Pages

Minggu, 23 Juni 2013

13 Game Favorit Saya

Yeey, ujian akhir semester sudah selesai, dan saya bisa nulis lagi di sini :). Sudah agak lama saya tidak update blog, karena sedang melaksanakan UAS dan proyek pribadi yang berjudul finish-that-game-before-KKN. Kurang dari sebulan lagi saya akan meninggalkan rumah dan melaksanakan KKN-PPM sehingga game yang sekarang saya mainkan harus sudah selesai, agar tidak ada dusta di antara kita.. eh.. maksudnya biar tidak penasaran dengan endingnya.

Game? Yap, saya memang suka sekali bermain game. Tetapi saya tidak pantas disebut gamer, karena saya hanya main game untuk senang-senang dan bukan rutinitas yang harus dilakukan setiap hari. Lagipula kalau gamer, mereka main dengan konsol keren, seperti PC yang diupgrade sampai macem-macem demi bermain game yang memerlukan spek tinggi. Saya juga sebenarnya main game dengan PC, tetapi saya termasuk aliran "emulatorian" yang setia menggunakan emulator terutama GBA dan NDS, untuk main game-game gratisan yang bisa didownload lewat internet. Dengan begitu, main game menggunakan notebook acer aspire one berprosesor intel atom-pun masih dapat dilakukan :p. Hal lain yang membuat saya bukan gamer, adalah spesialisasi genre game yang saya terapkan. Saya hanya bisa main game J-RPG saja, kalau disuruh main genre lain lebih baik angkat tangan karena saya kalahan :(. Main balap mobil kalah, the sims gagal, action adventure tokohnya mati terus, dan main PES dibantai oleh lawan. Bahkan main J-RPG sekarang saja saya masih pakai FAQs, walaupun tidak pernah dan tidak mau pakai cheat. Kasihan..

Meskipun saya bukan gamer, durasi main game saya cukup lama juga, minimal 2 jam dan maksimal 6 jam. Kadang saya sampai lupa waktu, apalagi saat ada proyek pribadi seperti sekarang ini. Terakhir kali, saya main game dari jam 10 malam, ketika masih asyik masyuk bermain, adik saya bangun dan nonton piala konfederasi. Ternyata sudah jam setengah 3. Padahal jam 9 saya sudah harus pergi bersih-bersih rumah tempat KKN. Hasilnya, hari Minggu itu saya kecapekan luar biasa -_-.

Mungkin ada yang bertanya-tanya juga, kenapa saya suka dengan J-RPG? Menurut saya, RPG dari Jepang itu ceritanya bagus. Dan yang paling saya suka adalah kebanyakan menggunakan gameplay turn-based, meskipun ada juga yang action dan saya mainkan. Beberapa orang beranggapan bahwa turn-based kurang seru, tapi bagi saya itu sudah seru karena harus menggunakan strategi untuk memenangkan pertarungan. Selain itu, saya orangnya memang lebih suka mikir daripada mencet banyak tombol untuk beraksi :3. Pada post kali ini, saya ingin membagi 13 game yang saya mainkan dan menurut saya sangat berkesan. Ini diaa...

13. Harvest Moon; Friends of Mineral Town (GBA)

Inilah game emulator pertama yang saya mainkan, dan genrenya bukan J-RPG (meskipun yang buat juga dari Jepang). Saya tertarik main game ini gara-gara melihat adik ganteng memainkannya. Mulanya saya agak takut mencoba, bagaimana kalau kalah seperti yang sudah-sudah? Ternyata saya dapat menikmatinya dan ada slot save F1 dst di emulator GBA sehingga sangat mempermudah saya :p. Game yang merupakan simulasi dari kehidupan di pertanian ini saya mainkan cukup lama, sampai tokoh utamanya yang ada di cover menikah dan memiliki istri (iyalah.. di game ini tokohnya bukan homo). Setelah itu saya bosan dan mulai mencoba-coba sebuah game RPG yang nanti akan disebutkan. Sebenarnya, game ini agak monoton dan kurang menantang, tetapi bagi saya tetap berkesan, karena inilah game pertama yang saya mainkan dengan serius :).

12. Summon Night; Twin Age (NDS)

Ini adalah game pertama yang saya mainkan di emulator NDS :D. Meskipun begitu, game ini belum (dan sepertinya tidak akan) tamat karena saya terlalu malas untuk meneruskannya. Padahal sudah sampai final boss, tapi sekali lagi saya malas, karena gameplay-nya susah (menurut saya) karena bertarungnya melibatkan layar sentuh yang sulit dilakukan lewat PC. Summon Night Twin Age ini menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Reiha dan spirit yang dia summon, namanya Aldo. Kemudian mereka... Nggak jadi ah, saya nggak suka spoiler dan spoiling :3. Sejujurnya saya lupa jalan ceritanya, karena game ini terakhir kali saya mainkan saat masih SMA :p. Adegan yang paling saya ingat adalah saat Aldo disuruh berdandan seperti cewek untuk mengelabui musuh-musuh yang mengejarnya, hehehe.

11. Bokura no Taiyou; The Sun is in Your Hands (GBA)

Saya suka game ini, karena gameplaynya unik, beda dengan yang selama ini saya mainkan. Saya menyebutnya game mengendap-endap, yang mengandalkan kemampuan player dalam melakukan pengalihan perhatian dan melewati musuh tanpa terdeteksi. Namun tetap ada pertarungannya dong, apalagi saat melawan boss. Pertarungannya juga unik sekali, setelah mengalahkan boss dalam pertarungan sungguhan (dalam arti berhadapan, etc), sang karakter utama, seorang vampire hunter yang bernama Django akan mengalami boss battle babak 2. Babak ke 2 ini dimulai dengan Django yang menyeret peti mati sang boss, karena bossnya adalah vampir (tapi tidak ganteng seperti di Twilight yaa..) menuju ke awal dungeon. Nah lho.. capek kan, apalagi dia harus tetap melawan musuh-musuh di perjalanan. Setelah sampai di tempat yang dituju, Django dibantu oleh sun spirit Otenko mengaktifkan pile driver, dimana boss battle babak 2 dilakukan. Sang boss semacam disucikan dengan cahaya matahari agar mati, tetapi ia akan melawan habis-habisan dengan berbagai jurus yang unik. Game ini sebenarnya juga menggunakan solar sensor untuk memasok cahaya matahari asli menjadi energi dalam game, elemen terpenting dalam perjalanan cerita dan pertarungan. Namun karena saya menggunakan emulator yang ada fitur solar sensor di dalamnya, saya tidak perlu keluar mencari matahari :D.

10. Summon Night; Swordcraft Story 2 (GBA)

Ini dia, game action RPG pertama yang saya mainkan. Mulanya saya takut, karena kalau main yang begitu-begitu, biasanya saya kalah. Tetapi hal itu saya kesampingkan setelah melihat grafisnya yang menawan (tokoh utama laki-lakinya ganteng :3) dan review yang cukup mengundang. Kalau jalan ceritanya, saya sendiri lupa karena game itu terakhir kali saya mainkan saat masih SMA juga, sebelum yang Twin Age. Save file-nya juga sudah hilang, jadi tidak bisa memberitahu seperti apa persisnya game ini. Namun bagi saya cukup berkesan, karena dengan menamatkan game ini, kepercayaan diri menyangkut kapabilitas saya dalam action RPG meningkat pesat :D.

9. Rune Factory 3 (NDS)

Rune Factory adalah anak dari Harvest Moon, versi RPG. Saya memainkan 2 diantaranya, yaitu yang kedua dan ketiga (sebenarnya mau juga yang pertama, tapi sayang filenya corrupt :/), namun yang paling berkesan adalah yang ketiga. Sebenarnya secara cerita, ketiganya sama saja dan selalu diawali dengan seorang pemuda yang kehilangan ingatan, kemudian ditolong oleh sang heroine utama yang (supposed to) kelak akan menjadi istrinya. Sang heroine ini memberi hero lahan pertanian yang harus dikelola, seperti di Harvest Moon. Bedanya di Rune Factory ada ceritanya dan bisa bertarung melawan monster. Kembali ke alasan kenapa yang ketiga lebih berkesan, karena menurut saya ceritanya lebih bagus, ada ras baru selain manusia, grafisnya lebih bagus, dan tokoh utamanya bisa menjadi monster embek berbulu emas (ini serius). Biasanya di Rune Factory, saya menjadi playboy dengan membuat semua gadis hatinya 10 sehingga semua dapat dinikahi (mwahahaha). Dan saya tidak akan menikahi heroine utama yang memberi lahan pertanian.. tidak akan pernah...

8. Valkyrie Profile; Covenant of the Plume (NDS)

Sudah sampai urutan 8, game yang temanya "dark" dan hanya cocok dimainkan remaja ke atas. Valkyrie Profile cerita utamanya adalah pembalasan dendam seorang pemuda bernama Wylfred yang ayahnya meninggal, kemudian rohnya dijadikan bala tentara seorang Valkyrie bernama Lenneth. Dalam perjalanannya membalas dendam, Wylfred membuat kesepakatan dengan Hel, sang ratu underworld untuk meningkatkan kekuatannya, dengan bulu sayap sang Valkyrie yang diubah menjadi hitam. Jika bulu itu dipenuhi oleh "dosa" Wylfred, membunuh orang-orang termasuk dosa yang paling besar nilainya, mengorbankan teman sendiri, maka ia akan berubah menjadi sebuah pedang yang dapat membunuh Lenneth. Setelah itu, Wylfred harus menyerahkan jiwanya yang penuh dosa pada Hel :3. Selanjutnya lagi? Main sendiri ya... Selain ceritanya yang menurut saya beda, game ini juga merupakan game strategi RPG pertama yang saya mainkan. Itu lho, yang pertarungannya ada kotak-kotaknya, kemudian karakter dikendalikan di dalam kotak-kotak tersebut (susah jelasinnya... :/). Game ini juga memiliki multiple ending, ending yang didapat sesuai jumlah orang yang dikorbankan Wylfred sehingga game ini worth replaying.

7. Riviera the Promised Land (GBA)

Dalam game ini, mengeksplor dungeon tidak dapat dilakukan dengan jalan-jalan biasa, seperti game lainnya, melainkan hanya antara move ke area selanjutnya, atau search. Pertarungannya turn based dan kadang-kadang susah, apalagi kalau levelnya masih rendah -_-. Ada pula mini game seperti "disarm the trap" pada peti harta yang menuntut kecepatan dan ketepatan tangan dalam memencet keyboard. Yang paling menantang adalah saat disuruh melempar batu, namun arah lemparannya harus disesuaikan dengan arah panah yang ditunjukkan di layar, makin lama makin rapet dan sulit, kalau tidak salah ada 20an lebih variasi. Heran saya.. kok dulu bisa menyelesaikan permainan itu dengan sukses. Ceritanya sendiri bagus, dengan tokoh utama seorang grim angel kehilangan sayap bernama Ein yang ingin menyelamatkan dunia. Dalam cerita ini, semua rekan bertarung Ein adalah perempuan dan menjadi semacam harem, dimana Ein akan berusaha memikat hati semua wanita itu dan mereka semua menyukainya. Ada beberapa screenshot yang menarik dalam game ini, salah satunya menggambarkan Ein yang sedang mengintip saat gadis-gadis sedang mandi :3. Namun ada juga yang menyedihkan, saat seorang rekan Ein mati.. kasihan.. saya sedikit meneteskan air mata saat itu :'(.

6. Golden Sun; Dark Dawn (NDS)

Golden Sun Dark Dawn adalah lanjutan dari sekuel Golden Sun yang dikeluarkan untuk konsol NDS. Kali ini, para pemain akan mengikuti petualangan Matthew dan teman-temannya yang semuanya merupakan putra putri dari tokoh di Golden Sun dan GSTLA (yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah). Tidak banyak yang berubah dari gameplaynya, masih tetap turn based seperti pendahulunya. Elemen-elemen penting seperti psynergy, djinn, senjata, dungeon, summon spirit, kapal Lemuria, dunianya, masih sama dengan pendahulunya. Ceritanya juga masih menarik. Kelebihannya, grafis lebih ciamik, elemen bertambah dengan light-dark, dan summon sequence lebih kereen :3. Sayangnya, puzzlenya tidak semenantang dulu, bossnya entah mengapa tidak menguras hati (a.k.a tidak sulit banget), dan endingnya nggantung..huu..

5. Lunar Knights (NDS)

Action RPG lain yang saya mainkan dan masih satu seri dengan Bokura no Taiyou (Boktai). Lunar Knights mengisahkan tentang vampire hunter bernama Lucian dan solar gunslinger bernama Aaron yang berburu vampir. Vampir-vampir sialan itu telah menggelapkan dunia sehingga matahari tidak pernah muncul dan menjadikan manusia sebagai budak serta makanan mereka. Ceritanya menarik dan karakternya bagus, terutama Lucian (aww, he's so cool :3).  Saya paling suka ketika di beberapa adegan muncul semacam video untuk mendramatisasi cerita :D. Masih ada unsur mengendap-endap di sini, tetapi sebagian besar telah berubah menjadi pertarungan. Sedangkan pile drive diganti menjadi lebih modern, dengan menggunakan casket rocket Laplace, membawa peti mati sang vampir ke luar angkasa untuk dibunuh dengan sinar matahari yang dikumpulkan oleh Sunflower interstellar satellite. Namun jangan dibayangkan pergi ke luar angkasanya seperti naik pesawat garuda saat cuaca sedang cerah. Akan ada pesawat musuh yang menghadang, batu meteor, dan semacam mini boss ruang angkasa yang harus dikalahkan sebelum peti mati dimurnikan. Lebih susahnya lagi, pemain mengendalikan pesawatnya dengan stylus (dalam kasus saya, mouse). Inilah yang disebut shooting battle, dan menurut saya adalah bagian tersulit di game ini. Apalagi di final bossnya, saya sampai harus mencoba 13 kali sebelum berhasil tamat -___-.

4. Shin Megami Tensei; Devil Survivor 2 (NDS)

Tadaaa... akhirnya game yang merupakan sasaran dari proyek pribadi finish-it-before-KKN tamat juga, tepatnya kemarin Jumat 21 Juni 2013 :D. Setelah pertarungan terakhir yang habis-habisan, yang sampai saya ulangi karena kalah... saya akhirnya berhasil juga.. akhirnya... (nangis tersedu-sedu). Tapi tidak akan saya bocorkan rute mana yang diambil :p. Rute? Yap, game ini mengandung 4 rute berbeda yang tentunya akan memperoleh ending yang berbeda pula, tergantung mana yang dipilih Hero. Ceritanya? Hero sang anak SMA yang baru pulang bersama teman-temannya, Daichi dan Io, dari semacam ujian masuk perguruan tinggi (SBMPTN mungkin..) terlibat dalam kecelakaan di stasiun kereta api bawah tanah. Mereka pasti akan mati seandainya tidak ada app bernama "Nicaea" di hp mereka. Aplikasi ini serem abis, bisa memperlihatkan video tentang proses kematian teman. Dan si Nicaea ini mengunduh sebuah aplikasi bernama "Demon Summoning App" yang memungkinkan penggunanya men-summon demon dan menggunakannya untuk bertarung. Ternyata ketika ketiga tokoh utama ini berhasil keluar, kota Tokyo sudah hancur, seluruh Jepang, bahkan seluruh dunia sudah hancur dan demon muncul dimana-mana! Musuh baru yang disebut Serpentrion (tulisannya bener tidak ya?) juga menampakkan diri satu persatu. Kemudian... kalau mau tahu baca saja wikipedia atau nonton animenya, ceritanya panjang :p. Intinya, Hero harus menyelamatkan dunia dalam 8 hari, kalau tidak maka seluruh umat manusia akan punah. Gameplay? SRPG dipadu dengan JRPG, cocok sekali untuk saya ;). Demon-demon disini agak mirip pokemon, digunakan sebagai rekan bertarung dengan para human sebagai leader, bedanya kita dapat "membeli" mereka lewat pelelangan dan melakukan fusion untuk memperoleh demon yang lebih kuat. Boss disini ada yang mudah, ada yang mudah kalau level karakternya tinggi, ada yang punya skill menjengkelkan (ini paling sering), dan sulit setengah mati (pertarungan terakhir masuk kriteria ini).

3. Golden Sun (GBA)

Inilah... game RPG yang pertama kali saya mainkan.. yang membuat saya mencintai genre ini. Mengisahkan petualangan Isaac, Garet, dan kroni-kroninya untuk mencari elemental star yang dicuri dari sebuah kuil di Mt. Aleph, dan akhirnya (selalu) terlibat dalam misi menyelamatkan dunia. Gameplaynya turn based dan yang paling menarik hati saya adalah puzzle yang harus dipecahkan dalam tiap dungeon. Menurut saya, ceritanya bagus dan membuat penasaran. Grafisnya juga lumayan untuk game GBA, ada elemen-elemen khas yang menarik, seperti djinn, semacam elemental spirit, psynergy, kemampuan yang dimiliki para adept seperti tokoh utama yang terdiri dari 4 elemen, air, tanah, api, dan angin. Akibat game ini saya juga menjadi mudah jatuh cinta dengan tokoh utama (laki-laki) dalam game, karena menurut saya wajah Isaac cukup lumayan, dengan mata biru dan rambut pirangnya... ;). Saya pertama kali melihat adik ganteng memainkan game ini, tertarik dengan muka Isaac yang innocent gimana gitu... tapi gamenya dalam bahasa Spanyol, dan kami sama-sama nggak ngerti. Akhirnya setelah mendapat kopi yang berbahasa Inggris, saya mulai main sendiri, dan saking maniaknya, saya mainkan sampai 3 kali..

2. Shin Megami Tensei; Devil Survivor 1 (NDS)

Mungkin dalam sejarah pergamean, game ini yang paling banyak saya replay. Bagaimana tidak, ada 7 ending berbeda dari ceritanya, tergantung pilihan sang Hero. Seperti Devil Survivor 2 yang sudah saya ceritakan di atas, game ini memiliki batas waktu menyelamatkan dunia, kali ini 7 hari, melibatkan demon, alat pemanggil demon (yang kali ini adalah COMP atau communication player), terjadi di Jepang, dan melibatkan anak SMA :3. Hero kita kali ini, seorang anak SMA dengan rambut dan mata biru gelap, memakai headphone warna putih berbentuk kuping kucing (saya pengin punya itu..) sedang berada di area Yamanote circle (Tokyo dan sekitarnya) dengan dua orang sahabatnya, Yuzu dan Atsuro, ketika mendadak.. BAAM! Mereka semua tanpa sengaja mendownload demon summoning app ke dalam COMP yang sebelumnya diberikan Naoya, sepupu Hero.Kemudian terjadi aksi blokade yang dilakukan pemerintah kepada Yamanote circle dan sekitarnya, menjadikan mereka bertiga dan semua orang di dalamnya tidak dapat keluar. Diperparah dengan munculnya demon dimana-mana di dalam area itu, dan sebuah kenyataan bahwa dalam 6 hari... semua orang akan MATI...MWAHAHA.. oke lupakan.. cari cerita selanjutnya di megamitenseiwikia. Dengan memainkan game ini, saya jadi dapat merasakan sebuah tekanan psikologis karena waktu yang terbatas dan keadaan lingkungan yang mengerikan, dengan persediaan makanan sedikit, listrik yang mati, social order yang mulai runtuh, ditambah demon ganas dimana-mana, saya jadi kasihan sekali dengan mereka...padahal ini kan cuma game. Gameplay dan segala hal lain mirip dengan DS 2, tetapi tanpa demon compendium dan fate stage. Bossnya juga sulit.. saya sering kehilangan karakter saat melawan boss (apa strategi saya kurang bagus? entahlah). Tapi setelah replay, jadi merasa seperti dewa karena meskipun karakternya kembali ke level 1, level demonnya tidak turun dan dibawa ke new game :3.

1. Golden Sun; The Lost Age (GBA)

Dan inilaaah... game terfavorit saya sepanjang masa... Golden Sun The Lost Age. Saya memainkan game ini lebih dari 3 kali, menamatkannya pertama kali saat UNAS SMA :p, dan hafal dengan dialog endingnya, per karakter, kata per kata. Kali ini, tokoh utamanya adalah Felix dan kroni-kroninya, yang di Golden Sun dilihat sebagai seorang penjahat, ternyata memiliki misi mulia yaitu menyelamatkan dunia...dengan cara yang berbeda.. dan mungkin lebih baik. Isaac dkk juga akan bergabung, tetapi nanti pada saat game sudah mendekati akhir. Gameplay dan segala elemen pentingnya sama dengan Golden Sun, tetapi dengan dunia yang lebih luas untuk dieksplorasi menggunakan kapal Lemuria. Puzzlenya juga lebih menantang, favorit saya adalah puzzle di Anemos Inner Sanctum yang menggerakkan boneka dengan prinspip cermin, waktu mainnya lebih panjang, ceritanya lebih kompleks, penuh kejutan, dan bossnya.. lebih ultimate..=,=. Boss terakhirnya susah dikalahkan, butuh 3 ronde untuk melakukannya, tetapi ada optional boss yang SANGAT sulit.. sampai saya berkeringat dingin saat menjalani pertarungan dengannya dan entah sudah berapa kali revive karakter. Game ini juga memunculkan best villain ever alias kategori penjahat terbaik.. bagi saya, yaitu Alex. Kenapa? Kalau mau tahu main saja sendiri :p. Pokoknya menurut saya, ini game yang sangat worth playing dan sangat luar biasa.

Itulah game-game yang mebuat saya terkesan. Jadi pengin main lagi kan.. kangen dengan mereka :3. Tetapi sekali lagi ini menurut saya sendiri. Apa game yang paling berkesan menurut anda? Masing-masing orang memiliki opini yang berbeda kan? ;).

Selasa, 18 Juni 2013

Malu Menjadi Mahasiswa

Hari ini, saya malu menyandang status sebagai mahasiswa. Bukan apa-apa, dari tadi pagi sampai malam ini saya menonton, mendengar, dan membaca mengenai demo menolak kenaikan BBM, selalu timbul yang namanya kericuhan dan penyelenggaranya adalah mahasiswa. Dimulai ketika tadi siang menonton berita, ada mahasiswa berdemo menentang kenaikan BBM di Medan, kemudian tiba-tiba saja membakar dan menjarah sebuah restoran ayam goreng cepat saji. Yang langsung terlintas di pikiran saya adalah, apa hubungannya si restoran dengan BBM? Terus kenapa harus menjarah? Apa karena demonstran itu pada belum makan? Sebuah alibi agar bisa makan ayam goreng cepat saji yang biasanya memang mahal itu? My feeling is like so.. meh... -_-

Puncaknya adalah, ketika saya membaca berita di koran. Sekelompok mahasiswa dari organisasi yang mengatasnamakan agama berdemo di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta. Kali ini demonya diwarnai dengan pemblokiran jalan raya yang menyebabkan kemacetan panjang di hari Senin sore itu. Peristiwa yang saya baca di koran itu, dan paling membuat saya miris adalah ketika ada bapak-bapak yang minta ijin melewati blokade dengan mobilnya karena anaknya sedang sakit. Mulanya para mahasiswa tidak mengijinkan, tetapi akhirnya dibolehkan juga. Ironisnya ketika sudah diperbolehkan, beberapa mahasiswa malah memukul mobil tersebut dengan tiang bendera dan ada yang berkata, "Hajar saja.. Hajar saja..". Astaghfirullahhaladzhim. Saat itu saya benar-benar mengelus dada dan malu berat. Bisa-bisanya mereka yang mengaku MAHASISWA melakukan hal seperti itu, yang sama sekali tidak mencerminkan tingkat intelektualitas yang (seharusnya) tinggi.

Hallooooo... kalian para pendemo yang sampai memblokir jalan. Apa kalian tidak memikirkan perasaan bapak itu? Anaknya sedang sakit, harus buru-buru, lalu kalian begitukan? Tidakkah kalian punya empati atau minimal simpati bagi orang lain? Teman saya juga terpaksa membatalkan janjian wawancara dengan saya karena terjebak macet. Padahal wawancara itu untuk sebuah tugas yang harus segera dikerjakan. Oke, tidak usahlah membayangkan bagaimana perasaan bapak itu atau orang-orang lain, bayangkan saja jika kalian sendiri terjebak kemacetan di jalan itu, pada saat ada demo seperti itu. Kalian pulang kuliah, capek, mungkin sedang berpuasa karena sedang hari Senin, lapar, haus, bensin tinggal sedikit, tugas menumpuk, ingin segera pulang, dan... TADAAAA.. ada demonstrasi dengan memblokir jalan yang menyebabkan kemacetan super panjang. Apa yang kalian rasakan? Jawab saja sendiri, pasti tahu, kecuali kalau memang tidak punya perasaan.

Teman-teman mahasiswa demonstran yang budiman, demo itu boleh. Bagus malah, karena dapat digunakan sebagai sarana menyuarakan aspirasi kalian dan rakyat. Semua orang menjadi tahu isu apa yang ingin disampaikan dan ada kemungkinan turut mendukung. Tetapi lebih baik jika demo tidak mengganggu orang lain dan ketertiban umum. Kalian selalu mengaku menyuarakan aspirasi rakyat, membela rakyat kecil, ketika sedang demo, namun jika jalan diblokir yang terkena macet siapa? Itu rakyat yang kalian bela kan? Bukan menteri, anggota DPR, atau bapak Presiden. Demo sih demo, asal jangan membuat ricuh, membuat macet, dan merugikan orang lain. Kasihan rakyat, sudah BBM mau naik, eeh.. harus terjebak macet yang tentu saja menghabis-habiskan BBM kendaraannya. Katanya menolak kenaikan BBM, tetapi malah menyebabkan pemborosan BBM. Ironis ya...

Saya sebenarnya cukup salut dengan mahasiswa yang mau berdemo, karena itu berarti mereka mau membela kepentingan rakyat dan tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga diiringi dengan tindakan. Saya sendiri belum pernah ikut demo jadi tidak begitu mengerti motivasi mahasiswa mengikuti demo. Selama demo itu dilakukan dengan damai, tertib, dan tidak mengganggu khayalak ramai, saya setuju dan mendukung. Tetapi jika sudah model-model menutup jalan, bakar ban, bahkan aksi anarkis, mendadak saya menjadi malu karena satu spesies dengan mereka-mereka yang demo itu :(.

Wahai mahasiswa... kalau kalian memang ingin membela rakyat, lakukanlah dengan cara yang bijak dan di tempat yang tepat, misalnya di depan gedung DPR. Jangan malah menyusahkan orang sehingga masyarakat menjadi memandang rendah dan tidak lagi respek dengan kalian. Berpikir dan bertindaklah seperti titel yang kalian sandang. Ingatlah, terutama untuk mahasiswa universitas negeri, rakyat jugalah yang membiayai pendidikan kalian. Kalau kalian demo anarkis dan merugikan masyarakat di sekitarnya, diibaratkan seperti bertamu ke rumah orang, sudah disuguhi makanan enak, minuman segar, tetapi malah mengotori rumah. Apa kalian tidak malu? Saya yang cuma melihat saja sudah malu :3.

Belajar yang rajin, organisasi yang giat, demo jika perlu, dengan santun, dan ketika sudah lulus, kembalikan ilmumu pada masyarakat dengan mengabdi. Sebagai apa saja, asal bermanfaat.
Sebaik-baik orang, adalah yang bermanfaat bagi orang lain :).
HIDUP MAHASISWA! :D