Akhir bulan Maret, tepatnya tanggal 31 Maret 2013 bertepatan dengan hari Minggu, terjadilah peristiwa bersejarah dalam hidup saya dan teman-teman seperjuangan semasa SMA. Ya, pada akhirnya terwujudlah perjalanan yang sudah kami impi-impikan sejak masih berseragam putih abu-abu yaitu ke SOLO! Bukan sembarang perjalanan, karena kami akan menuju kesana dengan menaiki kereta api yang legendaris, Prambanan Ekspres alias Prameks. Sebuah perjalanan yang mungkin tak akan terlupakan untuk selamanya.
Cerita ini berawal pada suatu pagi pukul 04.00, ketika alarm di HP saya berdering dengan penuh semangat. Mata ini rasanya masih ingin terpejam, namun saya harus segera bangun. Ultimatum dari sang EO acara, Patrick, sangatlah jelas. Kami harus sudah sampai rumah Indah pukul 05.00. Maka dengan mata dan hati yang berat, saya segera mandi. Untung saja ibu dan ayah sangat baik, beliau berdua menyiapkan sarapan dengan mi lauk sisa kemarin dan memanaskan motor saya. Singkat cerita, saya mengendari si Vega seksi, motor tercinta di tengah dinginnya udara pagi dan bersama bapak-bapak atau ibu-ibu yang mau pergi ke pasar.
Sebelum menuju rumah Indah yang terletak di daerah Tamsis, terlebih dahulu saya menjemput Syscha (karena namanya susah ditulis, berikutnya akan saya sebut Senca :p), baru kemudian berangkat ke tujuan yang sebenarnya. Sampai disana, ternyata baru Patrick yang tiba, disamping sang tuan rumah tentu saja, sementara anak-anak lain belum tampak batang hidungnya. Setelah kami, datanglah duo macan, Ratri dan Simbok, kemudian disusul Widi. Karena yang lain belum juga tampak dan khawatir kehabisan tiket, Pat dan Sen memutuskan untuk terlebih dahulu membeli tiket di Stasiun Lempuyangan, sedangkan yang lain tinggal untuk menunggu Bekti dan Een yang belum juga datang.
Setelah banyak usaha telepon dan sms, akhirnya dua makhluk itu tiba juga. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB. Kami segera menuju Stasiun Lempuyangan dan disambut dengan fakta yang kurang mengenakkan, kereta api ternyata sudah berangkat pukul 05.00 tadi (kira-kira, lupa jamnya). Akhirnya kami terpaksa menunggu kereta berikutnya datang. Karena Prameks baru akan datang pukul 09.30, kami memutuskan naik Sriwedari AC yang berangkat pukul 08.30, walaupun tarifnya lebih mahal.
Proses mendapatkan tiket ternyata tidak semulus paha anggota girlband. Setelah sempat terkatung-katung di depan ATM sambil makan Sari Roti, pukul 06.30 kami hendak mengantri tiket. Ternyata loket belum dibuka, padahal jelas-jelas di samping loket ada tulisan bahwa penumpang dapat membeli tiket 2 jam sebelum keberangkatan. Mas-mas loket juga telah mengatakan pada Pat dan Sen waktu mengantri pada kesempatan pertama tadi bahwa tiket akan dijual pukul 06.30. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Menurut seorang mas-mas loket, loket baru akan dibuka pukul 07.30. Kami yang kecewa dan merasa ter-PHP oleh mas-mas loket, melanjutkan aksi terlantar di depan ATM.
Namun perjuangan kami akhirnya membuahkan hasil. Setelah mengantri bertiga (Pat, Bek, dan aku) selama setengah jam sambil memperhatikan video Ashanti yang sedang mempromosikan kereta api dan mengobrol dengan ibuk-ibuk yang tidak puas, kami mendapatkan 10 tiket seharga Rp. 20.000/ tiket. Kelebihan satu, karena satunya milik ibuk-ibuk yang minta diantrikan. Setelah teman-teman sarapan di depan stasiun, akhirnya kami dapat masuk ke dalam peron dengan selamat, sejahtera, berjaya, dan tidak kurang suatu apa.
Masa menunggu kami habiskan dengan mengantri di toilet (antrian di toilet wanita panjang, padahal toilet pria kosong) dan foto-foto di peron. Ketika sedang asyik berfoto, seorang mas-mas (lagi) yang-entah-petugas-apa, lewat dan menanyakan kami naik kereta apa. Kami tentu saja menjawab Sriwedari. Mas-mas itu berkata bahwa sebaiknya kami naik sekarang saja, sambil menunjuk serangkaian kereta yang baru saja datang. Kami menurut saja saran mas-mas itu dan segera memasuki gerbong dingin ber-AC itu.
Pada awalnya, saya dan Bekti yang duduk di sebelah saya mengira bahwa kami salah kereta, karena kereta ini malah berjalan ke barat, padahal Solo ada di timur. Sriwedari berhenti cukup lama di Stasiun Tugu dan kecemasan kami bertambah ketika menanti kereta berangkat lagi. Tapi untunglah, prediksi itu tidak menjadi nyata, sang kereta kembali lagi ke Stasiun Lempuyangan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Solo. Kereta yang kami tumpangi sangat nyaman. Semua bangkunya terisi penuh, namun tidak berdesak-desakan. Udaranya dingin dan tidak berisik kecuali saat lewat jembatan, seperti bus wisata yang tidak terjebak macet, sehingga menurut Bekti kurang terasa naik keretanya.
Sejam perjalanan tertempuh sudah, sampailah kami di Stasiun Solo Balapan yang terkenal lewat lagunya Didi Kempot. Bersama dengan penumpang lain, kami turun berombongan kemudian langsung berfoto di bawah tulisan "Solo Balapan". Kami rombongan berjumlah sembilan orang sehingga cukup menarik perhatian orang lain. Karena tidak bisa dibilang mirip ceribele yang sedang berpiknik ria syalalala, saya jadi terpikir mungkin kami kelihatan seperti ibu-ibu darmawanita yang sedang darmawisata :p.
Lalu, petualangan seperti apakah yang akan menunggu kami di Kota Solo? Simak lanjutannya di Part II! :3
Regarder gratuitement DONBASS Disponible
-
[Gratuit * HD *] Surveillance DONBASS (2018) Film complet. DONBASS peut
être regardé pour vous inscrire gratuitement. Regarder DONBASS avec la
qualité HD....
7 tahun yang lalu
0 comments:
Posting Komentar