Pages

Minggu, 21 April 2013

Menari


Kau menari. Kaki-kakimu menjejak tanah dengan luwes. Tanganmu mengibaskan sampur dengan gemulai. Bahkan wajahmu, matamu, seluruh bagian tubuhmu turut menari. Kau menari sampai keringatmu menetes, mengaliri kulitmu seperti linangan air hujan. Aku duduk di dekatmu, memperhatikanmu merangkai kibasan sampur, menghafal setiap senti gerak tubuhmu, menikmati liukan lentik jemarimu. Cahaya bulan purnama menyirami ragamu, menjadikanmu seperti bidadari yang turun dari khayangan. Gending mengalun sesyahdu tiupan angin. Menyaksikanmu menari malam ini, aku merasa menjadi orang paling beruntung di seluruh bumi.

***

Orang-orang bilang kami primitif, bahkan ateis, hanya karena kami tak memuja dewa-dewi yang mereka agungkan. Kami manusia purba dari zaman paleolitikum yang tak tahu peradaban. Kami menjadi topik panas gosip murahan, yang selalu mengalir dari mulut para wanita cerewet dan sok tahu itu. Tiada pergaulan bagi kami, tiada yang sudi bertandang ke gubuk mungil di bawah pohon beringin, tempat kami tinggal. Tetapi kepalamu tetap tegak, seakan semua itu hanya gonggongan anjing kurapan yang untuk berdiri saja tak mampu. Kau tetap tersenyum, menghadapi dunia seorang diri dengan tarian. Dan aku, meskipun tak pernah cukup membantu, meskipun sering merepotkanmu dengan segala keluh kesah dan tangisan, satu-satunya yang tetap di sampingmu. Kau yang selalu ada untukku, menghiburku, menghidupiku. Ah, betapa kau segalanya bagiku. Jika ada dirimu, aku tak akan butuh dewa manapun, terutama dewa-dewi itu.

Dewa-dewi, tiada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan sosok-sosok itu. Mereka makhluk yang berbeda dengan kami. Kulit mereka sebening kristal, bertubuh tinggi semampai, rambut beragam warna yang berkilat. Wajahnya tak bercela, halus rupawan dengan mata bersinar, hidung bangir, bibir tipis menawan, dan alis bagaikan barisan semut yang teratur. Cantik, tiada kata lain untuk menggambarkannya. Bahkan para dewa pun memiliki wajah secantik dewinya, meskipun dengan tubuh yang lebih berotot tentu saja. Mereka memakai pakaian yang indah, penuh warna, sangat berbeda dengan kami. Mereka pandai menari dan menyanyi. Suara mereka sejernih embun pagi, tarian mereka menghipnotis, kadang seluwes bambu tertiup angin, namun sering pula rancak dan menghentak. Selain menari dan menyanyi, mereka juga pandai berkisah, terutama cerita cinta. Kisah dari negeri dongeng yang membuai dan menghanyutkan. Benar-benar makhluk sempurna berwajah rupawan dan mampu membius dengan segala pesona yang ada. Pantaslah jika orang-orang memuja mereka.

***

Semenjak dewa-dewi itu menampakkan diri, kau berkata padaku bahwa dunia menjadi tempat yang membosankan. Dimana-mana, orang meniru para dewa-dewi, baik cara berpakaian mereka, gaya hidup yang diceritakan dalam kisah mereka, maupun melagukan dan menarikan kembali apa yang pernah ditampilkan. Para seniman membuat patung mereka, orang-orang berebut memasang gambar para dewa. Pemujaan massal merajalela, kuil-kuil didirikan. Jika dewa-dewi itu hendak tampil, orang harus berebut agar dapat menyaksikan. Tingkat pernikahan menurun, karena para wanita mendamba lelaki berwajah seperti dewa dan menganggap seluruh lelaki di yang ada tidak cukup tampan dan pantas untuk menjadi pasangan mereka. Begitupun para lelaki, wanita berwajah  bak dewi dan bertubuh aduhailah yang menjadi idaman. Pendeknya, dewa dan dewi telah menjadi pujaan dan teladan bagi masyarakat negeri ini.

Kau tidak pernah membenci mereka. Tidak sama sekali. Tapi bagimu mereka bukanlah dewa. Mereka hanya makhluk lain, yang berasal dari bahan lain dan belahan angkasa yang berbeda. Kau tidak mendendam, hanya sedikit kurang setuju dengan eksistensi mereka. Bagimu, mereka seperti menghapus identitas negeri ini. Tiada lagi orang yang menarikan tarian lama, hanya dirimu dan aku. Orang-orang dengan entengnya melupakan dan menganggap kuno budaya warisan nenek moyang. Membuat orang-orang berubah, menjadi semacam obsesif kompulsif jika sudah menyangkut para dewa-dewi itu. Hal apapun yang berbau-bau mereka pasti laris diburu. Teman-teman dekatmu dulu menjadi tak terkenali lagi. Bagi mereka, tiada topik pembicaraan selain mengenai dewa-dewi. Mencuri kehidupan lamamu, menjadikanmu orang buangan hanya karena tak sepaham dengan mainstream yang sedang berlangsung.

***

Hari ini, dewa dan dewi akan turun dari istana langit. Para wanita menjerit dengan penuh histeria ketika para dewa itu melangkah dari awan-awan untuk menuju ke kerumunan pemuja yang telah menunggu sejak kemarin. Ketika giliran para dewi yang unjuk diri, lelaki-lelaki yang jumlahnya lebih sedikit, ikut bersorak-sorai. Kemudian dewa-dewi itu mulai menari dan menyanyi, diiringi nada pujaan dari para pengikutnya. Semakin lama, kerumunan semakin membesar. Peluh menetes tiada diacuhkan, kondisi berdesakan dan panasnya udara tak ada yang peduli. Nyanyian dan musik hingar bingar, berkawin dengan gerak tari dan tubuh serta wajah indah, melahirkan vibrasi pesona yang sukar ditolak siapapun juga. Pesona itu menggeliat di udara dan menyebar bagaikan serbuk sari tertiup angin, hingga ke sebuah bukit tempat kami bersembunyi.

Kami duduk di puncak bukit rendah, tidak jauh dari tempat ritual itu. Tersembunyi di balik rimbunnya sesemakan tehtehan, kau menatap dewa-dewi itu dengan sinis, tanpa sekalipun berkedip. Baru pagi ini gubuk kami dilempar batu oleh seseorang. Bahkan tetua desa datang untuk mengajak kami menonton dewa-dewi beraksi dan berpartisipasi dalam pemujaan. Jika tidak, ia dan warga-warga lain tidak akan segan untuk menyeret kami keluar dari desa. Kau tetap tenang, wajahmu sekaku batu. Tetapi ketika mereka telah menghilang di kelokan, kau menggandengku dengan wajah muram dan mata berkaca, lalu mulai mendaki menuju tempat kami berada sekarang. Dan sekarang kami terpaksa menyaksikan dan menghirup pesona memabukkan yang mereka pancarkan, meskipun bagiku, dan aku yakin bagimu juga, keindahan itu hanya ilusi yang dibuat-buat, bahkan terasa agak memuakkan.

***

Berkas-berkas panjang sinar matahari menerobos masuk ke sela langit-langit kamar ketika aku terbangun pagi ini. Gubuk dalam keadaan sepi, terlalu sepi malah. Aku terduduk tegak, melempar selimut dan menilingkan telinga, mencoba mendengar suara indahmu. Suara nyanyianmu melantun tembang-tembang terlupakan yang selalu kau lakukan ketika menjerang air setiap pagi. Namun, hanya suara burung-burung dan dekut ayam betina peliharaan kami yang terdengar. Jantungku mulai berdebar kencang. Apakah terjadi sesuatu denganmu? Apakah ada orang yang menculikmu? Apa warga desa sudah bertindak? Apakah… Aku bergidik, lalu berdiri tanpa mempedulikan keadaan pakaian dan rambutku yang masih berantakan, dan berlari seperti orang lupa diri menuju jalan desa.

Semburan tawa terdengar riang meningkahi suara musik yang menghentak-hentak. Aku menghentikan langkah di balik sebuah pagar tanaman, mengenali tawa itu. Tepatnya, salah satu tawa yang mengalun seperti kicau kenari. Kutolehkan kepalaku ke asal suara, sebuah rumah dengan teras yang luas. Beberapa gadis nan modis berdiri di teras, kecuali satu gadis yang berpakaian biasa. Kau. Sedangkan gadis-gadis yang berdandan ala artis itu kukenali sebagai teman-teman lamamu. Salah satu gadis mengulurkan pakaian kepadamu, yang kau terima dengan wajah berseri. Kau menghilang sejenak ke dalam, kemudian keluar dengan balutan pakaian, yang kusadari, mirip dengan yang dipakai seorang dewi kemarin. Aku tercekat, kau terlihat sangat manis, lebih manis dari biasa. Tak lama kemudian, dara-dara itu mulai menari. Kau mulai menari. Namun bukan tarian biasanya, melainkan dengan koreografi ala dewa-dewi. Mulutku ternganga, tak percaya, sementara kau menari dengan lincah, berdendang riang, dan sesekali terbahak dengan suara burung kenarimu.

Air mata memburamkan pandangan ketika aku berlari pulang. Aku tak mau menegurmu. Bukan karena aku membencimu, atau murka atas pengkhianatanmu. Tidak, tidak akan pernah. Aku pergi karena kau terlihat bahagia, tersenyum lebar, dan matamu berkilauan. Seolah-olah, kehidupan yang pahit tak pernah ada, seperti barang berharga yang terampas telah dikembalikan. Kau kembali utuh, tanpa lubang. Sementara aku, sendirian. Manusia kesepian dengan lubang menganga di hatinya, lubang yang semula merupakan tempatmu. Bukan hanya lubang, melainkan hilangnya sebagian besar bagian, sehingga hatiku hanya tinggal cabikan. Tapi aku tak menyesal. Karena bagiku, kebahagiaanmulah yang terpenting. Jika disini, dengan tarian lamamu, dan denganku kau tidak dapat bahagia, maka kau bisa pergi, ke tempat dewa-dewi itu sekalipun. Walau mungkin itu akan melukaiku. Walau aku mungkin akan tetap mengharapkanmu pulang, dan menari seperti dulu lagi.

***

Matahari telah terbenam dan purnama kembali bertakhta. Kau belum juga menampakkan batang hidungmu. Aku bangkit dari perenungan di bawah pohon beringin dan menuju teras mungil gubuk kami. Kuraih sampur yang selalu kau letakkan di atas lincak. Kususuri kainnya yang lembut dan telah rapuh termakan masa. Kuikat di pinggangku, dan aku berlari menuju halaman, lalu mulai menari. Aku menari. Semakin lama semakin liar. Aku menari seperti orang kerasukan. Aku menari tanpa musik, tanpa nada. Hanya suara gemerisik dedaunan pohon beringin, binatang malam, debaran jantung, dan desahan nafas yang mengiringiku. Aku meliuk seperti gelora ombak Laut Selatan, menumpahkan segenap jiwa pada tarian. Keringat terhambur, memercik ke tanah. Sampur terkibas menampar udara malam. Aku menari, menari, dan menari hingga waktu seakan berhenti. Aku akan terus menari, sampai kau sudi kembali.

0 comments:

Posting Komentar