Aku yakin,
setiap orang pasti pernah mendengarkan dongeng. Tentang putri cantik, pangeran
tampan, kastil, naga-naga, peri, dan segala keajaiban negeri dongeng. Mereka
tidak benar-benar ada, mereka hanyalah fantasi dari pengarangnya. Namun, karena
itulah orang-orang menyukai dongeng. Fantasi tiada henti, yang mengajak para
penikmatnya melanglang buana dalam pikirannya, tanpa batas ruang maupun waktu.
Tetapi, kadang-kadang hal yang
nyata pun bisa menjadi dongeng. Bila dulu ia ada, namun kemudian menghilang
selamanya. Dan yang tertinggal hanyalah dongeng-dongeng usang tentangnya. Seperti yang telah terjadi di negeriku.
Namaku Reiha. Aku adalah seorang
gadis yang baru saja berusia 17 tahun. Aku tinggal di negara yang terletak di
sebuah pulau kecil. Negara Jalatra, itulah namanya. Meskipun negeriku kecil,
namun kata orang ini negara terkeren di dunia. Bagaimana tidak, negaraku adalah
negara kaya. Setiap jengkal tanahnya ditutupi gedung pencakar langit yang
megah. Mall, kafe, pabrik, dan perkantoran berjajar di sepanjang jalan raya
yang lurus dan lebar. Taman kota diletakkan di antara kepadatan gedung, atau di
depan komplek perumahan elit. Kolam renang berair jernih dibangun di depan
apartemen mewah. Padang golf yang terhampar luas menjadi tempat berakhir pekan
dan membangun relasi bisnis yang sempurna. Singkatnya, negeriku ini adalah
negeri untuk orang-orang kaya.
Aku termasuk beruntung, bisa
hidup enak di negara ini. Itu karena ayahku adalah bos pabrik makanan olahan.
Aku tinggal di sebuah perumahan elit di Kota Madra, tak jauh dari ibukota
Jalatra. Setiap hari, aku menikmati hidup mewah di kota yang tertata rapi ini.
Namun, ada sesuatu yang kucari. Sesuatu yang selama ini tak pernah kutemukan,
di pelosok negeri sekalipun. Aku mencari
sawah. Ya, sawah. Lahan tempat penanaman padi ini tidak ada di negaraku. Atau, dulunya ada namun sekarang hilang,
begitu menurut nenekku. Beliau pernah menceritakan tentang masa kecilnya yang
indah padaku. Konon, dulu di sekitar rumahnya banyak sawah. Meski orang tua
nenekku bukan petani, tetapi nenekku sangat senang bermain di sawah bersama
teman-temannya. Namun, ketika beliau beranjak remaja, sawah-sawah itu mulai
menghilang, digantikan gedung-gedung beton. Puncaknya sekarang, sepertinya
seluruh sawah sudah lenyap, hingga negeri kami terpaksa mengimpor bahan makanan
dari sebuah negara kepulauan bernama Nusantara. Kata Ayah, di Nusantara masih
banyak sawah. Kami mengimpor bahan makanan mentah dari sana, kemudian
mengolahnya dan menjualnya lagi kesana, tentu saja dengan harga lebih mahal.
Agak licik kan?
Mungkin orang-orang menganggapku
aneh. Bagaimana tidak, aku ingin melihat sesuatu yang tidak ada. Tetapi aku
benar-benar penasaran dengan sawah. Kata nenek, sawah itu sangat indah. Seperti
hamparan karpet hijau bila masih muda, sewarna padang golf, dan bila bulir-bulir
padi sudah masak akan berubah menjadi permadani kuning emas. Aku ingin
melihatnya meskipun sekali saja. Sebenarnya aku bisa saja langsung terbang ke
Nusantara dan melihat sawah, namun ayahku melarang gara-gara ada teroris yang
meledakkan bom di sebuah hotel internasional. Hah, aneh-aneh saja.
Suatu siang yang cerah di akhir
pekan, aku sedang duduk di bangku taman kota dekat rumah. Sebuah notebook merah kuletakkan di pangkuan.
Saat ini, aku sedang berinternet ria dengan gratis karena taman ini dilengkapi hot spot. Canggih kan? Seperti biasa,
setiap berinternet aku mencari informasi tentang sawah. Kupandangi gambar
hamparan sawah hijau zamrud di layar notebook-ku
dengan sendu. Entah kapan aku bisa melihatnya sendiri. Kakakku pernah
memergokiku sedang memandang gambar sawah dengan tatapan memuja. Setelah itu
bisa ditebak, dia mentertawakanku dan mengejekku sinting. Sejak saat itu, aku
tidak mau ngenet di rumah lagi.
Aku mengerucutkan bibir. Memori
yang benar-benar menyebalkan. Kumatikan notebook-ku
dan kututup keras-keras. Aku melihat jam dan memutuskan untuk pulang sekarang.
Semoga kakakku yang super menyebalkan itu sedang tidak ada di rumah. Aku
bangkit berdiri, melemaskan tubuh sejenak, sambil memandang ke sekitarku.
Tampak sepasang kekasih sedang asyik bermesraan di balik sebatang pohon. Dua
ekor kucing menyelinap keluar dari serumpun bunga lili merah yang sedang
berkembang, mungkin habis pacaran juga. Ketika sedang memandang kucing kedua
yang berhenti sejenak untuk menjilati badannya, aku melihat sesuatu yang lain. Di
antara rumpun lili merah itu, tampak sebuah benda persegi yang sepertinya dari
kulit. Warnanya hitam. Perlu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa benda
itu adalah dompet.
Aku menuju ke tempat dompet itu
berada dan memungutnya. Sepertinya dompet ini sudah agak lama berada di situ
karena sudah lembab dan kotor. Aku heran, mengapa tidak ada yang mengambilnya?
Kubuka dompet itu, dan seketika kutemukan jawabannya. Memang di dalamnya ada
surat-surat penting, id card, SIM,
STNK, dan kuitansi-kuitansi. Namun, tidak ada selembar pun uang. Aku mendengus
pelan. Pantas saja tidak ada yang memungutnya. Aku hampir saja membuangnya,
ketika sebuah pikiran melintas di benakku. Bagaimana kalau pemilik dompet ini
memerlukan surat-surat yang ada di dalamnya? Dan aku mau membuangnya begitu
saja? Perasaan bersalah seketika menyergapku. Kubuka dompet hitam itu dan
kuambil id card di dalamnya. Ternyata
pemilik dompet ini adalah seorang perempuan berusia 52 tahun bernama Anita. Dia
tinggal di Perumahan Bougenvile no 77. Aku tersenyum. Tempat itu tidak begitu
jauh dari sini. Kira-kira 15 menit naik motor pasti sampai.
Kukurangi kecepatan motorku ketika
memasuki sebuah gerbang bercat hijau
bertuliskan “Perumahan Bougenvile”. Kuamati setiap rumah, mencari rumah
no 77. Perumahan ini lebih sederhana daripada perumahan tempatku tinggal.
Meskipun demikian, lingkungannya juga sama bersihnya. Aku mengedarkan pandang
lagi ke sekitarku. Seharusnya sudah hampir sampai, karena rumah yang baru saja
kulewati menunjukkan angka 70. Aku mencari dengan lebih teliti, berharap cepat
menemukannya. Dan, bingo! Itu dia, rumah nomor 77! Dengan hati gembira, kuarahkan
motorku kesana, memasuki halamannya yang lumayan luas.
Rumah itu dipagari dengan pagar
tanaman tetehan yang rimbun. Halamannya cukup luas, dan ditanami berbagai macam
pohon, dari pohon mangga sampai tanaman hias. Rumahnya sendiri terdiri dari dua
lantai dan dicat hijau muda. Pot-pot tanaman hias diatata dengan rapi di teras berlantai
keramik hijau tua. Pagar kayu tinggi menempel di kedua sisi dinding samping
rumah, memanjang sampai batas halaman. Entah apa fungsi pagar itu. Mungkin
pemilik rumah ini mempunyai kolam renang di belakang rumah.
Aku memarkir motor, kemudian
melangkah menuju teras yang sejuk. Kupencet bel di samping pintu rumah dan
menunggu. Terdengar suara langkah-langkah menuju pintu, kemudian daun pintu
berwarna cokelat tua itu terbuka. Seorang wanita setengah baya muncul dan
ketika melihatku wajahnya menyiratkan kebingungan.
“Maaf, anda mencari siapa?” tanya wanita itu sopan.
“Um, saya mencari Ibu Anita,”
aku menjawab, sedikit gugup.
“Oh, saya sendiri. Ada apa ya?”
“Eh, begini, saya tadi menemukan sebuah dompet. Apa ini milik ibu?”
kuulurkan dompet kulit hitam itu.
Bu Anita menerima dompet yang kuulurkan dan
membukanya. Setelah memeriksanya beberapa saat, ia tersenyum dan mendesah
gembira. Kemudian dia berseru memanggil seseorang, “Mardin, sayang, cepat
kemari!”
Terdengar suara langkah lagi, kemudian
muncul seorang laki-laki yang usianya hampir sama, mungkin sedikit lebih tua.
Sudah pasti ini suami Bu Anita. Laki-laki itu memandang wajah Bu Anita yang
girang dengan ekspresi bertanya. Bu Anita tersenyum lebar, melambaikan
dompetnya lalu menunjukku. Seketika, wajah lelaki itu memancarkan keceriaan
yang sama. Ia berjalan ke arahku dan menggenggam tanganku, matanya
bersinar-sinar.
“Apakah kau
yang menemukannya? Dimana?” ia bertanya, nadanya riang.
“Ya, saya
menemukannya di taman dekat rumah saya, Pak…em..” aku nyengir gugup padanya.
“Mardin,
namaku Mardin,” ia tersenyum dan berpaling kepada istrinya, “Kurasa kita tidak
perlu lagi membuat STNK baru sore ini”
“Ya, kau
benar. Kukira setelah dicopet kemarin, dompet ini akan hilang selamanya. Kita
benar-benar harus berterima kasih pada gadis ini,” Bu Anita tersenyum lembut
padaku, “Dan kurasa kau belum memberitahu kami siapa namamu, cantik?”
Aku sedikit
tersipu, “Reiha.”
“Oh, nama
yang bagus. Nah Reiha, bagaimana kalau sedikit ucapan terima kasih? Kau mau
makan siang bersama kami? Kebetulan hari ini aku membuat puding,” sungguh
menggiurkan tawaran Bu Anita ini. Kebetulan aku juga belum makan siang. Tapi…
“Ayolah nak,
hanya dengan ini kami bisa berterima kasih padamu,” melihat ekspresi ragu-ragu
di wajahku, Pak Mardin ikut mendesak. Kurasa aku tidak bisa menolak…
Makan siang telah selesai.
Masakan Bu Anita memang benar-benar enak. Perutku rasanya penuh sekali.
Sekarang, kami duduk mengelilingi meja makan dan Pak Mardin menceritakan
tentang anak-anaknya yang merantau ke Nusantara. Tiba-tiba perutku melilit,
alarm untuk melakukan panggilan alam. Sambil meringis, aku bertanya letak
toilet. Bu Anita menunjuk sebuah pintu di belakangku. Aku langsung berlari,
sambil menahan malu.
Selesai mengeluarkan isi perut,
aku berjalan melewati sebuah lorong pendek, kali ini dengan berjalan kaki. Di
lorong itu terdapat sebuah jendela kaca. Ketika meliriknya, secercah warna
hijau tertangkap oleh mataku. Aku berhenti, dan menempelkan wajahku ke kaca
untuk melihatnya lebih jelas. Seketika mulutku menganga dalam jeritan tanpa
suara, membeku. Begtu tersadar dari kebekuan, aku berlari menuju pintu kayu di
sebelah kanan jendela dan menyentaknya hingga terbuka.
Hamparan padi nan hijau
menyambutku begitu membuka pintu. Angin yang bertiup membuat daunnya meliuk
seperti tangan penari. Sinar matahari siang membuat warna hijaunya makin
cemerlang, bagai zamrud yang berkilau. Meskipun tidak luas, tapi tetap memukau,
bahkan lebih indah daripada yang selama ini kubayangkan. Inilah yang kucari
selama ini. Inilah, sawah.
Sejak hari itu, aku sering
berkunjung ke rumah pasangan yang baik hati itu untuk sekedar melihat sawah.
Kuamati perkembangannya, sampai saat bulir-bulir padinya berwarna keemasan. Aku
merasa sangat bahagia dan damai bila berada disana. Seolah-olah, kelelahanku
tersapu oleh angin yang selalu bertiup di sekitar sepetak sawah itu.
Hari ini aku tidak sabar
menunggu waktu pulang sekolah. Sudah dua minggu lamanya aku tidak mengunjungi
Pak Mardin dan Bu Anita, karena sedang ada ujian. Terakhir aku kesana, yaitu
saat membantu mereka memanen padi. Aku berharap bisa ikut bertanam padi bersama
mereka.
Ketika motorku mendekati rumah
no 77, kerinduanku seolah tak bisa dibendung lagi. Aku ingin segera melihat
sepetak sawah itu. Oase pribadiku di tengah gedung-gedung beton kota ini.
Sampai di depan rumah no 77, aku menoleh dengan gembira. Tetapi yang kulihat
sungguh di luar perkiraan. Rumah itu sudah rata dengan tanah, begitu juga
dengan sawahnya. Yang terlihat hanya tanah yang telah dibangun pondasi. Aku terkejut,
lemas. Kenapa semua ini harus terjadi?
“Maaf, kami
menjualnya seminggu yang lalu. Kami akan berangkat ke Nusantara hari ini.
Selama ini kami menunggumu datang, untuk menjelaskan,” terdengar suara lemah Bu
Anita di sampingku.
Aku terpaku,
tak sanggup berbicara, apalagi bergerak. Ketika akhirnya aku bisa berbicara,
yang bisa kukatakan hanya, “Mengapa?”
“Kami
terpaksa. Hasil dari sawah sempit kami tidak memadai. Sudah tidak ada irigasi,
dan tanah di sini sudah tercemar bahan kimia,” Pak Mardin menghela napas berat,
“Kami akan pindah ke Nusantara, dan bertani di sana, bersama anak-anak kami.
Kami mohon kau mau memaafkan kami, Reiha.”
Aku tidak sanggup mengatakan apa-apa. Aku turun dari motor dan memeluk pasangan setengah baya itu, menangis sesenggukan. Mereka juga meneteskan air mata dan mengelus punggungku. Hilang sudah, sawah terakhir di negeri ini. Aku hanya berharap sawah-sawah di Nusantara tidak mengalami nasib yang sama dengan sawahku yang hilang. Agar mereka tidak kekurangan makan, agar anak cucu mereka bisa tetap melihat keindahannya. Agar hamparan sawah itu tetap ada, dan tidak menjadi sekedar dongeng tentang keindahan purba di setiap helai daun padinya.
*Cerpen jaman SMA,, buat tugas Bahasa Indonesia,,bener-bener g jelas ceritanya,,hahaha :p