Kau menari.
Kaki-kakimu menjejak tanah dengan luwes. Tanganmu mengibaskan sampur dengan gemulai. Bahkan wajahmu,
matamu, seluruh bagian tubuhmu turut menari. Kau menari sampai keringatmu
menetes, mengaliri kulitmu seperti linangan air hujan. Aku duduk di dekatmu,
memperhatikanmu merangkai kibasan sampur, menghafal setiap senti gerak tubuhmu,
menikmati liukan lentik jemarimu. Cahaya bulan purnama menyirami ragamu,
menjadikanmu seperti bidadari yang turun dari khayangan. Gending mengalun sesyahdu tiupan angin. Menyaksikanmu menari malam
ini, aku merasa menjadi orang paling beruntung di seluruh bumi.
***
Orang-orang bilang
kami primitif, bahkan ateis, hanya karena kami tak memuja dewa-dewi yang mereka
agungkan. Kami manusia purba dari zaman paleolitikum yang tak tahu peradaban.
Kami menjadi topik panas gosip murahan, yang selalu mengalir dari mulut para
wanita cerewet dan sok tahu itu. Tiada pergaulan bagi kami, tiada yang sudi
bertandang ke gubuk mungil di bawah pohon beringin, tempat kami tinggal. Tetapi
kepalamu tetap tegak, seakan semua itu hanya gonggongan anjing kurapan yang
untuk berdiri saja tak mampu. Kau tetap tersenyum, menghadapi dunia seorang
diri dengan tarian. Dan aku, meskipun tak pernah cukup membantu, meskipun
sering merepotkanmu dengan segala keluh kesah dan tangisan, satu-satunya yang
tetap di sampingmu. Kau yang selalu ada untukku, menghiburku, menghidupiku. Ah,
betapa kau segalanya bagiku. Jika ada dirimu, aku tak akan butuh dewa manapun,
terutama dewa-dewi itu.
Dewa-dewi, tiada
kata yang lebih tepat untuk menggambarkan sosok-sosok itu. Mereka makhluk yang
berbeda dengan kami. Kulit mereka sebening kristal, bertubuh tinggi semampai,
rambut beragam warna yang berkilat. Wajahnya tak bercela, halus rupawan dengan
mata bersinar, hidung bangir, bibir tipis menawan, dan alis bagaikan barisan
semut yang teratur. Cantik, tiada kata lain untuk menggambarkannya. Bahkan para
dewa pun memiliki wajah secantik dewinya, meskipun dengan tubuh yang lebih
berotot tentu saja. Mereka memakai pakaian yang indah, penuh warna, sangat
berbeda dengan kami. Mereka pandai menari dan menyanyi. Suara mereka sejernih
embun pagi, tarian mereka menghipnotis, kadang seluwes bambu tertiup angin,
namun sering pula rancak dan menghentak. Selain menari dan menyanyi, mereka
juga pandai berkisah, terutama cerita cinta. Kisah dari negeri dongeng yang
membuai dan menghanyutkan. Benar-benar makhluk sempurna berwajah rupawan dan
mampu membius dengan segala pesona yang ada. Pantaslah jika orang-orang memuja
mereka.
***
Semenjak dewa-dewi
itu menampakkan diri, kau berkata padaku bahwa dunia menjadi tempat yang
membosankan. Dimana-mana, orang meniru para dewa-dewi, baik cara berpakaian
mereka, gaya hidup yang diceritakan dalam kisah mereka, maupun melagukan dan
menarikan kembali apa yang pernah ditampilkan. Para seniman membuat patung
mereka, orang-orang berebut memasang gambar para dewa. Pemujaan massal
merajalela, kuil-kuil didirikan. Jika dewa-dewi itu hendak tampil, orang harus
berebut agar dapat menyaksikan. Tingkat pernikahan menurun, karena para wanita
mendamba lelaki berwajah seperti dewa dan menganggap seluruh lelaki di yang ada
tidak cukup tampan dan pantas untuk menjadi pasangan mereka. Begitupun para
lelaki, wanita berwajah bak dewi dan
bertubuh aduhailah yang menjadi idaman. Pendeknya, dewa dan dewi telah menjadi
pujaan dan teladan bagi masyarakat negeri ini.
Kau tidak pernah
membenci mereka. Tidak sama sekali. Tapi bagimu mereka bukanlah dewa. Mereka
hanya makhluk lain, yang berasal dari bahan lain dan belahan angkasa yang
berbeda. Kau tidak mendendam, hanya sedikit kurang setuju dengan eksistensi
mereka. Bagimu, mereka seperti menghapus identitas negeri ini. Tiada lagi orang
yang menarikan tarian lama, hanya dirimu dan aku. Orang-orang dengan entengnya
melupakan dan menganggap kuno budaya warisan nenek moyang. Membuat orang-orang
berubah, menjadi semacam obsesif kompulsif jika sudah menyangkut para dewa-dewi
itu. Hal apapun yang berbau-bau mereka pasti laris diburu. Teman-teman dekatmu
dulu menjadi tak terkenali lagi. Bagi mereka, tiada topik pembicaraan selain mengenai
dewa-dewi. Mencuri kehidupan lamamu, menjadikanmu orang buangan hanya karena
tak sepaham dengan mainstream yang
sedang berlangsung.
***
Hari ini, dewa
dan dewi akan turun dari istana langit. Para wanita menjerit dengan penuh
histeria ketika para dewa itu melangkah dari awan-awan untuk menuju ke
kerumunan pemuja yang telah menunggu sejak kemarin. Ketika giliran para dewi
yang unjuk diri, lelaki-lelaki yang jumlahnya lebih sedikit, ikut bersorak-sorai.
Kemudian dewa-dewi itu mulai menari dan menyanyi, diiringi nada pujaan dari
para pengikutnya. Semakin lama, kerumunan semakin membesar. Peluh menetes tiada
diacuhkan, kondisi berdesakan dan panasnya udara tak ada yang peduli. Nyanyian
dan musik hingar bingar, berkawin dengan gerak tari dan tubuh serta wajah
indah, melahirkan vibrasi pesona yang sukar ditolak siapapun juga. Pesona itu
menggeliat di udara dan menyebar bagaikan serbuk sari tertiup angin, hingga ke
sebuah bukit tempat kami bersembunyi.
Kami duduk di
puncak bukit rendah, tidak jauh dari tempat ritual itu. Tersembunyi di balik
rimbunnya sesemakan tehtehan, kau
menatap dewa-dewi itu dengan sinis, tanpa sekalipun berkedip. Baru pagi ini
gubuk kami dilempar batu oleh seseorang. Bahkan tetua desa datang untuk
mengajak kami menonton dewa-dewi beraksi dan berpartisipasi dalam pemujaan.
Jika tidak, ia dan warga-warga lain tidak akan segan untuk menyeret kami keluar
dari desa. Kau tetap tenang, wajahmu sekaku batu. Tetapi ketika mereka telah
menghilang di kelokan, kau menggandengku dengan wajah muram dan mata berkaca,
lalu mulai mendaki menuju tempat kami berada sekarang. Dan sekarang kami
terpaksa menyaksikan dan menghirup pesona memabukkan yang mereka pancarkan,
meskipun bagiku, dan aku yakin bagimu juga, keindahan itu hanya ilusi yang
dibuat-buat, bahkan terasa agak memuakkan.
***
Berkas-berkas
panjang sinar matahari menerobos masuk ke sela langit-langit kamar ketika aku
terbangun pagi ini. Gubuk dalam keadaan sepi, terlalu sepi malah. Aku terduduk
tegak, melempar selimut dan menilingkan telinga, mencoba mendengar suara
indahmu. Suara nyanyianmu melantun tembang-tembang terlupakan yang selalu kau
lakukan ketika menjerang air setiap pagi. Namun, hanya suara burung-burung dan
dekut ayam betina peliharaan kami yang terdengar. Jantungku mulai berdebar
kencang. Apakah terjadi sesuatu denganmu? Apakah ada orang yang menculikmu? Apa
warga desa sudah bertindak? Apakah… Aku bergidik, lalu berdiri tanpa
mempedulikan keadaan pakaian dan rambutku yang masih berantakan, dan berlari
seperti orang lupa diri menuju jalan desa.
Semburan tawa
terdengar riang meningkahi suara musik yang menghentak-hentak. Aku menghentikan
langkah di balik sebuah pagar tanaman, mengenali tawa itu. Tepatnya, salah satu
tawa yang mengalun seperti kicau kenari. Kutolehkan kepalaku ke asal suara,
sebuah rumah dengan teras yang luas. Beberapa gadis nan modis berdiri di teras,
kecuali satu gadis yang berpakaian biasa. Kau. Sedangkan gadis-gadis yang
berdandan ala artis itu kukenali sebagai teman-teman lamamu. Salah satu gadis
mengulurkan pakaian kepadamu, yang kau terima dengan wajah berseri. Kau
menghilang sejenak ke dalam, kemudian keluar dengan balutan pakaian, yang
kusadari, mirip dengan yang dipakai seorang dewi kemarin. Aku tercekat, kau terlihat
sangat manis, lebih manis dari biasa. Tak lama kemudian, dara-dara itu mulai
menari. Kau mulai menari. Namun bukan tarian biasanya, melainkan dengan
koreografi ala dewa-dewi. Mulutku ternganga, tak percaya, sementara kau menari
dengan lincah, berdendang riang, dan sesekali terbahak dengan suara burung
kenarimu.
Air mata
memburamkan pandangan ketika aku berlari pulang. Aku tak mau menegurmu. Bukan
karena aku membencimu, atau murka atas pengkhianatanmu. Tidak, tidak akan
pernah. Aku pergi karena kau terlihat bahagia, tersenyum lebar, dan matamu
berkilauan. Seolah-olah, kehidupan yang pahit tak pernah ada, seperti barang
berharga yang terampas telah dikembalikan. Kau kembali utuh, tanpa lubang.
Sementara aku, sendirian. Manusia kesepian dengan lubang menganga di hatinya,
lubang yang semula merupakan tempatmu. Bukan hanya lubang, melainkan hilangnya
sebagian besar bagian, sehingga hatiku hanya tinggal cabikan. Tapi aku tak
menyesal. Karena bagiku, kebahagiaanmulah yang terpenting. Jika disini, dengan
tarian lamamu, dan denganku kau tidak dapat bahagia, maka kau bisa pergi, ke
tempat dewa-dewi itu sekalipun. Walau mungkin itu akan melukaiku. Walau aku
mungkin akan tetap mengharapkanmu pulang, dan menari seperti dulu lagi.
***
0 comments:
Posting Komentar