Pages

Senin, 27 Januari 2014

Horor itu Memiliki Nama, Skripsi

"Bahwa sesungguhnya di antara S dan Psi itu ada Kri.." (Virda, yang mendapatkan quote ini dari entah siapa)

Hari Rabu itu, tanggal 22 Januari 2014, saya sedang sibuk menjarkom teman-teman sekelompok berkaitan dengan foto buku angkatan yang akan kami lakukan besoknya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 11 pagi menjelang siang, ketika mendadak HP saya bergetar. Saya kira akan mendapati model kalimat balasan jarkom seperti "Siap bu bos!" atau "Oke cyiin" di layar HP. Ternyata bukan sms balasan seperti itu yang muncul, melainkan sms dari Ibu DPS saya yang tercinta dan cantik jelita, isinya:

"Semangat tahun 2014! Ku kangen Vita, Virda, Hani, Rahma, Yuni..."

Jegeerrr, saya langsung membeku sejenak sambil menatapi layar HP yang sudah baret-baret. Memang sudah 4 minggu lebih (uhuk) saya tidak sowan bimbingan ke Ibu DPS, terhitung sejak sebelum natal sampai saat ini. Kalau folder di laptop bisa berdebu, saya yakin ia sudah tebal debunya, bahkan mungkin ada sarang laba-labanya. Kali ini saya bernar-benar terlena, liburan akhir tahun sudah kebablasan terlalu jauh dan ketika tiba saatnya harus kembali ke kewajiban sebagai mahasiswa tingkat akhir, sulit sekali mengumpulkan niat yang sudah berserakan kemana-mana, bahkan mungkin sudah ketlingsut. Saya baru berani membalas SMS dari Ibu DPS dua jam kemudian setelah mengatasi perasaan malu, menyesal, dan bersalah di dalam diri. Akhirnya kami janjian akan bertemu Rabu minggu depan, 29 Januari 2014.

Dua hari sebelum hari H, inilah saya yang sedang (berusaha) mengerjakan bab III skripsi. Tetapi entah mengapa setelah menuliskan beberapa kalimat pendek di dokumen MS Word berjudul Bab III, saya berhenti, browsing-browsing dan akhirnya malah menulis di blog. Harusnya saya menulis skripsi kan? Sebenarnya kalau dipikir, menulis skripsi saat ini lebih mudah daripada jaman ibu bapak saya dulu. Referensi bisa diperoleh di internet, tidak melulu harus ke perpustakaan. Mengetik dan revisi pun jauh lebih mudah dengan berbagai program di komputer, tidak seperti dulu yang harus memakai mesin ketik. Kalau mau pakai cara busuk pun bisa, tinggal copy paste skripsi orang yang bisa ditemukan dengan mudah di Google. Lalu mengapa saat ini sepertinya saya sulit sekali untuk sekedar menulis "metode penelitian"? Karena, kalau di balik setiap kesulitan ada kemudahan, maka sewajarnya di balik kemudahan ada kesulitan. Internet memang menjadi sumber referensi yang paling hebat, sekaligus distraktor yang paling luar biasa saat sedang menulis skripsi.Godaannya itu, mulai dari sosial media sampai berbagai macam situs hiburan. Mulai dari menonton video K-Pop di Youtube (not me!) sampai kepo-kepo akun orang. Mulai dari membaca manga online sampai situs XXX (yang ini saya tidak menjalankan ya :").

Dulu saya selalu mengernyitkan dahi ketika mendengar kakak-kakak angkatan yang sedang mengeluh tentang skripsi. Memajang profpic, cover, atau background akun twitter yang berkaitan dengan skripsi. Ketika ditanya tentang skripsinya selalu bereaksi heboh (pasang wajah sedih, galau, dan bilang "jangan tanya-tanya dong dek.."). Saya berpikir, apaan sih, kok reaksinya pada segitunya? Bukankah skripsi itu seperti membuat laporan penelitian, hanya saja halamannya lebih banyak? Jadi apa sulitnya? Jadi kenapa sampai ada yang butuh waktu lama? Apalagi saat workshop penulisan skripsi salah satu dosen saya berkata dengan gaya motivator (maklum dosen psikologi) "Skripsi itu bisa kok selesai dalam waktu 4 bulan". Saya jadi bersemangat dan berniat menyelesaikan skripsi bulan Februari (widiiih...).

Ternyata kenyataan tidak seindah bayangan saudara-saudara. Sebelum menulis skripsi, kita harus terlebih dulu memutuskan apa yang akan ditulis, dalam kata lain judul penelitian. Mencari judul saja saya bingungnya minta ampun. Sempat terpikir beberapa judul dan dipilih satu, DPS juga sudah setuju, malah tidak disetujui oleh orangtua. Kan gawat kalau skripsi saya tidak diridhoi orangtua, berarti tidak diridhoi Alloh juga karena ridho orangtua adalah ridho Alloh (apasih). Paniklah saya karena judul harus segera diberitahukan ke akademik. Akhirnya judul baru itu (dan sampai sekarang itulah judul penelitian saya) muncul secara tiba-tiba, seolah-olah ada yang mengirimkan ide dari langit dan ide itu jatuh menghantam kepala saya, begitu saja. Setelah memiliki judul, saatnya mengerjakan skripsi. Sekali lagi, tidak secantik imajinasi saya dulu, tidak semudah membuat laporan praktikum OW (padahal itu juga sudah sulit). Harus mencari berbagai sumber, penelitian orang, membaca jurnal, data-data terkini, belum lagi kalau sudah "dibantai" DPS dan harus revisi. Sebenarnya tidak dibantai juga sih, kebetulan saya dapat DPS yang baik hati dan tidak sombong. Hanya saja ada pertanyaan dari ibu DPS yang sempat membuat saya gelagapan "Apa pentingnya sih penelitianmu ini?". Apa ya? Saya ingin menjawab, penting bagi masa depan saya (dan ijazah saya), tapi itu sangat tidak intelek. Akhirnya saya menjawab sekenanya, apalah saya sudah lupa, dan untung saja ibu DPS cukup puas dengan jawaban saya.

Setelah dialami sendiri, menulis skripsi itu ternyata susah. Jauh lebih susah daripada yang dulu berani saya bayangkan. Bagian paling susah dari skripsi bukan pada bolak-balik ke perpus, mengetik sampai larut malam, berpikir sampai otaknya merasa sekarat, mencari izin ambil data, mencari responden, bimbingan seminggu dua kali, berkali-kali revisi, atau naskah skripsi dibantai dosen (meskipun itu juga susah). Bagi saya, bagian tersulitnya adalah berperang melawan diri sendiri. Lebih tepatnya melawan kemalasan. Menulis skripsi adalah self regulated activity alias aktivitas yang harus kita atur sendiri. Kita tidak bisa lagi mengandalkan dosen untuk memberi deadline atau teman-teman untuk membantu menyusun skripsi. Kita benar-benar harus mengatur sendiri segala urusan skripsi ini. Mau menyusun skripsi atau main game? Mau ke perpus atau tidur? Mau lulus cepat atau nanti saja? Semuanya kita yang tentukan sendiri, orang lain, bahkan DPS sudah tidak bisa ikut campur lagi. Paling-paling yang DPS bisa lakukan hanya mengingatkan soal bimbingan seperti yang DPS saya lakukan, itupun tergantung DPSnya, ada yang cuek-cuek saja, bahkan sampai lupa mahasiswa bimbingannya yang mana. Orangtua juga paling hanya bisa menanyakan sampai mana skripsinya dan mengejar-ngejar anaknya agar segera menyelesaikan skripsi (dan makin heboh kalau sudah setahun skripsi tanpa tanda-tanda mau lulus). Orang lain juga hanya mampu menanyakan pertanyaan standar, "Kapan lulus?", "Bulan apa mau wisuda?". Atau seperti kasus saya tiap ketemu salah seorang adik angkatan, dia selalu bertanya "Mbak kapan wisuda?". Damn.

Itulah yang sedang saya lakukan sekarang, berperang melawan diri sendiri, yang celakanya memiliki tingkat kemalasan di atas rata-rata. Saya baru bisa bergerak dan bekerja kalau sudah dipepet deadline dari orang lain. Kalau diri sendiri yang memberi deadline sama sekali tidak mempan. Padahal apa kurangnya proses skripsi saya ini? Ada fasilitas, DPS nya perhatian dan tidak mengerikan, ada yang mengejar-ngejar, ada yang mendukung, dan penelitiannya (menurut saya) cukup mudah. Harusnya kalau seperti itu bisa 4 bulan jadi, seperti yang pernah dikatakan oleh dosen saya. Tapi tetap saja, sudah hampir Februari dan saya baru sampai bab III, belum ambil data pula. Dengan demikian, skripsi telah menjelma menjadi sebuah horor bagi saya. Ia menghantui saya setiap hari, menuntut saya bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Ia selalu menjadi mimpi buruk (saya pernah mimpi buruk soal skripsi dua kali). Tidak bisa berhenti memikirkan skripsi yang belum jadi-jadi, selalu was-was kalau ditanya "Kapan lulus?". Meninggalkan target-target yang dulu terasa realistis, tapi ternyata sukar diraih sebagai kerak-kerak kegagalan dalam ingatan. Dan menyisakan tanya mengenai masa depan yang sepertinya mengerikan, pendadaran. Ternyata memang benar kakak angkatan saya dulu tidak melebih-lebihkan. Menyusun skripsi sungguh-sungguh horor.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menakut-nakuti para mahasiswa yang belum skripsi. Ini cuma sarana katarsis bagi saya yang kesulitan mengerjakan skripsi karena need for order dalam tes 16pf saya sangat rendah, makanya kurang bisa meregulasi diri sendiri. Jika ada yang kurang sependapat dengan saya (skripsi itu asyik! skripsi? biasa aja sih, penulisnya itu yang lebai) tidak apa-apa, karena pengalaman adalah milik masing-masing orang. Sudahlah, cukup curhatan saya hari ini, saya mau mandi (haha..) terus ke kampus. Saya harus mengerjakan bab III, kalau tidak besok Rabu bisa dicincang ibu DPS. Pesan saya kepada sesama penulis skripsi, tidak ada gunanya skripsi yang judulnya keren kalau tidak selesai, skripsi yang selesai lebih baik daripada skripsi yang sempurna (quote ini dapat dari Yuni Anggia, yang dapat entah dari mana, saya lupa). Carilah juga teman-teman yang sama galaunya soal skripsi, karena hidup akan terasa lebih baik dan penderitaan akan terasa berkurang apabila tahu orang lain juga mengalami hal yang sama. Dan meskipun ingin lulus cepat, jangan coba-coba bimbingan dua kali seminggu. Sekali-kali jangan. Bisa menyebabkan kantong mata menghitam dan kelelahan baik fisik maupun mental. Selamat menikmati proses menyusun skripsi. Sekian.


mungkin ada yang tergoda? :3

Sabtu, 25 Januari 2014

Jalan-jalan Gila; Semarang, The Hot City

Setelah mengunjungi Solo, kali ini saya dan geng gila yang unyu-unyu mengunjungi ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Yap, kami akan mbolang ke Semarang. Sebenarnya perjalanan ke Semarang ini sudah terjadi cukup lama, tepatnya 13 Oktober 2013 lalu, tetapi saya baru sempat (ehm.. ingin) menulisnya sekarang. Baiklah, tidak usah banyak basa-basi, saya awali saja cerita perjalanan ala geng gila.

Perjalanan ke Semarang ini sudah kami rencanakan sejak lama. Tidak seperti saat ke Solo kemarin, kami menggunakan mobil sewaan untuk pergi ke Semarang, bukan dengan transportasi umum. Alasannya, kemarin kami kurang dapat menikmati Kota Solo dan waktunya hanya habis di jalan saja. Syscha menyewakan sebuah mobil travello di tempat temannya. Mobil ini bodinya besar, bisa muat 10 orang, karena yang ingin ikut ada 9 (lho?). Saya, Patrick, Bekti, Syscha, Indah, Widi, Een, Ratri, dan Simbok. Plus sopirnya juga. Kalau menggunakan mobil keluarga biasa seperti Avanza atau Xenia pasti tidak cukup, jadi kami memutuskan meyewa travello saja walaupun harganya jadi lebih mahal. Tidak apa-apa, yang penting nyaman. Kami memutuskan berangkat dari Yogyakarta jam 5 pagi, kumpul jam 4 di rumah Syscha.

Malam sebelum hari H, saya dan Patrick menginap di rumah Een karena rumah kami letaknya jauh dari rumah Syscha, takut kalau besoknya malah terlambat. Malam itu, seperti biasa kalau tidak tidur di rumah, saya susah tidur dan gampang terbangun sehingga pada tanggal 13 itu kami benar-benar tiba jam 4 pagi di rumah Syscha. Rasanya ngantuk dan lelah, ditambah lapar juga karena pagi itu hanya minum energen. Sebenarnya ingin makan nasi, tetapi pekewuh dengan ibunya Een. Ternyata, seperti yang biasanya terjadi di Indonesia Raya Merdeka-Merdeka, teman-teman lain datangnya ngaret. Ditambah sebuah kabar buruk menyusul kabar buruk lain tadi malam. Tadi malam Simbok SMS kalau ia tidak bisa ikut karena Pakdhenya meninggal. Dan paginya, Ratri mengabarkan tidak bisa berangkat ke Semarang karena dilarang oleh masnya. Sial, kenapa tidak dari kemarin-kemarin ngelarangnya? Akhirnya peserta darmawisata ke Semarang tinggal bertujuh tambah satu sopir, membuat mobilnya terasa legaaa... membuat kami menyesal juga tidak menyewa Avanza yang lebih murah. Dan akhirnya, kami baru memulai perjalanan jam setengah 6 pagi *sigh*.

Tidak ada yang istimewa selama perjalanan, kecuali kalau kealayan kami di mobil dianggap istimewa. Isinya perjalanan itu hanya ngobrol, makan, mengomentari pemandangan, tidur, dan alay. Saat berhenti sebentar di pom bensin daerah Ambarawa, saya sempat muntah-muntah karena belum sarapan, sehingga di sisa perjalanan saya merasa lapar sekali. Mendekati daerah Semarang, mulai terasa udara yang panas karena matahari sudah agak tinggi. Dan macet, minta ampun, di daerah pabrik-pabrik, lupa nama daerahnya, pokoknya yang ada pabrik Coca-cola dan biskuit Khong Huan. Kami berhenti di sebuah warung soto Sokaraja pinggir jalan (yang halamannya agak luas untuk parkir mobil). Saya sudah membayangkan nikmatnya pagi-pagi sarapan dengan soto. Tetapi ternyata, sotonya kurang lezat, rasanya seperti makan loncang (aka. daun bawang), bukan makan soto. Soto with loncang flavour. Semakin terasa tidak enak karena soto loncang ini berharga Rp. 10.000 dan es tehnya Rp. 5.000. What the... mending kalau sotonya enak. Harga es tehnya juga sungguh irasional. Ini namanya pemerasan terhadap pelancong --".

soto loncang dan es teh mahal

penampakan soto loncang

Tapi sudahlah, lupakan that damn soto loncang, karena sejam kemudian kami telah sampai di Semarang.
Tujuan pertama kami adalah klenteng Sam Poo Kong yang membuat pengunjungnya serasa sedang di Beijing (kayak pernah ke Beijing aja). Sangat eksotis dan serba merah, cocok untuk memuaskan hasrat berfoto yang tak terbendung, meskipun hari itu cuaca sedang panas sekali. Setelah puas berfoto (dan sudah kepanasan), kami bergerak menuju tujuan berikutnya. Mulanya kami hendak ke Simpang Lima yang legendaris, karena mengira tempat itu semacam alun-alun, Tugu, atau nol kilometer di Jogja. Ternyata Simpang Lima adalah sebuah persimpangan (ya iyalah!) dengan taman dan sebuah tugu bernama Tugu Muda di tengah-tengahnya. Berhubung hari itu panasnya minta ampun, kami memutuskan untuk tidak sukarela membakar diri di Simpang Lima, melainkan menuju Lawang Sewu yang berada tidak jauh dari situ.

salah satu bagian klenteng

inilah kami bertujuh :D

musim bunga
 
Saya merasa agak seperti bermimpi ketika saya menginjakkan kaki di Lawang Sewu, salah satu landmark Kota Semarang yang legendaris dan (katanya) mistis. Kami bertujuh berjalan-jalan mengitari bangunan peninggalan Belanda yang super luas ini dengan ditemani seorang mas-mas pemandu yang, maaf, sudah saya lupakan namanya. Mas ini baik sekali, mau memotretkan kami bertujuh yang hasrat narsisnya belum juga teredam. Ternyata memang benar tempat ini dinamai Lawang Sewu, karena pintunya banyak sekali. Satu sisi dinding saja pintunya ada belasan. Kasihan yang dulu jadi tukang mengunci atau membuka pintu disini, pasti capek sekali. Setelah puas menjelajahi bagian atas Lawang Sewu, kami berlima, karena Widi dan Indah menolak ikut, masuk ke ruang bawah tanah. Untuk dapat masuk ke dalam, kami harus memakai sepatu boot karena katanya lantainya basah, dan harus bayar lagi. Sebenarnya saya ngeri juga dengan ruang bawah tanah ini, karena pernah masuk TV untuk uji nyali dan ada penampakan yang muncul. Tetapi saya sudah sampai Semarang dan tidak tahu kapan (atau akan) kembali kesini lagi sehingga sayang sekali kalau kesempatan ini dilewatkan.

pintunya banyak kan?

lawang sewu

pintu tampak depan

Maka masuklah kami berlima ke ruang bawah tanah dengan ditemani mas pemandu dan senternya. Di bawah gelap, pengap, dan basah sekali. Tidak sekedar basah sih sebenarnya, kami seperti mengarungi selokan saat berjalan. Air dimana-mana. Kata mas pemandu, ruang bawah tanah ini difungsikan sebagai pendingin sehingga suhu gedung di atasnya selalu sejuk. Canggih juga orang-orang Belanda itu. Selain sebagai pendingin, ruang bawah tanah ini juga digunakan sebagai penjara. Penjaranya juga bukan main-main, tidak seperti penjara sekarang dimana (beberapa) penghuninya bisa memperoleh ruang ber-AC dan fasilitas mewah, melainkan penjara jongkok dan berdiri. Yang namanya penjara jongkok lebih mirip dengan kolam-kolam kecil bertembok setinggi paha. Konon dulu bagian atasnya ditutupi dengan jeruji sehingga penghuninya harus berjongkok sepanjang waktu. Perlu diketahui juga, isi satu kotak penjara ini tidak cuma satu orang, melainkan beberapa orang yang harus berdesak-desakan disini. Penjara berdiri tidak lebih baik, cuma bedanya dan peningkatannya, sang tahanan bisa berdiri di dalamnya. Pasti mengerikan sekali dipenjara di tempat seperti ini. Coba penjara koruptor seperti ini, pasti pada kapok semua (tapi pasti dibilang melanggar HAM kan ya?). Selain penjara, di ruang bawah tanah juga ada tempat eksekusi mati tahanan. Bentuknya seperti kolam. Konon tahanan dimasukkan ke kolam ini kemudian kepalanya dipenggal. Saat itu saya merinding membayangkannya. Tetapi ada hal lucu yang terjadi saat mas pemandu memperlihatkan ruang tersebut. Saat mas pemandu sedang menjelaskan cara eksekusi, seorang ibu-ibu tiba-tiba nyeletuk "Kalau dipenggal kepalanya mati ya?". Ya iyalah... you don't say ._.

Berada di dalam bumi, er.. ruang bawah tanah, tidak membuat kenarsisan kami ikut terkubur. Kami tetap berfoto-foto di dalam, didukung oleh mas pemandu yang setia mengambilkan gambar kami berlima. Kadang dengan kamera saya, kadang dengan smartphone Syscha. Ada sebuah kejadian aneh saat kami sedang berfoto. Salah seorang teman saya, Patrick, ingin berfoto di bawah sebuah lampu model lama yang berada pada jarak-jarak tertentu di sepanjang lorong. Ketika Patrick berada di bawah lampu tersebut tiba-tiba, pet, lampunya mati begitu saja. Kemudian mas pemandu berkata, "Berarti nggak dibolehin foto di situ mbak". Kami langsung ngibrit meninggalkan tempat itu. Sampai di luar, kami berjalan ke pintu depan Lawang Sewu sambil melihat-lihat foto di HP Syscha. Dan.. tadaaa.. terdapat sebuah foto misterius di antara foto-foto lainnya. Foto itu sepertinya tidak sengaja terambil oleh mas pemandu karena sebagian besar foto berwarna putih. Dan.. di foto itu tergambar jelas wajah dingin seorang wanita berambut panjang. Kami semua langsung kaget, heboh, dan memberitahu mas pemandu mengenai foto itu. Mas pemandu itupun menjawab kalem "Ya kadang terjadi mbak, kalau lagi beruntung". Di perjalanan menuju destinasi berikutnya, kami kembali mengamati foto itu, bahkan Widi berencana mengirim foto itu lewat WA kepada pacarnya. Tetapi setelah kami perhatikan benar-benar, foto itu ternyata merupakan hasil dari salah satu efek yang terdapat dalam kamera HP itu, yaitu "ghost effect". Kami semua langsung merasa pekok dan malu karena sudah heboh tadi, apalagi hebohnya pada mas pemandu. Mungkin masnya tidak sengaja mencet, atau sengaja? Hanya masnya dan Tuhan yang tahu.

lampu (yang lain)

mencoba penjara berdiri

di lorong ruang bawah tanah

Tugu Muda Semarang

Setelah kasus "foto hantu" tadi, kami kembali memusatkan perhatian pada jalanan karena kami tersesat. Bapak sopirnya ternyata lupa dimana Masjid Agung Jawa Tengah berada. Setelah berputar-putar cukup lama, kami sampai juga di masjid megah itu. Saat itu waktu Dhuhur telah tiba, matahari berada pas di atas kepala. Kami meninggalkan pak supir di mobil karena mau sholat dulu. Di masjid, saya bertemu dengan salah satu teman sefakultas yang sedang njagong bersama ayah ibunya. Dunia ternyata benar-benar sempit. Singkat cerita, teman-teman yang sholat segera mengambil air wudhu sementara yang sedang tidak sholat berusaha berteduh dan sempat diajak berkenalan oleh mas-mas dari Bandung yang sedang jalan-jalan. Selesai sholat, kami menuju parkiran untuk bertemu pak supir dan mencari makan siang. Ternyata, mobilnya sudah tidak ada! Jangan-jangan kami ditinggalkan karena pak supir sebal dengan tingkah kami yang alay. Kami sempat panik, tidak terbayang rasanya ditinggal di kota sejauh Semarang. Tak berapa lama kemudian pak supir menelepon, beliau sedang mencuci mobil sekaligus makan siang dan akan kembali dua jam lagi. Kamipun melewatkan waktu dengan (lagi-lagi) berfoto-foto di semacam teras masjidnya (teras, tapi luas sekali). Arsitekturnya membuat kami merasa sedang berada di Timur Tengah. Setelah kering menunggu kepanasan di bawah pilar masjid, pak supirpun datang dan kami menuju ke tujuan berikutnya, Kota Lama dan Gereja Blenduk.

masjid agung jawa tengah

serasa di timur tengah

kupinang kau dengan bismillah :D


Hari menjelang sore ketika kami sampai di tempat itu. Sebenarnya niat awalnya adalah mengunjungi Gereja Blenduk, ternyata Kota Lama letaknya di samping gereja, malah gereja itu masuk bagian kota lama --". Akhirnya kamipun berjalan-jalan mengelilingi kota lama yang memiliki bangunan-bangunan eksotis peninggalan Belanda dan cocok sekali untuk prewed (saat itu ada yang sedang prewed disana). Sayangnya banyak bangunan kurang terawat dan terlihat terbengkalai, hanya ada beberapa yang terawat baik. Selokannya juga berbau menyengat dan kelihatannya tidak mengalir. Padahal kalau ditata tempat itu pasti kelihatan indah, karena berada di sana membuat saya seperti di Eropa, meskipun dengan suasana yang lebih kumuh. Setelah puas berkeliling, kami kembali ke gereja, yang saat itu sayangnya sedang tidak buka. Kami membeli minuman di dekat gereja dan memutuskan untuk makan siang/sore sekalian pulang.

ada yang tahu artinya tulisan di atas pintu?

penulis di kota lama :)

suasana kota lama semarang

tanaman tumbuh di bangunan

seperti di eropa

prewed?

model saya :)

gereja blenduk

Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 4 ketika kami meninggalkan gereja untuk melakukan perjalanan pulang. Tetapi sebelum pulang, kami melakukan ritual yang rasanya dilakukan oleh seluruh wisatawan di dunia yaitu membeli oleh-oleh. Pertama-tama, kami menuju ke "Loenpia" (atau lumpia) Mbak Lien, yang menurut mbak-mbak penjual es tadi adalah lumpia terenak di Semarang. Loenpia Mbak Lien ini memang besar, enak, dan terkenal, tetapi harganya juga mantab, paling murah sepuluh ribu per biji. Yap, anda tidak salah baca, satu gulung kulit dari terigu berisi daging ayam atau udang itu berharga paling murah sepuluh ribu. Kalau punya uang banyak, bolehlah membawa lumpia ini sebagai buah tangan. Tetapi kalau uangnya hampir habis seperti saya, lebih baik urungkan niat dan cari lumpia yang lebih murah di Jalan Pandanaran. Di sepanjang jalan ini terdapat banyak toko oleh-oleh dan harganya beragam, bisa pilih toko yang sesuai dengan isi dompet. Saya membeli lumpia kering yang harganya 7500an perbiji, harga yang sedang-sedang saja, ada yang lebih murah dan banyak yang lebih mahal. Selain itu saya juga membeli bandeng Juwana yang enak, patungan dengan dua orang teman untuk membeli sekilo bandeng duri lunak yang isi 6 ekor (karena kalau beli sekilo sendirian mahal).

loenpia mbak lien

tumpukan lumpia siap digoreng

Sore itu di Jalan Pandanaran turun hujan, demikian pula sepanjang perjalanan pulang. Kami memutuskan untuk makan malam nanti saja, kalau sudah sampai di warung SS Muntilan. Karena itu ketika pak supir menawarkan untuk makan di warung yang ada di Ambarawa kami semua menolak. Tetapi ternyata perut yang belum diisi sejak siang tidak mau berkompromi lagi. Semua penumpang mengeluh lapar di sepanjang jalan. Sumpah, saat itu sebenarnya saya malu mengeluh dan mendengar keluhan kami semua. Apa kata pak supir? Tetapi mau bagaimana lagi, kami benar-benar sangat lapar sampai tidak tertahankan. Ketika mobil kami melewati jalan raya Magelang-Semarang, tepatnya di daerah Secang, pak supir tiba-tiba berkata, "Itu ada SS". Waaahhhh, kami semua langsung berteriak kegirangan seperti musafir yang melihat oase di tengah padang pasir. Menurut saya itu adalah momen yang paling "nggak banget" selama jalan-jalan. Memalukan :p.

Setelah mobil selesai parkir, kami segera masuk dan pesan makanan. Sialnya, pesanan kami lama datangnya karena sang pengantar makanan sedang istirahat sehingga ketika sampai pada kami nasi dan lauk-lauknya sekalian sudah dingin. Tetapi tidak masalah, yang penting makan. Kami makan dengan bernafsu, kemudian naik mobil lagi untuk kembali ke DIY tercinta. Di perjalanan pulang tidak ada hal yang menarik, karena sudah kelelahan sebagian besar dari kami tertidur. Sampai di rumah Syscha lagi, sudah pukul 10 malam. Saya segera pulang karena sudah mengantuk dan capek berat. Besoknya saya tepar seharian. Meskipun lelah, ini adalah acara jalan-jalan yang menyenangkan. Sekali lagi saya bisa mengunjungi tempat-tempat indah dengan teman-teman saya. Sampai jumpa di jalan-jalan geng gila berikutnya, semoga yang selanjutnya kami bisa pergi dengan formasi lengkap :D.

wajah lelah

mau pesan apa?

Minggu, 19 Januari 2014

Random Quote

Have you ever imagined yourself as the hero of a story?
I think a lot of people believe to some degree that they're heroes of a very long adventure, meeting and parting with various people.
If you put in terms of fiction, it looks like a very epic saga.
But, I see it differently.
A man is a very small and ephemeral being, whose life would be summarized into a fifty-to-sixty page long short story.
It's just like you said, you've never heard of a short story being a best-seller?
It's true, in terms of sales, long stories sell more. 
It's probably because many people want to believe that they are the hero of their own long fiction, but then they realize it won't happen.
So, I thought the reason they're pursuing a vast story is because they're looking for things that they can't do in real life.
Short stories are short indeed, but they are full of interesting things once you've read them.
Even if your life is not an epic saga, it is still enough to touch others.

- Shinonome Yuuko -


I found this long quote in a random manga I picked from a website long ago. Though I didn't follow the story anymore, I liked this quote very much. 

Here's the screenshot from that manga:



Sate Sapi

Setelah tersesat dan kehujanan di Kotagede gara-gara mencari masjid dan makam jaman Mataram, kita mampir makan di warung sate kere (sate sapi + kupat sayur). Lumayan, 6 ribu sepiring sudah enak sekali.
Setelah makan, kamu ingin beli lagi untuk dimakan di rumah. Masih lapar, katamu tadi. Tapi belinya di warung yang berbeda. Gengsi kalau mau pesan lagi. Kita pergi ke warung yang pertama kali kita kunjungi malam-malam, waktu traktiran ulang tahunmu, Oktober tiga tahun lalu.
Warungnya sudah berubah, sudah lebih luas, dan belakangnya sudah bukan sawah. Dan dalam setusuk sate, dagingnya juga sudah berkurang, tidak sebanyak tiga tahun yang lalu.
Kemudian terjadi percakapan di bawah ini:

K: Kamu, S: Saya
K: "Mau beli lagi nggak? Dibungkus? Tak beliin wis"
S: "Enggak, udah kenyang"
K: "Yang bener? Rasanya beda lho sama yang tadi"
S: "Beda apanya? Sama-sama sate sapi kok"
K: "Beda lah, yang ini rasanya kayak kenangan kita dulu"
S: "Apa sih..." *sambil ngeplak kamu*

Aah, kamu, makin lama makin gombal saja. :3

*ditulis sambil nunggu tayangan bal-balan, 15 menit lagi pertandingan Chelsea vs MU di TV*
*oh iya, setiap ada pertandingan BPL yang ini, I am always wondering, when will I could watch that match with you, with our own television, and in our own house? uwaahh~~, the same old question of mine*
*lagi random, stres ide layoutan buat majalah Psikomedia belum muncul-muncul dan niat ngerjain skripsi belum timbul-timbul*

Jumat, 03 Januari 2014

Time Do Flies

Hai kamu, yang dekat tetapi terasa jauh.
Hai kamu, yang lebih muda tetapi sudah sama dewasa, bahkan mungkin melebihi saya.
Hai kamu, saya menyapamu dan berharap dapat menyampaikan kata-kata ini.
Bukan disini, melainkan langsung dihadapanmu.
Sekarangpun kamu ada, setiap tanda-tanda kehidupan ada dalam dirimu.
Namun di antara kamu dan saya, sudah ada sebuah tembok yang tinggi.
Seperti tembok yang memisahkan kamar ibu dengan dapur.
Sudah terlalu tinggi untuk kupanjat apalagi kuruntuhkan.
Tahukah kamu, saya merindukanmu?

Hai kamu. Sejak masuk kuliah, kamu menjadi lebih pemurung dan pendiam di rumah. Kenapa denganmu? Saya yakin, kamu tidak sependiam ini ketika di kampus. Kamu adalah orang yang suka bercanda dan berusaha aktif. Setiap akhir pekan, kamu nyaris tidak pernah di rumah. Saat di rumahpun, kamu lebih banyak membaca novel-novel itu. Kamu menjadi lebih melankolis. Kamu menjadi serius. Banyak tugas yang harus kamu kerjakan. Begitulah hidupmu selama hampir 6 bulan ini. Bahagiakah kamu? Saya sedih melihatmu murung. Apakah harimu di kampus menyenangkan? Saya ingin bertanya, tapi saya tahu, hanya kebisuan yang akan menjawab. Bukan kamu.

Hai kamu. Sudah beberapa hari kamu libur, begitupun saya. Tetapi semuanya tidak sama lagi seperti dulu. Kemana anak laki-laki yang suka bermain FM dari pagi sampai siang? Kemana anak laki-laki yang pura-pura siaran radio? Yang genjreng-genjreng main gitar? Yang memandang hujan dari jendela? Yang suka membuat percobaan masakan-masakan aneh? Yang menonton film di TV? Yang mengobrol dengan saya? Kemana, hai kamu? Ah, itu kan entah berapa tahun yang lalu. Kamu berubah, sesederhana itu. Kamu mendewasa, meninggalkan saya yang terperangkap dalam kenangan lama tentang kamu. Kamu yang dulu. Yang bermain dengan saya waktu liburan tiba. Yang mengutarakan penyesalan ketika hari libur kita tak lagi sama. Kamu begitu berubah. Kita bahkan tak saling berbicara, tak lebih dari beberapa patah kata, hari ini, hari kemarin, dan kemarinnya lagi. Kamu menjadi tidak berbeda dengan sepupu yang pernah tinggal disini. Begitu dekat, sekaligus begitu asing. Apakah hanya saya yang merasa begitu, hai kamu?

Hai kamu. Saya ingat ketika kamu masih dalam masa kegalauan yang memuncak. Kita mengobrol banyak, dan kamu curhat kepada saya. Ah, betapa rindu masa-masa itu. Saya bisa berperan dengan selayaknya pada saat itu. Menjadi seseorang yang memang seharusnya mendengarkanmu dan memberi saran yang mungkin berguna. Tetapi sekarang, selepas kamu mencapai impianmu, kita tak pernah lagi saling bicara banyak. Seolah-olah kamu tidak membutuhkan saya lagi. Salahkah kalau saya sekarang lebih banyak mengobrol dengan kucing jantan saya? Meskipun ia tak mungkin menyahut. Kamu juga tidak pernah lagi mengobrol dengan kedua orangtuamu. Kamu berkurung dalam surga sempitmu sendiri setiap hari, kamar 3x3 m, kamarmu.

Hai kamu. Saya mempelajari psikologi perkembangan. Saya mempelajari remaja. Saya mengetahui mengapa kamu seperti itu. Tetapi mengetahui berbeda dengan memahami. Motif yang menyebabkanmu seperti itu, hanya kamu yang tahu. Saya tidak mengharapkanmu menjadi kamu yang dulu. Tidak sama sekali. Manusia selalu berproses, dan selama dalam proses ia dapat berubah menjadi pribadi yang berbeda. Begitupun kamu, yang kini terlihat lebih matang. Tetapi apakah kamu memang mengharapkan hubungan kita lebih beku dari es batu? Kita memang sejak dulu tidak dekat setiap hari. Selalu ada pertengkaran dan sakit hati. Tetapi sekali lagi, tidakkah kamu ingin lebih dekat dengan orang-orang yang kamu sebut keluargamu? Meskipun kamu dan saya akan segera terpisah jalan menuju hidup kita masing-masing.

Hai kamu. Tadi saya melihatmu membuka album-album foto lama. Entah apa yang kamu cari, saya tidak bertanya, karena sekali lagi hanya kebisuan yang akan menyahut. Bukan kamu. Hai lagi untukmu, apakah kamu sedang merindukan masa lalu? Saya juga. Malam ini, di sini. Dan kamu ada, terlelap di sebelah kamarku.

Hai kamu. Maaf jika saya memiliki salah padamu. Mungkin saya lebih dahulu meninggalkanmu. Tetapi waktu memang telah terbang jauh, membawa kita pada arus hidup masing-masing. Kamu dan saya telah tumbuh menjadi orang yang sama sekali berbeda. Meskipun darah kita adalah sama. Iya kan kamu, adik lelakiku?

Selamat atas status mahasiswamu yang baru, sebentar lagi kamu akan menerima IPK. Kamu sudah menjadi orang yang jauh lebih baik dari kakakmu. Bahkan sejak kita kecil. Semoga kamu sukses, dimanapun kamu berada. Dan semoga kamu bahagia, dengan kehidupan apapun yang kamu pilih sendiri.



You are standing in the middle of another world
It's hard to feel your real emotions
You are smiling in a shirt wet with bitter tears
Let me help you find a place to call it home

We are all trapped in a maze of relationships
Life goes on with or without you
I swim in the sea of the unconscious
I search for your heart, pursuing my true self

Kamis, 02 Januari 2014

Tahun Baru

Tiupan terompet membahana
Kembang api meledak di angkasa
Menandai datangnya tahun yang baru.
Saatnya mengganti kalender di dinding.

a big-ass firework with loud explosion, probably from 0 km
Sore terakhir di bulan Desember dan tahun 2013, saya pergi ke kampus. Mau ke perpustakaan pusat lebih tepatnya, janjian dengan dua orang teman untuk mengembalikan buku yang sudah lewat 5 hari dari tanggal kembalinya. Pikiran saya membayangkan soal denda yang akan dibayarkan ketika memarkir motor di perpus pusat. Hujan gerimis turun sore itu, sedangkan orang-orang yang saya tunggu belum datang juga. Daripada berdiam diri, saya memutuskan untuk berjalan ke bunderan sambil membawa kamera yang tadi iseng-iseng dimasukkan ke tas. Kebetulan tadi saya lihat ada demo disana, lumayan nonton demo sore-sore. Maka berangkatlah saya ke bunderan UGM, menenteng kamera dan memakai jas hujan kebesaran. Di depan lapangan GSP tampaklah sebatang pohon yang saya tidak tahu namanya. Pohon itu berbunga pink, bunganya hampir memenuhi seluruh tajuknya yang hijau. Cantik sekali. Saya memutuskan untuk berhenti dan memotretnya. Saat itu saya melihat beberapa orang yang berlari memutari GSP dengan bersemangatnya, padahal saat itu gerimis masih turun. Sepertinya mereka dari pecinta alam fakultas saya. Saya sempat berpikir, apa yang membuat mereka mau melakukan hal itu? Bisa saja mereka tidak usah berangkat latihan sore, toh dari tadi hujan, seperti yang, saya yakin, mungkin dilakukan oleh anggota lain? Bukankah lebih enak tidur di kosan atau siap-siap untuk malam tahun baruan? Ah, lagi-lagi saya dan berbagai pertanyaan konyol saya.


A beautiful pink flower tree
Pertanyaan itu kembali muncul di pikiran saya ketika sudah sampai di bunderan UGM. Mahasiswa-mahasiswa yang berdemo berasal dari sebuah organisasi Islam bernama H*I. Mahasiswa berdiri di bunderan dan di seberangnya sambil mengibar-ngibarkan bendera organisasi mereka sementara orator menyampaikan aspirasinya dengan berapi-api. Mahasiswi berdiri di sisi timur dan barat bunderan, yang dekat wisma Kagama dan sekre Menwa sambil membawa berbagai poster dan payung. Sesekali mereka bertakbir dengan bersemangat. Dari sedikit orasi yang saya dengar (maaf, tetapi terus terang saja, orasinya kurang sesuai dengan selera saya) mereka menyoroti tentang perayaan tahun baru, bobroknya demokrasi, sistem pemerintahan khilafah, dan omong kosongnya pluralisme. Tapi disini saya bukan mau membahas dan menyoroti segala macam orasi itu, apa peduli saya. Toh mereka bebas memiliki ideologi seperti itu. Yang ingin saya garisbawahi adalah kerelaan mereka melakukan segala macam hal itu. Berdemonstrasi pada suatu sore yang berhujan, menghabiskan suara, berdiri berjam-jam, dan tidak digubris pengguna jalan. Memang kan, para pengendara hanya lewat sekejap saja, tidak mungkin isi pesan yang ingin disampaikan bisa melekat di ingatan mereka. Mungkin pada pengendara hanya melambatkan kendaraannya sedikit saja sambil membatin "Oh, demo" kemudian wuss... menghilang. Begitu saja. Penonton demo itu mungkin hanya pak polisi yang memang bertugas menjaga dan orang-orang kurang kerjaan seperti saya, yang sayangnya saat itu sedikit sekali. Ada sepasang muda-mudi yang sibuk berfoto di depan tulisan "Universitas Gadjah Mada" tanpa mempedulikan sekitarnya. Dua orang karyawan wisma Kagama yang mengobrol di dekat lokasi demo. Dua orang mahasiswi yang sedang menunggu temannya. Seorang mas-mas berbaju hijau yang duduk di trotoar sambil memandang ke arah para pendemo dengan penuh perhatian, dan ternyata adalah penjual bakso ojek yang sedang mangkal. Begitulah, pertanyaan di benak saya semakin bergema. Bagaimana bisa? Apa motivasinya? Untuk apa dan siapa?

Untuk apa? Kata-kata itu berdenting di pikiran saya seperti lonceng ketika mendapati dua orang teman saya sudah menunggu di dekat pintu perpus pusat yang sudah tutup. Saya sempat jengkel, kalau tahu perpusnya sudah tutup, saya tidak usah kesini saja. Teman saya malah mengajak saya untuk tahun baruan sekalian di Tugu Jogja. Sebenarnya saya sedang malas, suasana hati saya sedang kurang baik karena suatu hal. Tetapi karena sudah terlanjur sampai di situ, akhirnya saya mengiyakan saja. Apalagi dia berjanji akan pulang sebelum jalanan macet, kira-kira pukul 10. Akhirnya kami bertiga tambah seorang lagi teman saya jadi berempat pergi ke Tugu Jogja setelah sebelumnya memarkir motor kami di sebuah restoran cepat saji yang berada di daerah Terban. Malam itu suasananya ramai meskipun lagi-lagi masih gerimis. Kami berjalan. Berfoto di Tugu. Berfoto di jembatan. Berfoto di jalan. Mengobrol. Bercanda. Tertawa. Sama seperti orang-orang lainnya, yang tampak gembira. Muda-mudi, Orang tua. Anak-anak. Ada penjual terompet, ada penjual kembang api, ada penjual makanan, ada tukang parkir, ada kru dari televisi. Lelah dan lapar segera mendera, sehingga kami memutuskan untuk makan di restoran cepat saji yang menjadi tempat parkir tadi. Makan ayam, minum soda, glek, mahal juga harganya. Salah satu peserta perjalanan ini, yang merupakan teman sefakultas teman SMAku, ternyata teman SMP teman sefakultasku. Bingung? Tidak apa. Kebetulan bertemu dengan dua orang teman sefakultas di restoran itu, setelah sebelumnya bertemu dengan sepasang kekasih dari fakultas yang sama di Masjid Kampus. Intinya? Dunia ini sempit, selalu, bahkan di akhir tahun yang penuh orang.

Selesai makan, sebenarnya saya mau langsung pulang saja. Tetapi jalanan mulai padat merayap, macet, karena saat itu jam pendek hampir menunjuk ke angka 11 dan jarum panjang di angka 6. Setengah sebelas malam. Saya tidak jadi pulang dan memutuskan sms bapak bahwa saya sampai rumah terlambat. Kamipun berjalan ke barat, terbawa arus manusia ke Tugu Jogja. Saat itu jalanan mulai sangat ramai, mobil dan motor tumpah ruah, berdesak-desakan tanpa bisa bergerak. Orang-orang membanjiri trotoar atau duduk-duduk di atas jembatan. Semuanya menghadap ke arah Tugu, mengharapkan satu hal. Lucu juga, sebegitu banyak kepala, tetapi hanya ada satu keinginan. Beberapa terompet berbunyi, beberapa kembang api diledakkan, tetapi belum masuk ke acara utama, belum sama sekali. Lama kami menunggu di pinggir jalan, di depan gerbang sebuah rumah, sementara jalan di depan kami makin penuh hingga macet total. Tampak beberapa orang turun dari atas motor dan mobil mereka, berdiri di jalanan. Anak kecil yang mengantuk, digandeng maupun digendong oleh orangtuanya. Pasangan-pasangan sejauh mata memandang, berdiri berdampingan di trotoar, atau duduk memeluk pasangannya di atas motor. Saya belum pernah melewatkan malam tahun baru di tempat umum seperti ini dan ternyata suasananya jauh lebih ramai dari yang saya kira. Penuh manusia, dimana-mana ada manusia. Bahkan di atap mobil ada seorang manusia, yang dengan pedenya mengabadikan dirinya sendiri. Mengabadikan dirinya sendiri, yang sedang ada di tengah lautan manusia lainnya.

mas2 yang narsis di atap mobil!

Sekali lagi saya bertanya, untuk apa? Ketika itu kembang api mulai meledak gila-gilaan. Sangat besar dan banyak, memekakkan telinga, menghiasi langit dengan berbagai warna gemerlap. Wajah-wajah tengadah, mulut menganga, kamera-kamera mengarah ke langit, seruan kagum, bunyi terompet dan klakson membahana.Semua orang mengarahkan matanya ke langit tanpa diminta, bersorak dan berseru kagum tanpa aba-aba. Walaupun jalanan macet, mengantuk, lelah, mungkin juga lapar, mereka tetap bersemangat menyambut pergantian tahun. Padahal hari cuma sedang berganti, sekedar melewati hitungan 24 jam yang lain. Seperti malam-malam yang biasa dilewati dengan tidur nyenyak dan tahu-tahu sudah pagi. Pergantian tahun hanyalah bergantinya angka di kalender, suatu sistem kesepakatan untuk menandai waktu yang dibuat oleh manusia entah berapa ribu tahun yang lalu. Ah, manusia memang suka dengan selebrasi. Berbagai peringatan dan perayaan sepanjang kehidupannya yang sesingkat embun pagi. Setiap budaya punya perayaan, setiap agama ada hari raya, setiap orang memiliki hari yang dianggap istimewa. Caranya merayakan juga tersendiri, dengan hingar bingar maupun keheningan. Dengan pesta maupun berbagi. Merayakan atau tidak merayakan, terserah masing-masing saja. Bukankah manusia adalah makhluk simbolis yang suka membuat segala hal yang nyata menjadi abstrak? Salah satu salurannya ya, perayaan.

Fireworks!

more fireworks!

Saya beranjak pergi ketika orang-orang masih terlena dengan kerlip kembang api. Segera menuju parkiran sebelum jalanan makin ruwet, penuh dengan orang-orang yang mengantuk. Rupanya malam tahun baru adalah ajang pelanggaran lalu lintas besar-besaran pula. Banyak yang menerobos jalur lawan (termasuk saya), membunyikan klakson keras-keras, dan naik ke trotoar. Bapak-bapak polisi yang bertugas membiarkan saja, terlalu sibuk mengatur lalu lintas agar tidak makin semrawut. Bahkan ketika saya mau lewat dan di depan motor saya ada kaki pak polisi yang sepertinya punya pangkat tinggi (pakaian beliau beda dibanding polisi lain), beliau menyisih untuk memberi saya jalan. Padahal saya baru saja menerobos jalur lawan. Jangan ditiru ya, tidak baik bagi keselamatan. Mungkin saat itu saya terlalu lelah, mengantuk, dan ingin cepat pulang, mungkin itu jugalah yang terjadi pada orang-orang yang menerobos jalur lawan seperti saya. Atau mungkin karena itulah yang dilakukan kebanyakan orang saat itu. Melanggar lalu lintas. Termasuk menyalakan kembang api dan meniup trompet. Singkatnya merayakan tahun baru adalah konformitas. Konformitas. Yeah, right.

Oh ya, dalam perjalanan pulang, saya lewat bunderan UGM lagi, tempat demo yang sudah saya ceritakan di atas. Tempat itu sudah berubah menjadi lautan manusia dan (lagi-lagi) ada pesta kembang api. Untung saya berhasil lolos dari sana. Tetapi, ironis ya, tempat yang semula merupakan tempat demo mengecam perayaan tahun baru berubah 180 derajat menjadi tempat perayaan tahun baru. Apakah ada yang salah? Apakah organisasi itu salah? Saya rasa tidak, karena itu tempat umum, memang sewajarnya menjadi titik kumpul seperti Tugu atau 0 km. Cuma saya merasa geli saja, tadi disini ada demo menolak, malamnya malah yang ditolak diadakan di tempat itu. Persis di tempat yang sama. Apa mas dan mbak yang demo tadi sore tahu ya? Kalau saya jadi mereka, saya akan merasa sedih. Berarti apa yang diserukan tadi tidak ada efeknya? Belum sepertinya. Karena untuk mengubah sesuatu yang sudah demikian besar itu tidak cukup dengan demo. Mungkin bisa dengan perda seperti di Aceh sana, dan diawasi oleh polisi serta bapak walikota, dan bapak-ibu yang berwenang lainnya (barusan baca koran mengenai pelarangan perayaan tahun baru di Aceh).

Hujan gerimis kembali turun ketika saya dalam perjalanan. Hujan yang menurunkan kabut dan seakan menghapus segala gempita yang baru saja terjadi. Membawanya dalam keheningan dini hari, tanpa terompet dan kembang api. Yang ada hanya jalanan lengang, sisa pesta, dan aspal basah. Kerumunan orang mulai menipis. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah euforia sesaat itu hanya mimpi yang berkerjap hilang ditelan fase tidur yang jauh lebih panjang. Kembali ke kehidupan. Kembali ke pergantian hari yang biasanya. Tahun baru memang seperti kembang api yang selalu menyertainya. Gebyar, gemerlap, warna-warni, dan mengagumnkan, namun hanya sebentar. Terlalu sebentar, hingga setelahnya tak tersisa apa-apa, hanya hidup yang biasanya saja.

Sampai di rumah, saya disambut oleh Weweh, kucing hitam-putih saya yang baru saja turun dari atap. Mungkin dia habis tahun baruan juga. Manis sekali ia, selalu ingin dekat-dekat saya seolah sedang rindu. Akhirnya kami tidur berdampingan di kasur. Tahun ini saya awali dengan tidur bersama kucing, dalam kedamaian dan ketenangan dini hari yang sesungguhnya, setelah menjalani perayaan konformitas yang melelahkan. Setelah menyimak kegigihan manusia yang berjuang dalam melakukan apa yang mereka yakini. Berlari, berdemo, dan berdesakan, semuanya di tengah hujan. Dan segala pertanyaan untuk apa dalam kepala saya. Untuk apa saya menulis ini? Tulisan panjang yang ngalor ngidul ini? Biarlah, ini adalah hak saya, yang memang saya yakini. Sebelum mengakhiri, saya mengucapkan selamat menempuh tahun (lain) yang baru. Semoga tetap hidup dan tetap bermakna.

ditulis dengan Weweh di pangkuan, hangat rasanya :)

Rabu, 01 Januari 2014

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 6, Romansa Cinlok

Beberapa sore yang lalu, saya melewati jalan Palagan setelah pemilihan PU Psikomedia yang melelahkan. Sendirian, di tengah deraian hujan, berusaha menyelip-nyelip diantara kemacetan. Tiba-tiba saya ingat, jalan ini adalah jalan yang selalu saya lewati pada saat berangkat dan pulang dari tempat KKN nun di Turi sana. Memang pada akhir masa KKN, saya menemukan jalan lain yang lebih efektif dan efisien, 30 menit saja dari rumah jika ngebut dan yang paling penting, bebas macet. Tetapi saya bukan mau membahas segala macam jalan yang saya lalui. Saya akan menulis mengenai apa yang mendadak apa yang saya ingat sore itu. Mengenai cinta lokasi. Ya, cerita mengenai KKN rasanya kurang lengkap apabila tidak membahas yang satu ini. Dua bulan tinggal bersama dapat melahirkan persaudaraan yang erat, bahkan cukup memungkinkan untuk menghadirkan cinta diantara sepasang manusia. Disini, saya akan menulis mengenai cinta lokasi yang terjadi pondokan, dengan nama disamarkan, karena saya tidak ingin merusak kredibilitas yang bersangkutan. Sebut saja dua orang perempuan selain saya Mawar dan Melati. Sedangkan para lelaki, sebut saja Elang, Macan, Singa, dan Naga. Oke, nama bunga dan binatang, seperti regu pramuka.

Kisah cinta di pondokan kami ada dua jenis, yang berakhir bahagia dan sedih. Bersatu dan patah hati. Sepertinya akan lebih menyenangkan apabila dimulai dari kisah yang bahagia dulu. Kisah dari Melati dan Elang, sebut saja begitu. Pada awal KKN, Melati adalah perempuan yang sudah punya pacar, sedangkan Elang masih jomblo. Awalnya tidak ada yang istimewa dari hubungan mereka berdua. Sangat biasa, seperti teman yang belum lama akrab. Memang sih, Elang lebih suka memboncengkan Melati ketika ada acara. Dan lama-kelamaan lebih akrab dan perhatian dengan Melati dibanding dengan yang lain. Meskipun begitu, belum ada yang aneh dari hubungan mereka. 

Tetapi semua berubah ketika Melati dan pacarnya yang nun jauh di Jogja mengalami masalah. Melati yang sudah sejak dulu memendam perasaan tidak suka pada sifat pacarnya yang cuek, mencapai titik puncaknya pada KKN ini. Dia benar-benar telah merasa lelah menghadapi sifat pacarnya itu, padahal ia sudah memberi perhatian pada lelaki itu. Ditambah lagi dengan sifat Melati sendiri yang suka dan ingin diperhatikan. Akhirnya mereka putus. Oke, sebenarnya tidak sesederhana kalimat itu. Prosesnya memakan waktu yang lumayan, berhari-hari sesi curhat di malam hari, bertetes-tetes air mata, puk-puk di punggung, dan segala macam kalimat "kompor" dari saya dan Mawar, akhirnya mereka putus lewat SMS. Putusnya juga tidak semulus memotong tali dengan gunting yang tajam. Lebih seperti memotong kain dengan gunting tumpul. Susahnya minta ampun. Melati berkali-kali tergoda untuk balik lagi karena cowoknya menjadi bersikap manis. Bahkan cowok itu sampai menyusul ke Turi. Melati galau maksimal sepanjang hari, selama seminggu penuh. Saya yakin, kalau tidak ada saya dan Mawar mereka pasti balikan. Dan kita bisa langsung akhiri kisahnya disini karena hal-hal yang akan diceritakan berikutnya tidak terjadi.

Di titik ini, saya (dan Mawar juga) baru menyadari sesuatu. Bahwa perhatian yang diberikan Elang kepada Melati berbeda. Ada sesuatu yang lebih intens terbangun diantara mereka sejak peristiwa Melati mendadak menangis saat ada Elang dan Macan. Mereka menjadi lebih sering berdua, berboncengan kemana-mana, dan cara mereka saling menatap, sungguh berbeda. Elang meminjamkan bantal dan gulingnya untuk Melati, padahal kami yang lain tidak boleh menyentuhnya. Elang meminjamkan kupluknya untuk Melati. Memegang tangannya saat menonton film horor. Mengantar Melati kemana-mana. Membelikan roti, membuatkan mie. Meminjamkan jaketnya. Saya dan Mawar terkejut melihat perkembangan ini, karena pada saat Melati baru saja putus dengan pacarnya, kami sempat menjodohkannya dengan Elang. Hanya main-main tentu saja. Ketika kami bertanya tentang perasaan Melati, mulanya ia mengelak dan tidak percaya bahwa perhatian Elang yang luar biasa itu hanya ditujukan bagi dirinya. Tetapi lama-kelamaan ia luluh dengan segala perhatian itu. Dan mengakui bahwa ia suka pada Elang.

Jatuh cintanya sepasang insan, ternyata tidak sesederhana di dalam FTV. Jatuh cinta, jadian, lalu bahagia selama-lamanya. Tamat, habis perkara. Tidak seperti itu, apalagi di pondokan yang berisi 7 kepala. Pada saat kedekatannya dengan Elang mulai dipublikasikan, Melati mengakui kepada saya bahwa ia cemburu apabila melihat Mawar sedang dekat dengan Elang. Apalagi Mawar berstatus jomblo cantik, dan pernah mengaku pada kami bahwa Elang itu cowok paling ganteng di sub-unit, bahkan unit. Melati pernah merasa sangat cemburu saat Elang meminta waktu privat dengan Mawar, meminta maaf akibat telah membajak twitternya. Tetapi rasa itu akhirnya menghilang ketika kami bertiga blak-blakan mengenai hubungan Melati dan Elang. Mawar memang sempat mempertimbangkan Elang, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya setelah melihat sifatnya yang sukar ditebak dan sangat moody.

Ada sebuah ungkapan, ketika sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak. Ungkapan ini rupa-rupanya terbukti benar, setidaknya di pondokan kami. Setelah sebulan tinggal bersama, pasangan yang dimabuk asmara ini semakin lengket seperti perangko, membuat lima orang yang lain merasa tersisih. Seolah-olah ada sebuah gelembung tak kasat mata yang mengurung mereka berdua, membuat tembok pemisah antara mereka dan kami berlima. Lebih tidak nyaman lagi saat hanya bertiga dengan Melati dan Elang, karena selalu mengobrol berdua, meninggalkan orang ketiga sebagai obat nyamuk. Kami semua pernah mengalami "awkward moment" seperti itu sekurang-kurangnya satu kali. Naga malah lebih parah, semalaman ditinggal bertiga dengan Melati dan Elang karena yang lain sedang turun. Dan mereka tidur bertiga di depan. Saya tebak Melati dan Elang tidur berdampingan, sementara Naga tidur sendiri di pojokan. Singa malah lebih frontal menyatakan ketidaksukaannya. Saat itu ia sedang tidur siang dan ditinggalkan bertiga dengan mereka. Begitu terbangun dan menyadari mereka cuma bertiga, ia langsung bangkit dan masuk ke kamar cewek-cewek dimana ada saya, Mawar, dan Macan yang sedang tiduran, sambil berkata agak keras "Aku numpang tidur disini ya". Duh deek...

Ternyata ada seseorang yang kurang senang dengan bersatunya mereka. Sebenarnya bukan begitu juga sih. Lebih tepatnya merasa terkhianati dan ditinggalkan. Namanya Macan. Sebelum Elang dekat dengan Melati, ia adalah sahabat dekatnya. Mereka berdua sangat dekat, bahkan Elang tidak rela kalau Macan turun ke Jogja. Elang kadang ikut Macan turun dan bisa ngambek seharian jika tidak bisa ikut. Setelah Elang dekat dengan Melati, Macan ditinggalkan begitu saja. Tentu saja Macan geram dengan polah Elang tersebut. Ia mungkin merasa seperti ampas tebu yang telah dihisap habis sarinya *halah*. Ia juga curiga dengan kemungkinan Elang cuma "mempermainkan" Melati. Ah, yang itu tidak perlu diceritakan lebih lanjut disini. Yang jelas, kecurigaan terang-terangan Macan membuat Melati gundah, bahkan mengira Macan memilki rasa yang khusus (cemburu) dan hubungan yang istimewa (homo *ehem*) dengan Elang. Tentu saja bukan seperti itu, saya menjelaskan padanya.

Tetapi walaupun sempat menimbulkan berbagai prahara di pondokan, hubungan mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya, membuat para jomblo (kebetulan sub-unit kami paling banyak jomblonya) dan LDR-ers merasa sedikit ngenes. Bayangkan, pada malam penuh bintang, Elang dan Melati memotret bintang berduaan di halaman rumput rumah Pak Slamet, sementara saya dan Mawar ditinggal duduk di rumput berduaan (karena Naga sudah tidur, Macan dan Singa sedang pulang). Karena telah menjadi sepasang obat nyamuk dengan sukses, kami duduk di atas rumput sambil menatap bintang dan mengkhayalkan bulan madu. Absurd. Sebaiknya saya akhiri saja kisah yang ini sekarang, kalau tidak saya bisa keceplosan menceritakan berbagai kengenesan kami yang lain saat berhadapan dengan sepasang merpati itu.

Kisah cinlok selanjutnya datang dari Mawar, sang jomblo cantik. Bisa dibilang ia adalah kembang unit kami, karena di masing-masing sub-unit ia memiliki minimal satu penggemar. Statusnya macam-macam, ada yang sesama jomblo, ada pula yang sebenarnya sudah punya gandengan. Tetapi sang Mawar nan mewangi ini mematahkan hati semua lelaki yang mengharapkan cintanya dengan alasan tidak ada di antara mereka yang disukainya. Dari yang secara langsung menggombal dan menyatakan perasaannya, sampai yang diam-diam suka dan harus didukung penuh oleh temannya, bahkan sampai temannya itu menceritakan tentang perasaan si *tiiitt* (sensor) pada Mawar (tanpa persetujuan si (sensor lagi) tentunya). Saking banyaknya yang menaksir dirinya, Mawar sampai galau dan harus curhat kepada saya, Melati, atau Singa. Sepertinya tidak hanya anak KKN yang mengagumi Mawar, ada salah satu warga Dusun Kloposawit yang sering SMS dia. Padahal mas itu sudah punya istri.

Paling nyesek adalah ketika kami mendengar pengakuan mengejutkan bahwa ada salah satu teman pondokan yang suka pada Mawar dari awal KKN, dari pandangan pertama. Padahal ia tidak memperlihatkan rasa suka dan sikapnya pada Mawar biasa saja. Tenyata, sampai ada acara mandi bareng (baca: sebelahan) dengan teman dekatnya, khusus untuk sesi membahas Mawar. Sebenarnya kami yang lain sering curiga juga, mengapa mereka kalau mandi selalu bareng? Tidak mau bersebelahan dengan yang lain? Alibinya sih mereka membahas program, kebetulan memang mereka satu kluster. Ternyata mereka melakukan curhat soal Mawar selama mandi. *Piip* juga jadi sering meninggalkan pondokan dan main ke sub-unit lain karena merasa agak "gimana gitu" tinggal sepondokan dengan gadis yang disukainya, namun ia tidak kunjung memiliki keberanian untuk mendekatinya. Teman-teman dekat si *piipp* yang suka pada Mawar meminta Mawar yang sudah menolak mentah-mentah sejak awal, untuk mempertimbangkan soal lelaki itu. Katanya ia cowok setia, pandai, baik, meskipun mungkin kurang sesuai dengan kriteria Mawar. Temannya juga bilang bahwa sang cowok berenacana menembak Mawar saat perpisahan KKN nanti (pendengar langsung hening, shock *ziingg*). Tetapi Mawar tetap teguh pada pendiriannya dan meminta teman-teman baik si *piiip* untuk menyampaikan penolakannya dengan halus dan hati-hati, kalau bisa jangan sampai tersinggung. Dan hari itu, kami terpaksa melihat pemandangan wajahnya si *piipp* yang masam dan pahit seharian. Dan sejak hari itu ia semakin tidak betah di pondokan. Sedih :'(.

Sebenarnya masih ada kisah cinlok di tempat KKN ini, baik yang tersembunyi maupun yang sensasional (ini serius), tetapi sayangnya saya sudah capek mengetik panjang sekali. Saya hanya menceritakan kisah yang dapat saya observasi secara langsung (bukan partisipan lho ya) sehingga dapat memperoleh seluruh detailnya dari awal sampai akhir. Ternyata soal cinlok KKN itu bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan. Bayangkan saja, hidup serumah dua bulan dengan orang yang itu-itu saja, bisa saja cinta bersemi secara bertahap. Seperti kata peribahasa Jawa "Witing tresna jalaran saka kulina". Jadi bagi para jomblo-jomblo, KKN adalah saat yang tepat untuk mencari tambatan hati, seperti yang dikatakan sendiri oleh salah satu dosen saya sebelum kami berangkat KKN, "Carilah jodoh saat KKN, biar kalian tidak jadi STMJ (Semester Tujuh Masih Jomblo)". Meskipun tidak semua orang berhasil, ada yang habis KKN masih saja jomblo, ada yang habis KKN malah putus, ada pula yang habis KKN malah dikejar-kejar teman satu sub-unit padahal dia sudah punya pacar *ups*, saran dosen saya layak dicermati mblo, bagi anda sekalian yang tidak mau mengalami STMJ lho ya :D.

Ah cinta, kisahnya memang tiada habisnya.