terlalu empuk untuk ditinggalkan, udara terlalu dingin untuk ditantang. Maka begitulah, saya tetap di sini, tidak pergi-pergi. Entah sampai pukul berapa, entah butuh berapa deringan alarm untuk terjaga. Atau harus dibangunkan paksa. Bahkan bisa saja saya tidak pernah bangun, sampai mati.
Untuk keluar dari zona nyaman ini memang perlu perjuangan dan keberanian yang besar. Setelah berhasil keluar pun, akan banyak hal yang mesti dihadapi. Sebut saja ancaman udara yang dingin. Namun ketika kita berhasil keluar, maka akan ada rasa bangga dan ada pengalaman yang tidak mesti dimiliki oleh orang lain. Wow, rasa kagum saya pada mereka semakin berlipat saja. Betapa luar biasanya orang-orang yang rela meninggalkan kasur empuk untuk menantang pagi yang dingin. Karena setelah itu mereka akan mendapatkan berkas-berkas sinar matahari yang indah, atau pemandangan hujan yang cantik. Sedangkan saya, dan semua orang lain, yang masih berbaring di kasur hanya dapat memandang iri dari kejauhan, dan sekali lagi berandai-andai...
Mimpi... Saya menyadari mimpi itu ketika membaca sebuah artikel di tabloid sepak bola. Cerita tentang seorang wartawan yang pergi ke Old Trafford. Begitu terpesonanya saya dengan suasana yang digambarkan di artikel itu. Bagaimana sang penulis naik trem ke Old Trafford dengan pendukung MU sebelum pertandingan. Bagaimana suasana di dalam stadion pada saat pertandingan Liga Champions melawan Real Madrid. Sementara pada saat yang sama saya ada di rumah, melihatnya dari layar televisi. Puaskah saya? Tentu tidak. Atau mengenai daerah Yorkshire, Inggris Utara, yang saya baca deskripsinya dari buku Herriot, Dog Stories. Begitu lihai cara beliau bercerita, sehingga dengan bantuan imajinasi berlebih yang saya miliki, tempat itu dapat tergambar dengan jelas, berlompatan dalam neuron-neuron otak. Karena buku itu, saya lebih ingin lagi pergi ke Inggris. Luar biasa Herriot itu, dengan bukunya ia dapat menginspirasi Andrea Hirata untuk jauh-jauh bersekolah ke Eropa dan menemukan Edensor.
Dan sekarang saya semakin gelisah di atas "kasur" ini. Saya merasa, hidup terlalu pendek jika hanya dihabiskan di satu kota saja. Menyusuri jalan-jalan yang sama, menghirup debu yang sama setiap hari. Bukannya saya tidak bersyukur akan kehidupan yang sekarang, bukan itu yang saya maksudkan. Bukankan wajar jika kita menginginkan sesuatu yang baru, peningkatan ke arah yang lebih baik? Ketika memandang langit saya selalu berpikir, Eropa, Amerika, Afrika, Asia, Australia, Antartika, Raja Ampat, Karimun Jawa, Malang, Yogyakarta, berada di bawah langit yang sama, berada di planet yang sama. Jadi, bukanlah hal yang mustahil untuk menuju ke sana. Namun bisakah saya? Mampukah? Beranikah? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang belum saya temukan jawabannya. Bahkan apabila kelak saya sudah memegang tiket pesawat, sudah berada di dalam pesawat yang akan lepas landas, siap menuju ke negeri yang diinginkan, saya masih buta akan jawabannya.
Oke, mungkin saya terlihat sangat pesimistik di tulisan ini. I can't help it, man. Jadi saya akan bangkit dulu dari tidur dan mengamati keadaan dari atas kasur ajaib ini. Saya akan bernyanyi-nyanyi dalam perjalanan melewati Jalan Godean, sampai ke Grha Sabha Pramana. Saya akan sangat tergopoh-gopoh mengambil kamera jika melihat matahari terbenam. Saya akan menikmati segala hal di Yogyakarta, yang sudah saya tinggali sejak lahir. Saya akan selalu tersenyum dan membahagiakan diri sendiri setiap hari, mumpung masih diberi hidup. Namun jika suatu saat ada pintu yang terbuka atau yang sengaja saya buka, akan saya masuki. Meskipun kelihatannya di balik pintu itu ada hutan belantara berbahaya. Siapa tahu dengan lewat hutan itu saya bisa sampai di Old Trafford :p.
Sebelum hal yang melebihi impian saya yang paling liar itu terjadi, saya masih akan ada di dalam zona nyaman. Jadi, sembari duduk di atas kasur empuk dan ajaib ini, sebelum ada pintu yang mengarah kemanapun, saya akan menuju ke negeri lain. Siapa bilang saya tidak bisa kemana-mana? Lewat pintu-pintu khayalan yang tersembunyi di lipatan-lipatan otak, izinkan saya menuju Alagaesia dulu :) *mulai membaca tetralogi Warisan (Inheritance)-nya Paolini :3.
Regarder gratuitement DONBASS Disponible
-
[Gratuit * HD *] Surveillance DONBASS (2018) Film complet. DONBASS peut
être regardé pour vous inscrire gratuitement. Regarder DONBASS avec la
qualité HD....
7 tahun yang lalu
0 comments:
Posting Komentar