Hari ini, saya malu menyandang status sebagai mahasiswa. Bukan apa-apa, dari tadi pagi sampai malam ini saya menonton, mendengar, dan membaca mengenai demo menolak kenaikan BBM, selalu timbul yang namanya kericuhan dan penyelenggaranya adalah mahasiswa. Dimulai ketika tadi siang menonton berita, ada mahasiswa berdemo menentang kenaikan BBM di Medan, kemudian tiba-tiba saja membakar dan menjarah sebuah restoran ayam goreng cepat saji. Yang langsung terlintas di pikiran saya adalah, apa hubungannya si restoran dengan BBM? Terus kenapa harus menjarah? Apa karena demonstran itu pada belum makan? Sebuah alibi agar bisa makan ayam goreng cepat saji yang biasanya memang mahal itu? My feeling is like so.. meh... -_-
Puncaknya adalah, ketika saya membaca berita di koran. Sekelompok mahasiswa dari organisasi yang mengatasnamakan agama berdemo di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta. Kali ini demonya diwarnai dengan pemblokiran jalan raya yang menyebabkan kemacetan panjang di hari Senin sore itu. Peristiwa yang saya baca di koran itu, dan paling membuat saya miris adalah ketika ada bapak-bapak yang minta ijin melewati blokade dengan mobilnya karena anaknya sedang sakit. Mulanya para mahasiswa tidak mengijinkan, tetapi akhirnya dibolehkan juga. Ironisnya ketika sudah diperbolehkan, beberapa mahasiswa malah memukul mobil tersebut dengan tiang bendera dan ada yang berkata, "Hajar saja.. Hajar saja..". Astaghfirullahhaladzhim. Saat itu saya benar-benar mengelus dada dan malu berat. Bisa-bisanya mereka yang mengaku MAHASISWA melakukan hal seperti itu, yang sama sekali tidak mencerminkan tingkat intelektualitas yang (seharusnya) tinggi.
Hallooooo... kalian para pendemo yang sampai memblokir jalan. Apa kalian tidak memikirkan perasaan bapak itu? Anaknya sedang sakit, harus buru-buru, lalu kalian begitukan? Tidakkah kalian punya empati atau minimal simpati bagi orang lain? Teman saya juga terpaksa membatalkan janjian wawancara dengan saya karena terjebak macet. Padahal wawancara itu untuk sebuah tugas yang harus segera dikerjakan. Oke, tidak usahlah membayangkan bagaimana perasaan bapak itu atau orang-orang lain, bayangkan saja jika kalian sendiri terjebak kemacetan di jalan itu, pada saat ada demo seperti itu. Kalian pulang kuliah, capek, mungkin sedang berpuasa karena sedang hari Senin, lapar, haus, bensin tinggal sedikit, tugas menumpuk, ingin segera pulang, dan... TADAAAA.. ada demonstrasi dengan memblokir jalan yang menyebabkan kemacetan super panjang. Apa yang kalian rasakan? Jawab saja sendiri, pasti tahu, kecuali kalau memang tidak punya perasaan.
Teman-teman mahasiswa demonstran yang budiman, demo itu boleh. Bagus malah, karena dapat digunakan sebagai sarana menyuarakan aspirasi kalian dan rakyat. Semua orang menjadi tahu isu apa yang ingin disampaikan dan ada kemungkinan turut mendukung. Tetapi lebih baik jika demo tidak mengganggu orang lain dan ketertiban umum. Kalian selalu mengaku menyuarakan aspirasi rakyat, membela rakyat kecil, ketika sedang demo, namun jika jalan diblokir yang terkena macet siapa? Itu rakyat yang kalian bela kan? Bukan menteri, anggota DPR, atau bapak Presiden. Demo sih demo, asal jangan membuat ricuh, membuat macet, dan merugikan orang lain. Kasihan rakyat, sudah BBM mau naik, eeh.. harus terjebak macet yang tentu saja menghabis-habiskan BBM kendaraannya. Katanya menolak kenaikan BBM, tetapi malah menyebabkan pemborosan BBM. Ironis ya...
Saya sebenarnya cukup salut dengan mahasiswa yang mau berdemo, karena itu berarti mereka mau membela kepentingan rakyat dan tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga diiringi dengan tindakan. Saya sendiri belum pernah ikut demo jadi tidak begitu mengerti motivasi mahasiswa mengikuti demo. Selama demo itu dilakukan dengan damai, tertib, dan tidak mengganggu khayalak ramai, saya setuju dan mendukung. Tetapi jika sudah model-model menutup jalan, bakar ban, bahkan aksi anarkis, mendadak saya menjadi malu karena satu spesies dengan mereka-mereka yang demo itu :(.
Wahai mahasiswa... kalau kalian memang ingin membela rakyat, lakukanlah dengan cara yang bijak dan di tempat yang tepat, misalnya di depan gedung DPR. Jangan malah menyusahkan orang sehingga masyarakat menjadi memandang rendah dan tidak lagi respek dengan kalian. Berpikir dan bertindaklah seperti titel yang kalian sandang. Ingatlah, terutama untuk mahasiswa universitas negeri, rakyat jugalah yang membiayai pendidikan kalian. Kalau kalian demo anarkis dan merugikan masyarakat di sekitarnya, diibaratkan seperti bertamu ke rumah orang, sudah disuguhi makanan enak, minuman segar, tetapi malah mengotori rumah. Apa kalian tidak malu? Saya yang cuma melihat saja sudah malu :3.
Belajar yang rajin, organisasi yang giat, demo jika perlu, dengan santun, dan ketika sudah lulus, kembalikan ilmumu pada masyarakat dengan mengabdi. Sebagai apa saja, asal bermanfaat.
Sebaik-baik orang, adalah yang bermanfaat bagi orang lain :).
HIDUP MAHASISWA! :D
Regarder gratuitement DONBASS Disponible
-
[Gratuit * HD *] Surveillance DONBASS (2018) Film complet. DONBASS peut
être regardé pour vous inscrire gratuitement. Regarder DONBASS avec la
qualité HD....
7 tahun yang lalu
0 comments:
Posting Komentar