Pages

Sabtu, 12 Oktober 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 2, Belajar dan Berdaya

KKN itu mengandung pembelajaran dan pemberdayaan, bagi masyarakat maupun mahasiswa. Masyarakat diberdayakan dan belajar melalui program-program yang diselenggarakan mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa belajar dari berbaur dengan masyarakat maupun dari kehidupan sehari-hari dengan sesama mahasiswa. Dan tidak lupa, diberdayakan oleh masyarakat.

Yeah, baru sampai beberapa hari, kami langsung diberdayakan oleh remaja masjid di dusun Kloposawit. Diminta untuk mengeprint undangan pengajian ibu-ibu dan membagikannya. Saat itu yang membagikan cowok-cowok kami (maksudnya teman serumah) dan memakan korban, Mukhlis yang dikejar anjing. Kasihan...
Sejak itu kami sering "diberdayakan" oleh masyarakat. Dari mulai ngeprint dan nyebar undangan pengajian ibu-ibu (lagi, kali ini aku dan Rizka yang menunaikan tugas mulia ini), menjadi MC dan tilawah di acara pengajian, ikut kerja bakti, dan membantu kegiatan 17an. Kadang kami mengeluh, tetapi sebenarnya dari situ kami banyak belajar. Contohnya saya, yang belajar ngemsi menggunakan bahasa Jawa, walaupun jelek (sampai di pondokan, Gantang dan Revta ketawa-ketawa mendengar saya ngemsi). Kami semua belajar sabar di pertemuan warga, karena pasti lama dan bau asap rokok, dingin lagi. Belajar menghafalkan nama warga Kloposawit. Belajar bersosialisasi dengan masyarakat yang beragam. Belajar mengenai kehidupan, kesederhanaan, dan keramahan sekali lagi. Belajar bahasa Jawa halus, meskipun kami sering tidak "dong".

Dari kehidupan bersama dengan teman-teman dalam pondokan, saya juga belajar banyak hal. Belajar bekerja sama, tenggang rasa, asertivitas, pengendalian emosi, dan memaafkan. Hidup bersama dengan mereka semua membuat saya lebih menyadari, bahwa karakter manusia itu banyak, unik, dan berbeda. Apa yang saya amati benar-benar luar biasa, kepribadian teman-teman sepondokan memang tidak ada duanya dan dari situ, saya mendapatkan banyak hal. Hal yang sangat penting, saya belajar untuk ngeles a.k.a berkelit ketika ada teman atau orang yang bertanya "Rahma, kamu bisa baca pikiran nggak?", "Kamu tahu nggak aku orangnya seperti apa?", "Bisa baca raut wajah? Pandangan mata?". Ternyata stereotip orang mengenai psikologi seperti itu... (--|||)

Belajar yang menurut saya paling fenomenal, tentu saja dialami oleh kormater Saintek, Memey. Ia belajar untuk melakukan segala pekerjaan rumah tangga sehari-hari seperti mencuci baju, mencuci piring, dan menyetrika. Itu karena Memey belum pernah melakukan hal-hal tersebut di rumah, sudah ada Ibu yang siap sedia untuknya. Sebenarnya, Gantang juga jarang melakukan pekerjaan rumah tangga, tetapi bukan karena ia tidak bisa, hanya malas :p. Untuk mencuci piring, Memey tak banyak bertanya, hanya rekan cupirnya yang sesekali memberi petunjuk dengan gemas, kalau dia melakukan sesuatu yang dianggap salah. Sementara soal mencuci pakaian, luar biasa, harus ada tutorial khusus yang disponsori oleh Mukhlis dan disaksikan oleh Rizka dan saya. Tempat mencuci kami adalah sebuah sumur, dan air untuk mencucinya dialirkan dari sungai dengan pipa (tetapi sampai selesai KKN saya tidak tahu sungainya sebelah mana). Memey terbenam di antara ember-ember, mengikuti instruksi dari Mukhlis. Saya sudah tidak ingat lagi bagaimana persisnya "pelajaran" mencuci saat itu, yang jelas para penonton tertawa terbahak-bahak. Yang paling saya ingat adalah saat Mukhlis berkata "Mey, pakaiannya dibilas beberapa kali sampai sabunnya hilang". Lalu Memey malah bertanya, "Indikator sabunnya hilang itu gimana Klis?". Muka Mukhlis saat itu seperti.. meh.. "Kalau airnya sudah bening Mey..". Sementara saya dan Rizka hanya mampu tertawa ngakak di latar belakang. Pelajaran mencuci dilanjutkan dengan menjemur, bagian yang ada lengan baju dihadapkan ke arah matahari, karena permukaannya lebih luas (alasan saintek). Baju kering, tibalah tutorial menyetrika. Kali ini tentornya adalah Rizka dan kebetulan saya tidak menyaksikan sehingga tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Sejak saat itu, Memey menjadi yang paling rajin mencuci di antara kami semua, sampai KKN berakhir. :)

Begitu banyak yang saya pelajari, terlalu banyak untuk diungkapkan disini. Pelajaran paling luar biasa yang kami dapat adalah logat ala dusun Kloposawit, akhiran "thik" untuk setiap kalimat. Misalnya "Piye kabare thik?". Tua muda mempraktekan bahasa ini, bahkan pak dukuhnya.
Oke, sebenarnya masih banyak pelajaran yang dapat kita petik dari pelaksanaan KKN, tetapi saya takut anda semua sudah bosan membaca tulisan ini. Jadi sampai jumpa di kisah selanjutnya.

(to be continued)

Bonus Picture:


anak TPA kami :D

Jumat, 11 Oktober 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 1, Adaptasi

Lagi-lagi saya malas menulis blog.. Sudahlah, tidak perlulah saya beralasan lagi, dengan segala macam skripsi ini, skripsi itu. Langsung saja saya tulis kisah di tempat KKN yang lama tertunda, bahkan mungkin ada yang terlupa *mendadak puitis*

Seperti layaknya memulai apapun, mulai sekolah, kuliah, bekerja, maupun hubungan, memulai KKN juga perlu adaptasi. Bagi saya minggu pertama adalah saat yang terberat. Bayangkan saja, terjebak serumah dengan orang-orang yang tidak dikenal, di lingkungan yang asing, belum tahu apa yang mau dilakukan, dan tanpa kegiatan yang jelas. Saya masih ingat dengan jelas, sejelas melihat monitor laptop ini, malam pertama tidur di pondokan. Sama sekali tidak bisa tidur, pikiran saya melayang kemana-mana, mengingat-ingat kejadian hari itu. Bertemu dengan perangkat dusun untuk pertama kalinya, saya malah membuat malu diri sendiri dengan tak sengaja "melontarkan" biji salak yang sedang dimakan ke arah Pak RT (sampai sekarang kejadian ini masih diingat oleh teman-teman --|||). Sambutan antusias dari anak-anak di dusun Kloposawit. Acara kumpulan dengan pemuda RW 05 malam harinya. Segala pikiran dan kecemasan bercampur aduk dalam benak saya. Bagaimana kalau saya tidak dapat akrab dengan teman-teman serumah? Bagaimana dengan program? Bagaimana.. bagaimana? Ditambah hawa yang sangat dingin menggigit dan selimut yang tidak memadai (tipis sekali), saya jadi semakin tidak dapat memejamkan mata. Akhirnya saya bisa tidur juga meskipun tidak nyenyak. Bahkan dini harinya, terjadi mati lampu. Gelap sekali, hanya hitam saja yang nampak, saya merasa sedang bermimpi, atau sudah mati? Untung saja saat itu saya tidak membayangkan yang aneh-aneh.

Anak-anak di dusun tempat KKN saya sangat antusias. Setiap hari mereka bermain-main ke pondokan, bahkan kami sampai harus mengusir dengan halus karena mainnya sampai malam. Di hari pertama datang, saya sudah diejek "monyet" oleh mereka. Ya ampun, belum apa-apa ini... Waktu mengajar TPA ada anak perempuan yang agresifnya luar biasa, sampai saya takut sendiri. Orang tuanya baik-baik saja, walaupun mereka sering menanyakan soal rumahnya, kok mau tinggal disana? Katanya rumah itu angker. Oke, kami sudah tahu, tidak usah ditegaskan. Bapak dan ibu semang kami, Pak Slamet dan Ibu Karsini baik sekali, apalagi setelah kami bantu-bantu cuci piring dan menyapu halaman depan pondokan. Masakannya juga enak, jadi saya tidak bermasalah dengan makanan, meskipun sempat tidak buang air besar selama 3 hari. Katanya sih belum betah.

Pada pagi kedua, atau ketiga ya?, kami sempat mengalami serangan fajar oleh anak-anak. Gara-garanya teman saya Mukhlis berjanji pada anak-anak untuk berjalan-jalan setelah Sholat Subuh, dengan syarat minimal 5 anak harus ikut sholat berjamaah di masjid. Ternyata tidak seorangpun yang ikut sehingga para cowok merasa lega dan bebas untuk tidur lagi. Tetapi kenyataan tidak seindah bayangan, pukul 5 pagi anak-anak itu datang ke pondokan dan menggedor pintu sambil berteriak-teriak "Mas KKN, Mas KKN" keras-keras. Ketiga cowok (saat itu Revta belum tiba) pura-pura tidur, mereka malas bangkit karena udara di luar (dan dalam) masih sangat dingin. Tetapi bukannya pergi, anak-anak itu malah semakin bersemangat. Gedor-gedor di pintu merambat ke jendela, bahkan salah satu anak sempat membuka jendela meskipun ia tidak masuk. Akhirnya karena tidak ada yang menyahut, mereka semua pulang. Kami semua sudah senam jantung saking cemasnya. Siangnya, mereka protes kepada Mukhlis, tetapi karena persyaratan memang tidak terpenuhi, mereka menyerah dan membuat perjanjian yang sama. Besoknya, anak-anak datang lagi di pagi hari untuk melakukan serangan fajar meskipun mereka juga tidak menepati janji. Karena sudah sangat menyebalkan, akhirnya Maya keluar untuk mengusir mereka dengan halus (tidak halus-halus amat sih). Hidup ibu kormasit!

Siang hari selalu kami jalani dengan kebosanan, karena memang belum ada program maupun kegiatan. Paling-paling hanya bermain dengan anak-anak yang sering datang ke pondokan. Menonton film atau tidur siang. Tiadanya kegiatan membuat kecemasan saya menumpuk. Saya takut pada banyak hal, soal program, soal masyarakat, dan soal teman. Pelaksanaan program masih terasa abstrak. Penerimaan masyarakat pada kami dan program kami. Penyesuaian diri dengan teman sepondokan, karena terus terang saja, saat itu saya merasa belum sreg dengan salah satu teman (tidak usah disebutkan).Cara kami bekerja sama nantinya. Perasaan rindu rumah, home sick yang akut. Pokoknya saya benar-benar "on the edge". Semua itu tumpah ketika saya pulang ke rumah sebentar untuk mengambil selimut yang lebih tebal (saya benar-benar susah tidur karena kedinginan). Di hadapan ibu, saya menangis dan mencurahkan semuanya. Perlu waktu lama untuk menenangkan diri sendiri, tetapi akhirnya saya berhasil. Untung saja saya KKN di tempat yang dekat dengan rumah. Coba kalau saya KKN di tempat yang jauh, mungkin saya akan depresi. Alloh memang tahu seberapa batas kekuatan dan apa yang terbaik bagi hamba-Nya :').

Adaptasi di tempat KKN ini memang tidak semudah yang saya bayangkan. Saya memang orang yang rapuh dan belum pernah tinggal jauh dari rumah (halah..). Tetapi pada akhirnya saya berhasil eek disana. Kemajuan pesat, saya sudah betah! Teman-teman lain tampaknya tidak sesulit saya dalam beradaptasi, meskipun Gantang pernah bilang bahwa ia awalnya juga tidak betah. Yah, itu hanya yang tampak dari luar, sekeras apa sebenarnya mereka berusaha untuk menyesuaikan diri, mana tahu? Yang jelas saya berhasil beradaptasi, kecuali dengan udaranya yang dingin, kalau dengan yang itu kami tak akan pernah terbiasa :p.

(to be continued)

Bonus Foto:

 jalan pagi, di pagi pertama
 masjid Al-Istiqomah pagi itu
 narsis sebentar :D
 trio macan, rawwrr
 pertemuan pemuda RW 05
 bersih-bersih masjid