Pages

Kamis, 09 Mei 2013

Kucing... Kucing Dimana-mana

Saya suka kucing. Dari kecil dulu sampai sekarang. Kucing pertama yang saya sentuh adalah kucing betina berwarna kembang asem alias oranye milik tetangga. Mulanya saya takut menyentuh dia, tapi lama-lama saya berani, karena memang kucing itu manis sekali. Ia mengeong dan mau diajak bermain-main. Sejak itu, hidup saya seperti penuh kucing. Mulai dari Pusy sang kucing betina pertama, sampai dengan keturunannya, karena dia rajin sekali beranak. Semua anaknya saya namai, bahkan saya dan teman-teman masa kecil pernah membuat pesta ulang tahun untuk anak-anak kucing tersebut. Padahal itu kucing tetangga. Dan sepertinya mereka tidak mau dirayakan ulang tahunnya karena malah kabur. Tinggalah kami anak-anak kecil, makan-makan dengan (tetap) riang gembira. Sayangnya, Pusy sekarang sudah meninggal karena keracunan racun tikus dan anak-anaknya entah dimana.

Sejak saat itu, hidup ini seperti dikelilingi kucing. Dimanapun saya berada, setiap ada kucing pasti dikejar. Meskipun saya maniak dengan kucing, tetapi saya belum pernah memelihara kucing sekalipun. Kedua orang tua saya tidak membolehkan. Katanya bulunya bisa membuat sakit, suka muntah, dan suka berak dimana-mana. Padahal beliau-beliau juga punya kucing waktu masih kecil. Curang...

Pengalaman terdekat saya memelihara kucing adalah waktu masih tinggal di rumah simbah. Pusy melahirkan dua ekor anak kembar warna oranye putih di gudang rumah. Kedua kucing kecil itu disembunyikan di sebuah kardus. Saya dan adik kemudian mengunjungi mereka setiap hari dan memberi makan juga. Saya senang sekali, serasa punya kucing sendiri. Tetapi ketika kucing-kucing itu sudah dapat berjalan, mereka keluar dari gudang, padahal kami berdua sudah berusaha mencegah. Ketahuan deh peliharaan kami oleh ibu, bapak, dan simbah. Akhirnya kedua kucing itu dikeluarkan dari rumah dan ditaruh di rumah tetangga, karena memang mereka anak Pusy. Waktu itu saya sedih sekali karena kalau mau main dengan kucing harus pergi ke rumah tetangga.

Waktu pindah ke rumah ini, sekali lagi datanglah kucing-kucing dalam kehidupan saya. Yang pertama saya temui adalah kucing hitam tua yang jelek banget. Sumpah, dia jelek sekali, bulunya sudah rontok dan gundul. Namun saya tetap suka, karena seperti Pusy, dia rajin beranak dan anaknya hitam-hitam, jarang yang warnanya lain. Dan anaknya selalu ditaruh di dekat rumah jadi sehingga dapat selalu bermain dengan mereka. Sekarang mereka semua juga telah tiada, entah dimana.

Pernah juga kucing-kucing bagus milik orang lain datang ke rumah. Ada yang belang-belang hitam putih seperti sapi dan putih bersih. Semuanya masih remaja. Yang hitam-putih ada dua ekor, sangat imut dan langsing. Yang putih badannya gendut, bulunya bersih, putih seperti bakpao. Mereka semua sangat sering main ke rumah, kadang sendiri-sendiri, kadang bersama. Bahkan saya pernah memandikan si putih sampai dia trauma dan tidak datang ke rumah untuk sementara waktu. Namun lagi-lagi saya harus berpisah dengan mereka. Setelah badannya dipilok wana pink oleh entah siapa, si putih tidak pernah datang lagi. Si sapi pun ikut-ikutan menghilang.

Setelah itu, kucing-kucing seperti datang dan pergi. Mereka hanya datang beberapa hari, kemudian menghilang selamanya. Ada kucing calico yang agak lama datangnya, suka tidur di rumah juga. Tetapi saat itu ia dalam keadaan sakit sehingga mungkin sekarang sudah meninggal. Ada juga kucing yang datangnya cuma sebentar, tetapi meninggalkan kenang-kenangan tak terlupakan. Pada suatu hari, kucing itu terjebak di rumah saya yang kosong. Waktu ibu pulang, ia menemukan tahi kucing di atas tumpukan cucian yang telah disetrika, tepatnya di atas bra. Walhasil, kucing tidak tahu diri itu diusir dari rumah dan kali berikutnya ia datang, pasti diusir lagi dengan sapu. Kucing itupun kapok dan tidak pernah datang lagi. Selain yang dipukulin sapu karena tidak tahu diri, kucing lain yang teraniaya adalah seekor kucing kembang asem yang menjadi sasaran percobaan aneh adikku. Tapi bedanya, dia tidak salah apa-apa. Tak tahu kenapa ia jadi sasaran. Mungkin karena wajahnya memang teraniaya. Kucing ini pernah dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik hitam besar, atau diajak menari-nari liar. Tidak heran setelah beberapa kali kunjungan, kucing itu tidak pernah muncul di rumah kami.

Sekarang, di rumah saya ada seekor kucing. Tetapi belum akan saya ceritakan sekarang, karena kucing ini istimewa sekali. Butuh satu post penuh hanya untuk menceritakan tentang dia saja. Selain di rumah, saya juga suka mengejar-ngejar kucing kampus (maksudnya kucing yang tinggal di kampus). Akan saya ceritakan di post lain juga, karena lumayan banyak. Oke, saya memang playboy cap kucing yang suka mengejar cinta para kucing :p. Jadi post ini menjadi semacam prolog untuk memasuki dunia perkucingan yang telah saya tekuni selama hampir 21 tahun ini ;).

Berikut adalah beberapa foto kucing-kucing yang pernah singgah di hidup saya:

kucing kampus di fakultas psikologi UGM

kucing yang sekarang, paling aneh sedunia :3

dia sedang bermain dengan tetangga sebelah

kucing pertama yang datang setelah pindah, si hitam

sepertinya ini si kucing tidak tahu diri :p

kucing yang teraniaya :')

kucing calico yang sakit :'(

ini cinta satu malam, datang sekali lalu pergi

0 comments:

Posting Komentar