Pages

Rabu, 24 April 2013

(Mencoba) Beranjak dari Kasur

Hari ini, saya memikirkan beberapa orang. Tepatnya teman-teman yang sedang berada, atau pernah mengunjungi negeri lain. Baik yang jauh maupun dekat. Baik yang hanya terpisah garis imajiner, sampai yang terpisah oleh lautan dan dataran lain. Saya sering berandai-andai sebagai orang yang berada di sana. Pasti rasanya menyenangkan sekali, melihat tempat-tempat baru yang belum pernah dikunjungi dan selama ini hanya dilihat di televisi. Namun saya takut. Ya, saat ini saya tengah terjebak dalam sebuah kasur empuk menyenangkan dengan bantal guling dan selimut yang lembut pada pagi yang dingin berhujan. Itulah definisi zona nyaman menurut saya. Padahal sudah pukul 6 pagi. Alarm sudah berbunyi sejak tadi. Saya merasa gelisah dan ingin bangkit, namun kasur terlalu empuk untuk ditinggalkan, udara terlalu dingin untuk ditantang. Maka begitulah, saya tetap di sini, tidak pergi-pergi. Entah sampai pukul berapa, entah butuh berapa deringan alarm untuk terjaga. Atau harus dibangunkan paksa. Bahkan bisa saja saya tidak pernah bangun, sampai mati.

Untuk keluar dari zona nyaman ini memang perlu perjuangan dan keberanian yang besar. Setelah berhasil keluar pun, akan banyak hal yang mesti dihadapi. Sebut saja ancaman udara yang dingin. Namun ketika kita berhasil keluar, maka akan ada rasa bangga dan ada pengalaman yang tidak mesti dimiliki oleh orang lain. Wow, rasa kagum saya pada mereka semakin berlipat saja. Betapa luar biasanya orang-orang yang rela meninggalkan kasur empuk untuk menantang pagi yang dingin. Karena setelah itu mereka akan mendapatkan berkas-berkas sinar matahari yang indah, atau pemandangan hujan yang cantik. Sedangkan saya, dan semua orang lain, yang masih berbaring di kasur hanya dapat memandang iri dari kejauhan, dan sekali lagi berandai-andai...

Mimpi... Saya menyadari mimpi itu ketika membaca sebuah artikel di tabloid sepak bola. Cerita tentang seorang wartawan yang pergi ke Old Trafford. Begitu terpesonanya saya dengan suasana yang digambarkan di artikel itu. Bagaimana sang penulis naik trem ke Old Trafford dengan pendukung MU sebelum pertandingan. Bagaimana suasana di dalam stadion pada saat pertandingan Liga Champions melawan Real Madrid. Sementara pada saat yang sama saya ada di rumah, melihatnya dari layar televisi. Puaskah saya? Tentu tidak. Atau mengenai daerah Yorkshire, Inggris Utara, yang saya baca deskripsinya dari buku Herriot, Dog Stories. Begitu lihai cara beliau bercerita, sehingga dengan bantuan imajinasi berlebih yang saya miliki, tempat itu dapat tergambar dengan jelas, berlompatan dalam neuron-neuron otak. Karena buku itu, saya lebih ingin lagi pergi ke Inggris. Luar biasa Herriot itu, dengan bukunya ia dapat menginspirasi Andrea Hirata untuk jauh-jauh bersekolah ke Eropa dan menemukan Edensor.

Dan sekarang saya semakin gelisah di atas "kasur" ini. Saya merasa, hidup terlalu pendek jika hanya dihabiskan di satu kota saja. Menyusuri jalan-jalan yang sama, menghirup debu yang sama setiap hari. Bukannya saya tidak bersyukur akan kehidupan yang sekarang, bukan itu yang saya maksudkan. Bukankan wajar jika kita menginginkan sesuatu yang baru, peningkatan ke arah yang lebih baik? Ketika memandang langit saya selalu berpikir, Eropa, Amerika, Afrika, Asia, Australia, Antartika, Raja Ampat, Karimun Jawa, Malang, Yogyakarta, berada di bawah langit yang sama, berada di planet yang sama. Jadi, bukanlah hal yang mustahil untuk menuju ke sana. Namun bisakah saya? Mampukah? Beranikah? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang belum saya temukan jawabannya. Bahkan apabila kelak saya sudah memegang tiket pesawat, sudah berada di dalam pesawat yang akan lepas landas, siap menuju ke negeri yang diinginkan, saya masih buta akan jawabannya.

Oke, mungkin saya terlihat sangat pesimistik di tulisan ini. I can't help it, man. Jadi saya akan bangkit dulu dari tidur dan mengamati keadaan dari atas kasur ajaib ini. Saya akan bernyanyi-nyanyi dalam perjalanan melewati Jalan Godean, sampai ke Grha Sabha Pramana. Saya akan sangat tergopoh-gopoh mengambil kamera jika melihat matahari terbenam. Saya akan menikmati segala hal di Yogyakarta, yang sudah saya tinggali sejak lahir. Saya akan selalu tersenyum dan membahagiakan diri sendiri setiap hari, mumpung masih diberi hidup. Namun jika suatu saat ada pintu yang terbuka atau yang sengaja saya buka, akan saya masuki. Meskipun kelihatannya di balik pintu itu ada hutan belantara berbahaya. Siapa tahu dengan lewat hutan itu saya bisa sampai di Old Trafford :p.

Sebelum hal yang melebihi impian saya yang paling liar itu terjadi, saya masih akan ada di dalam zona nyaman. Jadi, sembari duduk di atas kasur empuk dan ajaib ini, sebelum ada pintu yang mengarah kemanapun, saya akan menuju ke negeri lain. Siapa bilang saya tidak bisa kemana-mana? Lewat pintu-pintu khayalan yang tersembunyi di lipatan-lipatan otak, izinkan saya menuju Alagaesia dulu :) *mulai membaca tetralogi Warisan (Inheritance)-nya Paolini :3.

Selasa, 23 April 2013

My Life, My (Mis)Adventure; Edisi Ulang Tahun

Bulan April ini banyak yang ulang tahun. Mulai dari teman SMA, teman kuliah, teman sedivisi, sampai Ibu Kartini. Ketika sedang berulang tahun, ada empat kemungkinan kejadian. Yang pertama, diselametin sama teman-teman, itu biasa. Yang kedua, tidak diselametin, mungkin sengaja menyembunyikan atau memang dilupakan (ngenes). Yang ketiga, dikerjain. Ada lagi yang keempat, dijadikan peringatan hari nasional, tapi hanya terjadi pada orang-orang tertentu (baca: pahlawan). Karena yang pertama biasa, yang kedua tidak ada yang bisa dijadikan tulisan, dan yang keempat menyangkut Ibu Kartini, pasti sudah banyak yang menulis tentangnya, maka saya akan membahas kemungkinan yang ketiga yaitu dikerjain.

Gara-garanya pagi ini saya mendengarkan cerita salah satu teman. Ia menceritakan tentang tetangga kosnya yang ulang tahun, kemudian disiram dengan air galon dan... kecap. Seriusan, saya saja takjub dan agak gilo mendengarnya. Karena mendapatkan stimulus seperti itu, saya jadi teringat dan tertarik memaparkan beberapa petualangan aneh bin ajaib yang saya alami dalam dunia perulangtahunan. Sebagai yang mendapat tugas mengerjai tentu saja, karena ulang tahun saya bisa dibilang tidak seru, maka tidak perlu diceritakan -_-. Mari kita capcuss saja :D



Menangis Sebelum Pesta
Dimulai pada suatu hari yang cerah, di bulan Agustus (sepertinya, saya lupa). Waktu itu saya masih SMA kelas XI. Salah satu teman saya yang bernama Yesy merayakan ulang tahun ke 16 dengan mengundang teman-teman dekatnya untuk datang ke rumah dan makan-makan. Karena kami (saya sudah lupa siapa saja, yang jelas ada teman-teman yang kemarin saya ceritakan dalam edisi mbolang ke Solo) memang gila dan jahil, maka dibuatlah sebuah rencana untuk membuat sang tuan rumah merasa jengkel. Beberapa teman ada yang datang duluan ke rumah Yesy untuk berpura-pura marah, karena acara ulang tahun tersebut membuat mereka terpaksa membatalkan acara-acara lain, salah satu yang saya ingat adalah membatalkan rencana mencuci (alasan yang nggak banget). Kemudian setelah marah-marah, mereka pura-pura pulang. Sedangkan sisanya termasuk saya, menunggu di rumah dekat tikungan, dengan ditemani anjing yang terus menggonggong.

Mulanya kami pikir rencana itu tidak berhasil. Ternyata waktu kami ramai-ramai kembali ke rumah Yesy, ibunya menyongsong kami dengan mimik muka khawatir dan berkata bahwa anaknya masuk ke kamar, tidak mau keluar. Tentu saja kami jadi panik sendiri, takut ada apa-apa. Kemudian kami semua menyusul ke kamar Yesy dan mendapati dia sedang menangis dengan muka yang merah semua (sayang saat itu tidak membawa kamera :p). Mendapati hal tersebut, kami meminta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya, sambil tertawa geli tentu saja. Untung Yesy tidak marah, malah ikut-ikutan tertawa. Dan setelah itu, pestapun tetap berjalan dengan lancar.

Bercanda Berujung Bencana
Jika bercanda dengan orang lain, sebaiknya dikira-kira, agar tidak menjadi bumerang yang melukai kita maupun dia. Itulah pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman saat mengerjai Syscha di hari ulang tahunnya yang jatuh pada bulan Oktober. Mulanya, saya dan teman-teman mendiamkan dia sepanjang hari (kalau tidak salah saat itu hari Jumat). Kami benar-benar diam dan bersikap sangat menjengkelkan padanya. Saya lupa detail apa saja perbuatan yang kami lakukan padanya, yang jelas ia kelihatan sangat kesal pada kami. Saking kesalnya, ia tidak duduk-duduk bersama kami dulu waktu istirahat sebelum les, melainkan langsung pergi ke kelas. Saat itu, kami memutuskan bahwa sekaranglah saatnya mengakhiri permainan ini (halah). Kami semua pergi ke kelas dengan Widi di depan sebagai pembawa kado dan memanggil Syscha agar keluar kelas. Namun apa yang terjadi? Syscha malah membanting kado yang baru saja diserahkan Widi padanya, membuat Widi menjadi sangat marah. Peristiwa itu membuat Widi dan Syscha terlibat perang dingin selama beberapa lama. Walaupun akhirnya semua kembali damai tentram seperti sediakala, peristiwa itu tetap merupakan blunder yang memalukan dan menyakitkan. Jadi, jangan ditiru ya pembaca yang budiman ;).

Mencopet Dompet
Sasaran kejahilan kali ini adalah sang EO kenamaan yang baru saja berulangtahun 19 April lalu, Patrick. Sepulang mentraktir renang di Wisanti pada hari Minggu, Patrick dan kami semua duduk di depan hotel itu sambil mengobrol. Ketika ia sedang asyik mengobrol, saya dan Syscha mulai beraksi dengan pura-pura meminjam tasnya untuk kemudian mencopet dompet di dalamnya. Benar-benar ahli saat itu, saya juga heran. Sampai sang pemilik yang biasanya pintar mendeteksi penipu, kali ini tidak merasakan apa-apa. Setelah diambil, dompet ditaruh di tas Syscha (kalau tidak salah). Karena tadi waktu membayar biaya renang menggunakan uang Een dulu, Patrick bermaksud mengganti dengan mengambil uang tunai dari dompetnya. Namun dompetnya (jelas) sudah raib, dan ia menjadi kebingungan, kemudian mulai mencari kemana-mana. Saat itu dengan jahatnya, teman lain meninggalkan Patrick bersama Een yang malang, menuju ke warung bakso di seberang jalan (sebelumnya sudah berkonspirasi seperti itu :p). Akhirnya konspirasi itu terbongkar ketika kami sudah tidak tahan dengan muka Patrick yang memelas, disamping keinginan untuk tertawa yang sudah tidak dapat dibendung lagi.

Ular-ularan Salah Sasaran
Bulan Oktober, banyak diantara teman-teman dekat saya yang berulang tahun. Salah satunya adalah Widi. Saat itu, kami semua menggunakan taktik standar operasional ulang tahun, mendiamkan yang berulang tahun. Setelah didiamkan seharian, pulang sekolah adalah waktu untuk memberikan kado ulang tahun (ini juga standar operasional). Namun kado ultah kali ini bukanlah kado biasa, melainkan sebuah kado bohong-bohongan yang berisi ular-ularan karet milik saya. Singkat cerita, Widi membuka kado yang telah dibungkus dengan cantik, didampingi kami semua yang berdiri dekat di sekitarnya. Dan... ta daaa... ketika kado dibuka, muncullah efek yang kami semua harapkan, terdengar jeritan keras, bahkan sampai ada efek lari terbirit-birit. Namun anehnya, perilaku itu bukan muncul dari Widi sendiri, yang cuma terkesiap kaget sambil menjatuhkan kotak, melainkan dari Indah yang langsung menjerit keras, lari terbirit-birit beberapa belas meter jauhnya, dengan ekspresi ketakutan di wajah. Kami semua langsung tertawa terpingkal-pingkal. Dan sampai saat menulis ini, setelah hampir 3 atau 4 tahun berlalu, saya masih tertawa mengenang ekspresi Indah saat itu :p.

Sepatu Hilang Sembunyi Tangan
Di cerita yang atas ia adalah korban salah sasaran, di cerita ini dia menjadi korban betulan. Yup, inilah Indah yang berulang tahun pada bulan November. Pada hari itu seusai pelajaran TIK, saya dan Bekti sudah selesai duluan. Kamipun keluar kelas dan kebetulan melihat sepatu Indah yang orangnya masih di dalam. Sepatu memang dilepas pada saat pelajaran TIK karena ruang kelasnya berkarpet. Melihat sepatu itu, kami memiliki ide untuk menyembunyikan, sekalian mengerjai Indah yang baru saja berulangtahun. Setelah beberapa saat mencari, kami mendapatkan tempat persembunyian yang pas, lemari tidak terpakai yang berada di sebelah lab bahasa. Sambil menunggu Indah, saya dan Bekti memberitahukan tentang penyembunyian sepatu kepada Pat, Sys, dan Yesy. Akhirnya Indah keluar juga dari kelas, dan kebingungan mendapati sepatunya sudah raib. Ia bertanya kepada kami mengenai sepatunya, namun kami semua pura-pura tidak tahu (benar-benar berbakat jadi artis). Indah terlihat bingung dan putus asa, sehingga kami terdorong untuk memberinya saran yang aneh, yaitu bertanya kepada guru TIK yang horor, Pak Budi. Dan lebih anehnya lagi, Indah menjalankan saran itu dengan patuh. Ia dengan polosnya bertanya kepada Bapak Budi, "Pak, sepatu saya mana?". Walhasil, kami semua terpingkal-pingkal dan berlari menghindar dari kejaran Indah yang sudah kalap, ditambah malu.

Setelah aksi kejaran-kejaran yang heroik, melibatkan ruang PMR sebagai bunker persembunyian, kami mengembalikan sepatu yang tadi sempat dijadikan tawanan. Namun, aksi "terorisme" kami belum berakhir. Sebelum sang pemilik sempat bereuni dengan sepatu tercintanya, kami menangkap tangan dan kakinya kemudian menggotong Indah menuju tempat paling sakral bagi yang sedang berulang tahun di SMA 7 Yogyakarta, kolam 7. Entah sudah berapa jiwa menjadi korban penceburan paksa di kolam kecil dengan tugu berbentuk angka 7 di tengahnya, bermandikan air bercampur lumut dan bau amis ikan penghuninya. Saking seringnya, sampai sekolah membuat dekrit yang melarang menceburkan murid di situ, untuk melindungi ikan-ikan di dalamnya selain murid itu sendiri. Tetapi untungnya, pada saat itu aturan tersebut belum berlaku sehingga kami sukses besar menceburkan Indah ke dalamnya. Setelah itu, aksi kejar-kejaran kembali dimulai. Indah mengejar kami untuk melampiaskan kekesalan, dengan memeluk, sehingga baju yang terpeluk ikut kotor. Saat itulah saya mengalami sendiri bagaimana gambaran bergerilya waktu jaman perang. Setelah beberapa saat, salah satu pejuang kami yaitu Bekti, gugur disergap Indah secara tiba-tiba di parkiran. Kejadian itu saya dan Syscha manfaatkan untuk kabur dari sekolah dengan naik motor. Dan berakhirlah hari itu dengan bahagia (bagi saya dan mereka yang berhasil selamat dari pelukan maut Indah).

The Power of Box
Mari tinggalkan cerita ultah di masa putih abu-abu dan memasuki dunia perkuliahan, yang ternyata masih saja diwarnai kejahilan menggelikan. Kali ini yang menjadi korban adalah Woro, seorang gadis yang berulangtahun pada bulan Juni. Woro ini sangat takut pada cicak, maka hari itu kami, yang terdiri dari saya, Mega, Sarti, Eno, dan Dila, bermaksud untuk mencari seekor cicak dan dimasukkan ke dalam kotak snack untuk kadonya. Namun sialnya, kami tidak berhasil menangkap seekorpun. Aktivitas kami saat itu begitu kentara, sampai ketahuan oleh Woro waktu sedang mencari cicak di mushola fakultas. Putus asa, kami memutuskan untuk memberikan saja kotak kosong itu pada Woro, tanpa cicak. Tetapi ia sama sekali menolak untuk membukanya. Sepertinya kegiatan kami mencari cicak membuat Woro berasumsi bahwa kotak itu berisi cicak. Kami terus-menerus memaksanya untuk membuka kotak, berkata bahwa itu berisi kue ulang tahun, namun ia sama sekali tidak terpengaruh. Bahkan ia sangat ketakutan ketika kotak itu didekatkan padanya. Keadaannya diperparah ketika salah satu teman lelaki mengintip isi kotak tersebut kemudian berkata, "Oh, ini toh yang ditakutin sama Woro". Kami menghabiskan beberapa jam memaksa Woro agar mau membuka kotak, sampai ia menangis (mungkin saking ketakutannya :p).

Akhirnya setelah pemaksaan, janji-janji, dan bujukan yang intensif, Woro mau juga membuka kotaknya. Dan kotak itu tentu saja, kosong. Membuatnya malu sendiri telah menangis. Juga membuat kami tertawa. Memang luar biasa kekuatan sebuah kotak, untuk menyembunyikan sesuatu yang ada, maupun yang sebenarnya tiada >v<.

Muncul di Saat yang Kurang Tepat
Diawali dengan kuliah PKKP hari Rabu pada bulan Maret, Ane, Bina, dan saya sendiri memutuskan untuk memberikan kado istimewa untuk Mega yang berulang tahun keesokan harinya. Kado yang diputuskan adalah... buku tentang cara mencari jodoh. Kami akan menyampaikan kado itu dengan cara yang tidak biasa, yaitu datang ke kosannya sore-sore saat ia sudah pulang ke situ, dengan membawa buku itu dan sebuah kue ultah.

Long short stories, pulang kuliah Latbang, dan setelah memastikan target sudah kembali ke kosannya, kami menuju Swiss House untuk mengambil kue yang telah dipesan Ane sebelumnya. Kue itu unyu sekali, berbentuk kepala Curious George (seekor monyet). Kemudian kami bertiga menuju ke kos Mega di daerah Klebengan, membawa sang kue unyu dan sebuah buku pink berjudul "Flirtology" (memang judulnya begitu, serius). Sampai di sana, kami berhenti sejenak di ruang tamu untuk meyusun rencana kemunculan, agar meriah dan heroik. Disepakati bahwa kami akan langsung melompat ke depan pintu kamar Mega yang saat itu dalam keadaan terbuka sambil bernyanyi selamat ulang tahun diiringi bertepuk-tepuk. Akhirnya rencana itu dijalankan, kami muncul di depan pintu sambil membawa kue dan bernyanyi keras-keras, tak lupa bertepuk tangan, untuk menemukan..... si pemilik kamar yang sedang menunaikan Sholat Ashar. Kamipun langsung terdiam, sementara tubuh Mega berguncang karena tawa. Maka batallah sholatnya dan batallah kemunculan meriah kami, karena saatnya ternyata kurang tepat -_-.


Itulah cerita-cerita ulang tahun yang pernah saya alami. Sebenarnya masih ada, namun karena sudah capek mengetik dan sebagian memori mengenai cerita itu telah "vanished to the oblivion" atau sudah terkubur di lapisan terdalam long term memory (bahasa sederhananya: lupa!), maka kisah-kisah itu tidak dapat ditulis ulang lagi. Bagi teman-teman yang namanya disebutkan di atas, mohon jangan tersinggung, saya hanya ingin mencatat pengalaman hidup yang menarik dan sayang jika terlupakan. Semoga dapat dinikmati dan diambil hikmahnya ^^.

CHAMP20NS

Pagi-pagi tadi sudah dapat kabar gembira. MU, singkatan dari Manchester United, memastikan titel juara EPL ke 20 setelah mengalahkan Aston Villa dengan skor 3-0. Semua gol dicetak oleh Robin van Persie yang bernomor punggung 20, emang beneran cucok dah :3. Sayangnya saya tidak menonton, soalnya pertandingan jam 01.30 dinihari, ngantuk, padahal udah persiapan tidur gasik. Agak nyesel juga, jadinya kurang greget :/. Kalau nonton langsung kan lebih terasa aura juaranya. Tapi tidak apa-apa, yang penting juaraa :D.

Beritanya ini nih :3

Yeey, seneng deh :D. Akhirnya dapat gelar juga, setelah gagal juara di Liga Champions dan Piala FA (jadi gagal treble, heheheh).
Semoga tahun depan dapat juara Liga Champions ya.. sudah lama tidak merasakan (nonton) trofi Big Ear. Jangan seperti tahun ini, tersingkir di babak 16 besar, membuat saya patah hati. Sumprit, saya sampai nangis setelah pertandingan leg 2 lawan Real Madrid berakhir. Benar-benar merasa ter-PHP, karena di leg 1 MU bisa mengimbangi Madrid, eh di leg 2 kalah, di kandang sendiri pula -_-. Saya langsung nangis, tidak bisa tidur lagi, sekalinya tidur malah terbawa mimpi, jadi tambah sedih. Ya, saya memang lebai.... Untung waktu tersingkir di Piala FA saya tidak selebai itu lagi, haha.
Selamat buat MU, tetap berprestasi tahun depan. Sukur-sukur dapat treble ya akang-akang, hehe ^^.

Glory Glory Manchester United
As the Reds Go Marching On On On!


sumber gambar: goal.com

Minggu, 21 April 2013

Hectic Week

Sekarang sudah hari Minggu ternyata. Baru saja saya menikmati akhir pekan, tahu-tahu saja sudah awal pekan lagi. Rasanya minggu ini saya capek sekali, capek lahir batin. Benar-benar hectic week, dari Senin-Jumat. Diawali dengan kehebohan di hari Senin, kelompok reksel kami yang hendak menyiapkan presentasi. Padahal hari Senin itu saya sedang mengalami suatu penyakit yang rasanya kurang mengenakkan untuk dirasakan apalagi disebutkan. Yang jelas, penyakit ini membuat saya sukar untuk duduk tenang. Sakit. Maunya tidur atau berbaring, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di kelas saat kuliah berlangsung. Walhasil, hari itu saya harus menanggung siksaan lahiriah dari jam setengah 2 siang sampai hampir jam 8 malam, karena setelah mengerjakan tugas kami mampir makan-makan dulu.

Tibalah hari Selasa, waktunya kuliah full, dari jam setengah 8 sampai jam 4. Kuliah pertama hari ini terpaksa saya jalani dengan mata yang ngantuk berat dan kelaparan maksimal. Kenapa? Malam sebelumnya, saya bergadang sampai jam dua pagi, mencari sebuah nama di internet. Yup, seseorang yang entah-siapa-itu bernama "Taylor" yang konon kata dosen PKKP membuat teori mengenai konseling perkawinan. Tapi hasilnya nihil, saya cuma menemukan Taylor Swift dan Taylor Lautner -_-. Paginya, saya terlambat bangun dan belum sempat sarapan. Sialnya lagi, pak dosen menggunakan waktu kuliah dengan efektif, sampai jam 10 pagi, padahal saat itu saya sudah hampir mati kelaparan *lebai. Begitu kuliah selesai, saya segera makan di bonbin, ditambah segelas kopi agar tahan melek sampai siang dan tidak ambruk pada saat presentasi di jam terakhir nanti. Alhamdulillah, presentasi reksel kelompok kami berlangsung dengan lancar, jaya, sentosa, dan prima. Namun saya belum dapat beristirahat karena pada hari Kamis akan muncul presentasi kelompok yang tidak kalah dahsyat dan hebohnya: Latbang.

Rupanya setelah presentasi reksel, saya belum dapat pulang karena kelompok latbang berkumpul untuk membahas presentasi. Saat itu, saya merasa sebagai orang terbodoh dan termalas di dunia, karena selain belum membuat paper bagian saya, juga belum mengerti sama sekali materinya. Untung ada teman yang belum membuat paper juga, dan kami bertiga galau bersama :p. Akhirnya pembahasan kami tunda hari Rabu sore. Setelah pulang, penderitaan ternyata belum berakhir. Karena saya baru sampai rumah pukul 18.00 dan sangat nanggung untuk tidur, saya baru dapat tidur setelah Isya, meskipun tidak nyenyak. Pukul 22.00 saya sudah bangun lagi untuk mengerjakan paper, baru selesai pukul 01.00. Itupun saya belum langsung tidur karena gangguan tikus dan harus memandu Ipusrito (kucing saya) untuk mengejar tikus itu, yang akhirnya tidak tertangkap -_-. Saya baru dapat tidur pukul 02.00, sama seperti kemarin :(.

Sleep deprived, alias kurang tidur, itu yang saya rasakan ketika berangkat kuliah di hari Rabu. Sebenarnya kuliah hanya dari pukul 10.30 sampai 13.00, namun saya tidak dapat langsung pulang karena harus ke RSGM, bayar KKN, dan membahas tugas latbang. Setelah semua urusan selesai, disela dengan santai-santai di sekre sikomet sebentar, kelompok kami mulai membahas tugas latbang. Pembahasan berlangsung sepanjang sore, sampai pukul 18.00 di depan G100. Saat giliran saya presentasi, hujan turun sangat deras disertai angin. Semoga bukan pertanda buruk. Hari itu saya berjanji pada diri sendiri akan tidur lebih awal, jam 21.00 mungkin. Namun apa daya, saya malah baru dapat tidur pukul 23.00.

Kamis, hari yang sangat mendebarkan bagi saya. Hari itu, saya sangat berharap yang mengajar latbang adalah pak dosen, karena menurut salah seorang teman, jika yang mengajar bu dosen maka kami yang presentasi tidak boleh membaca slide powerpoint dan akan sering ditanyai serta disela. Ternyata.. harapan saya tidak terkabul. Bu dosenlah yang masuk ke kelas. Saat itu, badan saya sudah panas dingin dan mulai hiperaktif tak terkendali, tanda-tanda kegugupan. Apalagi melihat teman-teman yang presentasi sebelum saya (saya dapat giliran ke 4), dihentikan setiap satu slide dan ditanya-tanyai oleh ibu dosen. Tibalah giliran saya, yang untung tidak semenyeramkan yang diduga. Saya ditanya, iya, disela, iya, tapi jarang. Mungkin karena saat itu sudah menunjukkan pukul 15.30, padahal masih satu orang lagi di belakang saya. Pada pukul 16.00, berakhirlah drama presentasi tergila yang pernah saya alami dengan tepuk tangan meriah, mungkin karena teman-teman kasihan melihat kami yang dibantai begitu rupa (presentasi sebelumnya dengan pak dosen tidak pernah seperti itu).

Di atas tadi, sudah disinggung soal si "Taylor". Sebenarnya, kelompok PKKP kami akan mempresentasikan beliau pada hari Jumat. Namun karena kami tak juga menemukan teorinya, ibu dosen membatalkan presentasi kami dan menggantinya dengan topik lain. Untuk sementara ini, saya lega. Namun presentasi itu tentu akan menambah beban saya pada minggu-minggu berikutnya.

Maka berakhirlah hectic week saya dengan fenomenal. Alhamdulillah, saya masih hidup setelah berdarah-darah melewati dua presentasi yang cetar membahana ulala syalala. Meskipun yang ini telah berakhir, dipastikan hectic week berikutnya akan segera menjelang. Karena kehidupan sebagai mahasiswa memang begini. Saya kira semester 6 lebih santai, ternyata cuma hoax :p. Jadi bagi siapapun yang membaca tulisan ini, dapat diambil beberapa pelajaran moral yaitu:
  1. Gunakanlah waktumu sebaik-baiknya.
  2. Jangan menunda pekerjaan, kerjakan sekarang apa yang dapat dikerjakan sekarang, jangan nanti-nanti atau kau akan menyesal.
  3. Rencanakan jadwalmu, jangan tumpuk-tumpuk pekerjaan.
  4. Cukup istirahat, jaga kesehatan.
  5. Jangan terlalu banyak refreshing disaat banyak pekerjaan.
  6. Pilihlah teman kelompok yang dapat diandalkan.
  7. ....dan yang bisa diajak galau ketika dibutuhkan :p.

Semoga bermanfaat :3.

Menari


Kau menari. Kaki-kakimu menjejak tanah dengan luwes. Tanganmu mengibaskan sampur dengan gemulai. Bahkan wajahmu, matamu, seluruh bagian tubuhmu turut menari. Kau menari sampai keringatmu menetes, mengaliri kulitmu seperti linangan air hujan. Aku duduk di dekatmu, memperhatikanmu merangkai kibasan sampur, menghafal setiap senti gerak tubuhmu, menikmati liukan lentik jemarimu. Cahaya bulan purnama menyirami ragamu, menjadikanmu seperti bidadari yang turun dari khayangan. Gending mengalun sesyahdu tiupan angin. Menyaksikanmu menari malam ini, aku merasa menjadi orang paling beruntung di seluruh bumi.

***

Orang-orang bilang kami primitif, bahkan ateis, hanya karena kami tak memuja dewa-dewi yang mereka agungkan. Kami manusia purba dari zaman paleolitikum yang tak tahu peradaban. Kami menjadi topik panas gosip murahan, yang selalu mengalir dari mulut para wanita cerewet dan sok tahu itu. Tiada pergaulan bagi kami, tiada yang sudi bertandang ke gubuk mungil di bawah pohon beringin, tempat kami tinggal. Tetapi kepalamu tetap tegak, seakan semua itu hanya gonggongan anjing kurapan yang untuk berdiri saja tak mampu. Kau tetap tersenyum, menghadapi dunia seorang diri dengan tarian. Dan aku, meskipun tak pernah cukup membantu, meskipun sering merepotkanmu dengan segala keluh kesah dan tangisan, satu-satunya yang tetap di sampingmu. Kau yang selalu ada untukku, menghiburku, menghidupiku. Ah, betapa kau segalanya bagiku. Jika ada dirimu, aku tak akan butuh dewa manapun, terutama dewa-dewi itu.

Dewa-dewi, tiada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan sosok-sosok itu. Mereka makhluk yang berbeda dengan kami. Kulit mereka sebening kristal, bertubuh tinggi semampai, rambut beragam warna yang berkilat. Wajahnya tak bercela, halus rupawan dengan mata bersinar, hidung bangir, bibir tipis menawan, dan alis bagaikan barisan semut yang teratur. Cantik, tiada kata lain untuk menggambarkannya. Bahkan para dewa pun memiliki wajah secantik dewinya, meskipun dengan tubuh yang lebih berotot tentu saja. Mereka memakai pakaian yang indah, penuh warna, sangat berbeda dengan kami. Mereka pandai menari dan menyanyi. Suara mereka sejernih embun pagi, tarian mereka menghipnotis, kadang seluwes bambu tertiup angin, namun sering pula rancak dan menghentak. Selain menari dan menyanyi, mereka juga pandai berkisah, terutama cerita cinta. Kisah dari negeri dongeng yang membuai dan menghanyutkan. Benar-benar makhluk sempurna berwajah rupawan dan mampu membius dengan segala pesona yang ada. Pantaslah jika orang-orang memuja mereka.

***

Semenjak dewa-dewi itu menampakkan diri, kau berkata padaku bahwa dunia menjadi tempat yang membosankan. Dimana-mana, orang meniru para dewa-dewi, baik cara berpakaian mereka, gaya hidup yang diceritakan dalam kisah mereka, maupun melagukan dan menarikan kembali apa yang pernah ditampilkan. Para seniman membuat patung mereka, orang-orang berebut memasang gambar para dewa. Pemujaan massal merajalela, kuil-kuil didirikan. Jika dewa-dewi itu hendak tampil, orang harus berebut agar dapat menyaksikan. Tingkat pernikahan menurun, karena para wanita mendamba lelaki berwajah seperti dewa dan menganggap seluruh lelaki di yang ada tidak cukup tampan dan pantas untuk menjadi pasangan mereka. Begitupun para lelaki, wanita berwajah  bak dewi dan bertubuh aduhailah yang menjadi idaman. Pendeknya, dewa dan dewi telah menjadi pujaan dan teladan bagi masyarakat negeri ini.

Kau tidak pernah membenci mereka. Tidak sama sekali. Tapi bagimu mereka bukanlah dewa. Mereka hanya makhluk lain, yang berasal dari bahan lain dan belahan angkasa yang berbeda. Kau tidak mendendam, hanya sedikit kurang setuju dengan eksistensi mereka. Bagimu, mereka seperti menghapus identitas negeri ini. Tiada lagi orang yang menarikan tarian lama, hanya dirimu dan aku. Orang-orang dengan entengnya melupakan dan menganggap kuno budaya warisan nenek moyang. Membuat orang-orang berubah, menjadi semacam obsesif kompulsif jika sudah menyangkut para dewa-dewi itu. Hal apapun yang berbau-bau mereka pasti laris diburu. Teman-teman dekatmu dulu menjadi tak terkenali lagi. Bagi mereka, tiada topik pembicaraan selain mengenai dewa-dewi. Mencuri kehidupan lamamu, menjadikanmu orang buangan hanya karena tak sepaham dengan mainstream yang sedang berlangsung.

***

Hari ini, dewa dan dewi akan turun dari istana langit. Para wanita menjerit dengan penuh histeria ketika para dewa itu melangkah dari awan-awan untuk menuju ke kerumunan pemuja yang telah menunggu sejak kemarin. Ketika giliran para dewi yang unjuk diri, lelaki-lelaki yang jumlahnya lebih sedikit, ikut bersorak-sorai. Kemudian dewa-dewi itu mulai menari dan menyanyi, diiringi nada pujaan dari para pengikutnya. Semakin lama, kerumunan semakin membesar. Peluh menetes tiada diacuhkan, kondisi berdesakan dan panasnya udara tak ada yang peduli. Nyanyian dan musik hingar bingar, berkawin dengan gerak tari dan tubuh serta wajah indah, melahirkan vibrasi pesona yang sukar ditolak siapapun juga. Pesona itu menggeliat di udara dan menyebar bagaikan serbuk sari tertiup angin, hingga ke sebuah bukit tempat kami bersembunyi.

Kami duduk di puncak bukit rendah, tidak jauh dari tempat ritual itu. Tersembunyi di balik rimbunnya sesemakan tehtehan, kau menatap dewa-dewi itu dengan sinis, tanpa sekalipun berkedip. Baru pagi ini gubuk kami dilempar batu oleh seseorang. Bahkan tetua desa datang untuk mengajak kami menonton dewa-dewi beraksi dan berpartisipasi dalam pemujaan. Jika tidak, ia dan warga-warga lain tidak akan segan untuk menyeret kami keluar dari desa. Kau tetap tenang, wajahmu sekaku batu. Tetapi ketika mereka telah menghilang di kelokan, kau menggandengku dengan wajah muram dan mata berkaca, lalu mulai mendaki menuju tempat kami berada sekarang. Dan sekarang kami terpaksa menyaksikan dan menghirup pesona memabukkan yang mereka pancarkan, meskipun bagiku, dan aku yakin bagimu juga, keindahan itu hanya ilusi yang dibuat-buat, bahkan terasa agak memuakkan.

***

Berkas-berkas panjang sinar matahari menerobos masuk ke sela langit-langit kamar ketika aku terbangun pagi ini. Gubuk dalam keadaan sepi, terlalu sepi malah. Aku terduduk tegak, melempar selimut dan menilingkan telinga, mencoba mendengar suara indahmu. Suara nyanyianmu melantun tembang-tembang terlupakan yang selalu kau lakukan ketika menjerang air setiap pagi. Namun, hanya suara burung-burung dan dekut ayam betina peliharaan kami yang terdengar. Jantungku mulai berdebar kencang. Apakah terjadi sesuatu denganmu? Apakah ada orang yang menculikmu? Apa warga desa sudah bertindak? Apakah… Aku bergidik, lalu berdiri tanpa mempedulikan keadaan pakaian dan rambutku yang masih berantakan, dan berlari seperti orang lupa diri menuju jalan desa.

Semburan tawa terdengar riang meningkahi suara musik yang menghentak-hentak. Aku menghentikan langkah di balik sebuah pagar tanaman, mengenali tawa itu. Tepatnya, salah satu tawa yang mengalun seperti kicau kenari. Kutolehkan kepalaku ke asal suara, sebuah rumah dengan teras yang luas. Beberapa gadis nan modis berdiri di teras, kecuali satu gadis yang berpakaian biasa. Kau. Sedangkan gadis-gadis yang berdandan ala artis itu kukenali sebagai teman-teman lamamu. Salah satu gadis mengulurkan pakaian kepadamu, yang kau terima dengan wajah berseri. Kau menghilang sejenak ke dalam, kemudian keluar dengan balutan pakaian, yang kusadari, mirip dengan yang dipakai seorang dewi kemarin. Aku tercekat, kau terlihat sangat manis, lebih manis dari biasa. Tak lama kemudian, dara-dara itu mulai menari. Kau mulai menari. Namun bukan tarian biasanya, melainkan dengan koreografi ala dewa-dewi. Mulutku ternganga, tak percaya, sementara kau menari dengan lincah, berdendang riang, dan sesekali terbahak dengan suara burung kenarimu.

Air mata memburamkan pandangan ketika aku berlari pulang. Aku tak mau menegurmu. Bukan karena aku membencimu, atau murka atas pengkhianatanmu. Tidak, tidak akan pernah. Aku pergi karena kau terlihat bahagia, tersenyum lebar, dan matamu berkilauan. Seolah-olah, kehidupan yang pahit tak pernah ada, seperti barang berharga yang terampas telah dikembalikan. Kau kembali utuh, tanpa lubang. Sementara aku, sendirian. Manusia kesepian dengan lubang menganga di hatinya, lubang yang semula merupakan tempatmu. Bukan hanya lubang, melainkan hilangnya sebagian besar bagian, sehingga hatiku hanya tinggal cabikan. Tapi aku tak menyesal. Karena bagiku, kebahagiaanmulah yang terpenting. Jika disini, dengan tarian lamamu, dan denganku kau tidak dapat bahagia, maka kau bisa pergi, ke tempat dewa-dewi itu sekalipun. Walau mungkin itu akan melukaiku. Walau aku mungkin akan tetap mengharapkanmu pulang, dan menari seperti dulu lagi.

***

Matahari telah terbenam dan purnama kembali bertakhta. Kau belum juga menampakkan batang hidungmu. Aku bangkit dari perenungan di bawah pohon beringin dan menuju teras mungil gubuk kami. Kuraih sampur yang selalu kau letakkan di atas lincak. Kususuri kainnya yang lembut dan telah rapuh termakan masa. Kuikat di pinggangku, dan aku berlari menuju halaman, lalu mulai menari. Aku menari. Semakin lama semakin liar. Aku menari seperti orang kerasukan. Aku menari tanpa musik, tanpa nada. Hanya suara gemerisik dedaunan pohon beringin, binatang malam, debaran jantung, dan desahan nafas yang mengiringiku. Aku meliuk seperti gelora ombak Laut Selatan, menumpahkan segenap jiwa pada tarian. Keringat terhambur, memercik ke tanah. Sampur terkibas menampar udara malam. Aku menari, menari, dan menari hingga waktu seakan berhenti. Aku akan terus menari, sampai kau sudi kembali.

Rabu, 17 April 2013

Rekrutmen dan Seleksi Jodoh

UTS telah berlalu, namun bekasnya masih tersisa di hati, terutama liburnya.. pengen lagi. Sedangkan materi-materi yang saya pelajari untuk menghadapi UTS sudah lenyap ditelan bumi. Namun ada sebuah materi yang menempel lebih lama di kepala (meskipun sekarang juga sudah lupa-lupa ingat) yaitu materi mata kuliah Rekrutmen dan Seleksi alias Reksel. Mengapa bisa demikian? Ceritanya begini...

Hari itu adalah hari Selasa, 2 April 2013. Setelah mengumpulkan tugas take home pengganti UTS mata kuliah tes non proyektif pada pukul 10.30, saya memutuskan untuk tinggal di kampus dan belajar reksel yang akan diujikan pada jam 13.30. Saya yang belum belajar ini, membuka-buka catatan bersama seorang teman, sebut saja Ane. Agar materi lebih mudah diingat, saya dan Ane menggunakan contoh-contoh untuk memperjelas suatu konsep. Mulanya, contoh yang kami gunakan normal-normal saja, seperti menganalogikan proses perencanaan dengan pembuatan buletin siklus. Namun, makin lama contoh yang kami gunakan semakin aneh. Sempat kami kaitkan antara strategic HRM dengan suatu usaha fiktif es mie ayam, yang dulu sempat diusulkan oleh Mega, salah seorang teman juga. Ketika Mega benar-benar bergabung untuk belajar bersama juga, keluarlah contoh-contoh lain yang lebih aneh, dengan dia sebagai korban (uhuk).  Kali ini dengan satu tema yaitu: JODOH. Berikut beberapa materi dan contoh yang saya ingat:

Materi: Man Power Planning
Teknik dalam membuat prakiraan
1. Expert forecast, penilaian dari ahli yang berkaitan dengan kebutuhan SDM masa datang
contoh kami: dengan bertanya pada teman-teman yang sudah punya pacar a.k.a sudah ahli
2. Nominal group technique: delphi technique (g bisa kasih contoh, kami g ngerti)
3. Trend Projection forecast: mengacu pada trend di masa lalu
contoh kami: melihat mantan-mantan pacar yang lalu
4. Budget dan planning analysis
contoh kami: dalam mencari jodoh, ditentukan oleh rencana dan budget yang dimiliki

Materi: Model Rekrutmen
Sumber kandidat internal
1. Job posting: publikasi ada tawaran posisi, bisa lewat internet/ ditempel
contoh kami: mengumumkan bahwa diri masih single, di lingkup fakultas.
2. Skill inventori: untuk melihat kandidat internal yang berpotensi dan memenuhi persyaratan
contoh kami: membuat checklist kriteria mengenai cowok-cowok di fakultas :p
3. Mempekerjakan karyawan yang sudah keluar
contoh kami: balikan dengan mantan pacar
4. Succession planning: proses berkesinambungan dalam mengidentifikasi, mengukur, dan mengembangkan kemampuan leadership
contoh kami: menyiapkan dan melatih seorang cowok untuk dijadikan pacar yang baik

Sumber kandidat eksternal
1. Melalu internet, virtual job fair
contoh kami: cari jodoh lewat sosial media, chatting
2. Iklan
contoh kami: sengaja mengiklankan diri dalam mencari jodoh, seperti di majalah atau koran, di rubrik cari jodoh
3. Agen tenaga kerja
contoh kami: lewat biro jodoh
4. Rekruter eksekutif (head hunter)
contoh kami: merekrut (a.k.a merebut) pacar orang (karena cowok itu pasti sudah pengalaman dalam dunia perpacaran)
5. On demand recruiting service
contoh kami: yang ini saya lupa, maaf yaa.... :(
6. Rekrutmen di kampus
contoh kami: jalan-jalan ke fakultas/ kampus lain (teknik diutamakan :3)
7. Walk in interview
contoh kami: yang ini lupa juga :(

Dan contoh yang sangat dan paling dahsyat adalah...
Masih dalam materi Model Rekrutmen....

Rekrutmen Model Piramid

Jadi dalam merekrut karyawan perusahaan ada perbandingan-perbandingannya yaitu
Yang diterima: x
Rasio tawaran dan yang diterima 2:1
Rasio kandidat yang di interview dan yang ditawarkan 3:2
Rasio kandidat yang di tes dan yang di interview 4:3
Rasio yang dicari jadi kandidat dan yang diterima 6:1

contoh (kami):
Pacar: 1
Yang ditawarin jadi pacar: 2
Yang di interview: 3
Yang di tes: 4
Yang jadi kandidat pacar: 6

Contoh yang sesuatu bukan? Tapi sepertinya bagi saya tidak begitu berpengaruh dalam ujian. Contoh-contoh tersebut tidak lantas membuat saya jadi ingat semua materi. Malah saya jadi terdistraksi, ingat contohnya, tapi tidak ingat apa yang dicontohkan dengan itu :3.

Demikianlah materi rekrutmen dan seleksi versi cari jodoh. Semoga bisa berguna yah.. :p

Teori Kegalauan

Di sore hari yang mendung mesra
Di perpustakaan pusat UGM, lantai dua
Di tengah mengerjakan tugas kelompok mata kuliah rekrutmen dan seleksi
Berkumpulah lima orang mahasiswi fakultas psikologi
Yang saat bersama selalu menghasilkan kegalauan dengan tingkat paling maksimal
Tercetuslah teori yang meskipun masih hipotesa, namun sepertinya sulit kami bantah
Yaitu...


"Semakin banyak semester kuliah seorang mahasiswa, maka semakin tinggi tingkat kegalauannya"



Berarti saat ini saya sedang berada pada galau tingkat 6
Menarik...
Apakah kalau jadi judul skripsi akan disetujui?

Boleh setuju, boleh menentang
namanya juga teori :3

Senin, 15 April 2013

Catatan Perjalanan: Mbolang ke Solo Part II (End)

Oke para pembaca, setelah meninggalkan para ibuk-ibuk darmawanita sejenak di Stasiun Solo Balapan yang legendaris dan romantis, mari kita arahkan mata kepada mereka lagi, yang ternyata sudah keluar dari stasiun untuk menuju destinasi pertama; Kraton Solo. Ternyata bukan Yogya saja yang punya kraton, Solo juga ada, bahkan lebih tua dari Kraton Yogya. Setelah bertanya kesana kemari, didapatlah kesimpulan bahwa jarak antara stasiun dan kraton cukup jauh kalau ditempuh berjalan kaki. Ukuran cukup jauh itu seperti kita jalan kaki dari Tugu sampai Panggung Krapyak, di siang hari yang sepanas neraka Jahanam. Mungkin saya hiperbola, namun suhu udara saat itu memang puanaasss buannggeeett. Akhirnya dengan mempertimbangkan keselamatan, ancaman peningkatan tingkat kehitaman kulit, dan yang paling utama, kemalasan, kami semua memutuskan untuk naik becak. Namun namanya juga anak muda yang tidak punya banyak uang, apalagi sebagian besar berstatus mahasiswa, kami mengambil paket hemat becak wisata, satu becak bertiga dan menawar harga kepada pak becaknya, masing-masing becak Rp. 15.000,00. Saya berada satu becak dengan Senca dan Simbok, sementara Patrick bersama Ratri dan Indah, serta becak terakhir ditumpangi oleh Widi, Bekti, dan Een. Karena sebecak bertiga, sang orang ketiga terpaksa duduk dengan posisi yang tidak nyaman, kejepit diantara dua orang lain dengan bokong yang hanya menempel sedikit di bangku (semacam nungging, tapi tidak ekstrim). Kebetulan juga sayalah sang orang ketiga di becak pertama. Sedangkan di becak terakhir, karena tubuh Een yang tinggi, penutup becak terpaksa diturunkan agar kepalanya tidak terantuk.

Naik becak bertiga merupakan pengalaman yang lucu bagi saya, karena ditertawakan orang di jalan, terutama becak tempat Een berada. Karena tutupnya dibuka, orang-orang dapat melihat mereka dengan jelas. Bahkan ada dua orang mas-mas di pinggir jalan yang tertawa terang-terangan sambil menunjuk becak kami dan berkata "Ana turis". Sekali-kali mas, merasakan jadi turis, di Jogja kami belum pernah lho, malu :p.

Setelah menempuh perjalanan yang tidak dapat dikatakan nyaman sambil mengobrol dengan bapak becak yang suka memuji Pak Jokowi, sampailah kami di Kraton Solo. Langsung saja kami beli tiket masuk seharga Rp. 10.000/ orangnya. Begitu masuk kraton, saya, Bekti, Simbok, dan Indah langsung pipis. Setelah itu, saya dan Patrick memisahkan diri dari rombongan darmawisata karena ingin berfoto ria di halaman kraton. Tidak lupa kami masuk ke dalam museum kraton, kali ini bersama Indah juga dan tidak lupa berfoto di dalamnya. Sedangkan teman-teman yang lain tidak tahu sedang melakukan apa. Belakangan aku tahu bahwa Bekti, Widi, dan Simbok (kalau tidak salah) bertemu dengan bapak-bapak bule dan anaknya. Kemudian Widi digoda bapak bule dengan kata-kata "You're so funny" (eaaaakkk). Sementara itu saya masuk ke bangunan utama kraton berombongan dan (lagi-lagi) kami bernarsis ria. Ada juga foto kami di depan tempat masuk raja dengan prajurit kraton yang kemudian minta tip. Ini fotonya:


Setelah puas melihat Kraton Solo, kami berencana menuju tujuan berikutnya, Solo Square, dengan naik bus Trans Solo. Kali ini, kami berjalan kaki menuju jalan raya, melewati Pasar Klewer, Alun-alun, dan Masjid Agung. Sepanjang perjalanan itu, kami berpapasan dengan ormas Islam yang akan berdemo menolak RUU Ormas. Sebelum sampai jalan raya, Senca hendak mengambil uang di ATM Mandiri. Karena hari sangat panas, beberapa dari kami ikut masuk ATM untuk sekedar ngadem, tidak mempedulikan CCTV yang dengan setia mengawasi sang ATM. Singkat kata, sampailah kami di jalan raya, dan segera mencari halte bus. Untung saja kami segera mendapatkan bus yang mengantarkan kami ke Solo Square, sebuah mall besar di Kota Solo. Sampai di Solo Square, kami berjalan-jalan sebentar. Namun karena cacing-cacing di perut sudah berdemo riuh rendah tak terkendali, kami memutuskan untuk makan di sana sekalian. Ternyata mencari tempat makan tidak semudah yang kami kira. Sempat terjadi kebingungan dan perdebatan, sebelum akhirnya diputuskan untuk masuk ke sebuah gerai es teler. Seorang pramusaji menyatukan tiga meja dan memberikan daftar menu pada kami.

Alamak, ternyata harga makanan dan minuman di gerai ini muaahaalll pakai banget. Kami saling berbisik dan bingung mau pesan apa, karena sayang juga, uang sebanyak habis itu cuma untuk sekali makan. Akhirnya yang pesan hanya tiga orang. Senca, Widi, dan Simbok menyelamatkan muka kami dengan memesan es teler, sementara saya dan Bekti hanya dapat memandang menu dengan tatapan putus asa yang akut. Tidak mau menanggung malu lebih lama lagi, ditambah dengan tatapan tajam mas-mas pramusaji yang seperti menyilet-nyilet jiwa, kami yang tidak memesan memutuskan untuk meninggalkan tempat dan berjalan-jalan lagi. Karena tidak tahan lapar, saya dan Bekti membeli sepaket ayam goreng kremes + es teh, makanan termurah yang dapat kami temukan di food court lantai tiga. Patrick dan Indah mengikuti jejak kami, sementara Een dan Ratri berjalan-jalan ke Gramedia setelah sebelumnya membeli es teh.

Setelah makan, Een, Pat, dan Indah masuk ke Hypermart di lantai dasar untuk membeli minuman, sementara saya, Bekti, dan Ratri menunggu di luar swalayan itu sambil mengamati anak-anak bermain otopet. Ternyata ada yang membuka jasa penyewaan otopet di depan Hypermart. Padahal menurut saya agak bahaya juga, ada banyak orang yang lalu lalang, ditambah jika anak tersebut belum memiliki koordinasi yang bagus. Saya juga sempat melihat seorang anak main otopet sambil dikejar-kejar seorang laki-laki yang mungkin bapaknya. Kasihan bapak itu, pasti dia capek...

Urusan beli minum selesai, kami menuju halaman depan Solo Square untuk bertemu kembali dengan trio es teler. Kami hendak segera naik bus ke Stasiun Purwosari, karena ada Prameks berangkat jam 15.00, padahal saat itu sudah sekitar jam 14.00. Kali ini bus yang kami tumpangi penuh, dengan mas-mas tentara :p. Untung saja perjalanannya tidak lama. Sebentar kemudian kami sampai di Stasiun Purwosari dan langsung mengantri tiket. Begitu mendapat tiket, ternyata kereta yang kami tunggu baru saja datang sehingga kami langsung saja naik. Berbeda dengan pada saat berangkat, kereta yang kami tumpangi sekarang adalah Prameks non AC, dengan tempat duduk menghadap samping dan tempat berdiri yang luas. Dapat dibayangkan, seperti apa suasana di dalam kereta. Ramai dan sumpek sekali, banyak penumpang yang berdiri, bahkan duduk di lantai gerbong. Untung saja ketika kereta berhenti di Solo Balapan, kami berhasil memperoleh kursi, kecuali Senca, Ratri, dan Een yang terpaksa lesehan di lantai gerbong. Bagus juga di kereta tersebut tidak ada pedagang asongan cangcimin, seperti jaman dulu. Adanya hanya kereta dorong yang memang disediakan PT KAI. Coba kalau ada, pasti rasanya sumpek sekali. Mengenai jajanan kereta dorong, saya mendeteksi perbedaan cara berpakaian mbak-mbak pendorong kereta makanan antara Sriwedari dan Prameks. Mbak-mbak di kereta Sriwedari memakai rok dengan stoking hitam, sementara di Prameks, mbak-mbaknya memakai celana panjang. Mungkin ini berkaitan juga dengan cara duduk penumpang. Di Sriwedari, hampir semua penumpang memiliki tempat duduk, yang tidak akan memilih berdiri di dekat pintu gerbong. Sementara di Prameks, sebagian besar penumpang lesehan di lantai. Tentu saja bisa ditebak apa akibatnya jika mbak-mbak di Prameks memakai rok :3

Mari kita lupakan mbak-mbak itu, karena kereta yang kami tumpangi sudah berangkat menuju Yogyakarta tercinta. Kepadatan penumpang tak juga berkurang, padahal kereta ini melewati beberapa stasiun kecil. Untuk mengusir bosan, sepanjang perjalanan saya dan Bekti bernyanyi, mulai dari Mars SMA 7 sampai lagunya Bruno Mars. Dari lagu galau sampai lagu aneh. Semoga saja tidak ada penumpang yang mendengar senandung gila kami. Tanpa terasa, sampailah kami di Stasiun Lempuyangan. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 17.00. Setelah membereskan urusan utang piutang a.k.a meminjam uang teman, kami saling mengucapkan selamat tinggal dan berjanji untuk mbolang lagi. Kemudian kami menaiki motor masing-masing dan menatap matahari terbenam yang indah sambil berkendara menuju rumah :').

Terima kasih teman-teman SMA-ku tercinta: Patrick sang EO, Bekti sang Biduanita, Indah yang sedia teh pagi-pagi, Duo Teh T*ng Tj*: Een yang gila dan Ratri yang yahud, Trio es teler, Syscha yang mempesona, Simbok yang dahsyat, dan Widi yang lucu (you're so funny) :p.
Tujuan Mbolang Gila berikutnya: Malang.
Semoga tercapai ya teman-teman. *pray... ^^

Catatan Perjalanan: Mbolang ke Solo Part I

Akhir bulan Maret, tepatnya tanggal 31 Maret 2013 bertepatan dengan hari Minggu, terjadilah peristiwa bersejarah dalam hidup saya dan teman-teman seperjuangan semasa SMA. Ya, pada akhirnya terwujudlah perjalanan yang sudah kami impi-impikan sejak masih berseragam putih abu-abu yaitu ke SOLO! Bukan sembarang perjalanan, karena kami akan menuju kesana dengan menaiki kereta api yang legendaris, Prambanan Ekspres alias Prameks. Sebuah perjalanan yang mungkin tak akan terlupakan untuk selamanya.

Cerita ini berawal pada suatu pagi pukul 04.00, ketika alarm di HP saya berdering dengan penuh semangat. Mata ini rasanya masih ingin terpejam, namun saya harus segera bangun. Ultimatum dari sang EO acara, Patrick, sangatlah jelas. Kami harus sudah sampai rumah Indah pukul 05.00. Maka dengan mata dan hati yang berat, saya segera mandi. Untung saja ibu dan ayah sangat baik, beliau berdua menyiapkan sarapan dengan mi lauk sisa kemarin dan memanaskan motor saya. Singkat cerita, saya mengendari si Vega seksi, motor tercinta di tengah dinginnya udara pagi dan bersama bapak-bapak atau ibu-ibu yang mau pergi ke pasar.

Sebelum menuju rumah Indah yang terletak di daerah Tamsis, terlebih dahulu saya menjemput Syscha (karena namanya susah ditulis, berikutnya akan saya sebut Senca :p), baru kemudian berangkat ke tujuan yang sebenarnya. Sampai disana, ternyata baru Patrick yang tiba, disamping sang tuan rumah tentu saja, sementara anak-anak lain belum tampak batang hidungnya. Setelah kami, datanglah duo macan, Ratri dan Simbok, kemudian disusul Widi. Karena yang lain belum juga tampak dan khawatir kehabisan tiket, Pat dan Sen memutuskan untuk terlebih dahulu membeli tiket di Stasiun Lempuyangan, sedangkan yang lain tinggal untuk menunggu Bekti dan Een yang belum juga datang.
Setelah banyak usaha telepon dan sms, akhirnya dua makhluk itu tiba juga. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB. Kami segera menuju Stasiun Lempuyangan dan disambut dengan fakta yang kurang mengenakkan, kereta api ternyata sudah berangkat pukul 05.00 tadi (kira-kira, lupa jamnya). Akhirnya kami terpaksa menunggu kereta berikutnya datang. Karena Prameks baru akan datang pukul 09.30, kami memutuskan naik Sriwedari AC yang berangkat pukul 08.30, walaupun tarifnya lebih mahal.

Proses mendapatkan tiket ternyata tidak semulus paha anggota girlband. Setelah sempat terkatung-katung di depan ATM sambil makan Sari Roti, pukul 06.30 kami hendak mengantri tiket. Ternyata loket belum dibuka, padahal jelas-jelas di samping loket ada tulisan bahwa penumpang dapat membeli tiket 2 jam sebelum keberangkatan. Mas-mas loket juga telah mengatakan pada Pat dan Sen waktu mengantri pada kesempatan pertama tadi bahwa tiket akan dijual pukul 06.30. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Menurut seorang mas-mas loket, loket baru akan dibuka pukul 07.30. Kami yang kecewa dan merasa ter-PHP oleh mas-mas loket, melanjutkan aksi terlantar di depan ATM.

Namun perjuangan kami akhirnya membuahkan hasil. Setelah mengantri bertiga (Pat, Bek, dan aku) selama setengah jam sambil memperhatikan video Ashanti yang sedang mempromosikan kereta api dan mengobrol dengan ibuk-ibuk yang tidak puas, kami mendapatkan 10 tiket seharga Rp. 20.000/ tiket. Kelebihan satu, karena satunya milik ibuk-ibuk yang minta diantrikan. Setelah teman-teman sarapan di depan stasiun, akhirnya kami dapat masuk ke dalam peron dengan selamat, sejahtera, berjaya, dan tidak kurang suatu apa.

Masa menunggu kami habiskan dengan mengantri di toilet (antrian di toilet wanita panjang, padahal toilet pria kosong) dan foto-foto di peron. Ketika sedang asyik berfoto, seorang mas-mas (lagi) yang-entah-petugas-apa, lewat dan menanyakan kami naik kereta apa. Kami tentu saja menjawab Sriwedari. Mas-mas itu berkata bahwa sebaiknya kami naik sekarang saja, sambil menunjuk serangkaian kereta yang baru saja datang. Kami menurut saja saran mas-mas itu dan segera memasuki gerbong dingin ber-AC itu.

Pada awalnya, saya dan Bekti yang duduk di sebelah saya mengira bahwa kami salah kereta, karena kereta ini malah berjalan ke barat, padahal Solo ada di timur. Sriwedari berhenti cukup lama di Stasiun Tugu dan kecemasan kami bertambah ketika menanti kereta berangkat lagi. Tapi untunglah, prediksi itu tidak menjadi nyata, sang kereta kembali lagi ke Stasiun Lempuyangan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Solo. Kereta yang kami tumpangi sangat nyaman. Semua bangkunya terisi penuh, namun tidak berdesak-desakan. Udaranya dingin dan tidak berisik kecuali saat lewat jembatan, seperti bus wisata yang tidak terjebak macet, sehingga menurut Bekti kurang terasa naik keretanya.

Sejam perjalanan tertempuh sudah, sampailah kami di Stasiun Solo Balapan yang terkenal lewat lagunya Didi Kempot. Bersama dengan penumpang lain, kami turun berombongan kemudian langsung berfoto di bawah tulisan "Solo Balapan". Kami rombongan berjumlah sembilan orang sehingga cukup menarik perhatian orang lain. Karena tidak bisa dibilang mirip ceribele yang sedang berpiknik ria syalalala, saya jadi terpikir mungkin kami kelihatan seperti ibu-ibu darmawanita yang sedang darmawisata :p.
Lalu, petualangan seperti apakah yang akan menunggu kami di Kota Solo? Simak lanjutannya di Part II! :3