Di sebuah kampus ternama, Yogyakarta...
Ia tekun mencatat, sesekali bercanda dengan teman di sampingnya. Dosen menanyakan sesuatu pada seluruh kelas. Ia diam, dan hanya mengamati seorang temannya yang sedang menjawab pertanyaan itu.
Ia duduk di dalam sebuah ruangan. Orang-orang di sekitarnya duduk melingkar dan saling berdebat, berebutan mengutarakan pendapat. Ia mendengarkan, dan diam di pojokan.
Ia menyimak sebuah presentasi. Ketika moderator menanyakan apakah ada pertanyaan atau tanggapan, ia melirik kesana-kemari, namun lagu-lagi diam.
Ada rapat, ada talkshow, ada diskusi. Ia hanya tersenyum. Dan (masih) diam.
Dosen bertanya. Seluruh kelas hening...
Ia.. atau haruskah kuganti saja dengan kata aku? Mahasiswa, yang meski bukan kupu-kupu, namun pasif seperti kepompong. Tipe mahasiswa yang hanya mencatat dan mendengarkan, kemudian keluar kelas tanpa menanyakan suatu pertanyaan, mengutarakan pendapat, bahkan berbicara sedikitpun. Malah mungkin aku ini lebih buruk lagi, mahasiswa yang banyak berbicara... di belakang dosen. Atau berbicara di depan dosen (karena dosen menghadap mahasiswa) tetapi bukan kepada beliau, melainkan kepada teman yang duduk di sebelah, dan tak jarang isi pembicaraannya adalah.. mengenai dosen. Tak hanya di dalam kelas, di luar kelas pun begitu. Ketika rapat organisasi berlangsung, aku duduk di pojokan dan mendengarkan, tanpa berpendapat sepatahpun. Selalu mengangguk setuju dengan keputusan apapun yang dihasilkan.
Sebelum masuk kuliah, ibu pernah bercerita bahwa jika di kelas, yang penting adalah duduk manis, mendengarkan penjelasan, dan mencatat, maka nilai bagus dijamin ada dalam genggaman. Namun itu sudah lebih dari 20 tahun yang lalu. Sekarang zaman sudah berubah. Kemampuan berkomunikasi, public speaking, menjadi soft skill yang penting untuk dapat bersaing di era sekarang. Seorang kakak angkatan yang pernah magang di sebuah perusahaan berkata bahwa dalam dunia kerja, kemampuan berkomunikasi sangat penting, mereka yang mengutarakan pendapat lebih dihargai. Student centered learning juga telah menjadi sebuah keniscayaan yang harus dijalani oleh para mahasiswa. Mereka yang "bersuara" dihargai tinggi. Nilai baik kini tak hanya dari kemampuan menjawab soal-soal, namun juga dilihat dari keaktifan di kelas. Sedangkan mereka yang pasif, jangan harap dapat dikenal dosen, mungkin dipedulikan saja tidak.
"Ah, tidak apa-apa. Berarti aku punya kemampuan mendengarkan yang baik. Cocok jadi psikolog", pembelaan diri menyedihkan, defense mechanism yang lemah. Tapi salahkah ketika aku tak bisa jadi seperti mereka? Ketika diam bukan lagi keterpaksaan, melainkan telah menjadi sebuah pilihan? Seorang teman pernah berkata, dia bukannya tidak mau bertanya di kelas, setiap ia memiliki sebuah pertanyaan, maka ia akan mencari jawabannya sendiri dalam pikirannya. Jika akhirnya pertanyaan itu berhasil terjawab dengan jawaban yang (menurutnya) benar, maka ia tidak akan bertanya. Karena baginya diam lebih baik daripada mengajukan pertanyaan bodoh. Karena ia hanya ingin mengetahui jawaban yang benar-benar tak bisa dicarinya sendiri, bukan untuk kelihatan pintar, aktif, apalagi mencari muka di hadapan dosen.
Akupun demikian, memilih diam karena memang tidak ingin bicara. Mungkin banyak yang menganggapku pengecut, tidak berani mengutarakan pendapat. Berkata bahwa semua itu akan hilang, jika aku melakukan banyak latihan. Itu tidak salah, dan akupun tidak menyangkal bahwa kadang-kadang ada perasaan takut salah dan dilecehkan. Namun aku memang begini adanya, tidak terlalu suka berbicara di hadapan orang banyak dan lebih suka menyimpan pendapat untuk diri sendiri. Bukankah ada individual differences? Mungkin pribadiku memang tidak menguntungkan dan aku tak menyangkal jika ingin berubah, tetapi sesuatu yang telah memiliki akar yang menggurita terlalu sulit dicabut bukan? Bahkan telah menjadi suatu trait yang melekat pada diriku.
Mungkin ini memang pembelaan paling menyedihkan tentang sikap diam yang pernah dibuat. Diam memang kadang bermakna tidak tahu. Diam memang sering bermakna tidak mengerti. Namun jangan menggeneralisir sesuatu yang mengandung subjektivitas, mengandung makna yang tersirat dan tak terbaca. Diam di kelas bukan berarti tak mengerti, pasif bukan berarti tak memahami, dan tak bertanya bukan berarti bodoh. :)
Ia tekun mencatat, sesekali bercanda dengan teman di sampingnya. Dosen menanyakan sesuatu pada seluruh kelas. Ia diam, dan hanya mengamati seorang temannya yang sedang menjawab pertanyaan itu.
Ia duduk di dalam sebuah ruangan. Orang-orang di sekitarnya duduk melingkar dan saling berdebat, berebutan mengutarakan pendapat. Ia mendengarkan, dan diam di pojokan.
Ia menyimak sebuah presentasi. Ketika moderator menanyakan apakah ada pertanyaan atau tanggapan, ia melirik kesana-kemari, namun lagu-lagi diam.
Ada rapat, ada talkshow, ada diskusi. Ia hanya tersenyum. Dan (masih) diam.
Dosen bertanya. Seluruh kelas hening...
Ia.. atau haruskah kuganti saja dengan kata aku? Mahasiswa, yang meski bukan kupu-kupu, namun pasif seperti kepompong. Tipe mahasiswa yang hanya mencatat dan mendengarkan, kemudian keluar kelas tanpa menanyakan suatu pertanyaan, mengutarakan pendapat, bahkan berbicara sedikitpun. Malah mungkin aku ini lebih buruk lagi, mahasiswa yang banyak berbicara... di belakang dosen. Atau berbicara di depan dosen (karena dosen menghadap mahasiswa) tetapi bukan kepada beliau, melainkan kepada teman yang duduk di sebelah, dan tak jarang isi pembicaraannya adalah.. mengenai dosen. Tak hanya di dalam kelas, di luar kelas pun begitu. Ketika rapat organisasi berlangsung, aku duduk di pojokan dan mendengarkan, tanpa berpendapat sepatahpun. Selalu mengangguk setuju dengan keputusan apapun yang dihasilkan.
Sebelum masuk kuliah, ibu pernah bercerita bahwa jika di kelas, yang penting adalah duduk manis, mendengarkan penjelasan, dan mencatat, maka nilai bagus dijamin ada dalam genggaman. Namun itu sudah lebih dari 20 tahun yang lalu. Sekarang zaman sudah berubah. Kemampuan berkomunikasi, public speaking, menjadi soft skill yang penting untuk dapat bersaing di era sekarang. Seorang kakak angkatan yang pernah magang di sebuah perusahaan berkata bahwa dalam dunia kerja, kemampuan berkomunikasi sangat penting, mereka yang mengutarakan pendapat lebih dihargai. Student centered learning juga telah menjadi sebuah keniscayaan yang harus dijalani oleh para mahasiswa. Mereka yang "bersuara" dihargai tinggi. Nilai baik kini tak hanya dari kemampuan menjawab soal-soal, namun juga dilihat dari keaktifan di kelas. Sedangkan mereka yang pasif, jangan harap dapat dikenal dosen, mungkin dipedulikan saja tidak.
"Ah, tidak apa-apa. Berarti aku punya kemampuan mendengarkan yang baik. Cocok jadi psikolog", pembelaan diri menyedihkan, defense mechanism yang lemah. Tapi salahkah ketika aku tak bisa jadi seperti mereka? Ketika diam bukan lagi keterpaksaan, melainkan telah menjadi sebuah pilihan? Seorang teman pernah berkata, dia bukannya tidak mau bertanya di kelas, setiap ia memiliki sebuah pertanyaan, maka ia akan mencari jawabannya sendiri dalam pikirannya. Jika akhirnya pertanyaan itu berhasil terjawab dengan jawaban yang (menurutnya) benar, maka ia tidak akan bertanya. Karena baginya diam lebih baik daripada mengajukan pertanyaan bodoh. Karena ia hanya ingin mengetahui jawaban yang benar-benar tak bisa dicarinya sendiri, bukan untuk kelihatan pintar, aktif, apalagi mencari muka di hadapan dosen.
Akupun demikian, memilih diam karena memang tidak ingin bicara. Mungkin banyak yang menganggapku pengecut, tidak berani mengutarakan pendapat. Berkata bahwa semua itu akan hilang, jika aku melakukan banyak latihan. Itu tidak salah, dan akupun tidak menyangkal bahwa kadang-kadang ada perasaan takut salah dan dilecehkan. Namun aku memang begini adanya, tidak terlalu suka berbicara di hadapan orang banyak dan lebih suka menyimpan pendapat untuk diri sendiri. Bukankah ada individual differences? Mungkin pribadiku memang tidak menguntungkan dan aku tak menyangkal jika ingin berubah, tetapi sesuatu yang telah memiliki akar yang menggurita terlalu sulit dicabut bukan? Bahkan telah menjadi suatu trait yang melekat pada diriku.
Mungkin ini memang pembelaan paling menyedihkan tentang sikap diam yang pernah dibuat. Diam memang kadang bermakna tidak tahu. Diam memang sering bermakna tidak mengerti. Namun jangan menggeneralisir sesuatu yang mengandung subjektivitas, mengandung makna yang tersirat dan tak terbaca. Diam di kelas bukan berarti tak mengerti, pasif bukan berarti tak memahami, dan tak bertanya bukan berarti bodoh. :)