Pages

Jumat, 22 Juni 2012

Caterpillar Loves Flowers, Part 1

When I, caterpillar, saw flowers, any flower, my amazement was never ceased. I don't wanna eat them. I wanna capture them with my pocket camera :D.

Kaliurang's morning flower
Diambil saat nginep di Kaliurang. Pada pagi buta sebelum mentari terbit sampai setelah mentari terbit. Menggunakan pocket camera NIKON L20 (sayang kameranya udah rusak :'( ). Nggak pake teknik yang aneh-aneh, cuma pake flash dan mode macro.. haha.


yellow hibiscus with morning dew :)

red hibiscus glow in the dark :p

black & purple combination

red lily

dew n roses

so beautiful

beneath the rising sun

 Flowers in my house. Picture taken with my new pocket camera, NIKON L21 :3.

kamboja merah setelah hujan

bunga apa namanya ya?

at the closer looks

water drops

anggrek bulan warna ungu


pigeon's orchid (anggrek merpati :p)

kamboja jepang

menunggu mekar

kemuning

bunga di balik daun


Kamis, 21 Juni 2012

Rumah Hantu

Untuk kalian yang (merasa) bernasib sama :*

Menjadi pengurus organisasi, apalagi jika organisasi itu sedang berada dalam masa krisis memang tidak mudah. Butuh keberanian dan kemauan ekstra. Kita harus rela berkorban, waktu, tenaga, pikiran, bahkan tak jarang dengan dana. Kita dituntut berkomitmen dan bekerja keras, mengabdi dengan diiringi cinta yang tulus. Namun adakalanya, ada rasa jenuh, bosan, dan lelah yang menghampiri, apalagi di tengah-tengah masa kepengurusan. Ingin rasanya pergi jauh-jauh dan melempar semua beban ke laut yang dalam biar tak muncul lagi. Marah rasanya melihat orang-orang yang datang pergi seenaknya, mengabaikan tugas dan panggilan, tak mempedulikan semua usaha keras kita. Wajar jika merasa frustasi apabila kewajiban menumpuk dan tak berjalan sesuai harapan. Namun, life must go on kan. Kita tak bisa terus-menerus merutuki nasib. Tak bisa terus terpuruk dalam kebosanan dan kejenuhan. Ada tugas yang menanti di depan, ada yang harus dikerjakan. Bukan hanya untuk kita, namun juga untuk teman-teman di dalam organisasi. Keluarga kita. Di bawah ini ada sebuah tulisan yang semoga dapat menjadi sejumput inspirasi untuk menumbuhkan semangat baru. Meskipun aneh dan tidak begitu penting :p. 

***

Pulang rapat hari ini, di tengah siraman lampu merkuri jalan raya, di bawah bulan sabit yang membuat langit seakan memiliki seulas senyum, saya menemukan sebuah perbandingan yang aneh, namun menarik. Saya membandingkan rasanya mengurus organisasi dengan masuk rumah hantu. Mengapa rumah hantu? Karena beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman mengunjungi Haunted House Festival di daerah Babarsari. Rumah hantu yang didirikan di sana sukses membuat kami menjerit-jerit nggak jelas. Dan sukses memberikan inspirasi untuk menulis ini.
Sebelum masuk rumah hantu, kami tentu saja membeli tiket, dalam kasus ini sebuah tiket berharga Rp. 15.000,00. Sedangkan untuk menjadi pengurus, saya dan teman-teman lain juga memiliki "tiket". Tetapi kami tidak membeli, kami diberi oleh teman-teman anggota yang lain sebuah tiket bernama kepercayaan. Dengan bermodalkan itu, kami diperbolehkan mencicipi "rumah hantu" kepengurusan organisasi. Mengapa saya menggunakan istilah rumah hantu? Bagi sebagian orang, rumah hantu merupakan sesuatu yang sangat menakutkan sehingga mereka tak berani masuk. Rumah hantu penuh risiko, kita tak tahu seperti apa bentuk ruangan di dalamnya dan wujud setan yang bergentayangan. Hanya orang-orang yang berani dan mau, yang masuk ke dalamnya. Demikian juga dengan organisasi, adalah "rumah hantu" dalam kehidupan nyata. Kita tak tahu seperti apa lika-likunya dan "setan" apa yang akan menyantroni ketenangan hidup sebelum masuk kedalamnya. Dan hanya orang yang mampu dan mau, yang akan memasuki dunia kepengurusan organisasi. Meskipun ia mampu tetapi ketika ia tidak mau, ia tidak akan masuk ke "rumah hantu", begitu juga sebaliknya.
Oke, tiket sudah di tangan, sekarang kita akan mulai menjelajah si rumah hantu ini. Wow, begitu banyak setan di dalamnya, mengelilingi saya dan empat orang teman lain. Kami berteriak-teriak ketakutan, berbaris berbanjar, dan saling memeluk erat pundak kawan di depannya. Para hantu muncul dari sudut manapun, dari balik kegelapan, mengagetkan kami dengan wajah dan suaranya yang seram. Menjadi pengurus juga tak berbeda. Para "hantu" masalah selalu muncul, mengelilingi kami, tak pergi-pergi. Kadang-kadang mereka muncul dari balik kegelapan, tiba-tiba, dan dari sudut yang sama sekali tak terduga. Ketika satu hilang, maka yang lain akan muncul, tiada akhir. Kami berusaha sekeras mungkin memecahkannya, dengan segala macam coping yang terpikir, seperti ketika di dalam rumah hantu, kami berteriak. Ada juga masalah yang membuat jatuh dan sangat down, apalagi ketika terjadi pada pemimpin, mirip dengan saat salah satu teman terjatuh dengan posisi jongkok di depan dua orang setan *eh. Begitu sulitnya untuk bangun, karena ia ada di paling depan, membuat teman-teman di belakang ikutan jongkok sehingga makin mempersulit usahanya untuk bangkit. Namun pada saat itu, saya tidak sendiri. Kalian tidak sendiri. Ada yang tangan memegang dari belakang, memeluk bahu, saling menguatkan *kecuali yang paling belakang, bisa dipeluk setan, hehe, g deng :p. Ada yang dipeluk, ada yang dijadikan sandaran di depan. Kami tidak sendirian, kami bersama-sama melalui "hantu-hantu", saling berbagi teriakan frustasi dan kehangatan tangan.
Ketika keluar dari rumah hantu dan melihat rumpun-rumpun bambu, rasanya lega sekali. Namun mas-mas pemandu mengatakan "Mbak, masih ada satu lagi rumah hantunya". Kami semua terkejut dan pasrah, ternyata masih ada lagi -____-. Seperti tanggung jawab dan tugas yang datang silih berganti. Sebuah acara selesai dilaksanakan, kami mengeluarkan nafas lega namun terpaksa menariknya lagi, karena acara lain akan segera menjelang, begitu terus selama setahun kepengurusan. Maka kami masuk ke rumah hantu yang lain lagi. Bedanya, di kepengurusan rumah hantunya tidak hanya dua, tetapi ada banyak ._.
Ada hal unik yang saya alami ketika berada di dalam rumah hantu. Ketika setan-setan yang menggoda sudah mulai terasa annoying dan tak tertahankan, maka suara saya yang semula adalah teriakan ketakutan, berubah menjadi tertawa. Kira-kira bunyinya seperti ini, "Aaaaaaaahhhhhhhhhha..ha...hahahaHAHAHAHAHA". Mungkin saking frustasinya, kenapa ini setan nggak mau pergi-pergi dan membiarkan saya menjalani rumah hantu yang normal *lah... saya jadi tertawa, mentertawakan hantu-hantunya, rumah hantunya, dan terutama mentertawakan ketakutan saya. Wong mereka juga manusia yang hanya menyaru, pura-pura jadi hantu, mengapa saya harus takut? Namun setelah tawa saya reda, saya kembali merasa takut.. dan begitu seterusnya. Di kehidupan nyata, saya rasa juga sama. Saya begitu jengkel dengan masalah yang datang terus-menerus, hingga di suatu titik puncaknya, saya akan meledak, entah menangis, atau malah tertawa. Tetapi ketika merasa seperti itu, sebenarnya saya ingin membaginya dengan orang-orang yang memiliki beban yang sama. Kami dapat sama-sama berteriak seperti di rumah hantu, kemudian tertawa menyadari semua kekonyolan, meskipun saya tahu, akhirnya ketakutan yang baru akan tumbuh kembali.
Dan..akhirnyaaa..rumah hantu kedua terlewati sudah. Kami keluar, bersimbah peluh, masih gemetar, namun dengan ekspresi lega dan senyum yang lebar. Kemudian kami saling bercerita dengan bersemangat, me-rewind apa yang terjadi di dalam, tentang betapa gelap dan seramnya, seperti apa hantu-hantunya, suasananya, apa yang dilakukan, kejadian lucu, kekonyolan teman, dan saling mentertawakan. Lalu kami berfoto di bawah spanduk yang dipasang penyelenggara, dengan bangga. Sepanjang perjalanan pulang dan saat makan, kami tak henti-henti mengulang cerita momen-momen "indah" kami di dalam rumah hantu, mengingat setiap detail terkecil. Itulah yang akan terjadi ketika akhirnya masa kepengurusan berakhir. Kami akan melihat ke belakang, ke kejadian-kejadian yang dulunya terasa berat dan menyakitkan, namun kini dikenang sebagai sesuatu yang indah. Kekonyolan, banyolan, rapat tiap sore, melembur tugas organisasi, dikejar deadline, semuanya akan menjadi semacam romantika yang sulit untuk terulang, menimbulkan sebuah kerinduan. Dan pada akhirnya kami akan menjadi seseorang yang memperoleh pengalaman lebih, karena telah berhasil melewati "rumah hantu". Sesuatu yang patut dibanggakan. Tidak setiap orang memperoleh kesempatan itu dan lebih sedikit lagi yang berhasil menyelesaikan, bertahan hingga akhir. Dan terkadang, setelah keluar dari "rumah hantu", akan ada keinginan untuk menjajal "rumah hantu" lain. Karena sesuatu yang mendebarkan itu membuat ketagihan :3.

***

Demikian untuk post kali ini. Tiada gading yang tak retak, maafkan jika ada kesalahan kata yang menyinggung perasaan. Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita semua, meskipun jelas bukan jalan yang mudah. Dan semoga kita diberi kekuatan dan semangat yang senantiasa lebih untuk mengarunginya, sampai pada garis finish, akhir tahun ini, hehehehe :D.

You're not alone, never alone actually :).

Trivia: Simple Things in My Life, Part 2

Sebenarnya, yang part 1 itu cuma copas dari notes FB Triviaaa 1 yang nulisnya udah lama buanget, dan males update lagi,, hehe :malu. Jadi, karena saya merasa sudah memperoleh pengalaman baru yang nggak kalah menarik, mari kita langsung cuuusss ;)

1. Chicken Lover
Ini bukan nama chicken nugget baru inovasi dari Fiesta *chicken nugget lhoo :p. Ini sebutan saya pada mas-mas penjual koran di perempatan Pingit yang suka banget pada ayam. Karena perempatan ini adalah jalur sutra menuju kota, banyak pedagang ayam yang lewat sana setiap pagi. Dengan kerombong penuh ayam, atau ayam-ayam yang digantung begitu saja di jok motor, sang penjual ayam mencari rejeki untuk menghidupi keluarganya *tsaahh. Setiap ada motor penuh ayam yang berhenti karena lampu merah, mas-mas ini dengan pedenya berjalan mendekati motor itu dan membelai kepala serta badan ayam tersebut. Ketika si ayam berkotek-kotek, mas-mas itu terlihat senang dan tertawa riang, tanpa mempedulikan tatapan sang pemilik ayam, maupun tatapan saya *karena mata saya ketutupan helm, jadi dia nggak tahu kalau ditatap :p. Rupanya setelah diobservasi dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mas ini tidak hanya menyukai ayam, melainkan juga unggas bernasib malang lain yang terikat di jok motor seperti entok. Ah para unggas, semoga kalian menemukan penghiburan dari tawa mas-mas penjual koran sebelum disembelih. Setidaknya sebelum dan setelah mati, kalian telah membuat orang bahagia :').

2. Jaketmu Mengalihkan Duniaku
Masih belum beranjak dari jalan raya, jika melintasi Jalan Godean pada pagi hari, saya sering melihat seorang bapak, yang saya titeni dari jaketnya. Bukan karena jaketnya yang mahal, dari kulit buaya, atau karena saya ingin nyolong jaketnya. Bapak itu memakai jaket berwarna hitam dengan tulisan warna merah yaitu "CHRAPOE". Apakah artinya? Saya jadi bertanya-tanya, apalagi kadang-kadang beliau terlihat menyandang pisau bersarung hitam *bukan pisau dapur, di pinggang kanannya. Mungkin bapak ini anggota kesatuan tentara? Saya malah jadi berpikir tulisan itu adalah kata "KERAPU" (ikan) yang dialaykan agar terlihat gahol ._. Masih ada jaket yang tak kalah memikat, yaitu sebuah jaket yang dikenakan seorang bapak tukang bangunan. Bapak gagah bersepatu bot ini selalu dibonceng oleh temannya dengan menaiki BMW (Bebek Merah Warnanya), melintasi perempatan Pingit yang sakral (karena polisi situ galak dan hobi nilang). Jaket beliau yang aduhai itu berwarna biru kusam dengan gambar..ummm..kelinci yang sepertinya sedang sakaw, bertulisan "MISCHIEVOUS BLUE RABBIT". Oh, wow :o. And they walks on the same street but into their own paths..

3. Night Time Show (hanya boleh dibaca oleh yang sudah 17++ :p)
Bosen sama iklan-iklan atau acara TV yang "biasa" aja? Cobalah sekali-sekali begadang, nonton film atau  pertandingan sepakbola. Kemudian pada saat break, half time, atau pertandingannya mbosenin, cobalah saksikan iklan yang ditayangkan, gonta-ganti channel juga disarankan. Kalau waktunya tepat dan sedang beruntung, maka Anda akan melihat iklan atau acara yang uhh.... dan tidak akan dibolehkan tayang pada saat prime time. Waktu terbaik untuk melakukan aksi ini adalah setelah tengah malam, alias dini hari. Setiap menonton bola, saya selalu melakukan aksi ganti channel, dan mendapati acara-acara yang "unik", diantaranya ditayangkan oleh A*TV dan T*R*NS TV. Presenter dari acara yang ditayangkan pada stasiun TV yang pertama disebutkan adalah Nikita Mirzani dan yang kedua adalah Chantal Della Conceta disertai dengan narasumber ahli Zoya Amirin *from their name, you can guess what the hell is that show looks like, right? If you don't know 'em, just googled and take the risk yourself :p. Selain acara, iklan yang ditayangkan pada saat half time pertandingan sepakbola juga lumayan "menantang". Tentu saja banyak iklan rokok yang ditayangkan, tapi sekali-kali ada juga iklan S**** yang bintang iklannya adalah Jupe & Gaston Castano *sweatdrops. Ada versi lain dari iklan produk ini yaitu yang satu cowok dan tiga cewek sedang main billiard *ahaaa, can guess what's that mean :p. Atau iklan yang sedang hot-hotnya pada saat Piala Eropa sekarang, karena selalu ditayangkan pada saat half time yaitu iklan pompa air S*****U. Pembukaan iklannya saja sudah membuat salah paham, apalagi adegan di akhir iklan, pasti disukai oleh cowok-cowok yang sedang bergadang :D. Jadi kalau Anda mengajak anak yang masih dibawah umur nonton Piala Eropa di TV, pada saat half time suruh mereka ke Indomaret beli cemilan atau suruh bikin kopi di dapur. Dan jangan biarkan mereka yang pegang remote, apalagi gonta-ganti channel. Memang sedikit kejam, tapi ini kan demi kebaikan mereka juga :3.

4. Iklan Unik
Masih bahas iklan, kali ini kejadiannya pagi-pagi pukul 6, pada saat saya sedang menonton berita olahraga bersama adik ganteng. Seperti biasa, di sela-sela acara itu pasti ada iklannya. Selain iklan "La Strada del Super Soccer" yang ada Paolo Maldini-nya dan cukup sering ditayangkan, pagi itu kami mendapat "kehormatan" menonton iklan yang unik, bahkan aneh. Iklan ini menayangkan beberapa orang lelaki yang sedang kepanasan di tengah gurun pasir, mobilnya macet pula. Saking panasnya, ada cowok yang pakai sarung. Kemudian ada beberapa cewek yang lewat dengan mobilnya, memandang ke pria-pria tadi. Tentu saja pria-pria tadi blingsatan, apalagi yang bersarung. Namun, ada salah satu pria yang tetap tenang. Dengan gaya cool-nya, ia mengangkat kap mobil, dan saat itulah barang yang diiklankan muncul. Apakah itu? Mesin mobil? Oli yang tahan panas? Atau di kap itu ada minuman penyegar sejenis S*rite? Salah semua. Ternyata oh ternyata, itu adalah iklan..... SEMPAK. Seriusan. Sempak yang mengintip dari balik celana jeans saat sang pria mengangkat kap mobil. Merknya kalau tidak salah adalah R*der. Dan mengklaim sebagai sempak yang adem. Menyaksikan iklan tersebut, saya dan adik ganteng hanya bisa memandang TV dengan muka ndolop *bahasanya adik ganteng :D. Wow, kita benar-benar mengalami kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi, bahkan jaman sekarangpun sempak perlu diiklankan di TV :p.

5. A Little Piece of Heaven
Pada suatu hari. 
Bangun pagi terdengar lagu A Little Piece of Heaven-nya Avenged Sevenfold dari speakernya adik ganteng. Saya ikut menyanyi kecil.
Pulang kuliah, terdengar lagu A Little Piece of Heaven dari kamar adik ganteng. Saya (masih) menyanyi kecil.
Bangun tidur siang *sore deng :p terdengar lagu A Little Piece of Heaven (lagi). Saya mengerutkan kening.
Malam hari, saya sedang ngenet. Terdengar sebuah lagu yang lagi-lagi adalah A Little Piece of Heaven. Saya pengen teriak.
Dan pada saat saya sedang menulis INI, menit ini detik ini, adik ganteng sedang menyetel lagu A Little Piece of Heaven di kamar sebelah. Saya tertawa.
A Little Piece of Hell :D
Lagu (cinta) ini Membunuhku *spesial buat adik ganteng :*

Demikian tulisan saya kali ini, kalau nggak males akan saya lanjutkan...lain kali,,hehe. Matur Nuwuun ^^

Selasa, 19 Juni 2012

Trivia: Simple Things in My Life, Part 1

Hanya iseng-iseng nulis hal-hal kecil di hidupku, yang biasa, yang aneh, bahkan bodoh..hehe

1. Di Atas Kulkas

Keluargaku punya sebuah kulkas berwarna biru yang tiidak besar, tidak lega, tidak canggih, apalagi baru, karena sudah ada sejak aku balita. Kulkas ini tingginya cuma sekitar satu meter, dengan satu pintu dan isinya tidak seperti di iklan-iklan, dengan banyak buah-buahan,sayuran,maupun kue tart. Singkatnya, tidak ada yang istimewa dengan kulkas ini. Namun, kulkas inilah yang menjadi saksi bisu pertumbuhanku. Dulu waktu kulkasnya masih berwarna biru kinclong, aku tidak pernah bisa melihat bagian atas kulkas. Bagian itu menjadi misteri besar bagiku, dan aku ingin cepat besar agar bisa melihat ada apa di atas kulkas. Kini, setelah kulkasnya berubah warna menjadi biru karatan dan aku sudah mencapai usia hampir 19 tahun, dengan tinggi jauh melebihi bagian atas kulkas, baru aku tersadar, betapa kecil tubuhku dulu, betapa banyak tahun-tahun telah berlalu sejak saat itu, dan betapa manusia hanya bisa mengenang masa lalu, tanpa bisa kembali ke sana, karena waktu hanya akan bergerak maju tanpa berhenti, apalagi mundur.

2. Menunggu Start

Siang itu cuaca cukup panas. Aku mengendarai motor menyusuri jalan aspal di Kota Yogyakarta tanpa terburu-buru, hendak menuju ke suatu tempat. Di Jalan HOS Cokroaminoto daerah Tegalrejo, ada sebuah palang pintu kereta api. Ketika motor hitamku mendekati palang itu, sirene berbunyi dan palang turun perlahan-lahan, tanda kereta akan lewat. Sebagai pengendara yang baik (halah), aku memelankan laju motor, bersiap-siap berhenti. Namun beberapa pengendara di depanku terus maju pantang mundur berpacu dengan palang kereta yang mulai turun. Ketika palang sudah tertutup, kendaraan mulai berhenti, namun kereta yang ditunggu tak juga lewat. Sebuah motor yang menerobos divider sehingga ada di jalur lawan, celingak-celinguk, lalu, wuusshh, motor itu meliuk melewati palang ke jalan di depannya. Wow, sungguh aksi yang mendebarkan. Untung keretanya belum lewat sehingga aku tidak perlu melihat korban meninggal dengan mataku. Beberapa saat berlalu, akhirnya sang kereta yang ditunggu lewat dengan gagahnya. Berapa gerbong ya? hmm, pengendara motor dan mobil di sebelahku mulai tidak sabar. Motor-motor yang baru datang dari arah belakangpun melanggar divider agar bisa maju sampai ke dekat palang. Begitu palang pintu kereta dibuka, bahkan saat naiknya belum tuntas, kendaraan langsung lewat dengan kecepatan cukup tinggi seperti pembalap-pembalap yang akan mengelilingi sirkuit untuk berebut naik podium. Betapa jalanan menjadikan manusia tidak sabar...

3. Bapak Rumah Tangga

Siang lagi, aku naik motor melewati jalan kampungku setelah menjemput ibu tercinta di perempatan dekat jalan raya. Dalam perjalanan pulang, kulihat seorang remaja laki-laki membeli sayur di sebuah warung sayur sederhana yang terletak di pinggir jalan. Aku kenal remaja itu, dan baru beberapa hari lalu ibu membicarakan dia. Kata beliau, si remaja baru saja menikah karena menghamili pacaranya (ehemm). Padahal usianya lebih muda dari adikku, mungkin baru sekitar 15-16 tahunan dan jauh lebih nakal dari adikku. Namun sekarang, aku melihatnya membeli sayur, mungkin buat istrinya. Pernikahan telah mengubahnya menjadi bapak rumah tangga yang (semoga) lebih bertanggung jawab. Selamat menempuh hidup baru \(^o^)/ *kalau bahas pernikahan dini jadi ingat soal UAS PPR Pak Singgih (-,-)

4. Papan Nama Toko

Alkisah pada saat aku masih SMP, setiap berangkat sekolah diantar bapak, dan mulai mendekati "zona bahaya" sekolah :p, aku selalu melihat papan-papan nama toko di sebelah kanan dan kiri jalan. Kenapa? Alasannya sangat irasional, aku percaya kalau bisa melihat semua papan itu, maka nasibku hari ini akan baik dan hariku akan menyenangkan. Aneh bukan? Mungkin itu merupakan sebuah pengalihan kegelisahan, karena terus terang saja, waktu itu aku tidak suka ke sekolah. Kenapa tidak suka? Karena..hmm.. sebuah alasan yang lebih suka kusimpan sendiri saja. Hampir setiap hari aku melakukan hal ini, sampai hafal nama-nama toko di bagian barat sekolah, hehe.

5. Bus di Kelokan Jalan

Pada saat SMP dan waktu berangkat sekolah (lagi), setiap pukul 06.55 aku selalu melihat sebuah bus Prayogo berbelok dari selatan ke barat (Jalan HOS Cokroaminoto ke Jalan Godean). Itu tandanya aku akan sampai di sekolah tepat pada saat bel berbunyi (berarti agak telat, hehe).



Sekian dulu,capek,mau ingat-ingat pengalaman yang lain dulu. Kalau udah ingat baru ditulis lagi ^^

Music this Morning

Tanggal 19 Juni 2012. Pagi yang cerah ceria, diawali dengan musik, semakin terasa riang gembira :D
Begitu juga dengan rumah bercat putih berubin hijau, sejak pagi buta sudah terdengar suara musik mengalun dari dalamnya. Apa saja musiknya?? Let's check it out!!
  1. Jam 02.30 WIB, terbangun karena alarm. Lamat-lamat terdengar suara tembang mengalun dari ruangan depan. Apa itu? Bulu kuduk rasanya meremang, jantung berdegup kencang. Ingin rasanya bangkit dari peraduan, namun apa daya, badan terasa lemah tak bertenaga, mata berat tak mau dibuka. Telinga ditajamkan dan terkuaklah judul sang tembang. "Endless Summer". Dilanjutkan suara seorang lelaki mengatakan, "Bagaimana pendapat anda tentang permainan Spanyol di babak pertama Bung Toel?". Rupanya saat itu sedang ada siaran langsung Piala Eropa. :D
  2. Jarum jam bergerak ke angka 06.00 WIB. Terdengar suara lagu berganti-ganti, kebanyakan lagu berbahasa Inggris. Disertai dengan sebuah narasi yang dibacakan seorang wanita dengan penuh semangat. Mengintip ke dalam kamar bapak-ibu, ternyata sang anak lelakinya yang ganteng sedang menonton Sport 7. ^^
  3. Jam berdentang 7 kali, tanda sudah pukul 07.00 WIB. Dari sebuah kamat tertutup yang dihuni tiga dara cantik, sepupu-sepupu sang adik ganteng, terdengar musik berdetak-detak dan suara nyanyian merdu seorang (atau para?) wanita. Diam sebentar dan menyimak lirik, rupanya K-POP yang sedang digandrungi remaja gahol masa kini. :D
  4. Masih pukul 7, namun di ruangan yang berbeda, tepatnya di hadapan kamar tertutup tadi, ada musik yang berbeda lagi. Terdengar genjrengan gitar membabi-buta-tapi-merdu dan suara 1 suara 2 yang sedikit fales. Oh, rupanya sang adik ganteng dan kakaknya yang manis sedang menyanyi lagunya Michel Telo, "Ai Se Eu Te Pego" dengan bersemangat meskipun pengucapan lirik sama sekali tidak baik dan benar, disertai dengan menari bergoyang badan.
  5. Pukul 10.00 WIB, kondisi rumah telah sepi, tinggal ada seorang manusia yaitu sang kakak yang maniis ^v^. Terdengar musik yang keras dan bergendat-gendut, rupanya tetangga sebelah sedang memutar dangdut. :D
Demikianlah pengalaman musik rumah putih berubin hijau hari ini, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian, meskipun isinya nggak penting-penting amat. Yang penting, apapun selera musikmu, minumnya teh botol s*sr*. G deng, apapun selera musikmu, kito semua basudaro,, okeeehhh? XD

Jumat, 08 Juni 2012

Mahasiswa Abnormal

untuk para mahasiswa dan calon mahasiswa..

Tahun ini, ada dua sepupuku yang hendak kuliah. Satu orang sudah diterima di salah satu universitas negeri lewat jalur undangan, sementara yang satu lagi hendak mengikuti SNMPTN 12-13 Juni nanti. Sepupuku yang sudah diterima lewat jalur undangan merasa bahagia dan ingin segera merasakan menjadi mahasiswa. Semua itu terlihat dari status-status FBnya (kepo mode on :p). Sementara sepupuku yang satunya lagi, tidak tahu perasaannya bagaimana, karena aku tidak tahu FBnya (bersyukurlah dia, selamat dari ke-kepo-anku :p). Melihat sepupu-sepupuku itu, aku jadi ingat diriku sendiri, 2 tahun yang lalu. Waktu itu, aku baru saja diterima di U** (sensor :D) jurusan psikologi melalui jalur UM (ujian masuk) tertulis. Rasanya luar biasa senang, karena berhasil diterima di U**, pilihan pertama lagi, padahal orang yang mengikuti ujian itu banyaknya minta ampun. Setelah diterima, aku mengalami libur terlama seumur hidup, yaitu 3 bulan. Maklum, sebagai anak sekolahan, libur semesteran paling mentok cuma 3 minggu. Ketika liburan hampir selesai, rasanya jantungku berdebar-debar, campuran antara senang dan takut. Senang, karena akan menjadi mahasiswa. Takut, karena aku buta terhadap seperti apa kehidupan mahasiswa sebenarnya.

Mahasiswa. Sebagai anak SMA, tentu saja aku punya bayangan tersendiri mengenai makhluk satu ini. Ketika mendengar kata "mahasiswa", yang ada di pikiranku adalah makhluk yang "wawww... kereen" dan derajatnya lebih tinggi lebih tinggi dari siswa, namanya juga maha + siswa. Menurutku (dulu), berdasarkan cerita, stereotipe, dan "dengar-dengar" dari orang lain, mahasiswa itu ada tiga tipe, yaitu:

  1. Mahasiswa teladan: Mahasiswa yang kerjaannya dapat prestasi melulu, entah dari lomba, maupun prestasi akademik. Mahasiswa ini suka ke perpus, selalu ngumpulin tugas tepat waktu, aktif di kelas, berilmu banyak, dan suka ikutan lomba-lomba (dan menang). Ia juga suka mencari beasiswa, terutama yang student exchange, sehingga baginya pergi keluar negeri ibarat pergi ke Kaliurang naik motor. Ia mengikuti seminar-seminar, akrab dengan dosen, jadi asisten dosen, lulusnya cepat + cum laude, dan nilainya kebanyakan A.
  2. Mahasiswa aktivis: Mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang suka ikutan demo-demo, berorganisasi, dan rapat setiap hari. Mereka menjadikan kampus sebagai rumah kedua, saking sibuknya berorganisasi. Hobinya pulang malam dan ngmpul dengan teman-teman. Jika sedang ribet-ribetnya dengan organisasi, kadang-kadang kuliahnya yang menjadi korban. Mahasiswa tipe ini identik dengan lulusnya lama.
  3. Mahasiswa hedonis: Tipe yang sering digambarkan di sinetron-sinetron. Mahasiswa borjuis yang setiap hari naik mobil ke kampus, kalau pulang kuliah sering nongkrong di mall-mall. Dandanannya mengikuti mode masa kini dan sangat up to date (termasuk gadgetnya :D). Orang tuanya kaya dan ia akan mewarisi perusahaan bokapnya (menurut FTV --"). Ia juga memakai bahasa gaul "elo" "gueeh" dan tidak mau bergaul dengan orang yang menurutnya tidak sederajat (sekali lagi, ini menurutku dulu, akibat observasi sekilas-sekilas pada FTV dan sinetron).


Selain tiga tipe di atas, aku juga mempersepsi bahwa mahasiswa itu makhluk yang bebas. Dari mulai pakaian, mereka sudah tidak berseragam. Memillih mata kuliah juga bebas, bebas dari pengawasan orang tua (bagi yang ngekos), bebas mau lulus kapan, bebas mau masuk atau nggak (karena dengar-dengar ada jatah mbolos),sampai yang ikut pergaulan bebas beneran. Mahasiswa juga makhluk yang mandiri, teman-teman sekelas mereka selalu berganti, sehingga harus terbiasa kemana-mana sendiri. Selain itu, mahasiswa identik dengan masuk siang, libur di hari Sabtu, dan libur semesteran yang lama.

Dan apakah yang terjadi setelah aku menjadi seorang mahasiswa "beneran"?

Well, ternyata tidak sesuai dengan persepsiku dulu dan yang jelas, tidak seindah bayanganku. Mahasiswa memang pakai baju bebas, namun ternyata hal itu membuat bingung juga, besok pakai baju apa lagi? Kalau kebanyakan ganti, cucian menggunung, kalau nggak pernah ganti, dikira nggak punya baju, walaupun ada mahasiswa yang tidak peduli dengan hal itu, kebanyakan dari mereka adalah cowok (berdasarkan observasi pribadi). Memilih mata kuliah juga bebas, tapi hal itu baru terasa semester 5 karena 4 semester sebelumnya mata kuliah yang ditawarkan kebanyakan atau seluruhnya bertanda WAJIB. Setelah bebaspun, malah jadi bingung dan galau, sampai survei kepada kakak angkatan mengenai bagaimana rasanya mengambil mata kuliah tersebut (pengalaman pribadi). Mandiri? Waah, aku juga belum bisa seperti itu, aku memiliki teman dekat yang kemana-mana selalu bersama dan sekelas terus selama semester ini, meskipun semester depan tidak lagi semuanya. Itu membuatku merasa agak insecure dan cemas karena tidak ada mereka di kelas (it's a bit sad :( ). Juga ada sesuatu yang tidak kuketahui pada saat SMA, ternyata tugas kuliah dari dosen itu BANYAK BANGET!! Apalagi laporan praktikum yang menuntut daya tahan terhadap kantuk yang lebih kuat (baca: bergadang). Sehingga bagi mahasiswa, tidur merupakan suatu kenikmatan tiada tara :3. Liburan akhir pekan pun kadang-kadang tidak bisa dilakukan karena kuliah pengganti, apalagi jika mengikuti organisasi.
Sementara mengenai tipe-tipe mahasiswa yang sudah kuungkapkan sebelumnya, memang ada mahasiswa yang sesuai dengan tipe tersebut. Ada teman yang merupakan tipe pertama, ada yang tipe kedua, dan bahkan tipe ketiga juga ada. Ada juga yang merupakan tipe kombinasi, entah 1 dengan 2, atau 1 dengan 3. Lalu, aku termasuk tipe yang mana dong?

Jawabannya adalah: TIDAK ADA.

Aku baru menyadari ketika sudah hampir dua tahun kuliah, bayanganku terhadap mahasiswa dulu melenceng semua. Dan soal tipe-tipe itu, aku tidak termasuk dalam salah satupun. Aku memang memilki nilai yang cukup lumayan, tetapi tak pernah berprestasi, apalagi sampai keluar negeri. Aku ikut organisasi, tapi tidak pernah ikut demonstrasi dan kadang-kadang mbolos rapat, kalau lagi males. Aku sama sekali tidak gaul dan kaya, jadi tidak bisa hedonis deh. Aku ini memang mahasiswa yang nanggung, yang serba tidak jelas, dan abstrak. Jika diibaratkan tipe-tipe mahasiswa di atas (terutama yang berprestasi dan teladan, karena itu yang diharapkan semua universitas) adalah sesuatu yang "normal", maka diriku ini pasti yang namanya "abnormal". Mahasiswa yang abnormal.

Memang pada awalnya aku kurang puas dengan diriku yang sekarang. Kenapa aku nggak bisa seperti si dia yang keluar negeri? Yang berprestasi? Yang berhasil di organisasi? Yang ikut demonstrasi? Yang berpikir kritis? Yang ortunya kaya? (nggak deng). Semakin aku berusaha untuk "menjadi mereka", maka semakin sulit rasanya, dan semakin tidak puas diriku. Aku yang pendiam, aku yang nggak jelas, aku yang nggak aktif, aku yang ortunya nggak kaya (eh..). Mahasiswa yang bukan apa-apa dan siapa-siapa. Tidak terkenal di kampus, bahkan di angkatan sendiri. Pokoknya aku nggak bisa jadi seperti mereka dan aku (agak) kurang puas dengan itu.

Tadi saat kuliah antropologi, pak dosen mengatakan sesuatu yang bagiku menarik. Katanya, orang yang bahagia adalah orang yang bisa "nrimo" keadaannya. Bukankan itu falsafah hidup orang Jawa? Nrimo dalam arti ia tetap berusaha, namun hasil akhirnya diserahkan pada Yang Kuasa. Menerima hidup yang dijalaninya sekarang dan tidak ngoyo dalam mengejar sesuatu. Kata pak dosen, itulah yang membuat orang Yogya memiliki harapan hidup yang tinggi, karena dengan nrimo, mereka bahagia, dan bahagia memperpanjang usia. Meskipun ia "hanya" pedagang gorengan, atau pemilik angkringan. Mereka bisa bahagia dengan hal-hal kecil di sekelilingnya. Sedangkan aku? Mahasiswa yang belum bahagia karena tidak dapat menerima keadaan diriku sekarang. Walaupun sebenarnya, hidupku penuh hal-hal yang membahagiakan. Aku punya banyak orang yang peduli padaku. Orang tua yang masih melimpahkan cinta dan mampu membiayai kuliahku. Kehidupan yang normal. Kesehatan tubuh yang baik, meskipun kesehatan jiwanya kadang-kadang diragukan :p.

Jadi, apa kesimpulan dari tulisan yang panjang ini? Aku akan menerima seperti apa diriku sekarang, sambil berusaha memperbaikinya. Jika ada bagian diriku yang tidak berubah menjadi lebih baik lagi, mungkin itu sudah terukir di atas batu. Walaupun kenyataan kehidupanku sebagai mahasiswa tidak sesuai bayangan dan harapan, namun semua itu tidak masalah, karena kalau dilihat dari sudut yang lain, jadi mahasiswa abnormal itu sebenarnya menyenangkan, paling tidak bagi perasaanku. Menurut Rogers, hal ini seperti membuat konsep diri dan pengalaman menjadi kongruen, semakin tidak kongruen, maka orang itu akan semakin rentan menderita gangguan jiwa. Karena aku tidak mau menderita gangguan jiwa, maka konsep diriku yang awalnya adalah "jadi mahasiswa itu harus berprestasi, begini, begitu..." diubah dan disesuaikan dengan pengalaman yang ada sekarang, yaitu mahasiswa yang standar-standar saja. Namun, bukan berarti aku tidak pengen lulus cepat dengan predikat cumlaude :p.

Maka dengan bangga aku akan bilang bahwa aku adalah MAHASISWA ABNORMAL YANG BAHAGIA!! ^v^b

berbahagialah wahai mahasiswa abnormal, dan bagi para calon mahasiswa, kalau bisa jangan ikuti jejak saya, jadilah mahasiswa yang "normal" (tapi usahakan jangan tipe yang ketiga yaa :p). Namun jika pada akhirnya anda tetap jadi mahasiswa abnormal, tetaplah tersenyum dan semangat :).

dan saya mohon jangan jadi manusia yang abnormal, dalam keadaan psikologisnya....

Jumat, 25 Mei 2012

Pasif

Di sebuah kampus ternama, Yogyakarta...
Ia tekun mencatat, sesekali bercanda dengan teman di sampingnya. Dosen menanyakan sesuatu pada seluruh kelas. Ia diam, dan hanya mengamati seorang temannya yang sedang menjawab pertanyaan itu.
Ia duduk di dalam sebuah ruangan. Orang-orang di sekitarnya duduk melingkar dan saling berdebat, berebutan mengutarakan pendapat. Ia mendengarkan, dan diam di pojokan.
Ia menyimak sebuah presentasi. Ketika moderator menanyakan apakah ada pertanyaan atau tanggapan, ia melirik kesana-kemari, namun lagu-lagi diam.
Ada rapat, ada talkshow, ada diskusi. Ia hanya tersenyum. Dan (masih) diam.
Dosen bertanya. Seluruh kelas hening...

Ia.. atau haruskah kuganti saja dengan kata aku? Mahasiswa, yang meski bukan kupu-kupu, namun pasif seperti kepompong. Tipe mahasiswa yang hanya mencatat dan mendengarkan, kemudian keluar kelas tanpa menanyakan suatu pertanyaan, mengutarakan pendapat, bahkan berbicara sedikitpun. Malah mungkin aku ini lebih buruk lagi, mahasiswa yang banyak berbicara... di belakang dosen. Atau  berbicara di depan dosen (karena dosen menghadap mahasiswa) tetapi bukan kepada beliau, melainkan kepada teman yang duduk di sebelah, dan tak jarang isi pembicaraannya adalah.. mengenai dosen. Tak hanya di dalam kelas, di luar kelas pun begitu. Ketika rapat organisasi berlangsung, aku duduk di pojokan dan mendengarkan, tanpa berpendapat sepatahpun. Selalu mengangguk setuju dengan keputusan apapun yang dihasilkan.

Sebelum masuk kuliah, ibu pernah bercerita bahwa jika di kelas, yang penting adalah duduk manis, mendengarkan penjelasan, dan mencatat, maka nilai bagus dijamin ada dalam genggaman. Namun itu sudah lebih dari 20 tahun yang lalu. Sekarang zaman sudah berubah. Kemampuan berkomunikasi, public speaking, menjadi soft skill yang penting untuk dapat bersaing di era sekarang. Seorang kakak angkatan yang pernah magang di sebuah perusahaan berkata bahwa dalam dunia kerja, kemampuan berkomunikasi sangat penting, mereka yang mengutarakan pendapat lebih dihargai. Student centered learning juga telah menjadi sebuah keniscayaan yang harus dijalani oleh para mahasiswa. Mereka yang "bersuara" dihargai tinggi. Nilai baik kini tak hanya dari kemampuan menjawab soal-soal, namun juga dilihat dari keaktifan di kelas. Sedangkan mereka yang pasif, jangan harap dapat dikenal dosen, mungkin dipedulikan saja tidak.

"Ah, tidak apa-apa. Berarti aku punya kemampuan mendengarkan yang baik. Cocok jadi psikolog", pembelaan diri menyedihkan, defense mechanism yang lemah. Tapi salahkah ketika aku tak bisa jadi seperti mereka? Ketika diam bukan lagi keterpaksaan, melainkan telah menjadi sebuah pilihan? Seorang teman pernah berkata, dia bukannya tidak mau bertanya di kelas, setiap ia memiliki sebuah pertanyaan, maka ia akan mencari jawabannya sendiri dalam pikirannya. Jika akhirnya pertanyaan itu berhasil terjawab dengan jawaban yang (menurutnya) benar, maka ia tidak akan bertanya. Karena baginya diam lebih baik daripada mengajukan pertanyaan bodoh. Karena ia hanya ingin mengetahui jawaban yang benar-benar tak bisa dicarinya sendiri, bukan untuk kelihatan pintar, aktif, apalagi mencari muka di hadapan dosen.

Akupun demikian, memilih diam karena memang tidak ingin bicara. Mungkin banyak yang menganggapku pengecut, tidak berani mengutarakan pendapat. Berkata bahwa semua itu akan hilang, jika aku melakukan banyak latihan. Itu tidak salah, dan akupun tidak menyangkal bahwa kadang-kadang ada perasaan takut salah dan dilecehkan. Namun aku memang begini adanya, tidak terlalu suka berbicara di hadapan orang banyak dan lebih suka menyimpan pendapat untuk diri sendiri. Bukankah ada individual differences? Mungkin pribadiku memang tidak menguntungkan dan aku tak menyangkal jika ingin berubah, tetapi sesuatu yang telah memiliki akar yang menggurita terlalu sulit dicabut bukan? Bahkan telah menjadi suatu trait yang melekat pada diriku.

Mungkin ini memang pembelaan paling menyedihkan tentang sikap diam yang pernah dibuat. Diam memang kadang bermakna tidak tahu. Diam memang sering bermakna tidak mengerti. Namun jangan menggeneralisir sesuatu yang mengandung subjektivitas, mengandung makna yang tersirat dan tak terbaca. Diam di kelas bukan berarti tak mengerti, pasif bukan berarti tak memahami, dan tak bertanya bukan berarti bodoh. :)

Sabtu, 28 April 2012

Cemburu

Sebuah emosi yang identik dengan para pecinta. Sering diangkat dalam karya sastra, lagu, film, dari yang Hollywood sampai FTV. Begitu sering membaca, begitu sering mendengar, hingga merasa dapat memahami tentangnya. Namun, membayangkan ternyata berbeda dengan merasakan. Cemburu rasanya tidak menyenangkan, begitu membingungkan. Akal sehat sepertinya telah mati. Meskipun terus-menerus meyakinkan diri, tetap hadir rasa tak enak di hati. Marah bercampur gelisah, tak dapat tidur, tak dapat menikmati hal yang lain, terus memikirkan dia..dia..dan dia lagi.
Mencemburui dan dicemburui, dua hal yang bertolak belakang, tetapi berasa sama, sama-sama sakit. Ketika menjadi pencemburu, seluruh dunia seakan tak ramah lagi. Hati membara dibakar cemburu meluap-luap. Ketika dicemburui, rasanya lebih sakit. Seperti kehilangan kepercayaan, apalagi jika memang tak melakukan apa-apa. Rasa yang terluka, hati yang kecewa, seolah-olah dituduh melakukan pengkhianatan tak termaafkan.
Kata orang, cemburu itu tanda cinta. Mungkin benar, mungkin juga tidak. Yang jelas, mencemburui dan dicemburui itu sama sekali tidak ada enak-enaknya.

Senin, 23 April 2012

Sepak Bola di Mata Wanita

Hari ini, sudah Senin lagi. Ada sebuah ritual yang selalu saya lakoni setiap datang hari di awal minggu ini. Begitu masuk ke kelas Psikologi Klinis di ruang K 202, yang saya cari pertama kali bukanlah ibu dosen maupun teman cowok saya yang ganteng (sayangnya memang nggak ada, bagi saya -__-), namun salah seorang teman saya, yang sama-sama perempuan dan berkerudung. Walaupun kadang kuliah sudah dimulai, saya tidak peduli, yang penting bisa berkontak mata dengannya dan bertukar kata dalam bisikan, bahkan kalau bisa duduk di sebelahnya.

Mengapa saya begitu heboh ingin menghubungi dia dan mengapa saya begitu suka bersebelahan dengannya di hari Senin? Jangan mikir yang aneh-aneh, saya bukannya ada hubungan terlarang dengan dia atau ada bisnis-bisnis yang berbahaya. Saya dan dia cuma ingin mengobrolkan satu hal, yaitu "SEPAK BOLA".
"Itu masih aneh mbak. Mana ada cewek-cewek ngobrolin bola, yang ada mereka suka ngegosip kalee", mungkin itu suara batin anda ketika membaca dua kata yang sengaja saya tulis dengan huruf kapital tersebut. Saya akui, saya memang suka bergosip layaknya cewek-cewek lain, namun saya juga senang ngobrol sepakbola, apalagi dengan teman saya tersayang itu. Hari Senin belum lengkap rasanya jika tidak mengobrolkan sepakbola. Tentang Liga Inggris, Liga Champions, Chelsea yang seri, Manchester United yang tergelincir di pekan-pekan akhir, pemain-pemain ganteng, El Clasico, kartu merah, kuning, wasit, offside, gol, dan lain sebagainya. Entah mengapa saya merasa senang saat melakukannya. Entah mengapa ada kepuasan tersendiri saat larut dalam obrolan, meskipun kami hanya merewind pertandingan yang sudah berlalu, saling mendukung dan mencemooh tim, maupun berkomentar aneh-aneh.

Kalau berbicara sepak bola, saya jadi ingat pembicaraan dengan mantan teman sekelas saya waktu SMP. Alkisah di suatu siang yang panas, saya dan dia duduk di teras rumahnya yang lumayan lebar. Saya sedang memangku helm merah saya yang paling bagus sedunia dan mulai mengoceh nggak penting. Mari saya verbatimkan pembicaraan tersebut:

S: saya ; T: teman, pembicaraan asli menggunakan bahasa jawa, tetapi telah diterjemahkan demi alasan nasionalisme dan menuruti sumpah pemuda :)

S: "Liat ni helm ku, banyak stikernya kan? Ini stiker SMP, SMA, kuliah, dan yang ini stiker klub bola kesukaanku". (menunjuk masing-masing stiker sambil nyengir-nyegir gak jelas)
T: (mengerutkan kening) "Kamu kok suka banget sih sama sepak bola?"
S: "Ya iya dong, sepak bola itu seru, tau".
T: "Iih, apaan olahraga kaya' gitu. Gak penting banget, masa' satu bola diperebutin sama 22 orang? Mending beli sendiri-sendiri".
S: (ketawa sedikit kecut) "Weeh, kamu sendiri suka nonton basket. Itu kan juga termasuk rebutan bola?"
T: "Kan basket lebih proporsional daripada bola. Orang yang ngrebutin cuma 10, bolanya juga lebih gede. Lagian pemain basket itu cakep-cakep" (dengan mata berbinar-binar)
S: "Ganteng pemain bola ah, daripada pemain basket. Kebanyakan mukanya cina-cina gitu".
T: "Justru itu. Lagian mereka juga tinggi, tambah keren dong".
S: "Ah, tetep seru sepak bola. Basket apaan, kebanyakan "gol"nya, tiap 5 detik sorak-sorak, tepuk tangan. Kalo sepak bola kan nunggunya lama, bikin deg-degan"
T: "Asikan basket, kalo sepakbola nunggu golnya kelamaan, kan kalo di basket bisa sorak sampe puas"
S: ".... (Udah deh, sampai sini dulu, intinya udah nangkep kan?selanjutnya cuma perdebatan yang makin g penting,,hehe)

Begitulah perdebatan antara dua orang perempuan dengan kesukaan (nonton) olahraga yang berbeda. Namun, saya sungguh tergelitik dengan pernyataan teman saya, yang mengatakan bahwa sepak bola adalah olahraga nggak penting. 22 orang memperebutkan 1 bola, dan banyak diantara mereka adalah miliader yang bisa membeli bola sebanyak satu kontainer dengan mudahnya? Permainan macam apa itu? Lagipula jam tayangnya kebanyakan malam dan dini hari. Apa nggak ngantuk?

Menurut saya, sepak bola adalah sebuah drama yang dimainkan selama 90 menit + extra time. Aktornya adalah 22 orang laki-laki yang dibagi dalam dua tim berbeda. Panggungnya adalah lapangan hijau. Berbagai peran dimainkan diatasnya, kiper, defender, midfielder, winger, playmaker, striker, wasit, hakim garis, manager. Berbagai ekspresi pemain ditampilkan, tendangan bebas, penalti, selebrasi, diving, kemarahan, kesedihan, penyesalan, kegembiraan. Anthem yang dinyanyikan para suporter adalah musik latar. Lambaian bendera dan spanduk-spanduk adalah background panggung. Stadion adalah gedung teater. Suporter adalah penonton sekaligus pendukung. Hanya ada tiga akhir cerita, menang, kalah, atau seri. Dan semuanya itu mampu menghasilkan suatu daya magis yang luar biasa, mampu menyihir mata para penontonnya, bahkan yang cuma menonton lewat bantuan satelit dan TV.
Memang selera setiap orang berbeda-beda. Dan saya juga masih awam soal sepakbola. Namun saya begitu menyukai momen ketika drama itu sedang tayang di televisi rumah. Ikut bersorak ketika ada gol, ikut bahagia ketika tim yang saya dukung menang, dan jadi bad mood ketika yang terjadi adalah sebaliknya. Mengagumi taktik sang manager, memaki ketika tim lawan mendapat penalti, dan berdebar-debar ketika pertandingan hampir berakhir.

Dan kami bersedia bangun dini hari untuk menonton drama luar biasa itu. Apalagi jika menyangkut partai final maupun tim kesayangan yang sedang bertanding. Meskipun paginya terpaksa telat bangun, tidak sarapan, dan dalam kasus teman saya, tidak berangkat kuliah, tetapi kami tetap melakukannya. Saya ingin menjadi bagian dari sebuah sejarah dan melihat sendiri bagaimana proses dari sebuah legenda. Sepak bola jugalah yang membuat saya rela melakukan taruhan dengan pacar saya, makan mie ayam dua mangkok apabila tim yang didukung kalah, dan kami sama-sama pernah melakukan hal bodoh itu. Bukankah bodoh, mempercayakan nasib perut pada sebuah tim yang bahkan tidak tahu dirimu mendukungnya, dan tidak ada cara mengontrol hasil pertandingan kecuali dengan berdoa? Namun, kami tetap menikmatinya.

Ada satu lagi pertanyaan yang juga menggugah saya. Pertanyaan ini berasal dari salah satu senior di fakultas saya. Pada suatu hari, ia memergoki saya dan teman yang sudah saya sebutkan di awal, membicarakan seorang pemain sepak bola yang menurut kami ganteng di status miliknya. Sang senior bertanya "Cewek itu kalo liat bola, yang dilihat permainannya, atau pemainnya?". Dan sayapun menjawab dengan sejujurnya, tentu saja kami, para wanita, lebih menyukai pemain bola yang ganteng dan bertubuh seksi. Namun, tujuan utama kami menonton bola adalah melihat permainannya. Adanya pemain ganteng nan seksi dapat dianggap sebagai bonus spesial untuk kami. Jadi, wanita yang menonton sepak bola akan mendapat keuntungan lebih. Menonton permainan yang memukau dan menyejukkan mata dengan wajah beberapa pemainnya yang ganteng-ganteng :p.

Sabtu, 21 April 2012

Semangkok Mie Ayam


“Menurutku, inilah makanan terenak di dunia” :D
Pertama kali mengenal makanan ini, pada waktu diriku masih SD, entah kelas berapa. Pada suatu malam, aku diajak keluargaku jalan-jalan di seputaran Malioboro, dan kami semua makan malam di sebuah warung tenda. Aku memesan makanan ini, karena penasaran dengan rasanya, seperti apakah rasa sebuah makanan yang dijual oleh bapak-bapak bergerobak ungu yang sering mangkal di dekat tiang listrik yang tak jauh dari rumah, yang kompor gasnya selalu mengeluarkan bunyi desisan, serta kuahnya menguarkan aroma harum kemana-mana? Pada akhirnya untuk pertama kali aku mencoba, dan saat itu jugalah aku langsung jatuh hati padanya, bahkan sampai sekarang. :)

Sejak itulah, hari-hariku seperti tidak pernah lepas dari makanan ini, tetapi bukan karena aku menyantapnya tiap hari. Hanya karena dia begitu istimewa dan memberikan kenangan tersendiri bagiku, dimanapun aku menyantapnya, baik di rumah makan maupun warung tenda, dan dengan siapapun aku melakukannya.

Waktu SMP, mie ayam merupakan makanan mewah karena harganya yang mahal untuk ukuran kantong anak seusiaku. Pertama kali beli dengan uang sendiri adalah waktu pulang sekolah, dengan seorang teman baikku. Kami duduk di warung tenda yang ada di sebelah sekolah tetanggaku. Dan aku malu sendiri ketika melihat temanku bisa makan mie ayam pakai sumpit, rasanya ingin belajar, tapi entah kenapa sampai sekarang kok tidak bisa juga. Ketika main-main ke rumahnya pun, makan siangnya adalah mie ayam yang dengan baik hati dibelikannya untukku, lagi-lagi letaknya di dekat sebuah sekolah. Pertama kali beli mie ayam sendiri adalah waktu aku tidak bisa masuk rumah gara-gara tidak bawa kunci. Seorang anak SMP pemalu yang kurus kecil dan kelaparan membeli mie ayam di warung dekat sebuah perempatan, yang kelak di kemudian hari akan kudatangi lagi, berkali-kali, termasuk dengan seorang laki-laki yang istimewa bagiku. Bicara tentang laki-laki, pertama kalinya pula aku diajak makan oleh seorang laki-laki adalah waktu SMP juga, di warung mie ayam dekat sekolah tetanggaku, hanya saja itu baru sebatas janji, karena pada hari H nya malah terjadi gempa besar yang mengagal-totalkan rencana itu.

Pada masa SMA, kedekatanku dengan mie ayam bertambah lagi. Pada hari pertama masuk sekolah dan mengenal kantin sekolahku, makanan yang kupesan pertama adalah mie ayam, bukan nasi rames, soto, apalagi bakso. Masih ingat rasanya ketika itu, mie ayam Mas Atang yang waktu itu agak keasinan namun tetap enak, selalu jadi makanan favoritku di kantin, bahkan sampai lulus. Di SMA tercinta jugalah aku bertemu dengan sesama penggemar mie ayam, yang quote-nya sampai sekarang masih kuingat, “Aku masih bisa membedakan rasa antara satu bakso dengan lainnya, bisa tahu mana yang enak dan tidak, tetapi aku tidak bisa membedakan rasa mie ayam, karena di lidahku rasanya enak semua. Inilah makanan paling enak di dunia.” Quote yang agak lebai ya? Tapi menurutku itu ada benarnya juga. Dan pada masa inilah aku bersama teman-temanku mulai banyak main-main ke seluruh sudut Jogja, dan mencoba mie ayam juga. Paling berkesan adalah ketika mencoba mie ayam dengan teman sebangkuku di sebuah rumah makan yang berada di Tamsis pada malam hari yang suram, setelah mengikuti seminar yang ternyata adalah kedok sebuah MLM untuk merekrut anggota baru. Setelah melarikan diri dari sana, kami makan di rumah makan itu sambil menertawakan kebodohan kami dan berencana membalas dendam pada teman yang mengundang kami.

Kuliah… kalau untuk menulis pengalaman dengan mie ayam di masa sekarang ini, sudah banyak, walaupun aku baru menduduki bangku kuliah selama setahun. Sebagian besar karena seseorang yang tadi sudah kusebutkan secara sekilas di atas, seseorang yang sangat berarti bagiku, dan membuat kegemaranku pada makanan ini makin menjadi-jadi. Pada waktu pertama kali ke rumahnya, saat itu juga aku ditraktir mie ayam yang warungnya ada di dekat sebuah lapangan. Kalau pergi kemana-mana, paling sering pulangnya mampir ke warung mie ayam. Dia juga yang merekomendasikan warung mie ayam enak dan murah padaku, walaupun sebenarnya dia dapat dari orang lain juga. Dan yang paling sering, adalah taruhan sepakbola atau apapun, tetapi bukan dengan uang, melainkan mie ayam, yang lebih sering kumenangkan. Caranya makan krupuk dengan kuah mie ayam yang selalu kutertawakan. Atau diguncang gempa waktu makan mie ayam sehabis muter-muter lihat pengungsi di Maguwoharjo dan diguyur hujan lebat. Atau…ah sudah tak terhitung banyaknya kekonyolan dan kenangan yang kulalui bersamanya menyangkut makanan satu ini, meskipun tentu saja tidak semua bersamanya. Masih segar di ingatanku ketika pergi ke warung mie ayam dekat kampus bersama seorang temanku, dan kami ngobrol, curhat-curhat galau di meja lesehan, dan akhirnya teman perempuanku ini membuatku takjub dengan memesan semangkok lagi.

Inilah semangkok kehangatan di waktu dingin dan semangkok kesegaran di waktu panas. Betapa aku menikmati setiap untai mienya yang lembut, ayamnya yang berbumbu, sawi hijau yang memberi warna segar di tengah tumpukan cokelat putih, dan kuahnya yang kental, dengan ditambah kecap manis, saos botolan dengan isinya yang kadang susah dikeluarkan, serta sesendok kecil sambal cabai. Mungkin bukan makanan yang terlalu memenuhi standar kesehatan dan tidak baik dimakan setiap hari. Namun aku sudah begitu cintanya dengan makanan ini, sehingga kalau ada kesempatan selalu menyantapnya (apalagi kalau ditraktir ^^). Karena semangkok mie ayam telah banyak memberi kenangan bagiku dan betapa kebahagiaan kehidupan bisa ditemukan di dalam hal-hal yang kecil, seperti dalam semangkok mie ayam. Menyantapnya saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri, karena kita masih bisa membelinya, makan, dan hidup. Apalagi dengan keberadaan orang-orang yang membuat semangkok mie ayam menjadi lebih bermakna, lebih dari sekedar pengganjal perut. Betapa hidup ini indah, namun kita sering luput melihatnya, karena dibutakan oleh hal-hal yang jauh dan besar, padahal ada banyak hal-hal kecil yang patut kita syukuri setiap harinya.


#hanyasekedarisengiseng :p

Jumat, 20 April 2012

KISAH SAWAH

Aku yakin, setiap orang pasti pernah mendengarkan dongeng. Tentang putri cantik, pangeran tampan, kastil, naga-naga, peri, dan segala keajaiban negeri dongeng. Mereka tidak benar-benar ada, mereka hanyalah fantasi dari pengarangnya. Namun, karena itulah orang-orang menyukai dongeng. Fantasi tiada henti, yang mengajak para penikmatnya melanglang buana dalam pikirannya, tanpa batas ruang maupun waktu.
Tetapi, kadang-kadang hal yang nyata pun bisa menjadi dongeng. Bila dulu ia ada, namun kemudian menghilang selamanya. Dan yang tertinggal hanyalah dongeng-dongeng usang tentangnya.  Seperti yang telah terjadi di negeriku.
Namaku Reiha. Aku adalah seorang gadis yang baru saja berusia 17 tahun. Aku tinggal di negara yang terletak di sebuah pulau kecil. Negara Jalatra, itulah namanya. Meskipun negeriku kecil, namun kata orang ini negara terkeren di dunia. Bagaimana tidak, negaraku adalah negara kaya. Setiap jengkal tanahnya ditutupi gedung pencakar langit yang megah. Mall, kafe, pabrik, dan perkantoran berjajar di sepanjang jalan raya yang lurus dan lebar. Taman kota diletakkan di antara kepadatan gedung, atau di depan komplek perumahan elit. Kolam renang berair jernih dibangun di depan apartemen mewah. Padang golf yang terhampar luas menjadi tempat berakhir pekan dan membangun relasi bisnis yang sempurna. Singkatnya, negeriku ini adalah negeri untuk orang-orang kaya.
Aku termasuk beruntung, bisa hidup enak di negara ini. Itu karena ayahku adalah bos pabrik makanan olahan. Aku tinggal di sebuah perumahan elit di Kota Madra, tak jauh dari ibukota Jalatra. Setiap hari, aku menikmati hidup mewah di kota yang tertata rapi ini. Namun, ada sesuatu yang kucari. Sesuatu yang selama ini tak pernah kutemukan, di pelosok negeri  sekalipun. Aku mencari sawah. Ya, sawah. Lahan tempat penanaman padi ini tidak ada di negaraku.  Atau, dulunya ada namun sekarang hilang, begitu menurut nenekku. Beliau pernah menceritakan tentang masa kecilnya yang indah padaku. Konon, dulu di sekitar rumahnya banyak sawah. Meski orang tua nenekku bukan petani, tetapi nenekku sangat senang bermain di sawah bersama teman-temannya. Namun, ketika beliau beranjak remaja, sawah-sawah itu mulai menghilang, digantikan gedung-gedung beton. Puncaknya sekarang, sepertinya seluruh sawah sudah lenyap, hingga negeri kami terpaksa mengimpor bahan makanan dari sebuah negara kepulauan bernama Nusantara. Kata Ayah, di Nusantara masih banyak sawah. Kami mengimpor bahan makanan mentah dari sana, kemudian mengolahnya dan menjualnya lagi kesana, tentu saja dengan harga lebih mahal. Agak licik kan?
Mungkin orang-orang menganggapku aneh. Bagaimana tidak, aku ingin melihat sesuatu yang tidak ada. Tetapi aku benar-benar penasaran dengan sawah. Kata nenek, sawah itu sangat indah. Seperti hamparan karpet hijau bila masih muda, sewarna padang golf, dan bila bulir-bulir padi sudah masak akan berubah menjadi permadani kuning emas. Aku ingin melihatnya meskipun sekali saja. Sebenarnya aku bisa saja langsung terbang ke Nusantara dan melihat sawah, namun ayahku melarang gara-gara ada teroris yang meledakkan bom di sebuah hotel internasional. Hah, aneh-aneh saja.
Suatu siang yang cerah di akhir pekan, aku sedang duduk di bangku taman kota dekat rumah. Sebuah notebook merah kuletakkan di pangkuan. Saat ini, aku sedang berinternet ria dengan gratis karena taman ini dilengkapi hot spot. Canggih kan? Seperti biasa, setiap berinternet aku mencari informasi tentang sawah. Kupandangi gambar hamparan sawah hijau zamrud di layar notebook-ku dengan sendu. Entah kapan aku bisa melihatnya sendiri. Kakakku pernah memergokiku sedang memandang gambar sawah dengan tatapan memuja. Setelah itu bisa ditebak, dia mentertawakanku dan mengejekku sinting. Sejak saat itu, aku tidak mau ngenet di rumah lagi.
Aku mengerucutkan bibir. Memori yang benar-benar menyebalkan. Kumatikan notebook-ku dan kututup keras-keras. Aku melihat jam dan memutuskan untuk pulang sekarang. Semoga kakakku yang super menyebalkan itu sedang tidak ada di rumah. Aku bangkit berdiri, melemaskan tubuh sejenak, sambil memandang ke sekitarku. Tampak sepasang kekasih sedang asyik bermesraan di balik sebatang pohon. Dua ekor kucing menyelinap keluar dari serumpun bunga lili merah yang sedang berkembang, mungkin habis pacaran juga. Ketika sedang memandang kucing kedua yang berhenti sejenak untuk menjilati badannya, aku melihat sesuatu yang lain. Di antara rumpun lili merah itu, tampak sebuah benda persegi yang sepertinya dari kulit. Warnanya hitam. Perlu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa benda itu adalah dompet.
Aku menuju ke tempat dompet itu berada dan memungutnya. Sepertinya dompet ini sudah agak lama berada di situ karena sudah lembab dan kotor. Aku heran, mengapa tidak ada yang mengambilnya? Kubuka dompet itu, dan seketika kutemukan jawabannya. Memang di dalamnya ada surat-surat penting, id card, SIM, STNK, dan kuitansi-kuitansi. Namun, tidak ada selembar pun uang. Aku mendengus pelan. Pantas saja tidak ada yang memungutnya. Aku hampir saja membuangnya, ketika sebuah pikiran melintas di benakku. Bagaimana kalau pemilik dompet ini memerlukan surat-surat yang ada di dalamnya? Dan aku mau membuangnya begitu saja? Perasaan bersalah seketika menyergapku. Kubuka dompet hitam itu dan kuambil id card di dalamnya. Ternyata pemilik dompet ini adalah seorang perempuan berusia 52 tahun bernama Anita. Dia tinggal di Perumahan Bougenvile no 77. Aku tersenyum. Tempat itu tidak begitu jauh dari sini. Kira-kira 15 menit naik motor pasti sampai.
Kukurangi kecepatan motorku ketika memasuki sebuah gerbang bercat hijau  bertuliskan “Perumahan Bougenvile”. Kuamati setiap rumah, mencari rumah no 77. Perumahan ini lebih sederhana daripada perumahan tempatku tinggal. Meskipun demikian, lingkungannya juga sama bersihnya. Aku mengedarkan pandang lagi ke sekitarku. Seharusnya sudah hampir sampai, karena rumah yang baru saja kulewati menunjukkan angka 70. Aku mencari dengan lebih teliti, berharap cepat menemukannya. Dan, bingo! Itu dia, rumah nomor 77! Dengan hati gembira, kuarahkan motorku kesana, memasuki halamannya yang lumayan luas.
Rumah itu dipagari dengan pagar tanaman tetehan yang rimbun. Halamannya cukup luas, dan ditanami berbagai macam pohon, dari pohon mangga sampai tanaman hias. Rumahnya sendiri terdiri dari dua lantai dan dicat hijau muda. Pot-pot tanaman hias diatata dengan rapi di teras berlantai keramik hijau tua. Pagar kayu tinggi menempel di kedua sisi dinding samping rumah, memanjang sampai batas halaman. Entah apa fungsi pagar itu. Mungkin pemilik rumah ini mempunyai kolam renang di belakang rumah.
Aku memarkir motor, kemudian melangkah menuju teras yang sejuk. Kupencet bel di samping pintu rumah dan menunggu. Terdengar suara langkah-langkah menuju pintu, kemudian daun pintu berwarna cokelat tua itu terbuka. Seorang wanita setengah baya muncul dan ketika melihatku wajahnya menyiratkan kebingungan.
“Maaf, anda mencari siapa?” tanya wanita itu sopan.
“Um,  saya mencari Ibu Anita,” aku menjawab, sedikit gugup.
“Oh, saya sendiri. Ada apa ya?”
“Eh, begini, saya tadi menemukan sebuah dompet. Apa ini milik ibu?” kuulurkan dompet kulit hitam itu.

Bu Anita menerima dompet yang kuulurkan dan membukanya. Setelah memeriksanya beberapa saat, ia tersenyum dan mendesah gembira. Kemudian dia berseru memanggil seseorang, “Mardin, sayang, cepat kemari!” 
Terdengar suara langkah lagi, kemudian muncul seorang laki-laki yang usianya hampir sama, mungkin sedikit lebih tua. Sudah pasti ini suami Bu Anita. Laki-laki itu memandang wajah Bu Anita yang girang dengan ekspresi bertanya. Bu Anita tersenyum lebar, melambaikan dompetnya lalu menunjukku. Seketika, wajah lelaki itu memancarkan keceriaan yang sama. Ia berjalan ke arahku dan menggenggam tanganku, matanya bersinar-sinar.
“Apakah kau yang menemukannya? Dimana?” ia bertanya, nadanya riang.
“Ya, saya menemukannya di taman dekat rumah saya, Pak…em..” aku nyengir gugup padanya.
“Mardin, namaku Mardin,” ia tersenyum dan berpaling kepada istrinya, “Kurasa kita tidak perlu lagi membuat STNK baru sore ini”
“Ya, kau benar. Kukira setelah dicopet kemarin, dompet ini akan hilang selamanya. Kita benar-benar harus berterima kasih pada gadis ini,” Bu Anita tersenyum lembut padaku, “Dan kurasa kau belum memberitahu kami siapa namamu, cantik?”
Aku sedikit tersipu, “Reiha.”
“Oh, nama yang bagus. Nah Reiha, bagaimana kalau sedikit ucapan terima kasih? Kau mau makan siang bersama kami? Kebetulan hari ini aku membuat puding,” sungguh menggiurkan tawaran Bu Anita ini. Kebetulan aku juga belum makan siang. Tapi…
“Ayolah nak, hanya dengan ini kami bisa berterima kasih padamu,” melihat ekspresi ragu-ragu di wajahku, Pak Mardin ikut mendesak. Kurasa aku tidak bisa menolak…
Makan siang telah selesai. Masakan Bu Anita memang benar-benar enak. Perutku rasanya penuh sekali. Sekarang, kami duduk mengelilingi meja makan dan Pak Mardin menceritakan tentang anak-anaknya yang merantau ke Nusantara. Tiba-tiba perutku melilit, alarm untuk melakukan panggilan alam. Sambil meringis, aku bertanya letak toilet. Bu Anita menunjuk sebuah pintu di belakangku. Aku langsung berlari, sambil menahan malu.
Selesai mengeluarkan isi perut, aku berjalan melewati sebuah lorong pendek, kali ini dengan berjalan kaki. Di lorong itu terdapat sebuah jendela kaca. Ketika meliriknya, secercah warna hijau tertangkap oleh mataku. Aku berhenti, dan menempelkan wajahku ke kaca untuk melihatnya lebih jelas. Seketika mulutku menganga dalam jeritan tanpa suara, membeku. Begtu tersadar dari kebekuan, aku berlari menuju pintu kayu di sebelah kanan jendela dan menyentaknya hingga terbuka.
Hamparan padi nan hijau menyambutku begitu membuka pintu. Angin yang bertiup membuat daunnya meliuk seperti tangan penari. Sinar matahari siang membuat warna hijaunya makin cemerlang, bagai zamrud yang berkilau. Meskipun tidak luas, tapi tetap memukau, bahkan lebih indah daripada yang selama ini kubayangkan. Inilah yang kucari selama ini. Inilah, sawah.
Sejak hari itu, aku sering berkunjung ke rumah pasangan yang baik hati itu untuk sekedar melihat sawah. Kuamati perkembangannya, sampai saat bulir-bulir padinya berwarna keemasan. Aku merasa sangat bahagia dan damai bila berada disana. Seolah-olah, kelelahanku tersapu oleh angin yang selalu bertiup di sekitar sepetak sawah itu.
Hari ini aku tidak sabar menunggu waktu pulang sekolah. Sudah dua minggu lamanya aku tidak mengunjungi Pak Mardin dan Bu Anita, karena sedang ada ujian. Terakhir aku kesana, yaitu saat membantu mereka memanen padi. Aku berharap bisa ikut bertanam padi bersama mereka.
Ketika motorku mendekati rumah no 77, kerinduanku seolah tak bisa dibendung lagi. Aku ingin segera melihat sepetak sawah itu. Oase pribadiku di tengah gedung-gedung beton kota ini. Sampai di depan rumah no 77, aku menoleh dengan gembira. Tetapi yang kulihat sungguh di luar perkiraan. Rumah itu sudah rata dengan tanah, begitu juga dengan sawahnya. Yang terlihat hanya tanah yang telah dibangun pondasi. Aku terkejut, lemas. Kenapa semua ini harus terjadi?
“Maaf, kami menjualnya seminggu yang lalu. Kami akan berangkat ke Nusantara hari ini. Selama ini kami menunggumu datang, untuk menjelaskan,” terdengar suara lemah Bu Anita di sampingku.
Aku terpaku, tak sanggup berbicara, apalagi bergerak. Ketika akhirnya aku bisa berbicara, yang bisa kukatakan hanya, “Mengapa?”
“Kami terpaksa. Hasil dari sawah sempit kami tidak memadai. Sudah tidak ada irigasi, dan tanah di sini sudah tercemar bahan kimia,” Pak Mardin menghela napas berat, “Kami akan pindah ke Nusantara, dan bertani di sana, bersama anak-anak kami. Kami mohon kau mau memaafkan kami, Reiha.”

Aku tidak sanggup mengatakan apa-apa. Aku turun dari motor dan memeluk pasangan setengah baya itu, menangis sesenggukan. Mereka juga meneteskan air mata dan mengelus punggungku. Hilang sudah, sawah terakhir di negeri ini. Aku hanya berharap sawah-sawah di Nusantara tidak mengalami nasib yang sama dengan sawahku yang hilang. Agar mereka tidak kekurangan makan, agar anak cucu mereka bisa tetap melihat keindahannya. Agar hamparan sawah itu tetap ada, dan tidak menjadi sekedar dongeng tentang keindahan purba di setiap helai daun padinya.



*Cerpen jaman SMA,, buat tugas Bahasa Indonesia,,bener-bener g jelas ceritanya,,hahaha :p

The Opening Speech

Q: Kenapa bikin blog?
A: Ya pengen aja,,emang g boleh?
Q: Bukannya gitu,,tapi denger-denger adekmu juga bikin, kamu pasti ikut-ikutan ya?
A: Mungkin,, abis kayaknya seru sih :D
Q: Dasar.. bisanya ikut-ikutan aja -__-
A: Ya biarin toh,,kan bikin blog itu hak asasi,,semua orang boleh bikin ^^
Q: Emang tujuanmu bikin blog apaan sih?
A: Just for fun aja,,hehe
Q: Mana ada tujuan kaya' gitu? ga jelas...ababil banget sih nih orang -.-
A: Weww,, Why's so serious?
Q: Haruslah..kan...
Me: STOP, both of you drive me nuts >,<

Don't mind this meaningless conservation,, just ENJOY the next post!! ^^