Bulan April ini banyak yang ulang tahun. Mulai dari teman SMA, teman kuliah, teman sedivisi, sampai Ibu Kartini. Ketika sedang berulang tahun, ada empat kemungkinan kejadian. Yang pertama, diselametin sama teman-teman, itu biasa. Yang kedua, tidak diselametin, mungkin sengaja menyembunyikan atau memang dilupakan (ngenes). Yang ketiga, dikerjain. Ada lagi yang keempat, dijadikan peringatan hari nasional, tapi hanya terjadi pada orang-orang tertentu (baca: pahlawan). Karena yang pertama biasa, yang kedua tidak ada yang bisa dijadikan tulisan, dan yang keempat menyangkut Ibu Kartini, pasti sudah banyak yang menulis tentangnya, maka saya akan membahas kemungkinan yang ketiga yaitu dikerjain.
Gara-garanya pagi ini saya mendengarkan cerita salah satu teman. Ia menceritakan tentang tetangga kosnya yang ulang tahun, kemudian disiram dengan air galon dan... kecap. Seriusan, saya saja takjub dan agak gilo mendengarnya. Karena mendapatkan stimulus seperti itu, saya jadi teringat dan tertarik memaparkan beberapa petualangan aneh bin ajaib yang saya alami dalam dunia perulangtahunan. Sebagai yang mendapat tugas mengerjai tentu saja, karena ulang tahun saya bisa dibilang tidak seru, maka tidak perlu diceritakan -_-. Mari kita capcuss saja :D
Menangis Sebelum Pesta
Dimulai pada suatu hari yang cerah, di bulan Agustus (sepertinya, saya lupa). Waktu itu saya masih SMA kelas XI. Salah satu teman saya yang bernama Yesy merayakan ulang tahun ke 16 dengan mengundang teman-teman dekatnya untuk datang ke rumah dan makan-makan. Karena kami (saya sudah lupa siapa saja, yang jelas ada teman-teman yang kemarin saya ceritakan dalam edisi mbolang ke Solo) memang gila dan jahil, maka dibuatlah sebuah rencana untuk membuat sang tuan rumah merasa jengkel. Beberapa teman ada yang datang duluan ke rumah Yesy untuk berpura-pura marah, karena acara ulang tahun tersebut membuat mereka terpaksa membatalkan acara-acara lain, salah satu yang saya ingat adalah membatalkan rencana mencuci (alasan yang nggak banget). Kemudian setelah marah-marah, mereka pura-pura pulang. Sedangkan sisanya termasuk saya, menunggu di rumah dekat tikungan, dengan ditemani anjing yang terus menggonggong.
Mulanya kami pikir rencana itu tidak berhasil. Ternyata waktu kami ramai-ramai kembali ke rumah Yesy, ibunya menyongsong kami dengan mimik muka khawatir dan berkata bahwa anaknya masuk ke kamar, tidak mau keluar. Tentu saja kami jadi panik sendiri, takut ada apa-apa. Kemudian kami semua menyusul ke kamar Yesy dan mendapati dia sedang menangis dengan muka yang merah semua (sayang saat itu tidak membawa kamera :p). Mendapati hal tersebut, kami meminta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya, sambil tertawa geli tentu saja. Untung Yesy tidak marah, malah ikut-ikutan tertawa. Dan setelah itu, pestapun tetap berjalan dengan lancar.
Bercanda Berujung Bencana
Jika bercanda dengan orang lain, sebaiknya dikira-kira, agar tidak menjadi bumerang yang melukai kita maupun dia. Itulah pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman saat mengerjai Syscha di hari ulang tahunnya yang jatuh pada bulan Oktober. Mulanya, saya dan teman-teman mendiamkan dia sepanjang hari (kalau tidak salah saat itu hari Jumat). Kami benar-benar diam dan bersikap sangat menjengkelkan padanya. Saya lupa detail apa saja perbuatan yang kami lakukan padanya, yang jelas ia kelihatan sangat kesal pada kami. Saking kesalnya, ia tidak duduk-duduk bersama kami dulu waktu istirahat sebelum les, melainkan langsung pergi ke kelas. Saat itu, kami memutuskan bahwa sekaranglah saatnya mengakhiri permainan ini (halah). Kami semua pergi ke kelas dengan Widi di depan sebagai pembawa kado dan memanggil Syscha agar keluar kelas. Namun apa yang terjadi? Syscha malah membanting kado yang baru saja diserahkan Widi padanya, membuat Widi menjadi sangat marah. Peristiwa itu membuat Widi dan Syscha terlibat perang dingin selama beberapa lama. Walaupun akhirnya semua kembali damai tentram seperti sediakala, peristiwa itu tetap merupakan blunder yang memalukan dan menyakitkan. Jadi, jangan ditiru ya pembaca yang budiman ;).
Mencopet Dompet
Sasaran kejahilan kali ini adalah sang EO kenamaan yang baru saja berulangtahun 19 April lalu, Patrick. Sepulang mentraktir renang di Wisanti pada hari Minggu, Patrick dan kami semua duduk di depan hotel itu sambil mengobrol. Ketika ia sedang asyik mengobrol, saya dan Syscha mulai beraksi dengan pura-pura meminjam tasnya untuk kemudian mencopet dompet di dalamnya. Benar-benar ahli saat itu, saya juga heran. Sampai sang pemilik yang biasanya pintar mendeteksi penipu, kali ini tidak merasakan apa-apa. Setelah diambil, dompet ditaruh di tas Syscha (kalau tidak salah). Karena tadi waktu membayar biaya renang menggunakan uang Een dulu, Patrick bermaksud mengganti dengan mengambil uang tunai dari dompetnya. Namun dompetnya (jelas) sudah raib, dan ia menjadi kebingungan, kemudian mulai mencari kemana-mana. Saat itu dengan jahatnya, teman lain meninggalkan Patrick bersama Een yang malang, menuju ke warung bakso di seberang jalan (sebelumnya sudah berkonspirasi seperti itu :p). Akhirnya konspirasi itu terbongkar ketika kami sudah tidak tahan dengan muka Patrick yang memelas, disamping keinginan untuk tertawa yang sudah tidak dapat dibendung lagi.
Ular-ularan Salah Sasaran
Bulan Oktober, banyak diantara teman-teman dekat saya yang berulang tahun. Salah satunya adalah Widi. Saat itu, kami semua menggunakan taktik standar operasional ulang tahun, mendiamkan yang berulang tahun. Setelah didiamkan seharian, pulang sekolah adalah waktu untuk memberikan kado ulang tahun (ini juga standar operasional). Namun kado ultah kali ini bukanlah kado biasa, melainkan sebuah kado bohong-bohongan yang berisi ular-ularan karet milik saya. Singkat cerita, Widi membuka kado yang telah dibungkus dengan cantik, didampingi kami semua yang berdiri dekat di sekitarnya. Dan... ta daaa... ketika kado dibuka, muncullah efek yang kami semua harapkan, terdengar jeritan keras, bahkan sampai ada efek lari terbirit-birit. Namun anehnya, perilaku itu bukan muncul dari Widi sendiri, yang cuma terkesiap kaget sambil menjatuhkan kotak, melainkan dari Indah yang langsung menjerit keras, lari terbirit-birit beberapa belas meter jauhnya, dengan ekspresi ketakutan di wajah. Kami semua langsung tertawa terpingkal-pingkal. Dan sampai saat menulis ini, setelah hampir 3 atau 4 tahun berlalu, saya masih tertawa mengenang ekspresi Indah saat itu :p.
Sepatu Hilang Sembunyi Tangan
Di cerita yang atas ia adalah korban salah sasaran, di cerita ini dia menjadi korban betulan. Yup, inilah Indah yang berulang tahun pada bulan November. Pada hari itu seusai pelajaran TIK, saya dan Bekti sudah selesai duluan. Kamipun keluar kelas dan kebetulan melihat sepatu Indah yang orangnya masih di dalam. Sepatu memang dilepas pada saat pelajaran TIK karena ruang kelasnya berkarpet. Melihat sepatu itu, kami memiliki ide untuk menyembunyikan, sekalian mengerjai Indah yang baru saja berulangtahun. Setelah beberapa saat mencari, kami mendapatkan tempat persembunyian yang pas, lemari tidak terpakai yang berada di sebelah lab bahasa. Sambil menunggu Indah, saya dan Bekti memberitahukan tentang penyembunyian sepatu kepada Pat, Sys, dan Yesy. Akhirnya Indah keluar juga dari kelas, dan kebingungan mendapati sepatunya sudah raib. Ia bertanya kepada kami mengenai sepatunya, namun kami semua pura-pura tidak tahu (benar-benar berbakat jadi artis). Indah terlihat bingung dan putus asa, sehingga kami terdorong untuk memberinya saran yang aneh, yaitu bertanya kepada guru TIK yang horor, Pak Budi. Dan lebih anehnya lagi, Indah menjalankan saran itu dengan patuh. Ia dengan polosnya bertanya kepada Bapak Budi, "Pak, sepatu saya mana?". Walhasil, kami semua terpingkal-pingkal dan berlari menghindar dari kejaran Indah yang sudah kalap, ditambah malu.
Setelah aksi kejaran-kejaran yang heroik, melibatkan ruang PMR sebagai bunker persembunyian, kami mengembalikan sepatu yang tadi sempat dijadikan tawanan. Namun, aksi "terorisme" kami belum berakhir. Sebelum sang pemilik sempat bereuni dengan sepatu tercintanya, kami menangkap tangan dan kakinya kemudian menggotong Indah menuju tempat paling sakral bagi yang sedang berulang tahun di SMA 7 Yogyakarta, kolam 7. Entah sudah berapa jiwa menjadi korban penceburan paksa di kolam kecil dengan tugu berbentuk angka 7 di tengahnya, bermandikan air bercampur lumut dan bau amis ikan penghuninya. Saking seringnya, sampai sekolah membuat dekrit yang melarang menceburkan murid di situ, untuk melindungi ikan-ikan di dalamnya selain murid itu sendiri. Tetapi untungnya, pada saat itu aturan tersebut belum berlaku sehingga kami sukses besar menceburkan Indah ke dalamnya. Setelah itu, aksi kejar-kejaran kembali dimulai. Indah mengejar kami untuk melampiaskan kekesalan, dengan memeluk, sehingga baju yang terpeluk ikut kotor. Saat itulah saya mengalami sendiri bagaimana gambaran bergerilya waktu jaman perang. Setelah beberapa saat, salah satu pejuang kami yaitu Bekti, gugur disergap Indah secara tiba-tiba di parkiran. Kejadian itu saya dan Syscha manfaatkan untuk kabur dari sekolah dengan naik motor. Dan berakhirlah hari itu dengan bahagia (bagi saya dan mereka yang berhasil selamat dari pelukan maut Indah).
The Power of Box
Mari tinggalkan cerita ultah di masa putih abu-abu dan memasuki dunia perkuliahan, yang ternyata masih saja diwarnai kejahilan menggelikan. Kali ini yang menjadi korban adalah Woro, seorang gadis yang berulangtahun pada bulan Juni. Woro ini sangat takut pada cicak, maka hari itu kami, yang terdiri dari saya, Mega, Sarti, Eno, dan Dila, bermaksud untuk mencari seekor cicak dan dimasukkan ke dalam kotak snack untuk kadonya. Namun sialnya, kami tidak berhasil menangkap seekorpun. Aktivitas kami saat itu begitu kentara, sampai ketahuan oleh Woro waktu sedang mencari cicak di mushola fakultas. Putus asa, kami memutuskan untuk memberikan saja kotak kosong itu pada Woro, tanpa cicak. Tetapi ia sama sekali menolak untuk membukanya. Sepertinya kegiatan kami mencari cicak membuat Woro berasumsi bahwa kotak itu berisi cicak. Kami terus-menerus memaksanya untuk membuka kotak, berkata bahwa itu berisi kue ulang tahun, namun ia sama sekali tidak terpengaruh. Bahkan ia sangat ketakutan ketika kotak itu didekatkan padanya. Keadaannya diperparah ketika salah satu teman lelaki mengintip isi kotak tersebut kemudian berkata, "Oh, ini toh yang ditakutin sama Woro". Kami menghabiskan beberapa jam memaksa Woro agar mau membuka kotak, sampai ia menangis (mungkin saking ketakutannya :p).
Akhirnya setelah pemaksaan, janji-janji, dan bujukan yang intensif, Woro mau juga membuka kotaknya. Dan kotak itu tentu saja, kosong. Membuatnya malu sendiri telah menangis. Juga membuat kami tertawa. Memang luar biasa kekuatan sebuah kotak, untuk menyembunyikan sesuatu yang ada, maupun yang sebenarnya tiada >v<.
Muncul di Saat yang Kurang Tepat
Diawali dengan kuliah PKKP hari Rabu pada bulan Maret, Ane, Bina, dan saya sendiri memutuskan untuk memberikan kado istimewa untuk Mega yang berulang tahun keesokan harinya. Kado yang diputuskan adalah... buku tentang cara mencari jodoh. Kami akan menyampaikan kado itu dengan cara yang tidak biasa, yaitu datang ke kosannya sore-sore saat ia sudah pulang ke situ, dengan membawa buku itu dan sebuah kue ultah.
Long short stories, pulang kuliah Latbang, dan setelah memastikan target sudah kembali ke kosannya, kami menuju Swiss House untuk mengambil kue yang telah dipesan Ane sebelumnya. Kue itu unyu sekali, berbentuk kepala Curious George (seekor monyet). Kemudian kami bertiga menuju ke kos Mega di daerah Klebengan, membawa sang kue unyu dan sebuah buku pink berjudul "Flirtology" (memang judulnya begitu, serius). Sampai di sana, kami berhenti sejenak di ruang tamu untuk meyusun rencana kemunculan, agar meriah dan heroik. Disepakati bahwa kami akan langsung melompat ke depan pintu kamar Mega yang saat itu dalam keadaan terbuka sambil bernyanyi selamat ulang tahun diiringi bertepuk-tepuk. Akhirnya rencana itu dijalankan, kami muncul di depan pintu sambil membawa kue dan bernyanyi keras-keras, tak lupa bertepuk tangan, untuk menemukan..... si pemilik kamar yang sedang menunaikan Sholat Ashar. Kamipun langsung terdiam, sementara tubuh Mega berguncang karena tawa. Maka batallah sholatnya dan batallah kemunculan meriah kami, karena saatnya ternyata kurang tepat -_-.
Itulah cerita-cerita ulang tahun yang pernah saya alami. Sebenarnya masih ada, namun karena sudah capek mengetik dan sebagian memori mengenai cerita itu telah "vanished to the oblivion" atau sudah terkubur di lapisan terdalam long term memory (bahasa sederhananya: lupa!), maka kisah-kisah itu tidak dapat ditulis ulang lagi. Bagi teman-teman yang namanya disebutkan di atas, mohon jangan tersinggung, saya hanya ingin mencatat pengalaman hidup yang menarik dan sayang jika terlupakan. Semoga dapat dinikmati dan diambil hikmahnya ^^.
Regarder gratuitement DONBASS Disponible
-
[Gratuit * HD *] Surveillance DONBASS (2018) Film complet. DONBASS peut
être regardé pour vous inscrire gratuitement. Regarder DONBASS avec la
qualité HD....
7 tahun yang lalu
1 comments:
Kalau saya mah ga ada cerita ulang tahun.... Kecuali waktu putih abu-abu, itu juga satu-satunya cerita. :(
Posting Komentar