Pages

Senin, 23 Desember 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 5, Hidup Sehari-hari Kita

Kehidupan kami dimulai ketika terdengar ketukan pintu dari luar, suara yang memanggil-manggil, dan suara itu tidak akan berhenti sampai salah satu dari kami menyahut. Suara seseorang yang sangat baik, yang tulus melakukannya meskipun kami tidak meminta secara langsung. Suara milik seseorang yang rela menempuh perjalanan menembus udara pagi yang dingin, tepat jam 4 pagi, saat bulan Ramadhan. Suara itu tidak lain adalah milik bapak semang kami, Pak Slamet. Beliau rela menahan bekunya udara Turi di pagi hari untuk membangunkan dan membuat kami selalu makan sahur. Saya yakin, apabila kami harus memasak sendiri, kami tidak akan makan sahur setiap hari.

Kehidupan kami di masa KKN dapat dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase Ramadhan dan bukan Ramadhan. Pada saat puasa, kami bangun pukul 4 pagi untuk sahur. Kami tidak melaksanakan makan sahur di pondokan, tetapi pindah ke rumah Pak Slamet yang masih satu halaman dengan pondokan kami. Sampai di sana, kami biasanya sudah disambut dengan karpet yang tergelar dan makanan yang terhidang, nasi, sayur, lengkap dengan lauk pauk. Tujuh gelas teh panas dan sebuah teko plastik berisi air putih hangat. Kami makan sambil menonton TV, biasanya menonton YKS yang ada goyang caesar-nya. Setelah makan, yang kebagian jatah piket akan mencuci piring dan gelas di sumur yang dinginnya minta ampun. Kemudian kami akan pontang-panting ke masjid untuk mengikuti sholat Subuh dan pasti jadi makmum masbuk. Sebenarnya apapun sholatnya, kami selalu masbuk, padahal jarak pondokan dengan masjid sangat dekat.

Setelah sholat Subuh, biasanya kami semua akan tidur lagi. Sekitar pukul 6 pagi, orang yang mendapat jatah piket biasanya akan bangun dulu untuk menyapu halaman depan pondokan. Kami memang memiliki jatah piket, setiap hari ada 2 orang yang harus piket, tugas-tugasnya mencuci piring, menyapu halaman, dan menyapu pondokan. Setelah selesai menyapu halaman, biasanya tidur dilanjutkan sampai jam 9. Kalau ada program kami akan bangun lebih pagi, kalau sedang kecapekan (contohnya tadi malam nonton film sampai jam 1), kami bisa bangun lebih siang. Kalau soal mandi, jangan ditanyakan lagi, kami minimal mandi jam 10 pagi kalau sedang tidak kemana-mana. Bahkan pernah kami semua mandi pukul 12 siang. Saat mandi, biasanya saya selalu berteriak-teriak saking dinginnya. Lebih heboh lagi kalau di kamar mandi sebelah ada Maya, kami berdua saling menanyakan keadaan dan berteriak bareng, menimbulkan paduan suara. Kadang-kadang saat mandi dijadikan ajang curhat, karena kamar mandinya bersebelahan dan kalau sedang mandi biasanya teman-teman lain menunggu di pondokan sehingga kondisinya lumayan ideal untuk curhat mengenai teman sepondokan.

Hal lain yang biasa kami lakukan jam segitu adalah mencuci pakaian. Cowok-cowok mencuci sendirian dan bergantian, sementara cewek-cewek lebih sering mencuci bareng. Bahkan kami pernah mencuci bertiga sekaligus. Selain mencuci, kami juga bersih-bersih pondokan, apalagi kalau pondokan sudah mulai terlihat berantakan. Pada jam pulang sekolah, anak-anak sekitar suka bermain di halaman depan pondokan dan di dalam pondokan. Kalau tidak ada program, kami akan meladeni mereka sampai capek sendiri. Siang hari (kalau berhasil mengusir anak-anak keluar) kami tidur siang sampai sore menjelang. Setelah Ashar, kami, atau lebih seringnya beberapa dari kami berangkat ke masjid untuk ikut mengajar TPA. Kemudian takjilan di masjid bersama pemuda/i masjid dan anak-anak TPA, snack, minum, plus makan. Lengkap pokoknya. Belum lagi teh dan penganan yang selalu disediakan Bu Karsini, istri Pak Slamet di pondokan. Setelah itu dilanjutkan sholat Maghrib, tadarus bersama di pondokan, barulah sholat Tarawih. Pulang Tarawih, di rumah Pak Slamet sudah tersedia makan malam. Pantas saja setelah pulang KKN badan saya menggendut. Kadang kalau sedang ingin jajan atau melarikan diri dari TPA, kami buka bersama di luar. Makan-makan bareng di slenget enthok, mbakso, atau nyate, dan baru pulang menjelang atau setelah sholat tarawih.

Seusai tarawih, masjid dusun kami menyelenggarakan tadarus Al-Quran. Saya hanya pernah ikut beberapa kali saja, karena tidak kuat dengan dingin dan ngantuknya. Sedangkan Mukhlis dan Memey ikut hampir setiap malam, kecuali kalau ada program atau sedang balik. Bahkan mereka ikut i'tikaf di masjid. Kereen. Kami yang lain menghabiskan malam dengan  nonton film dan mengobrol, menunggu Mukhlis dan Memey pulang. Ada lagi ritual malam yang sering kami lakukan saat sedang lapar berjamaah, yaitu membuat indomie. Di pondokan ada sebuah kompor gas yang dipinjamkan Pak Slamet. Dengan itu, beberapa bungkus indomi yang dibeli salah satu dari kami saat turun, cabe rawit, sawi hijau, dan kadang-kadang telur, kami membuat pesta kecil sendiri. Makan mie panas bersama-sama dan saling mencicipi mie milik teman, sambil ngobrol atau nonton film. Biasanya kami semua baru akan tidur tengah malam, setelah lelah dengan bergam "pesta" yang kami adakan sendiri.

Saat bukan bulan Ramadhan, inti kegiatan sehari-hari kami sebenarnya sama saja. Hanya bangun setelah sholah Subuhnya saja yang berbeda, yaitu pukul 7 pagi, kalau piket pukul 6 pagi. Walaupun sudah diundur bangun paginya, tetap saja Pak Slamet harus mengetok-ngetok pintu saat tiba waktu sarapan. Memang super kebo para mahasiswa ini. Selanjutnya sisa hari berjalan seperti biasa, minus takjilan dan sholat tarawih, TPA juga libur setelah lebaran. Perbedaan lain, ada makan siang dan tidak ada lagi cuci piring sebelum Subuh.

Tempat KKN kami tidak jauh dari Kota Jogja, karena itu kami sering pulang, baik ke rumah maupun ke kosan. Minimal seminggu sekali, salah satu dari kami pasti akan meninggalkan pondokan. Alasannya beragam, mulai dari mengurus program, ada acara di rumah, buka bareng teman, mau bertemu dengan seseorang, futsalan, mau membeli barang, sampai karena tidak mau ditinggal temannya yang sedang turun (lho?). Selalu menyenangkan bisa melepaskan diri sejenak dari dinginnya udara di lereng Merapi. Tetapi ketika sedang turun, saya selalu kepikiran dengan pondokan dan teman-teman yang tinggal di atas. Bahkan pernah saat sedang menginap semalam di rumah, saya mengalami disorientasi ketika baru bangun tidur. Kaget dan heran, ketika mendapati saya tidur sendiri, di kamar yang berbeda, dengan perabot yang berbeda, dan tanpa keberadaan dua, atau enam manusia lain di samping saya. Ternyata saya bisa juga merasa betah pada sebuah tempat yang mulanya saya anggap sebagai "neraka yang dingin".

Itulah gambaran kehidupan sehari-hari kami sewaktu KKN. Santai, jauh lebih santai daripada yang berani saya kira. Mungkin kami tidak terlalu serius, atau apalah, tetapi yang jelas setiap detik di sana meninggalkan kenangan tersendiri. Kalau saya ingat saat sebelum dan pertama kali datang, yang sempat merasa takut tentang bagaimana saya harus menjalani hidup, rasanya sangat lucu, karena semuanya tidak seperti yang pernah saya takutkan, atau harapkan, terjadi. Semuanya jauh, jauh lebih menyenangkan. Memang kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam sebuah kolam, seberapa dingin airnya, dan seberapa dalamnya, sampai kaki kita sendiri masuk ke kolam itu :).

Kamis, 19 Desember 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 4, Geng Horor

Sudah dini hari, tetapi saya tidak bisa tidur akibat efek kopi hitam yang sudah tandas dan tinggal ampas ini. Oleh karena itu, sekalian saja saya lanjutkan cerita-cerita soal KKN ini. Mumpung sedang ingin menulis. Mumpung sedang rindu pada teman-teman sepondokan. Kebetulan, cerita yang akan saya tulis ini berkaitan dengan mereka semua. Dengan kegilaan kami. Dan dengan film horor *shiver*.

Tersebutlah sebuah rumah kosong di Dusun Kloposawit, Desa Girikerto, Kecamatan Turi. Rumah ini dulunya milik kakak perempuan Pak Slamet, ketua RW 05, tetapi sudah tidak dihuni lagi karena empunya memutuskan pindah ke kota. Rumah itu menjadi tak berpenghuni, bahkan menjadi sarang maksiat. Setelah dikunci oleh Pak RW, rumah itu menjadi angker. Konon di situlah segala makhluk-makhluk bersarang, mulai dari yang kelihatan, seperti tikus dan kelelawar, sampai yang gaib. Rumah itu menjadi terlihat mengerikan dan tak terawat, bahkan anak-anak tidak mau bermain di halamannya yang luas. Tetapi pada awal Juli, seminggu sebelum bulan Ramadhan dimulai, mendadak rumah itu menjadi sangat ramai, terutama di malam hari. Ada apakah gerangan? Apakah setan-setan dugem, mumpung belum mulai puasa? Ternyata ada tujuh makhluk baru yang menempati rumah itu. Tujuh mahasiswa KKN-PPM UGM unit SLM-13 sub unit 2. Maya. Mukhlis. Memey. Gantang. Revta. Rizka. Dan saya sendiri. Dan mereka semua (termasuk saya) berisiknya minta ampun.

Dua di antara teman sepondokan saya, Gantang dan Revta, bisa "melihat" sesuatu yang gaib. Mereka mengatakan bahwa memang rumah yang kami huni memang penuh dengan hal-hal seperti "itu". Lebih menyebalkannya, mereka sering menggunakan "penglihatannya" untuk menakut-nakuti kami yang lain. Tetapi sudah tahu seperti itu, kami semua tetap melakukan suatu hal yang sepertinya dilakukan oleh setiap tim KKN (beradasarkan survei kecil-kecilan terhadap beberapa teman). Yaitu menonton film horor. Entah mengapa kami melakukannya, padahal kami semua penakut dan suheri (suka heboh sendiri) saat menonton film horor. Kami sok-sok berani saja, walaupun sebenarnya tidak berhasil.

Saya masih ingat benar, film horor pertama yang kami tonton bersama adalah sebuah film Korea. Judulnya adalah "White, The Cursed Melody". Kami menontonnya siang-siang, tetapi tetap saja teriak-teriak seperti anak alay. Sejak saat itu, kami, terutama cewek-cewek dan duo cowok, Gantang serta Revta, sering menonton film horor. Padahal Revta tidak suka film horor. Padahal saya juga tidak. Tapi karena nontonnya bareng-bareng, it's okay. Maybe. Saya sudah lupa film horor berikutnya yang kami tonton. Tetapi sejak saat itu kami mulai mencoba menonton film horor malam-malam, dengan lampu dimatikan.

Momen yang paling saya ingat adalah ketika menonton film horor dari Jepang, Ju On. Malam itu, kami baru pulang dari pelatihan komputer. Cuaca berkabut, sangat dingin dan mencekam. Cocok sekali untuk menonton film horor. Dan ya, setelah itu kami memang menonton film horor. Istimewanya, kami menonton menggunakan proyektor yang besoknya akan dipakai untuk program. Memakai speaker yang dibawa Revta. Dengan lampu dimatikan. Suasananya seperti nonton di bioskop. Kami bertujuh tiduran di atas kasur yang dialasi tikar dengan berselimut, karena sangat dingin. Gantang tidur paling pojok di samping tembok, sebelahnya ada saya, kemudian Maya, Rizka, dan Revta, semuanya menghadap ke layar. Mukhlis dan Memey tidur di kasur satunya karena mereka sedang tidak terlalu ingin menonton. Film dimulai dan karena layarnya besar, saya menutupi kepala dengan jaket, hanya sesekali mengintip saat adegannya tidak terlalu mengerikan. Saat hantunya muncul, kami selalu berteriak ketakutan. Teriakan kami mengandung dua makna sebenarnya. Satu, memang takut dan kaget melihat hantunya, dua, karena kaget mendengar Gantang berteriak. Gantang memang paling heboh teriaknya, bahkan pernah memukul saya yang tiduran di sebelahnya saking hebohnya. Pokoknya, malam itu kami benar-benar ketakutan. Acara menonton diakhiri malam itu, pukul 02.00 dengan ke kamar mandi berjamaah, karena tidak ada yang berani ke kamar mandi sendirian. Padahal kami sudah harus bangun jam 04.00 untuk makan sahur.

Dini hari itu, untuk pertama kalinya kami bertujuh tidur bersama, karena para cewek terlalu ketakutan untuk tidur di kamar. Saya tidur tidak nyenyak, selain karena kedinginan, juga masih terbayang dengan film horornya. Entah jam berapa, di luar terdengar suara "kresek-kresek", seperti plastik yang diseret-seret. Kami semua diam dan mendengarkan, sambil berharap itu cuma kucing yang mengacak-acak plastik sampah yang kami taruh di luar. Pukul 03.00, saya terbangun karena ada bisik-bisik di sebelah saya. Rizka berbisik kepada Maya bahwa dia kebelet pipis. Maya balas berbisik agar Rizka menahan pipisnya, nanti saja waktu sahur. Tetapi Rizka sudah tidak tahan. Merekapun bangun dan berusaha membuka pintu, yang ternyata sangat sulit dibuka. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka pintu dan ikut mereka. Sampai di kamar mandi yang sunyi dan gelap, Rizka masuk duluan sementara saya dan Maya menunggu di luar. Tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing dari belakang rumah (yang memang punya anjing). Tubuh saya sedikit gemetar, bukan hanya karena dingin, tetapi juga karena rasa merinding yang tidak dapat dijelaskan. Saya dan Maya hanya berpandangan, sambil memaki dalam hati, anjirr, ini anjing kenapa harus melolong-lolong sekarang?. Setelah Rizka selesai pipis, kami semua langsung ngibrit kembali ke pondokan dan selimutan lagi, sampai waktu sahur tiba.

Saya masih ingat beberapa dari film horor yang kami tonton, meskipun sudah lupa kronologisnya. Ada Orphan, Mama, The Grudge, The Ring, Fourbia 2, Tusuk Jelangkung, Shutter, Film Thailand tentang cewek kembar siam (lupa judulnya), dan Insidious. Yang paling menakutkan adalah film kembar siam dan yang paling heboh adalah saat menonton Insidious. Kami benar-benar menjerit-jerit dan gemetaran, setelah nonton kedua film itu kami bertujuh tidur bareng lagi. Tetapi tidak semua film horor yang kami tonton berhasil membuat ketakutan. Ada yang gagal karena filmnya memang tidak sesuai ekspektasi dan ada yang terjadi karena faktor X. Film yang tidak sesuai ekspektasi alias gagal horor adalah Fourbia 2 dan The Ring. Di Fourbia 2, cerita yang semula horor malah endingnya menjadi lucu, membuat kami semua melongo dan berpikir "what the hell". Di The Ring, klimaksnya sangat lama dan adegan horornya sedikit sehingga penonton sudah keburu bosan. Sedangkan faktor X ini, menurut saya sangat menggelikan. Saat itu kami sedang menonton The Grudge versi Jepang. Hantunya bernama Kayako dan ia mengerikan, bersuara "a...a....aaa...aaakkkk" seperti orang tercekik serta berjalan merayap-rayap. Saat ini saya membayangkannya saja sudah ngeri. Sebenarnya film ini lumayan menakutkan, tetapi efek horornya menjadi hancur karena satu orang, yaitu Memey. Saat adegan Kayako yang berjalan merangkak-merayap menuruni tangga untuk mendatangi korbannya, Memey malah dengan polosnya berkata, "Hantune kok malah push-up e". Kami tercengang memandangnya, tertawa terbahak-bahak, dan seketika hancurlah aura horor di film itu. Okay Mey, good job boy :3.

Nah, sepertinya itu saja yang dapat saya ceritakan soal film horor dan kelompok KKN saya. Saat menulis ini, saya benar-benar terkenang pada mereka. Gantang yang paling suheri saat menonton. Rizka yang selalu memakai kupluk rajutan milik Revta saat menonton, jadi filmnya hanya kelihatan samar-samar. Maya yang menjadi partner ketakutan saya yang paling setia (dan yang ketidurannya paling pertama). Revta yang selalu berkomentar aneh-aneh. Mukhlis yang jarang nonton film horor, tetapi sekali nonton juga heboh (walaupun belum seheboh gantang). Memey yang juga jarang nonton, tetapi sekali nonton bisa merusak atmosfer horor. Dan satu ritual yang selalu kami lakukan setelah selesai nonton film horor, yaitu ke kamar mandi bersama-sama :). Ah, how I miss that day... Dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul setengah empat pagi, saya mau tidur dulu, hari ini ada kuliah pagi ;).

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 3, Le Programme

Nah nah, lagi-lagi blog ini terabaikan. Tadi saya tidak sengaja nonton YKS dan ada lagu dangdut oplosan. Langsung saya ingat pada KKN dan tulisan ini, yang sudah lama mangkrak. Sekarang saya terpikir untuk melanjutkan, mumpung sedang ingin. Pada tulisan ini, saya ingin menceritakan mengenai program-program yang kami lakukan pada saat KKN. Karena esensi dari KKN adalah programnya. KKN tanpa program seperti sayur asam tanpa asam, dengan kata lain, tidak mungkin. Mau dapat nilai E atau bagaimana? Oke, saya sudah terlalu banyak melantur, mari langsung saja disimak...

Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya, ketika mendapatkan lokasi KKN di tempat ini saya langsung otomatis berpikir "What the hell? Pfft, what to do? what to do?". Sebelum KKN mulai, saya (dan teman-teman) mendapatkan pembekalan dari fakultas. Mengenai program, pihak fakultas ingin kami membuat program yang "nyikologis" dan tidak hanya mendompleng program kluster lain. Intinya, kami dituntut untuk berkontribusi sesuai ilmu kami. Hal itu membuat saya merancang beberapa program (dalam pikiran) yang sangat, sangat idealis, sangat psikologis. Saya berangkat ke lokasi KKN masih dengan mindset saya-mahasiswa-psikologi-maka-saya-akan-membuat-program-yang-nyikologis, semacam itulah.

Ternyata, kenyataan di lapangan sangat berbeda dengan idealisme saya. Sudah ada beberapa program yang harus dikerjakan kluster soshum, yang sudah disusun oleh kormater. Program tersebut cukup banyak untuk dibagi kepada seluruh mahasiswa kluster soshum. Lagipula di setiap sub-unit, yang dari soshum hanya ada 2-3 orang, sehingga pembagiannya mudah. Alhasil, saya melakukan program-program yang tidak terkait dengan psikologi. Membuat perpustakaan desa. Mengajar TPA. Membuat media promosi susu kambing. Membuat cookies. Membuat papan nama masjid. 17 Agustusan. Jalan-jalan ke kandang kambing (ini serius). Ada sih satu yang psikologi, tapi kurang optimal pelaksanaannya, gara-gara tidak ada saat yang tepat, dan gara-gara saya sendiri malas melaksanakan.

Alhasil, kerjaan saya waktu KKN adalah membantu teman-teman kluster sainstek melaksanakan program mereka yang memang banyak dan butuh tangan-tangan ekstra untuk menyelesaikannya. Membuat nomor rumah dan memasangnya, pelatihan komputer, plangisasi, sensus, peta, dan sebagainya. Saya makin terampil menggunting dan mengelem gara-gara program membuat nomor rumah dengan bahan semacam busa. Kaki saya menjadi kuat dan sehat karena jalan-jalan saat sensus dan memasang nomor rumah. Saya juga jadi berinteraksi dengan warga, dari rumah ke rumah. Saya jalan-jalan naik motor untuk survei lapangan saat membuat peta. Mengajari bapak-bapak membuat logo dengan corel draw. Melelahkan, tetapi juga menyenangkan.

Saya sangat bersyukur, mendapatkan teman satu sub-unit yang mau saling membantu. Kebanyakan program kami lakukan bersama-sama, kecuali jika ada yang berhalangan. Kami jalan-jalan melakukan sensus, memasang nomor rumah, mengajar TPA, pergi ke SD, ikut 17 Agustusan, memberikan penyuluhan, datang ke pertemuan warga, bertujuh. Bahkan kami pernah membuat DPL datang sekali lagi ke pondokan, karena pada saat kedatangan beliau yang pertama, kami semua sedang tidak ada. Kami berlima, karena Gantang sedang ada acara dan Rizka menjemput ustadzah pengajian di bawah, sedang memasang nomor rumah, ketika kabar kedatangan DPL sampai kepada kami. Tentu saja kami langsung shock dan pulang ke pondokan, mendapati ibu dosen sudah pergi, membuat kami cemas dan lumayan takut juga. Untung saja ibu DPS bersedia datang lagi besok sorenya dan memantau (padahal masuk pondokan saja tidak).

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kontribusi kami di tempat KKN cukup minim. Tidak ada program yang "uwow, keyeen, luarr biasa". Tetapi seperti yang dikatakan salah satu pemuda dusun kami, "Mas/Mbak KKN ini programnya saya akuin biasa saja, tidak kelihatan. Tapi saya senang, karena Mas dan Mbak mau "srawung" (bergaul) dengan warga di sini". Yap, KKN memang tidak melulu soal program. Itu penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa dapat berbaur dengan masyarakat di sekitarnya. Bagaimana mahasiswa dapat meninggalkan kesan baik dan diterima oleh masyarakat. Syukur-syukur dapat memberdayakan, itu akan sangat lebih baik. Percuma saja programnya keren, bagus, tetapi tidak dapat srawung dengan masyarakat, pasti eksekusinya akan berantakan. Karena bagaimanapun, masyarakat adalah sasaran dari program, tanpa kerjasama dari mereka maka program sebagus apapun akan sia-sia.

Terus terang, saya merasa sangat bahagia dan bangga ketika ada seorang warga yang memuji kami sebagai tim KKN yang semanak dan mau bergaul dengan warga. Itu semua berkat jasa duta besar kami, Mukhlis, yang menghubungkan semua anggota sub-unit kami pada warga, dengan bahasa Jawanya yang keren dan diplomasinya yang memikat. Gantang juga, yang ramah, lucu, dan dirindukan semua orang, baik tua maupun muda. Maya sang kormasit, yang mewakili segala negoisasi dengan pak dukuh dan warga. Rizka yang sabar dengan anak-anak. Memey yang selalu menjadi partner Mukhlis, dekat dengan pengurus masjid dan pemuda-pemuda. Revta, yang meskipun tidak bisa bahasa Jawa, komunikasinya dengan pihak yang "berkuasa" sangat bagus (dan sangat membantu saya, terima kasih, you're truly a communication science student :p). Dan saya? Berusaha menjadi partner yang baik bagi mereka semua, mungkin :).