KKN itu mengandung pembelajaran dan pemberdayaan, bagi masyarakat maupun mahasiswa. Masyarakat diberdayakan dan belajar melalui program-program yang diselenggarakan mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa belajar dari berbaur dengan masyarakat maupun dari kehidupan sehari-hari dengan sesama mahasiswa. Dan tidak lupa, diberdayakan oleh masyarakat.
Yeah, baru sampai beberapa hari, kami langsung diberdayakan oleh remaja masjid di dusun Kloposawit. Diminta untuk mengeprint undangan pengajian ibu-ibu dan membagikannya. Saat itu yang membagikan cowok-cowok kami (maksudnya teman serumah) dan memakan korban, Mukhlis yang dikejar anjing. Kasihan...
Sejak itu kami sering "diberdayakan" oleh masyarakat. Dari mulai ngeprint dan nyebar undangan pengajian ibu-ibu (lagi, kali ini aku dan Rizka yang menunaikan tugas mulia ini), menjadi MC dan tilawah di acara pengajian, ikut kerja bakti, dan membantu kegiatan 17an. Kadang kami mengeluh, tetapi sebenarnya dari situ kami banyak belajar. Contohnya saya, yang belajar ngemsi menggunakan bahasa Jawa, walaupun jelek (sampai di pondokan, Gantang dan Revta ketawa-ketawa mendengar saya ngemsi). Kami semua belajar sabar di pertemuan warga, karena pasti lama dan bau asap rokok, dingin lagi. Belajar menghafalkan nama warga Kloposawit. Belajar bersosialisasi dengan masyarakat yang beragam. Belajar mengenai kehidupan, kesederhanaan, dan keramahan sekali lagi. Belajar bahasa Jawa halus, meskipun kami sering tidak "dong".
Dari kehidupan bersama dengan teman-teman dalam pondokan, saya juga belajar banyak hal. Belajar bekerja sama, tenggang rasa, asertivitas, pengendalian emosi, dan memaafkan. Hidup bersama dengan mereka semua membuat saya lebih menyadari, bahwa karakter manusia itu banyak, unik, dan berbeda. Apa yang saya amati benar-benar luar biasa, kepribadian teman-teman sepondokan memang tidak ada duanya dan dari situ, saya mendapatkan banyak hal. Hal yang sangat penting, saya belajar untuk ngeles a.k.a berkelit ketika ada teman atau orang yang bertanya "Rahma, kamu bisa baca pikiran nggak?", "Kamu tahu nggak aku orangnya seperti apa?", "Bisa baca raut wajah? Pandangan mata?". Ternyata stereotip orang mengenai psikologi seperti itu... (--|||)
Belajar yang menurut saya paling fenomenal, tentu saja dialami oleh kormater Saintek, Memey. Ia belajar untuk melakukan segala pekerjaan rumah tangga sehari-hari seperti mencuci baju, mencuci piring, dan menyetrika. Itu karena Memey belum pernah melakukan hal-hal tersebut di rumah, sudah ada Ibu yang siap sedia untuknya. Sebenarnya, Gantang juga jarang melakukan pekerjaan rumah tangga, tetapi bukan karena ia tidak bisa, hanya malas :p. Untuk mencuci piring, Memey tak banyak bertanya, hanya rekan cupirnya yang sesekali memberi petunjuk dengan gemas, kalau dia melakukan sesuatu yang dianggap salah. Sementara soal mencuci pakaian, luar biasa, harus ada tutorial khusus yang disponsori oleh Mukhlis dan disaksikan oleh Rizka dan saya. Tempat mencuci kami adalah sebuah sumur, dan air untuk mencucinya dialirkan dari sungai dengan pipa (tetapi sampai selesai KKN saya tidak tahu sungainya sebelah mana). Memey terbenam di antara ember-ember, mengikuti instruksi dari Mukhlis. Saya sudah tidak ingat lagi bagaimana persisnya "pelajaran" mencuci saat itu, yang jelas para penonton tertawa terbahak-bahak. Yang paling saya ingat adalah saat Mukhlis berkata "Mey, pakaiannya dibilas beberapa kali sampai sabunnya hilang". Lalu Memey malah bertanya, "Indikator sabunnya hilang itu gimana Klis?". Muka Mukhlis saat itu seperti.. meh.. "Kalau airnya sudah bening Mey..". Sementara saya dan Rizka hanya mampu tertawa ngakak di latar belakang. Pelajaran mencuci dilanjutkan dengan menjemur, bagian yang ada lengan baju dihadapkan ke arah matahari, karena permukaannya lebih luas (alasan saintek). Baju kering, tibalah tutorial menyetrika. Kali ini tentornya adalah Rizka dan kebetulan saya tidak menyaksikan sehingga tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Sejak saat itu, Memey menjadi yang paling rajin mencuci di antara kami semua, sampai KKN berakhir. :)
Begitu banyak yang saya pelajari, terlalu banyak untuk diungkapkan disini. Pelajaran paling luar biasa yang kami dapat adalah logat ala dusun Kloposawit, akhiran "thik" untuk setiap kalimat. Misalnya "Piye kabare thik?". Tua muda mempraktekan bahasa ini, bahkan pak dukuhnya.
Oke, sebenarnya masih banyak pelajaran yang dapat kita petik dari pelaksanaan KKN, tetapi saya takut anda semua sudah bosan membaca tulisan ini. Jadi sampai jumpa di kisah selanjutnya.
(to be continued)
Bonus Picture:
Yeah, baru sampai beberapa hari, kami langsung diberdayakan oleh remaja masjid di dusun Kloposawit. Diminta untuk mengeprint undangan pengajian ibu-ibu dan membagikannya. Saat itu yang membagikan cowok-cowok kami (maksudnya teman serumah) dan memakan korban, Mukhlis yang dikejar anjing. Kasihan...
Sejak itu kami sering "diberdayakan" oleh masyarakat. Dari mulai ngeprint dan nyebar undangan pengajian ibu-ibu (lagi, kali ini aku dan Rizka yang menunaikan tugas mulia ini), menjadi MC dan tilawah di acara pengajian, ikut kerja bakti, dan membantu kegiatan 17an. Kadang kami mengeluh, tetapi sebenarnya dari situ kami banyak belajar. Contohnya saya, yang belajar ngemsi menggunakan bahasa Jawa, walaupun jelek (sampai di pondokan, Gantang dan Revta ketawa-ketawa mendengar saya ngemsi). Kami semua belajar sabar di pertemuan warga, karena pasti lama dan bau asap rokok, dingin lagi. Belajar menghafalkan nama warga Kloposawit. Belajar bersosialisasi dengan masyarakat yang beragam. Belajar mengenai kehidupan, kesederhanaan, dan keramahan sekali lagi. Belajar bahasa Jawa halus, meskipun kami sering tidak "dong".
Dari kehidupan bersama dengan teman-teman dalam pondokan, saya juga belajar banyak hal. Belajar bekerja sama, tenggang rasa, asertivitas, pengendalian emosi, dan memaafkan. Hidup bersama dengan mereka semua membuat saya lebih menyadari, bahwa karakter manusia itu banyak, unik, dan berbeda. Apa yang saya amati benar-benar luar biasa, kepribadian teman-teman sepondokan memang tidak ada duanya dan dari situ, saya mendapatkan banyak hal. Hal yang sangat penting, saya belajar untuk ngeles a.k.a berkelit ketika ada teman atau orang yang bertanya "Rahma, kamu bisa baca pikiran nggak?", "Kamu tahu nggak aku orangnya seperti apa?", "Bisa baca raut wajah? Pandangan mata?". Ternyata stereotip orang mengenai psikologi seperti itu... (--|||)
Belajar yang menurut saya paling fenomenal, tentu saja dialami oleh kormater Saintek, Memey. Ia belajar untuk melakukan segala pekerjaan rumah tangga sehari-hari seperti mencuci baju, mencuci piring, dan menyetrika. Itu karena Memey belum pernah melakukan hal-hal tersebut di rumah, sudah ada Ibu yang siap sedia untuknya. Sebenarnya, Gantang juga jarang melakukan pekerjaan rumah tangga, tetapi bukan karena ia tidak bisa, hanya malas :p. Untuk mencuci piring, Memey tak banyak bertanya, hanya rekan cupirnya yang sesekali memberi petunjuk dengan gemas, kalau dia melakukan sesuatu yang dianggap salah. Sementara soal mencuci pakaian, luar biasa, harus ada tutorial khusus yang disponsori oleh Mukhlis dan disaksikan oleh Rizka dan saya. Tempat mencuci kami adalah sebuah sumur, dan air untuk mencucinya dialirkan dari sungai dengan pipa (tetapi sampai selesai KKN saya tidak tahu sungainya sebelah mana). Memey terbenam di antara ember-ember, mengikuti instruksi dari Mukhlis. Saya sudah tidak ingat lagi bagaimana persisnya "pelajaran" mencuci saat itu, yang jelas para penonton tertawa terbahak-bahak. Yang paling saya ingat adalah saat Mukhlis berkata "Mey, pakaiannya dibilas beberapa kali sampai sabunnya hilang". Lalu Memey malah bertanya, "Indikator sabunnya hilang itu gimana Klis?". Muka Mukhlis saat itu seperti.. meh.. "Kalau airnya sudah bening Mey..". Sementara saya dan Rizka hanya mampu tertawa ngakak di latar belakang. Pelajaran mencuci dilanjutkan dengan menjemur, bagian yang ada lengan baju dihadapkan ke arah matahari, karena permukaannya lebih luas (alasan saintek). Baju kering, tibalah tutorial menyetrika. Kali ini tentornya adalah Rizka dan kebetulan saya tidak menyaksikan sehingga tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Sejak saat itu, Memey menjadi yang paling rajin mencuci di antara kami semua, sampai KKN berakhir. :)
Begitu banyak yang saya pelajari, terlalu banyak untuk diungkapkan disini. Pelajaran paling luar biasa yang kami dapat adalah logat ala dusun Kloposawit, akhiran "thik" untuk setiap kalimat. Misalnya "Piye kabare thik?". Tua muda mempraktekan bahasa ini, bahkan pak dukuhnya.
Oke, sebenarnya masih banyak pelajaran yang dapat kita petik dari pelaksanaan KKN, tetapi saya takut anda semua sudah bosan membaca tulisan ini. Jadi sampai jumpa di kisah selanjutnya.
(to be continued)
Bonus Picture:
anak TPA kami :D