"Bahwa sesungguhnya di antara S dan Psi itu ada Kri.." (Virda, yang mendapatkan quote ini dari entah siapa)
Hari Rabu itu, tanggal 22 Januari 2014, saya sedang sibuk menjarkom teman-teman sekelompok berkaitan dengan foto buku angkatan yang akan kami lakukan besoknya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 11 pagi menjelang siang, ketika mendadak HP saya bergetar. Saya kira akan mendapati model kalimat balasan jarkom seperti "Siap bu bos!" atau "Oke cyiin" di layar HP. Ternyata bukan sms balasan seperti itu yang muncul, melainkan sms dari Ibu DPS saya yang tercinta dan cantik jelita, isinya:
"Semangat tahun 2014! Ku kangen Vita, Virda, Hani, Rahma, Yuni..."
Jegeerrr, saya langsung membeku sejenak sambil menatapi layar HP yang sudah baret-baret. Memang sudah 4 minggu lebih (uhuk) saya tidak sowan bimbingan ke Ibu DPS, terhitung sejak sebelum natal sampai saat ini. Kalau folder di laptop bisa berdebu, saya yakin ia sudah tebal debunya, bahkan mungkin ada sarang laba-labanya. Kali ini saya bernar-benar terlena, liburan akhir tahun sudah kebablasan terlalu jauh dan ketika tiba saatnya harus kembali ke kewajiban sebagai mahasiswa tingkat akhir, sulit sekali mengumpulkan niat yang sudah berserakan kemana-mana, bahkan mungkin sudah ketlingsut. Saya baru berani membalas SMS dari Ibu DPS dua jam kemudian setelah mengatasi perasaan malu, menyesal, dan bersalah di dalam diri. Akhirnya kami janjian akan bertemu Rabu minggu depan, 29 Januari 2014.
Dua hari sebelum hari H, inilah saya yang sedang (berusaha) mengerjakan bab III skripsi. Tetapi entah mengapa setelah menuliskan beberapa kalimat pendek di dokumen MS Word berjudul Bab III, saya berhenti, browsing-browsing dan akhirnya malah menulis di blog. Harusnya saya menulis skripsi kan? Sebenarnya kalau dipikir, menulis skripsi saat ini lebih mudah daripada jaman ibu bapak saya dulu. Referensi bisa diperoleh di internet, tidak melulu harus ke perpustakaan. Mengetik dan revisi pun jauh lebih mudah dengan berbagai program di komputer, tidak seperti dulu yang harus memakai mesin ketik. Kalau mau pakai cara busuk pun bisa, tinggal copy paste skripsi orang yang bisa ditemukan dengan mudah di Google. Lalu mengapa saat ini sepertinya saya sulit sekali untuk sekedar menulis "metode penelitian"? Karena, kalau di balik setiap kesulitan ada kemudahan, maka sewajarnya di balik kemudahan ada kesulitan. Internet memang menjadi sumber referensi yang paling hebat, sekaligus distraktor yang paling luar biasa saat sedang menulis skripsi.Godaannya itu, mulai dari sosial media sampai berbagai macam situs hiburan. Mulai dari menonton video K-Pop di Youtube (not me!) sampai kepo-kepo akun orang. Mulai dari membaca manga online sampai situs XXX (yang ini saya tidak menjalankan ya :").
Dulu saya selalu mengernyitkan dahi ketika mendengar kakak-kakak angkatan yang sedang mengeluh tentang skripsi. Memajang profpic, cover, atau background akun twitter yang berkaitan dengan skripsi. Ketika ditanya tentang skripsinya selalu bereaksi heboh (pasang wajah sedih, galau, dan bilang "jangan tanya-tanya dong dek.."). Saya berpikir, apaan sih, kok reaksinya pada segitunya? Bukankah skripsi itu seperti membuat laporan penelitian, hanya saja halamannya lebih banyak? Jadi apa sulitnya? Jadi kenapa sampai ada yang butuh waktu lama? Apalagi saat workshop penulisan skripsi salah satu dosen saya berkata dengan gaya motivator (maklum dosen psikologi) "Skripsi itu bisa kok selesai dalam waktu 4 bulan". Saya jadi bersemangat dan berniat menyelesaikan skripsi bulan Februari (widiiih...).
Ternyata kenyataan tidak seindah bayangan saudara-saudara. Sebelum menulis skripsi, kita harus terlebih dulu memutuskan apa yang akan ditulis, dalam kata lain judul penelitian. Mencari judul saja saya bingungnya minta ampun. Sempat terpikir beberapa judul dan dipilih satu, DPS juga sudah setuju, malah tidak disetujui oleh orangtua. Kan gawat kalau skripsi saya tidak diridhoi orangtua, berarti tidak diridhoi Alloh juga karena ridho orangtua adalah ridho Alloh (apasih). Paniklah saya karena judul harus segera diberitahukan ke akademik. Akhirnya judul baru itu (dan sampai sekarang itulah judul penelitian saya) muncul secara tiba-tiba, seolah-olah ada yang mengirimkan ide dari langit dan ide itu jatuh menghantam kepala saya, begitu saja. Setelah memiliki judul, saatnya mengerjakan skripsi. Sekali lagi, tidak secantik imajinasi saya dulu, tidak semudah membuat laporan praktikum OW (padahal itu juga sudah sulit). Harus mencari berbagai sumber, penelitian orang, membaca jurnal, data-data terkini, belum lagi kalau sudah "dibantai" DPS dan harus revisi. Sebenarnya tidak dibantai juga sih, kebetulan saya dapat DPS yang baik hati dan tidak sombong. Hanya saja ada pertanyaan dari ibu DPS yang sempat membuat saya gelagapan "Apa pentingnya sih penelitianmu ini?". Apa ya? Saya ingin menjawab, penting bagi masa depan saya (dan ijazah saya), tapi itu sangat tidak intelek. Akhirnya saya menjawab sekenanya, apalah saya sudah lupa, dan untung saja ibu DPS cukup puas dengan jawaban saya.
Setelah dialami sendiri, menulis skripsi itu ternyata susah. Jauh lebih susah daripada yang dulu berani saya bayangkan. Bagian paling susah dari skripsi bukan pada bolak-balik ke perpus, mengetik sampai larut malam, berpikir sampai otaknya merasa sekarat, mencari izin ambil data, mencari responden, bimbingan seminggu dua kali, berkali-kali revisi, atau naskah skripsi dibantai dosen (meskipun itu juga susah). Bagi saya, bagian tersulitnya adalah berperang melawan diri sendiri. Lebih tepatnya melawan kemalasan. Menulis skripsi adalah self regulated activity alias aktivitas yang harus kita atur sendiri. Kita tidak bisa lagi mengandalkan dosen untuk memberi deadline atau teman-teman untuk membantu menyusun skripsi. Kita benar-benar harus mengatur sendiri segala urusan skripsi ini. Mau menyusun skripsi atau main game? Mau ke perpus atau tidur? Mau lulus cepat atau nanti saja? Semuanya kita yang tentukan sendiri, orang lain, bahkan DPS sudah tidak bisa ikut campur lagi. Paling-paling yang DPS bisa lakukan hanya mengingatkan soal bimbingan seperti yang DPS saya lakukan, itupun tergantung DPSnya, ada yang cuek-cuek saja, bahkan sampai lupa mahasiswa bimbingannya yang mana. Orangtua juga paling hanya bisa menanyakan sampai mana skripsinya dan mengejar-ngejar anaknya agar segera menyelesaikan skripsi (dan makin heboh kalau sudah setahun skripsi tanpa tanda-tanda mau lulus). Orang lain juga hanya mampu menanyakan pertanyaan standar, "Kapan lulus?", "Bulan apa mau wisuda?". Atau seperti kasus saya tiap ketemu salah seorang adik angkatan, dia selalu bertanya "Mbak kapan wisuda?". Damn.
Itulah yang sedang saya lakukan sekarang, berperang melawan diri sendiri, yang celakanya memiliki tingkat kemalasan di atas rata-rata. Saya baru bisa bergerak dan bekerja kalau sudah dipepet deadline dari orang lain. Kalau diri sendiri yang memberi deadline sama sekali tidak mempan. Padahal apa kurangnya proses skripsi saya ini? Ada fasilitas, DPS nya perhatian dan tidak mengerikan, ada yang mengejar-ngejar, ada yang mendukung, dan penelitiannya (menurut saya) cukup mudah. Harusnya kalau seperti itu bisa 4 bulan jadi, seperti yang pernah dikatakan oleh dosen saya. Tapi tetap saja, sudah hampir Februari dan saya baru sampai bab III, belum ambil data pula. Dengan demikian, skripsi telah menjelma menjadi sebuah horor bagi saya. Ia menghantui saya setiap hari, menuntut saya bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Ia selalu menjadi mimpi buruk (saya pernah mimpi buruk soal skripsi dua kali). Tidak bisa berhenti memikirkan skripsi yang belum jadi-jadi, selalu was-was kalau ditanya "Kapan lulus?". Meninggalkan target-target yang dulu terasa realistis, tapi ternyata sukar diraih sebagai kerak-kerak kegagalan dalam ingatan. Dan menyisakan tanya mengenai masa depan yang sepertinya mengerikan, pendadaran. Ternyata memang benar kakak angkatan saya dulu tidak melebih-lebihkan. Menyusun skripsi sungguh-sungguh horor.
Tulisan ini dibuat bukan untuk menakut-nakuti para mahasiswa yang belum skripsi. Ini cuma sarana katarsis bagi saya yang kesulitan mengerjakan skripsi karena need for order dalam tes 16pf saya sangat rendah, makanya kurang bisa meregulasi diri sendiri. Jika ada yang kurang sependapat dengan saya (skripsi itu asyik! skripsi? biasa aja sih, penulisnya itu yang lebai) tidak apa-apa, karena pengalaman adalah milik masing-masing orang. Sudahlah, cukup curhatan saya hari ini, saya mau mandi (haha..) terus ke kampus. Saya harus mengerjakan bab III, kalau tidak besok Rabu bisa dicincang ibu DPS. Pesan saya kepada sesama penulis skripsi, tidak ada gunanya skripsi yang judulnya keren kalau tidak selesai, skripsi yang selesai lebih baik daripada skripsi yang sempurna (quote ini dapat dari Yuni Anggia, yang dapat entah dari mana, saya lupa). Carilah juga teman-teman yang sama galaunya soal skripsi, karena hidup akan terasa lebih baik dan penderitaan akan terasa berkurang apabila tahu orang lain juga mengalami hal yang sama. Dan meskipun ingin lulus cepat, jangan coba-coba bimbingan dua kali seminggu. Sekali-kali jangan. Bisa menyebabkan kantong mata menghitam dan kelelahan baik fisik maupun mental. Selamat menikmati proses menyusun skripsi. Sekian.
mungkin ada yang tergoda? :3





