Pages

Senin, 23 Desember 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 5, Hidup Sehari-hari Kita

Kehidupan kami dimulai ketika terdengar ketukan pintu dari luar, suara yang memanggil-manggil, dan suara itu tidak akan berhenti sampai salah satu dari kami menyahut. Suara seseorang yang sangat baik, yang tulus melakukannya meskipun kami tidak meminta secara langsung. Suara milik seseorang yang rela menempuh perjalanan menembus udara pagi yang dingin, tepat jam 4 pagi, saat bulan Ramadhan. Suara itu tidak lain adalah milik bapak semang kami, Pak Slamet. Beliau rela menahan bekunya udara Turi di pagi hari untuk membangunkan dan membuat kami selalu makan sahur. Saya yakin, apabila kami harus memasak sendiri, kami tidak akan makan sahur setiap hari.

Kehidupan kami di masa KKN dapat dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase Ramadhan dan bukan Ramadhan. Pada saat puasa, kami bangun pukul 4 pagi untuk sahur. Kami tidak melaksanakan makan sahur di pondokan, tetapi pindah ke rumah Pak Slamet yang masih satu halaman dengan pondokan kami. Sampai di sana, kami biasanya sudah disambut dengan karpet yang tergelar dan makanan yang terhidang, nasi, sayur, lengkap dengan lauk pauk. Tujuh gelas teh panas dan sebuah teko plastik berisi air putih hangat. Kami makan sambil menonton TV, biasanya menonton YKS yang ada goyang caesar-nya. Setelah makan, yang kebagian jatah piket akan mencuci piring dan gelas di sumur yang dinginnya minta ampun. Kemudian kami akan pontang-panting ke masjid untuk mengikuti sholat Subuh dan pasti jadi makmum masbuk. Sebenarnya apapun sholatnya, kami selalu masbuk, padahal jarak pondokan dengan masjid sangat dekat.

Setelah sholat Subuh, biasanya kami semua akan tidur lagi. Sekitar pukul 6 pagi, orang yang mendapat jatah piket biasanya akan bangun dulu untuk menyapu halaman depan pondokan. Kami memang memiliki jatah piket, setiap hari ada 2 orang yang harus piket, tugas-tugasnya mencuci piring, menyapu halaman, dan menyapu pondokan. Setelah selesai menyapu halaman, biasanya tidur dilanjutkan sampai jam 9. Kalau ada program kami akan bangun lebih pagi, kalau sedang kecapekan (contohnya tadi malam nonton film sampai jam 1), kami bisa bangun lebih siang. Kalau soal mandi, jangan ditanyakan lagi, kami minimal mandi jam 10 pagi kalau sedang tidak kemana-mana. Bahkan pernah kami semua mandi pukul 12 siang. Saat mandi, biasanya saya selalu berteriak-teriak saking dinginnya. Lebih heboh lagi kalau di kamar mandi sebelah ada Maya, kami berdua saling menanyakan keadaan dan berteriak bareng, menimbulkan paduan suara. Kadang-kadang saat mandi dijadikan ajang curhat, karena kamar mandinya bersebelahan dan kalau sedang mandi biasanya teman-teman lain menunggu di pondokan sehingga kondisinya lumayan ideal untuk curhat mengenai teman sepondokan.

Hal lain yang biasa kami lakukan jam segitu adalah mencuci pakaian. Cowok-cowok mencuci sendirian dan bergantian, sementara cewek-cewek lebih sering mencuci bareng. Bahkan kami pernah mencuci bertiga sekaligus. Selain mencuci, kami juga bersih-bersih pondokan, apalagi kalau pondokan sudah mulai terlihat berantakan. Pada jam pulang sekolah, anak-anak sekitar suka bermain di halaman depan pondokan dan di dalam pondokan. Kalau tidak ada program, kami akan meladeni mereka sampai capek sendiri. Siang hari (kalau berhasil mengusir anak-anak keluar) kami tidur siang sampai sore menjelang. Setelah Ashar, kami, atau lebih seringnya beberapa dari kami berangkat ke masjid untuk ikut mengajar TPA. Kemudian takjilan di masjid bersama pemuda/i masjid dan anak-anak TPA, snack, minum, plus makan. Lengkap pokoknya. Belum lagi teh dan penganan yang selalu disediakan Bu Karsini, istri Pak Slamet di pondokan. Setelah itu dilanjutkan sholat Maghrib, tadarus bersama di pondokan, barulah sholat Tarawih. Pulang Tarawih, di rumah Pak Slamet sudah tersedia makan malam. Pantas saja setelah pulang KKN badan saya menggendut. Kadang kalau sedang ingin jajan atau melarikan diri dari TPA, kami buka bersama di luar. Makan-makan bareng di slenget enthok, mbakso, atau nyate, dan baru pulang menjelang atau setelah sholat tarawih.

Seusai tarawih, masjid dusun kami menyelenggarakan tadarus Al-Quran. Saya hanya pernah ikut beberapa kali saja, karena tidak kuat dengan dingin dan ngantuknya. Sedangkan Mukhlis dan Memey ikut hampir setiap malam, kecuali kalau ada program atau sedang balik. Bahkan mereka ikut i'tikaf di masjid. Kereen. Kami yang lain menghabiskan malam dengan  nonton film dan mengobrol, menunggu Mukhlis dan Memey pulang. Ada lagi ritual malam yang sering kami lakukan saat sedang lapar berjamaah, yaitu membuat indomie. Di pondokan ada sebuah kompor gas yang dipinjamkan Pak Slamet. Dengan itu, beberapa bungkus indomi yang dibeli salah satu dari kami saat turun, cabe rawit, sawi hijau, dan kadang-kadang telur, kami membuat pesta kecil sendiri. Makan mie panas bersama-sama dan saling mencicipi mie milik teman, sambil ngobrol atau nonton film. Biasanya kami semua baru akan tidur tengah malam, setelah lelah dengan bergam "pesta" yang kami adakan sendiri.

Saat bukan bulan Ramadhan, inti kegiatan sehari-hari kami sebenarnya sama saja. Hanya bangun setelah sholah Subuhnya saja yang berbeda, yaitu pukul 7 pagi, kalau piket pukul 6 pagi. Walaupun sudah diundur bangun paginya, tetap saja Pak Slamet harus mengetok-ngetok pintu saat tiba waktu sarapan. Memang super kebo para mahasiswa ini. Selanjutnya sisa hari berjalan seperti biasa, minus takjilan dan sholat tarawih, TPA juga libur setelah lebaran. Perbedaan lain, ada makan siang dan tidak ada lagi cuci piring sebelum Subuh.

Tempat KKN kami tidak jauh dari Kota Jogja, karena itu kami sering pulang, baik ke rumah maupun ke kosan. Minimal seminggu sekali, salah satu dari kami pasti akan meninggalkan pondokan. Alasannya beragam, mulai dari mengurus program, ada acara di rumah, buka bareng teman, mau bertemu dengan seseorang, futsalan, mau membeli barang, sampai karena tidak mau ditinggal temannya yang sedang turun (lho?). Selalu menyenangkan bisa melepaskan diri sejenak dari dinginnya udara di lereng Merapi. Tetapi ketika sedang turun, saya selalu kepikiran dengan pondokan dan teman-teman yang tinggal di atas. Bahkan pernah saat sedang menginap semalam di rumah, saya mengalami disorientasi ketika baru bangun tidur. Kaget dan heran, ketika mendapati saya tidur sendiri, di kamar yang berbeda, dengan perabot yang berbeda, dan tanpa keberadaan dua, atau enam manusia lain di samping saya. Ternyata saya bisa juga merasa betah pada sebuah tempat yang mulanya saya anggap sebagai "neraka yang dingin".

Itulah gambaran kehidupan sehari-hari kami sewaktu KKN. Santai, jauh lebih santai daripada yang berani saya kira. Mungkin kami tidak terlalu serius, atau apalah, tetapi yang jelas setiap detik di sana meninggalkan kenangan tersendiri. Kalau saya ingat saat sebelum dan pertama kali datang, yang sempat merasa takut tentang bagaimana saya harus menjalani hidup, rasanya sangat lucu, karena semuanya tidak seperti yang pernah saya takutkan, atau harapkan, terjadi. Semuanya jauh, jauh lebih menyenangkan. Memang kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam sebuah kolam, seberapa dingin airnya, dan seberapa dalamnya, sampai kaki kita sendiri masuk ke kolam itu :).

Kamis, 19 Desember 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 4, Geng Horor

Sudah dini hari, tetapi saya tidak bisa tidur akibat efek kopi hitam yang sudah tandas dan tinggal ampas ini. Oleh karena itu, sekalian saja saya lanjutkan cerita-cerita soal KKN ini. Mumpung sedang ingin menulis. Mumpung sedang rindu pada teman-teman sepondokan. Kebetulan, cerita yang akan saya tulis ini berkaitan dengan mereka semua. Dengan kegilaan kami. Dan dengan film horor *shiver*.

Tersebutlah sebuah rumah kosong di Dusun Kloposawit, Desa Girikerto, Kecamatan Turi. Rumah ini dulunya milik kakak perempuan Pak Slamet, ketua RW 05, tetapi sudah tidak dihuni lagi karena empunya memutuskan pindah ke kota. Rumah itu menjadi tak berpenghuni, bahkan menjadi sarang maksiat. Setelah dikunci oleh Pak RW, rumah itu menjadi angker. Konon di situlah segala makhluk-makhluk bersarang, mulai dari yang kelihatan, seperti tikus dan kelelawar, sampai yang gaib. Rumah itu menjadi terlihat mengerikan dan tak terawat, bahkan anak-anak tidak mau bermain di halamannya yang luas. Tetapi pada awal Juli, seminggu sebelum bulan Ramadhan dimulai, mendadak rumah itu menjadi sangat ramai, terutama di malam hari. Ada apakah gerangan? Apakah setan-setan dugem, mumpung belum mulai puasa? Ternyata ada tujuh makhluk baru yang menempati rumah itu. Tujuh mahasiswa KKN-PPM UGM unit SLM-13 sub unit 2. Maya. Mukhlis. Memey. Gantang. Revta. Rizka. Dan saya sendiri. Dan mereka semua (termasuk saya) berisiknya minta ampun.

Dua di antara teman sepondokan saya, Gantang dan Revta, bisa "melihat" sesuatu yang gaib. Mereka mengatakan bahwa memang rumah yang kami huni memang penuh dengan hal-hal seperti "itu". Lebih menyebalkannya, mereka sering menggunakan "penglihatannya" untuk menakut-nakuti kami yang lain. Tetapi sudah tahu seperti itu, kami semua tetap melakukan suatu hal yang sepertinya dilakukan oleh setiap tim KKN (beradasarkan survei kecil-kecilan terhadap beberapa teman). Yaitu menonton film horor. Entah mengapa kami melakukannya, padahal kami semua penakut dan suheri (suka heboh sendiri) saat menonton film horor. Kami sok-sok berani saja, walaupun sebenarnya tidak berhasil.

Saya masih ingat benar, film horor pertama yang kami tonton bersama adalah sebuah film Korea. Judulnya adalah "White, The Cursed Melody". Kami menontonnya siang-siang, tetapi tetap saja teriak-teriak seperti anak alay. Sejak saat itu, kami, terutama cewek-cewek dan duo cowok, Gantang serta Revta, sering menonton film horor. Padahal Revta tidak suka film horor. Padahal saya juga tidak. Tapi karena nontonnya bareng-bareng, it's okay. Maybe. Saya sudah lupa film horor berikutnya yang kami tonton. Tetapi sejak saat itu kami mulai mencoba menonton film horor malam-malam, dengan lampu dimatikan.

Momen yang paling saya ingat adalah ketika menonton film horor dari Jepang, Ju On. Malam itu, kami baru pulang dari pelatihan komputer. Cuaca berkabut, sangat dingin dan mencekam. Cocok sekali untuk menonton film horor. Dan ya, setelah itu kami memang menonton film horor. Istimewanya, kami menonton menggunakan proyektor yang besoknya akan dipakai untuk program. Memakai speaker yang dibawa Revta. Dengan lampu dimatikan. Suasananya seperti nonton di bioskop. Kami bertujuh tiduran di atas kasur yang dialasi tikar dengan berselimut, karena sangat dingin. Gantang tidur paling pojok di samping tembok, sebelahnya ada saya, kemudian Maya, Rizka, dan Revta, semuanya menghadap ke layar. Mukhlis dan Memey tidur di kasur satunya karena mereka sedang tidak terlalu ingin menonton. Film dimulai dan karena layarnya besar, saya menutupi kepala dengan jaket, hanya sesekali mengintip saat adegannya tidak terlalu mengerikan. Saat hantunya muncul, kami selalu berteriak ketakutan. Teriakan kami mengandung dua makna sebenarnya. Satu, memang takut dan kaget melihat hantunya, dua, karena kaget mendengar Gantang berteriak. Gantang memang paling heboh teriaknya, bahkan pernah memukul saya yang tiduran di sebelahnya saking hebohnya. Pokoknya, malam itu kami benar-benar ketakutan. Acara menonton diakhiri malam itu, pukul 02.00 dengan ke kamar mandi berjamaah, karena tidak ada yang berani ke kamar mandi sendirian. Padahal kami sudah harus bangun jam 04.00 untuk makan sahur.

Dini hari itu, untuk pertama kalinya kami bertujuh tidur bersama, karena para cewek terlalu ketakutan untuk tidur di kamar. Saya tidur tidak nyenyak, selain karena kedinginan, juga masih terbayang dengan film horornya. Entah jam berapa, di luar terdengar suara "kresek-kresek", seperti plastik yang diseret-seret. Kami semua diam dan mendengarkan, sambil berharap itu cuma kucing yang mengacak-acak plastik sampah yang kami taruh di luar. Pukul 03.00, saya terbangun karena ada bisik-bisik di sebelah saya. Rizka berbisik kepada Maya bahwa dia kebelet pipis. Maya balas berbisik agar Rizka menahan pipisnya, nanti saja waktu sahur. Tetapi Rizka sudah tidak tahan. Merekapun bangun dan berusaha membuka pintu, yang ternyata sangat sulit dibuka. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka pintu dan ikut mereka. Sampai di kamar mandi yang sunyi dan gelap, Rizka masuk duluan sementara saya dan Maya menunggu di luar. Tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing dari belakang rumah (yang memang punya anjing). Tubuh saya sedikit gemetar, bukan hanya karena dingin, tetapi juga karena rasa merinding yang tidak dapat dijelaskan. Saya dan Maya hanya berpandangan, sambil memaki dalam hati, anjirr, ini anjing kenapa harus melolong-lolong sekarang?. Setelah Rizka selesai pipis, kami semua langsung ngibrit kembali ke pondokan dan selimutan lagi, sampai waktu sahur tiba.

Saya masih ingat beberapa dari film horor yang kami tonton, meskipun sudah lupa kronologisnya. Ada Orphan, Mama, The Grudge, The Ring, Fourbia 2, Tusuk Jelangkung, Shutter, Film Thailand tentang cewek kembar siam (lupa judulnya), dan Insidious. Yang paling menakutkan adalah film kembar siam dan yang paling heboh adalah saat menonton Insidious. Kami benar-benar menjerit-jerit dan gemetaran, setelah nonton kedua film itu kami bertujuh tidur bareng lagi. Tetapi tidak semua film horor yang kami tonton berhasil membuat ketakutan. Ada yang gagal karena filmnya memang tidak sesuai ekspektasi dan ada yang terjadi karena faktor X. Film yang tidak sesuai ekspektasi alias gagal horor adalah Fourbia 2 dan The Ring. Di Fourbia 2, cerita yang semula horor malah endingnya menjadi lucu, membuat kami semua melongo dan berpikir "what the hell". Di The Ring, klimaksnya sangat lama dan adegan horornya sedikit sehingga penonton sudah keburu bosan. Sedangkan faktor X ini, menurut saya sangat menggelikan. Saat itu kami sedang menonton The Grudge versi Jepang. Hantunya bernama Kayako dan ia mengerikan, bersuara "a...a....aaa...aaakkkk" seperti orang tercekik serta berjalan merayap-rayap. Saat ini saya membayangkannya saja sudah ngeri. Sebenarnya film ini lumayan menakutkan, tetapi efek horornya menjadi hancur karena satu orang, yaitu Memey. Saat adegan Kayako yang berjalan merangkak-merayap menuruni tangga untuk mendatangi korbannya, Memey malah dengan polosnya berkata, "Hantune kok malah push-up e". Kami tercengang memandangnya, tertawa terbahak-bahak, dan seketika hancurlah aura horor di film itu. Okay Mey, good job boy :3.

Nah, sepertinya itu saja yang dapat saya ceritakan soal film horor dan kelompok KKN saya. Saat menulis ini, saya benar-benar terkenang pada mereka. Gantang yang paling suheri saat menonton. Rizka yang selalu memakai kupluk rajutan milik Revta saat menonton, jadi filmnya hanya kelihatan samar-samar. Maya yang menjadi partner ketakutan saya yang paling setia (dan yang ketidurannya paling pertama). Revta yang selalu berkomentar aneh-aneh. Mukhlis yang jarang nonton film horor, tetapi sekali nonton juga heboh (walaupun belum seheboh gantang). Memey yang juga jarang nonton, tetapi sekali nonton bisa merusak atmosfer horor. Dan satu ritual yang selalu kami lakukan setelah selesai nonton film horor, yaitu ke kamar mandi bersama-sama :). Ah, how I miss that day... Dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul setengah empat pagi, saya mau tidur dulu, hari ini ada kuliah pagi ;).

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 3, Le Programme

Nah nah, lagi-lagi blog ini terabaikan. Tadi saya tidak sengaja nonton YKS dan ada lagu dangdut oplosan. Langsung saya ingat pada KKN dan tulisan ini, yang sudah lama mangkrak. Sekarang saya terpikir untuk melanjutkan, mumpung sedang ingin. Pada tulisan ini, saya ingin menceritakan mengenai program-program yang kami lakukan pada saat KKN. Karena esensi dari KKN adalah programnya. KKN tanpa program seperti sayur asam tanpa asam, dengan kata lain, tidak mungkin. Mau dapat nilai E atau bagaimana? Oke, saya sudah terlalu banyak melantur, mari langsung saja disimak...

Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya, ketika mendapatkan lokasi KKN di tempat ini saya langsung otomatis berpikir "What the hell? Pfft, what to do? what to do?". Sebelum KKN mulai, saya (dan teman-teman) mendapatkan pembekalan dari fakultas. Mengenai program, pihak fakultas ingin kami membuat program yang "nyikologis" dan tidak hanya mendompleng program kluster lain. Intinya, kami dituntut untuk berkontribusi sesuai ilmu kami. Hal itu membuat saya merancang beberapa program (dalam pikiran) yang sangat, sangat idealis, sangat psikologis. Saya berangkat ke lokasi KKN masih dengan mindset saya-mahasiswa-psikologi-maka-saya-akan-membuat-program-yang-nyikologis, semacam itulah.

Ternyata, kenyataan di lapangan sangat berbeda dengan idealisme saya. Sudah ada beberapa program yang harus dikerjakan kluster soshum, yang sudah disusun oleh kormater. Program tersebut cukup banyak untuk dibagi kepada seluruh mahasiswa kluster soshum. Lagipula di setiap sub-unit, yang dari soshum hanya ada 2-3 orang, sehingga pembagiannya mudah. Alhasil, saya melakukan program-program yang tidak terkait dengan psikologi. Membuat perpustakaan desa. Mengajar TPA. Membuat media promosi susu kambing. Membuat cookies. Membuat papan nama masjid. 17 Agustusan. Jalan-jalan ke kandang kambing (ini serius). Ada sih satu yang psikologi, tapi kurang optimal pelaksanaannya, gara-gara tidak ada saat yang tepat, dan gara-gara saya sendiri malas melaksanakan.

Alhasil, kerjaan saya waktu KKN adalah membantu teman-teman kluster sainstek melaksanakan program mereka yang memang banyak dan butuh tangan-tangan ekstra untuk menyelesaikannya. Membuat nomor rumah dan memasangnya, pelatihan komputer, plangisasi, sensus, peta, dan sebagainya. Saya makin terampil menggunting dan mengelem gara-gara program membuat nomor rumah dengan bahan semacam busa. Kaki saya menjadi kuat dan sehat karena jalan-jalan saat sensus dan memasang nomor rumah. Saya juga jadi berinteraksi dengan warga, dari rumah ke rumah. Saya jalan-jalan naik motor untuk survei lapangan saat membuat peta. Mengajari bapak-bapak membuat logo dengan corel draw. Melelahkan, tetapi juga menyenangkan.

Saya sangat bersyukur, mendapatkan teman satu sub-unit yang mau saling membantu. Kebanyakan program kami lakukan bersama-sama, kecuali jika ada yang berhalangan. Kami jalan-jalan melakukan sensus, memasang nomor rumah, mengajar TPA, pergi ke SD, ikut 17 Agustusan, memberikan penyuluhan, datang ke pertemuan warga, bertujuh. Bahkan kami pernah membuat DPL datang sekali lagi ke pondokan, karena pada saat kedatangan beliau yang pertama, kami semua sedang tidak ada. Kami berlima, karena Gantang sedang ada acara dan Rizka menjemput ustadzah pengajian di bawah, sedang memasang nomor rumah, ketika kabar kedatangan DPL sampai kepada kami. Tentu saja kami langsung shock dan pulang ke pondokan, mendapati ibu dosen sudah pergi, membuat kami cemas dan lumayan takut juga. Untung saja ibu DPS bersedia datang lagi besok sorenya dan memantau (padahal masuk pondokan saja tidak).

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kontribusi kami di tempat KKN cukup minim. Tidak ada program yang "uwow, keyeen, luarr biasa". Tetapi seperti yang dikatakan salah satu pemuda dusun kami, "Mas/Mbak KKN ini programnya saya akuin biasa saja, tidak kelihatan. Tapi saya senang, karena Mas dan Mbak mau "srawung" (bergaul) dengan warga di sini". Yap, KKN memang tidak melulu soal program. Itu penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa dapat berbaur dengan masyarakat di sekitarnya. Bagaimana mahasiswa dapat meninggalkan kesan baik dan diterima oleh masyarakat. Syukur-syukur dapat memberdayakan, itu akan sangat lebih baik. Percuma saja programnya keren, bagus, tetapi tidak dapat srawung dengan masyarakat, pasti eksekusinya akan berantakan. Karena bagaimanapun, masyarakat adalah sasaran dari program, tanpa kerjasama dari mereka maka program sebagus apapun akan sia-sia.

Terus terang, saya merasa sangat bahagia dan bangga ketika ada seorang warga yang memuji kami sebagai tim KKN yang semanak dan mau bergaul dengan warga. Itu semua berkat jasa duta besar kami, Mukhlis, yang menghubungkan semua anggota sub-unit kami pada warga, dengan bahasa Jawanya yang keren dan diplomasinya yang memikat. Gantang juga, yang ramah, lucu, dan dirindukan semua orang, baik tua maupun muda. Maya sang kormasit, yang mewakili segala negoisasi dengan pak dukuh dan warga. Rizka yang sabar dengan anak-anak. Memey yang selalu menjadi partner Mukhlis, dekat dengan pengurus masjid dan pemuda-pemuda. Revta, yang meskipun tidak bisa bahasa Jawa, komunikasinya dengan pihak yang "berkuasa" sangat bagus (dan sangat membantu saya, terima kasih, you're truly a communication science student :p). Dan saya? Berusaha menjadi partner yang baik bagi mereka semua, mungkin :).

Sabtu, 12 Oktober 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 2, Belajar dan Berdaya

KKN itu mengandung pembelajaran dan pemberdayaan, bagi masyarakat maupun mahasiswa. Masyarakat diberdayakan dan belajar melalui program-program yang diselenggarakan mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa belajar dari berbaur dengan masyarakat maupun dari kehidupan sehari-hari dengan sesama mahasiswa. Dan tidak lupa, diberdayakan oleh masyarakat.

Yeah, baru sampai beberapa hari, kami langsung diberdayakan oleh remaja masjid di dusun Kloposawit. Diminta untuk mengeprint undangan pengajian ibu-ibu dan membagikannya. Saat itu yang membagikan cowok-cowok kami (maksudnya teman serumah) dan memakan korban, Mukhlis yang dikejar anjing. Kasihan...
Sejak itu kami sering "diberdayakan" oleh masyarakat. Dari mulai ngeprint dan nyebar undangan pengajian ibu-ibu (lagi, kali ini aku dan Rizka yang menunaikan tugas mulia ini), menjadi MC dan tilawah di acara pengajian, ikut kerja bakti, dan membantu kegiatan 17an. Kadang kami mengeluh, tetapi sebenarnya dari situ kami banyak belajar. Contohnya saya, yang belajar ngemsi menggunakan bahasa Jawa, walaupun jelek (sampai di pondokan, Gantang dan Revta ketawa-ketawa mendengar saya ngemsi). Kami semua belajar sabar di pertemuan warga, karena pasti lama dan bau asap rokok, dingin lagi. Belajar menghafalkan nama warga Kloposawit. Belajar bersosialisasi dengan masyarakat yang beragam. Belajar mengenai kehidupan, kesederhanaan, dan keramahan sekali lagi. Belajar bahasa Jawa halus, meskipun kami sering tidak "dong".

Dari kehidupan bersama dengan teman-teman dalam pondokan, saya juga belajar banyak hal. Belajar bekerja sama, tenggang rasa, asertivitas, pengendalian emosi, dan memaafkan. Hidup bersama dengan mereka semua membuat saya lebih menyadari, bahwa karakter manusia itu banyak, unik, dan berbeda. Apa yang saya amati benar-benar luar biasa, kepribadian teman-teman sepondokan memang tidak ada duanya dan dari situ, saya mendapatkan banyak hal. Hal yang sangat penting, saya belajar untuk ngeles a.k.a berkelit ketika ada teman atau orang yang bertanya "Rahma, kamu bisa baca pikiran nggak?", "Kamu tahu nggak aku orangnya seperti apa?", "Bisa baca raut wajah? Pandangan mata?". Ternyata stereotip orang mengenai psikologi seperti itu... (--|||)

Belajar yang menurut saya paling fenomenal, tentu saja dialami oleh kormater Saintek, Memey. Ia belajar untuk melakukan segala pekerjaan rumah tangga sehari-hari seperti mencuci baju, mencuci piring, dan menyetrika. Itu karena Memey belum pernah melakukan hal-hal tersebut di rumah, sudah ada Ibu yang siap sedia untuknya. Sebenarnya, Gantang juga jarang melakukan pekerjaan rumah tangga, tetapi bukan karena ia tidak bisa, hanya malas :p. Untuk mencuci piring, Memey tak banyak bertanya, hanya rekan cupirnya yang sesekali memberi petunjuk dengan gemas, kalau dia melakukan sesuatu yang dianggap salah. Sementara soal mencuci pakaian, luar biasa, harus ada tutorial khusus yang disponsori oleh Mukhlis dan disaksikan oleh Rizka dan saya. Tempat mencuci kami adalah sebuah sumur, dan air untuk mencucinya dialirkan dari sungai dengan pipa (tetapi sampai selesai KKN saya tidak tahu sungainya sebelah mana). Memey terbenam di antara ember-ember, mengikuti instruksi dari Mukhlis. Saya sudah tidak ingat lagi bagaimana persisnya "pelajaran" mencuci saat itu, yang jelas para penonton tertawa terbahak-bahak. Yang paling saya ingat adalah saat Mukhlis berkata "Mey, pakaiannya dibilas beberapa kali sampai sabunnya hilang". Lalu Memey malah bertanya, "Indikator sabunnya hilang itu gimana Klis?". Muka Mukhlis saat itu seperti.. meh.. "Kalau airnya sudah bening Mey..". Sementara saya dan Rizka hanya mampu tertawa ngakak di latar belakang. Pelajaran mencuci dilanjutkan dengan menjemur, bagian yang ada lengan baju dihadapkan ke arah matahari, karena permukaannya lebih luas (alasan saintek). Baju kering, tibalah tutorial menyetrika. Kali ini tentornya adalah Rizka dan kebetulan saya tidak menyaksikan sehingga tidak tahu bagaimana kelanjutannya. Sejak saat itu, Memey menjadi yang paling rajin mencuci di antara kami semua, sampai KKN berakhir. :)

Begitu banyak yang saya pelajari, terlalu banyak untuk diungkapkan disini. Pelajaran paling luar biasa yang kami dapat adalah logat ala dusun Kloposawit, akhiran "thik" untuk setiap kalimat. Misalnya "Piye kabare thik?". Tua muda mempraktekan bahasa ini, bahkan pak dukuhnya.
Oke, sebenarnya masih banyak pelajaran yang dapat kita petik dari pelaksanaan KKN, tetapi saya takut anda semua sudah bosan membaca tulisan ini. Jadi sampai jumpa di kisah selanjutnya.

(to be continued)

Bonus Picture:


anak TPA kami :D

Jumat, 11 Oktober 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 1, Adaptasi

Lagi-lagi saya malas menulis blog.. Sudahlah, tidak perlulah saya beralasan lagi, dengan segala macam skripsi ini, skripsi itu. Langsung saja saya tulis kisah di tempat KKN yang lama tertunda, bahkan mungkin ada yang terlupa *mendadak puitis*

Seperti layaknya memulai apapun, mulai sekolah, kuliah, bekerja, maupun hubungan, memulai KKN juga perlu adaptasi. Bagi saya minggu pertama adalah saat yang terberat. Bayangkan saja, terjebak serumah dengan orang-orang yang tidak dikenal, di lingkungan yang asing, belum tahu apa yang mau dilakukan, dan tanpa kegiatan yang jelas. Saya masih ingat dengan jelas, sejelas melihat monitor laptop ini, malam pertama tidur di pondokan. Sama sekali tidak bisa tidur, pikiran saya melayang kemana-mana, mengingat-ingat kejadian hari itu. Bertemu dengan perangkat dusun untuk pertama kalinya, saya malah membuat malu diri sendiri dengan tak sengaja "melontarkan" biji salak yang sedang dimakan ke arah Pak RT (sampai sekarang kejadian ini masih diingat oleh teman-teman --|||). Sambutan antusias dari anak-anak di dusun Kloposawit. Acara kumpulan dengan pemuda RW 05 malam harinya. Segala pikiran dan kecemasan bercampur aduk dalam benak saya. Bagaimana kalau saya tidak dapat akrab dengan teman-teman serumah? Bagaimana dengan program? Bagaimana.. bagaimana? Ditambah hawa yang sangat dingin menggigit dan selimut yang tidak memadai (tipis sekali), saya jadi semakin tidak dapat memejamkan mata. Akhirnya saya bisa tidur juga meskipun tidak nyenyak. Bahkan dini harinya, terjadi mati lampu. Gelap sekali, hanya hitam saja yang nampak, saya merasa sedang bermimpi, atau sudah mati? Untung saja saat itu saya tidak membayangkan yang aneh-aneh.

Anak-anak di dusun tempat KKN saya sangat antusias. Setiap hari mereka bermain-main ke pondokan, bahkan kami sampai harus mengusir dengan halus karena mainnya sampai malam. Di hari pertama datang, saya sudah diejek "monyet" oleh mereka. Ya ampun, belum apa-apa ini... Waktu mengajar TPA ada anak perempuan yang agresifnya luar biasa, sampai saya takut sendiri. Orang tuanya baik-baik saja, walaupun mereka sering menanyakan soal rumahnya, kok mau tinggal disana? Katanya rumah itu angker. Oke, kami sudah tahu, tidak usah ditegaskan. Bapak dan ibu semang kami, Pak Slamet dan Ibu Karsini baik sekali, apalagi setelah kami bantu-bantu cuci piring dan menyapu halaman depan pondokan. Masakannya juga enak, jadi saya tidak bermasalah dengan makanan, meskipun sempat tidak buang air besar selama 3 hari. Katanya sih belum betah.

Pada pagi kedua, atau ketiga ya?, kami sempat mengalami serangan fajar oleh anak-anak. Gara-garanya teman saya Mukhlis berjanji pada anak-anak untuk berjalan-jalan setelah Sholat Subuh, dengan syarat minimal 5 anak harus ikut sholat berjamaah di masjid. Ternyata tidak seorangpun yang ikut sehingga para cowok merasa lega dan bebas untuk tidur lagi. Tetapi kenyataan tidak seindah bayangan, pukul 5 pagi anak-anak itu datang ke pondokan dan menggedor pintu sambil berteriak-teriak "Mas KKN, Mas KKN" keras-keras. Ketiga cowok (saat itu Revta belum tiba) pura-pura tidur, mereka malas bangkit karena udara di luar (dan dalam) masih sangat dingin. Tetapi bukannya pergi, anak-anak itu malah semakin bersemangat. Gedor-gedor di pintu merambat ke jendela, bahkan salah satu anak sempat membuka jendela meskipun ia tidak masuk. Akhirnya karena tidak ada yang menyahut, mereka semua pulang. Kami semua sudah senam jantung saking cemasnya. Siangnya, mereka protes kepada Mukhlis, tetapi karena persyaratan memang tidak terpenuhi, mereka menyerah dan membuat perjanjian yang sama. Besoknya, anak-anak datang lagi di pagi hari untuk melakukan serangan fajar meskipun mereka juga tidak menepati janji. Karena sudah sangat menyebalkan, akhirnya Maya keluar untuk mengusir mereka dengan halus (tidak halus-halus amat sih). Hidup ibu kormasit!

Siang hari selalu kami jalani dengan kebosanan, karena memang belum ada program maupun kegiatan. Paling-paling hanya bermain dengan anak-anak yang sering datang ke pondokan. Menonton film atau tidur siang. Tiadanya kegiatan membuat kecemasan saya menumpuk. Saya takut pada banyak hal, soal program, soal masyarakat, dan soal teman. Pelaksanaan program masih terasa abstrak. Penerimaan masyarakat pada kami dan program kami. Penyesuaian diri dengan teman sepondokan, karena terus terang saja, saat itu saya merasa belum sreg dengan salah satu teman (tidak usah disebutkan).Cara kami bekerja sama nantinya. Perasaan rindu rumah, home sick yang akut. Pokoknya saya benar-benar "on the edge". Semua itu tumpah ketika saya pulang ke rumah sebentar untuk mengambil selimut yang lebih tebal (saya benar-benar susah tidur karena kedinginan). Di hadapan ibu, saya menangis dan mencurahkan semuanya. Perlu waktu lama untuk menenangkan diri sendiri, tetapi akhirnya saya berhasil. Untung saja saya KKN di tempat yang dekat dengan rumah. Coba kalau saya KKN di tempat yang jauh, mungkin saya akan depresi. Alloh memang tahu seberapa batas kekuatan dan apa yang terbaik bagi hamba-Nya :').

Adaptasi di tempat KKN ini memang tidak semudah yang saya bayangkan. Saya memang orang yang rapuh dan belum pernah tinggal jauh dari rumah (halah..). Tetapi pada akhirnya saya berhasil eek disana. Kemajuan pesat, saya sudah betah! Teman-teman lain tampaknya tidak sesulit saya dalam beradaptasi, meskipun Gantang pernah bilang bahwa ia awalnya juga tidak betah. Yah, itu hanya yang tampak dari luar, sekeras apa sebenarnya mereka berusaha untuk menyesuaikan diri, mana tahu? Yang jelas saya berhasil beradaptasi, kecuali dengan udaranya yang dingin, kalau dengan yang itu kami tak akan pernah terbiasa :p.

(to be continued)

Bonus Foto:

 jalan pagi, di pagi pertama
 masjid Al-Istiqomah pagi itu
 narsis sebentar :D
 trio macan, rawwrr
 pertemuan pemuda RW 05
 bersih-bersih masjid

Kamis, 29 Agustus 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Pra Keberangkatan, Awal yang Mencemaskan

Kenapa sih kita harus KKN?
KKN lama, cuma untuk 3 SKS?
KKN bikin repot...
Hah? KKN dua bulan? Puasa dan lebaran di tempat KKN? LPPM, are you kidding me?!

Rasanya dua bulan ke depan pengen aku skip aja deh, atau di fast forward.
LPPM A**!!!

Itulah yang ada di benak saya, dan mungkin juga teman-teman mahasiswa yang lain begitu memikirkan soal KKN. Apalagi ketika mendapat pengumuman dari LPPM bahwa KKN akan dilangsungkan selama dua bulan dan para mahasiswa harus berlebaran bersama masyarakat (tidak pulang). Segala jenis umpatan langsung berlompatan dari mulut saya, baik yang disengaja maupun yang tidak. Betapa tidak, lebaran adalah waktu untuk kumpul keluarga, malah kita masih di tempat KKN. Kakak angkatan tahun lalu juga cuma KKN 1,5 bulan, di hari lebaran mereka sudah pulang. Mereka juga dengan puasnya mengejek kami sebagai angkatan 2010 yang harus menjalani masa KKN lebih lama. Persiapan KKN juga menurut saya sangat ribet, seperti pembekalan, general test, tes kesehatan, bayar KKN, lalalala. Pokoknya banyak lah. Sampai di situ saya sudah cukup sebal.

Penentuan kelompok KKN juga simpang siur beritanya. Awalnya para mahasiswa sudah membentuk kelompok sendiri-sendiri, termasuk saya yang rencananya masuk ke kelompok yang KKN di Umbul Sidomukti, Bandungan, Jawa Tengah. Ternyata LPPM yang akan menentukan anggota kelompok untuk yang KKN di DIY dan sekitarnya. Terpaksalah saya keluar dari kelompok sebelumnya karena memang bukan tim pengusul. Untungnya ada teman yang menawarkan angin segar dengan mengajak saya gabung ke kelompok KKN-nya di Boyolali. Nama saya akan diusulkan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)-nya ke LPPM sebagai anggota kelompok. Saat itu saya tenang-tenang saja, serasa sudah mendapat jaminan akan KKN di situ. Sebenarnya saya bisa saja memilih KKN di kategori II yaitu di luar DIY dan sekitarnya yang memang mahasiswa memilih sendiri, tetapi karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk KKN di kategori I saja.

Hari pengumuman penentuan anggota kelompok tiba dengan cepat. Saya sudah di sms oleh salah satu teman yang KKN di Boyolali untuk mengecek web LPPM. Penuh percaya diri dan pengharapan, saya membuka plotting lokasi KKN demi melihat tulisan "BOYOLALI" tertera di sana. Ternyata.. di lokasi KKN saya tertulis "GIRIKERTO, TURI, SLEMAN" dengan kode unit "SLM-13". Belum hilang kagetnya, terbacalah tema KKN yang membuat saya makin jedag-jedug "Optimasi UMKM Susu Kambing Etawa" (kalau tidak salah). Girikerto? SLM-13? KAMBING? Seandainya saya punya penyakit jantung, mungkin saya sudah kena serangan dan mati saat itu juga. Saya berpikir, apa ini? Apa yang bisa saya lakukan? Mengapa bisa begini?. Ternyata memang semua nama yang diusulkan ke LPPM oleh DPL tidak diterima. Untung saja di unit itu ada satu teman yang sama-sama dari Psikologi, dan untungnya lagi kami cukup dekat sehingga saya sudah nyicil ayem.

Perjumpaan saya dengan teman-teman seperjuangan dan calon teman kumpul kebo serumah diawali pada siang hari yang terik di Fakultas Filsafat UGM. Saya yang datang telat langsung mengikuti prosesi acara yang dipimpin oleh Ibu Yuni selaku DPL, berkenalan dengan teman-teman baru, dan tibalah saat yang menegangkan, pembagian sub unit. Betapa tidak, dengan merekalah saya kelak akan berbagi rumah, bersama menjalani program, dan hidup bersama selama dua bulan penuh. Ternyata, saya ditempatkan di sub unit dua yang bertempat di Dusun Kloposawit. 

Awalnya saya merasa sedih juga ditempatkan di Kloposawit. Tidak satupun dari anggota sub unit yang saya kenal. Waktu observasi, tempatnya paling jauh. Rumahnya? Jangan ditanya. Paling horor dan kotor di antara semua sub unit. Pada saat observasi pondokan, ada dua rumah di satu halaman. Yang satu sangat bersih, berkeramik, bercat orange. Intinya bagus sekali. Yang satunya lagi kotor, catnya mengelupas, dan terkesan menakutkan. Kami sangat berharap ditempatkan di rumah yang orange. Apa daya, ternyata itu rumahnya Pak Slamet, sang induk semang, dan pondokan kami tak lain tak bukan adalah rumah kotor nan horor itu. Pembersihannya saja memakan waktu dua hari karena saking kotornya, penuh guci berisi sekam. Lebih dahsyatnya lagi, ada kelelawarnya! Kamar mandinya juga jauh sekali, berada di luar rumah, harus berjalan melewati lorong yang kalau malam gelap, karena tidak ada lampu. Sinyal di rumah itu juga paling minim dibanding pondokan lain. Benar-benar rumah super... 

Untuk masalah makan, kami dapat jaminan dimasakkan oleh pemilik rumah. Namun Pak Slamet memberi syarat, istrinya tidak boleh memasak lebih dari sekali dalam sehari sehingga menu dari pagi sampai malam sama semua. Kami semua tidak terlalu keberatan, yang penting bisa makan. Kalau bosan tinggal meluncur ke Jalan Palagan, semua pasti beres. Soal air tidak perlu pusing, karena airnya melimpah sampai tumpeh-tumpeh. Bahkan pipa yang mengalirkan air dari sungai ke kamar mandi tidak pernah dimatikan atau disumpal. Mengalir terus siang dan malam, tidak putus-putus.

Soal teman sub unit, Kloposawit yang paling tidak jelas. Sub unit ini sering sekali berganti personil. Awalnya kami bertujuh, lima lelaki dan dua wanita. Anggota saat itu saya lupa, yang jelas ada saya, Maya Ramadhani Indarto alias Maya, Revta Fariszy alias Revta, dan Pethit Gantang Dewantoro alias Gantang. Bahkan saat itu Gantang tidak datang. Ternyata, tidak ada satupun dari kami yang pengusul tema. Masuklah Ariyanto Hernowo alias Ari alias Memey. Setelah dilihat, perempuannya cuma dua, maka masuklah Mbak Shofi. Pada perkembangannya, ada salah satu anggota yang tidak mengikuti KKN sehingga harus diambilkan dari sub unit lain karena kami tinggal berenam. Awalnya yang akan pindah adalah Putri, tetapi entah kenapa tidak jadi. Maka datanglah anggota berikutnya, Mukhlis Nur Afifi alias Afif alias Mukhlis. Anggota kami berubah lagi saat menyadari bahwa ada tiga orang dari kluster soshum dan dua orang dari komunikasi. Mulanya Mbak Shofi akan ditukar ke Kemirikebo dengan Dioni, tetapi tidak jadi karena alasan tertentu. Akhirnya anggota terakhir yang datang adalah Rizkalia Atika alias Rizka. Lengkaplah sudah anggota sub unit Kloposawit yang akan bertahan hingga dua bulan ke depan.

Awal yang kami alami cukup mencemaskan. Dari anggota yang berganti-ganti sampai rumah yang kotor. Bagaimana para seven icon akan menjalani kehidupan KKN yang tidak kalah seru dari sinetron? Tunggu post berikutnya dari saya ;)

Bonus Foto:
 bersih-bersih kamar yang penuh sekam (akhirnya ini kamar g dipake)

 keadaan rumah sebelum dibersihkan

 kamar mandi...

 rumahnya pak slamet

 yang hitam-hitam itu kelelawar

ini dia rupa sang pondokan pujaan

kami menemukan beginian di dalam rumah :3

Ulat Bulu Telah Kembali!!

Si ulat bulu is back!!
Tak terasa dua bulan (lebih) telah berlalu sejak terakhir kali saya menulis di blog ini *sambiltiupdebu. Bukannya sudah melupakan blog ini, atau sudah males mengisinya (mungkin yang ini ada benarnya), tetapi memang saya baru saja kembali dari masa karantina dua bulan di tengah kebun salak. Yap, saya baru saja selesai melaksanakan Kuliah Kerja Nyata - Pembelajaran Pengabdian Masyarakat alias KKN-PPM di dusun Kloposawit, Girikerto, Turi, Sleman yang dekat dengan gunung Merapi dan banyak pohon salaknya. Perlu diketahui bersama, daerah itu memiliki sinyal yang minus sehingga saya sama sekali tidak bisa mengakses internet. Boro-boro internet, sms saja susah. Memang sinyal yang sulit itu dapat mengganggu hubungan cinta :") *ups.

Selama dua bulan yang penuh canda dan prahara, saya mendapat banyak sekali cerita untuk dibagikan. Terlalu banyak, sehingga mungkin ada yang terlewatkan oleh ingatan. Oleh karena itu, mulai dari post ini, saya akan menceritakan berbagai pengalaman yang didapat selama KKN di tengah kepungan kebun salak. Dua bulan yang mengubah hidup saya...

So, this is my story....

Minggu, 23 Juni 2013

13 Game Favorit Saya

Yeey, ujian akhir semester sudah selesai, dan saya bisa nulis lagi di sini :). Sudah agak lama saya tidak update blog, karena sedang melaksanakan UAS dan proyek pribadi yang berjudul finish-that-game-before-KKN. Kurang dari sebulan lagi saya akan meninggalkan rumah dan melaksanakan KKN-PPM sehingga game yang sekarang saya mainkan harus sudah selesai, agar tidak ada dusta di antara kita.. eh.. maksudnya biar tidak penasaran dengan endingnya.

Game? Yap, saya memang suka sekali bermain game. Tetapi saya tidak pantas disebut gamer, karena saya hanya main game untuk senang-senang dan bukan rutinitas yang harus dilakukan setiap hari. Lagipula kalau gamer, mereka main dengan konsol keren, seperti PC yang diupgrade sampai macem-macem demi bermain game yang memerlukan spek tinggi. Saya juga sebenarnya main game dengan PC, tetapi saya termasuk aliran "emulatorian" yang setia menggunakan emulator terutama GBA dan NDS, untuk main game-game gratisan yang bisa didownload lewat internet. Dengan begitu, main game menggunakan notebook acer aspire one berprosesor intel atom-pun masih dapat dilakukan :p. Hal lain yang membuat saya bukan gamer, adalah spesialisasi genre game yang saya terapkan. Saya hanya bisa main game J-RPG saja, kalau disuruh main genre lain lebih baik angkat tangan karena saya kalahan :(. Main balap mobil kalah, the sims gagal, action adventure tokohnya mati terus, dan main PES dibantai oleh lawan. Bahkan main J-RPG sekarang saja saya masih pakai FAQs, walaupun tidak pernah dan tidak mau pakai cheat. Kasihan..

Meskipun saya bukan gamer, durasi main game saya cukup lama juga, minimal 2 jam dan maksimal 6 jam. Kadang saya sampai lupa waktu, apalagi saat ada proyek pribadi seperti sekarang ini. Terakhir kali, saya main game dari jam 10 malam, ketika masih asyik masyuk bermain, adik saya bangun dan nonton piala konfederasi. Ternyata sudah jam setengah 3. Padahal jam 9 saya sudah harus pergi bersih-bersih rumah tempat KKN. Hasilnya, hari Minggu itu saya kecapekan luar biasa -_-.

Mungkin ada yang bertanya-tanya juga, kenapa saya suka dengan J-RPG? Menurut saya, RPG dari Jepang itu ceritanya bagus. Dan yang paling saya suka adalah kebanyakan menggunakan gameplay turn-based, meskipun ada juga yang action dan saya mainkan. Beberapa orang beranggapan bahwa turn-based kurang seru, tapi bagi saya itu sudah seru karena harus menggunakan strategi untuk memenangkan pertarungan. Selain itu, saya orangnya memang lebih suka mikir daripada mencet banyak tombol untuk beraksi :3. Pada post kali ini, saya ingin membagi 13 game yang saya mainkan dan menurut saya sangat berkesan. Ini diaa...

13. Harvest Moon; Friends of Mineral Town (GBA)

Inilah game emulator pertama yang saya mainkan, dan genrenya bukan J-RPG (meskipun yang buat juga dari Jepang). Saya tertarik main game ini gara-gara melihat adik ganteng memainkannya. Mulanya saya agak takut mencoba, bagaimana kalau kalah seperti yang sudah-sudah? Ternyata saya dapat menikmatinya dan ada slot save F1 dst di emulator GBA sehingga sangat mempermudah saya :p. Game yang merupakan simulasi dari kehidupan di pertanian ini saya mainkan cukup lama, sampai tokoh utamanya yang ada di cover menikah dan memiliki istri (iyalah.. di game ini tokohnya bukan homo). Setelah itu saya bosan dan mulai mencoba-coba sebuah game RPG yang nanti akan disebutkan. Sebenarnya, game ini agak monoton dan kurang menantang, tetapi bagi saya tetap berkesan, karena inilah game pertama yang saya mainkan dengan serius :).

12. Summon Night; Twin Age (NDS)

Ini adalah game pertama yang saya mainkan di emulator NDS :D. Meskipun begitu, game ini belum (dan sepertinya tidak akan) tamat karena saya terlalu malas untuk meneruskannya. Padahal sudah sampai final boss, tapi sekali lagi saya malas, karena gameplay-nya susah (menurut saya) karena bertarungnya melibatkan layar sentuh yang sulit dilakukan lewat PC. Summon Night Twin Age ini menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Reiha dan spirit yang dia summon, namanya Aldo. Kemudian mereka... Nggak jadi ah, saya nggak suka spoiler dan spoiling :3. Sejujurnya saya lupa jalan ceritanya, karena game ini terakhir kali saya mainkan saat masih SMA :p. Adegan yang paling saya ingat adalah saat Aldo disuruh berdandan seperti cewek untuk mengelabui musuh-musuh yang mengejarnya, hehehe.

11. Bokura no Taiyou; The Sun is in Your Hands (GBA)

Saya suka game ini, karena gameplaynya unik, beda dengan yang selama ini saya mainkan. Saya menyebutnya game mengendap-endap, yang mengandalkan kemampuan player dalam melakukan pengalihan perhatian dan melewati musuh tanpa terdeteksi. Namun tetap ada pertarungannya dong, apalagi saat melawan boss. Pertarungannya juga unik sekali, setelah mengalahkan boss dalam pertarungan sungguhan (dalam arti berhadapan, etc), sang karakter utama, seorang vampire hunter yang bernama Django akan mengalami boss battle babak 2. Babak ke 2 ini dimulai dengan Django yang menyeret peti mati sang boss, karena bossnya adalah vampir (tapi tidak ganteng seperti di Twilight yaa..) menuju ke awal dungeon. Nah lho.. capek kan, apalagi dia harus tetap melawan musuh-musuh di perjalanan. Setelah sampai di tempat yang dituju, Django dibantu oleh sun spirit Otenko mengaktifkan pile driver, dimana boss battle babak 2 dilakukan. Sang boss semacam disucikan dengan cahaya matahari agar mati, tetapi ia akan melawan habis-habisan dengan berbagai jurus yang unik. Game ini sebenarnya juga menggunakan solar sensor untuk memasok cahaya matahari asli menjadi energi dalam game, elemen terpenting dalam perjalanan cerita dan pertarungan. Namun karena saya menggunakan emulator yang ada fitur solar sensor di dalamnya, saya tidak perlu keluar mencari matahari :D.

10. Summon Night; Swordcraft Story 2 (GBA)

Ini dia, game action RPG pertama yang saya mainkan. Mulanya saya takut, karena kalau main yang begitu-begitu, biasanya saya kalah. Tetapi hal itu saya kesampingkan setelah melihat grafisnya yang menawan (tokoh utama laki-lakinya ganteng :3) dan review yang cukup mengundang. Kalau jalan ceritanya, saya sendiri lupa karena game itu terakhir kali saya mainkan saat masih SMA juga, sebelum yang Twin Age. Save file-nya juga sudah hilang, jadi tidak bisa memberitahu seperti apa persisnya game ini. Namun bagi saya cukup berkesan, karena dengan menamatkan game ini, kepercayaan diri menyangkut kapabilitas saya dalam action RPG meningkat pesat :D.

9. Rune Factory 3 (NDS)

Rune Factory adalah anak dari Harvest Moon, versi RPG. Saya memainkan 2 diantaranya, yaitu yang kedua dan ketiga (sebenarnya mau juga yang pertama, tapi sayang filenya corrupt :/), namun yang paling berkesan adalah yang ketiga. Sebenarnya secara cerita, ketiganya sama saja dan selalu diawali dengan seorang pemuda yang kehilangan ingatan, kemudian ditolong oleh sang heroine utama yang (supposed to) kelak akan menjadi istrinya. Sang heroine ini memberi hero lahan pertanian yang harus dikelola, seperti di Harvest Moon. Bedanya di Rune Factory ada ceritanya dan bisa bertarung melawan monster. Kembali ke alasan kenapa yang ketiga lebih berkesan, karena menurut saya ceritanya lebih bagus, ada ras baru selain manusia, grafisnya lebih bagus, dan tokoh utamanya bisa menjadi monster embek berbulu emas (ini serius). Biasanya di Rune Factory, saya menjadi playboy dengan membuat semua gadis hatinya 10 sehingga semua dapat dinikahi (mwahahaha). Dan saya tidak akan menikahi heroine utama yang memberi lahan pertanian.. tidak akan pernah...

8. Valkyrie Profile; Covenant of the Plume (NDS)

Sudah sampai urutan 8, game yang temanya "dark" dan hanya cocok dimainkan remaja ke atas. Valkyrie Profile cerita utamanya adalah pembalasan dendam seorang pemuda bernama Wylfred yang ayahnya meninggal, kemudian rohnya dijadikan bala tentara seorang Valkyrie bernama Lenneth. Dalam perjalanannya membalas dendam, Wylfred membuat kesepakatan dengan Hel, sang ratu underworld untuk meningkatkan kekuatannya, dengan bulu sayap sang Valkyrie yang diubah menjadi hitam. Jika bulu itu dipenuhi oleh "dosa" Wylfred, membunuh orang-orang termasuk dosa yang paling besar nilainya, mengorbankan teman sendiri, maka ia akan berubah menjadi sebuah pedang yang dapat membunuh Lenneth. Setelah itu, Wylfred harus menyerahkan jiwanya yang penuh dosa pada Hel :3. Selanjutnya lagi? Main sendiri ya... Selain ceritanya yang menurut saya beda, game ini juga merupakan game strategi RPG pertama yang saya mainkan. Itu lho, yang pertarungannya ada kotak-kotaknya, kemudian karakter dikendalikan di dalam kotak-kotak tersebut (susah jelasinnya... :/). Game ini juga memiliki multiple ending, ending yang didapat sesuai jumlah orang yang dikorbankan Wylfred sehingga game ini worth replaying.

7. Riviera the Promised Land (GBA)

Dalam game ini, mengeksplor dungeon tidak dapat dilakukan dengan jalan-jalan biasa, seperti game lainnya, melainkan hanya antara move ke area selanjutnya, atau search. Pertarungannya turn based dan kadang-kadang susah, apalagi kalau levelnya masih rendah -_-. Ada pula mini game seperti "disarm the trap" pada peti harta yang menuntut kecepatan dan ketepatan tangan dalam memencet keyboard. Yang paling menantang adalah saat disuruh melempar batu, namun arah lemparannya harus disesuaikan dengan arah panah yang ditunjukkan di layar, makin lama makin rapet dan sulit, kalau tidak salah ada 20an lebih variasi. Heran saya.. kok dulu bisa menyelesaikan permainan itu dengan sukses. Ceritanya sendiri bagus, dengan tokoh utama seorang grim angel kehilangan sayap bernama Ein yang ingin menyelamatkan dunia. Dalam cerita ini, semua rekan bertarung Ein adalah perempuan dan menjadi semacam harem, dimana Ein akan berusaha memikat hati semua wanita itu dan mereka semua menyukainya. Ada beberapa screenshot yang menarik dalam game ini, salah satunya menggambarkan Ein yang sedang mengintip saat gadis-gadis sedang mandi :3. Namun ada juga yang menyedihkan, saat seorang rekan Ein mati.. kasihan.. saya sedikit meneteskan air mata saat itu :'(.

6. Golden Sun; Dark Dawn (NDS)

Golden Sun Dark Dawn adalah lanjutan dari sekuel Golden Sun yang dikeluarkan untuk konsol NDS. Kali ini, para pemain akan mengikuti petualangan Matthew dan teman-temannya yang semuanya merupakan putra putri dari tokoh di Golden Sun dan GSTLA (yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah). Tidak banyak yang berubah dari gameplaynya, masih tetap turn based seperti pendahulunya. Elemen-elemen penting seperti psynergy, djinn, senjata, dungeon, summon spirit, kapal Lemuria, dunianya, masih sama dengan pendahulunya. Ceritanya juga masih menarik. Kelebihannya, grafis lebih ciamik, elemen bertambah dengan light-dark, dan summon sequence lebih kereen :3. Sayangnya, puzzlenya tidak semenantang dulu, bossnya entah mengapa tidak menguras hati (a.k.a tidak sulit banget), dan endingnya nggantung..huu..

5. Lunar Knights (NDS)

Action RPG lain yang saya mainkan dan masih satu seri dengan Bokura no Taiyou (Boktai). Lunar Knights mengisahkan tentang vampire hunter bernama Lucian dan solar gunslinger bernama Aaron yang berburu vampir. Vampir-vampir sialan itu telah menggelapkan dunia sehingga matahari tidak pernah muncul dan menjadikan manusia sebagai budak serta makanan mereka. Ceritanya menarik dan karakternya bagus, terutama Lucian (aww, he's so cool :3).  Saya paling suka ketika di beberapa adegan muncul semacam video untuk mendramatisasi cerita :D. Masih ada unsur mengendap-endap di sini, tetapi sebagian besar telah berubah menjadi pertarungan. Sedangkan pile drive diganti menjadi lebih modern, dengan menggunakan casket rocket Laplace, membawa peti mati sang vampir ke luar angkasa untuk dibunuh dengan sinar matahari yang dikumpulkan oleh Sunflower interstellar satellite. Namun jangan dibayangkan pergi ke luar angkasanya seperti naik pesawat garuda saat cuaca sedang cerah. Akan ada pesawat musuh yang menghadang, batu meteor, dan semacam mini boss ruang angkasa yang harus dikalahkan sebelum peti mati dimurnikan. Lebih susahnya lagi, pemain mengendalikan pesawatnya dengan stylus (dalam kasus saya, mouse). Inilah yang disebut shooting battle, dan menurut saya adalah bagian tersulit di game ini. Apalagi di final bossnya, saya sampai harus mencoba 13 kali sebelum berhasil tamat -___-.

4. Shin Megami Tensei; Devil Survivor 2 (NDS)

Tadaaa... akhirnya game yang merupakan sasaran dari proyek pribadi finish-it-before-KKN tamat juga, tepatnya kemarin Jumat 21 Juni 2013 :D. Setelah pertarungan terakhir yang habis-habisan, yang sampai saya ulangi karena kalah... saya akhirnya berhasil juga.. akhirnya... (nangis tersedu-sedu). Tapi tidak akan saya bocorkan rute mana yang diambil :p. Rute? Yap, game ini mengandung 4 rute berbeda yang tentunya akan memperoleh ending yang berbeda pula, tergantung mana yang dipilih Hero. Ceritanya? Hero sang anak SMA yang baru pulang bersama teman-temannya, Daichi dan Io, dari semacam ujian masuk perguruan tinggi (SBMPTN mungkin..) terlibat dalam kecelakaan di stasiun kereta api bawah tanah. Mereka pasti akan mati seandainya tidak ada app bernama "Nicaea" di hp mereka. Aplikasi ini serem abis, bisa memperlihatkan video tentang proses kematian teman. Dan si Nicaea ini mengunduh sebuah aplikasi bernama "Demon Summoning App" yang memungkinkan penggunanya men-summon demon dan menggunakannya untuk bertarung. Ternyata ketika ketiga tokoh utama ini berhasil keluar, kota Tokyo sudah hancur, seluruh Jepang, bahkan seluruh dunia sudah hancur dan demon muncul dimana-mana! Musuh baru yang disebut Serpentrion (tulisannya bener tidak ya?) juga menampakkan diri satu persatu. Kemudian... kalau mau tahu baca saja wikipedia atau nonton animenya, ceritanya panjang :p. Intinya, Hero harus menyelamatkan dunia dalam 8 hari, kalau tidak maka seluruh umat manusia akan punah. Gameplay? SRPG dipadu dengan JRPG, cocok sekali untuk saya ;). Demon-demon disini agak mirip pokemon, digunakan sebagai rekan bertarung dengan para human sebagai leader, bedanya kita dapat "membeli" mereka lewat pelelangan dan melakukan fusion untuk memperoleh demon yang lebih kuat. Boss disini ada yang mudah, ada yang mudah kalau level karakternya tinggi, ada yang punya skill menjengkelkan (ini paling sering), dan sulit setengah mati (pertarungan terakhir masuk kriteria ini).

3. Golden Sun (GBA)

Inilah... game RPG yang pertama kali saya mainkan.. yang membuat saya mencintai genre ini. Mengisahkan petualangan Isaac, Garet, dan kroni-kroninya untuk mencari elemental star yang dicuri dari sebuah kuil di Mt. Aleph, dan akhirnya (selalu) terlibat dalam misi menyelamatkan dunia. Gameplaynya turn based dan yang paling menarik hati saya adalah puzzle yang harus dipecahkan dalam tiap dungeon. Menurut saya, ceritanya bagus dan membuat penasaran. Grafisnya juga lumayan untuk game GBA, ada elemen-elemen khas yang menarik, seperti djinn, semacam elemental spirit, psynergy, kemampuan yang dimiliki para adept seperti tokoh utama yang terdiri dari 4 elemen, air, tanah, api, dan angin. Akibat game ini saya juga menjadi mudah jatuh cinta dengan tokoh utama (laki-laki) dalam game, karena menurut saya wajah Isaac cukup lumayan, dengan mata biru dan rambut pirangnya... ;). Saya pertama kali melihat adik ganteng memainkan game ini, tertarik dengan muka Isaac yang innocent gimana gitu... tapi gamenya dalam bahasa Spanyol, dan kami sama-sama nggak ngerti. Akhirnya setelah mendapat kopi yang berbahasa Inggris, saya mulai main sendiri, dan saking maniaknya, saya mainkan sampai 3 kali..

2. Shin Megami Tensei; Devil Survivor 1 (NDS)

Mungkin dalam sejarah pergamean, game ini yang paling banyak saya replay. Bagaimana tidak, ada 7 ending berbeda dari ceritanya, tergantung pilihan sang Hero. Seperti Devil Survivor 2 yang sudah saya ceritakan di atas, game ini memiliki batas waktu menyelamatkan dunia, kali ini 7 hari, melibatkan demon, alat pemanggil demon (yang kali ini adalah COMP atau communication player), terjadi di Jepang, dan melibatkan anak SMA :3. Hero kita kali ini, seorang anak SMA dengan rambut dan mata biru gelap, memakai headphone warna putih berbentuk kuping kucing (saya pengin punya itu..) sedang berada di area Yamanote circle (Tokyo dan sekitarnya) dengan dua orang sahabatnya, Yuzu dan Atsuro, ketika mendadak.. BAAM! Mereka semua tanpa sengaja mendownload demon summoning app ke dalam COMP yang sebelumnya diberikan Naoya, sepupu Hero.Kemudian terjadi aksi blokade yang dilakukan pemerintah kepada Yamanote circle dan sekitarnya, menjadikan mereka bertiga dan semua orang di dalamnya tidak dapat keluar. Diperparah dengan munculnya demon dimana-mana di dalam area itu, dan sebuah kenyataan bahwa dalam 6 hari... semua orang akan MATI...MWAHAHA.. oke lupakan.. cari cerita selanjutnya di megamitenseiwikia. Dengan memainkan game ini, saya jadi dapat merasakan sebuah tekanan psikologis karena waktu yang terbatas dan keadaan lingkungan yang mengerikan, dengan persediaan makanan sedikit, listrik yang mati, social order yang mulai runtuh, ditambah demon ganas dimana-mana, saya jadi kasihan sekali dengan mereka...padahal ini kan cuma game. Gameplay dan segala hal lain mirip dengan DS 2, tetapi tanpa demon compendium dan fate stage. Bossnya juga sulit.. saya sering kehilangan karakter saat melawan boss (apa strategi saya kurang bagus? entahlah). Tapi setelah replay, jadi merasa seperti dewa karena meskipun karakternya kembali ke level 1, level demonnya tidak turun dan dibawa ke new game :3.

1. Golden Sun; The Lost Age (GBA)

Dan inilaaah... game terfavorit saya sepanjang masa... Golden Sun The Lost Age. Saya memainkan game ini lebih dari 3 kali, menamatkannya pertama kali saat UNAS SMA :p, dan hafal dengan dialog endingnya, per karakter, kata per kata. Kali ini, tokoh utamanya adalah Felix dan kroni-kroninya, yang di Golden Sun dilihat sebagai seorang penjahat, ternyata memiliki misi mulia yaitu menyelamatkan dunia...dengan cara yang berbeda.. dan mungkin lebih baik. Isaac dkk juga akan bergabung, tetapi nanti pada saat game sudah mendekati akhir. Gameplay dan segala elemen pentingnya sama dengan Golden Sun, tetapi dengan dunia yang lebih luas untuk dieksplorasi menggunakan kapal Lemuria. Puzzlenya juga lebih menantang, favorit saya adalah puzzle di Anemos Inner Sanctum yang menggerakkan boneka dengan prinspip cermin, waktu mainnya lebih panjang, ceritanya lebih kompleks, penuh kejutan, dan bossnya.. lebih ultimate..=,=. Boss terakhirnya susah dikalahkan, butuh 3 ronde untuk melakukannya, tetapi ada optional boss yang SANGAT sulit.. sampai saya berkeringat dingin saat menjalani pertarungan dengannya dan entah sudah berapa kali revive karakter. Game ini juga memunculkan best villain ever alias kategori penjahat terbaik.. bagi saya, yaitu Alex. Kenapa? Kalau mau tahu main saja sendiri :p. Pokoknya menurut saya, ini game yang sangat worth playing dan sangat luar biasa.

Itulah game-game yang mebuat saya terkesan. Jadi pengin main lagi kan.. kangen dengan mereka :3. Tetapi sekali lagi ini menurut saya sendiri. Apa game yang paling berkesan menurut anda? Masing-masing orang memiliki opini yang berbeda kan? ;).

Selasa, 18 Juni 2013

Malu Menjadi Mahasiswa

Hari ini, saya malu menyandang status sebagai mahasiswa. Bukan apa-apa, dari tadi pagi sampai malam ini saya menonton, mendengar, dan membaca mengenai demo menolak kenaikan BBM, selalu timbul yang namanya kericuhan dan penyelenggaranya adalah mahasiswa. Dimulai ketika tadi siang menonton berita, ada mahasiswa berdemo menentang kenaikan BBM di Medan, kemudian tiba-tiba saja membakar dan menjarah sebuah restoran ayam goreng cepat saji. Yang langsung terlintas di pikiran saya adalah, apa hubungannya si restoran dengan BBM? Terus kenapa harus menjarah? Apa karena demonstran itu pada belum makan? Sebuah alibi agar bisa makan ayam goreng cepat saji yang biasanya memang mahal itu? My feeling is like so.. meh... -_-

Puncaknya adalah, ketika saya membaca berita di koran. Sekelompok mahasiswa dari organisasi yang mengatasnamakan agama berdemo di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta. Kali ini demonya diwarnai dengan pemblokiran jalan raya yang menyebabkan kemacetan panjang di hari Senin sore itu. Peristiwa yang saya baca di koran itu, dan paling membuat saya miris adalah ketika ada bapak-bapak yang minta ijin melewati blokade dengan mobilnya karena anaknya sedang sakit. Mulanya para mahasiswa tidak mengijinkan, tetapi akhirnya dibolehkan juga. Ironisnya ketika sudah diperbolehkan, beberapa mahasiswa malah memukul mobil tersebut dengan tiang bendera dan ada yang berkata, "Hajar saja.. Hajar saja..". Astaghfirullahhaladzhim. Saat itu saya benar-benar mengelus dada dan malu berat. Bisa-bisanya mereka yang mengaku MAHASISWA melakukan hal seperti itu, yang sama sekali tidak mencerminkan tingkat intelektualitas yang (seharusnya) tinggi.

Hallooooo... kalian para pendemo yang sampai memblokir jalan. Apa kalian tidak memikirkan perasaan bapak itu? Anaknya sedang sakit, harus buru-buru, lalu kalian begitukan? Tidakkah kalian punya empati atau minimal simpati bagi orang lain? Teman saya juga terpaksa membatalkan janjian wawancara dengan saya karena terjebak macet. Padahal wawancara itu untuk sebuah tugas yang harus segera dikerjakan. Oke, tidak usahlah membayangkan bagaimana perasaan bapak itu atau orang-orang lain, bayangkan saja jika kalian sendiri terjebak kemacetan di jalan itu, pada saat ada demo seperti itu. Kalian pulang kuliah, capek, mungkin sedang berpuasa karena sedang hari Senin, lapar, haus, bensin tinggal sedikit, tugas menumpuk, ingin segera pulang, dan... TADAAAA.. ada demonstrasi dengan memblokir jalan yang menyebabkan kemacetan super panjang. Apa yang kalian rasakan? Jawab saja sendiri, pasti tahu, kecuali kalau memang tidak punya perasaan.

Teman-teman mahasiswa demonstran yang budiman, demo itu boleh. Bagus malah, karena dapat digunakan sebagai sarana menyuarakan aspirasi kalian dan rakyat. Semua orang menjadi tahu isu apa yang ingin disampaikan dan ada kemungkinan turut mendukung. Tetapi lebih baik jika demo tidak mengganggu orang lain dan ketertiban umum. Kalian selalu mengaku menyuarakan aspirasi rakyat, membela rakyat kecil, ketika sedang demo, namun jika jalan diblokir yang terkena macet siapa? Itu rakyat yang kalian bela kan? Bukan menteri, anggota DPR, atau bapak Presiden. Demo sih demo, asal jangan membuat ricuh, membuat macet, dan merugikan orang lain. Kasihan rakyat, sudah BBM mau naik, eeh.. harus terjebak macet yang tentu saja menghabis-habiskan BBM kendaraannya. Katanya menolak kenaikan BBM, tetapi malah menyebabkan pemborosan BBM. Ironis ya...

Saya sebenarnya cukup salut dengan mahasiswa yang mau berdemo, karena itu berarti mereka mau membela kepentingan rakyat dan tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga diiringi dengan tindakan. Saya sendiri belum pernah ikut demo jadi tidak begitu mengerti motivasi mahasiswa mengikuti demo. Selama demo itu dilakukan dengan damai, tertib, dan tidak mengganggu khayalak ramai, saya setuju dan mendukung. Tetapi jika sudah model-model menutup jalan, bakar ban, bahkan aksi anarkis, mendadak saya menjadi malu karena satu spesies dengan mereka-mereka yang demo itu :(.

Wahai mahasiswa... kalau kalian memang ingin membela rakyat, lakukanlah dengan cara yang bijak dan di tempat yang tepat, misalnya di depan gedung DPR. Jangan malah menyusahkan orang sehingga masyarakat menjadi memandang rendah dan tidak lagi respek dengan kalian. Berpikir dan bertindaklah seperti titel yang kalian sandang. Ingatlah, terutama untuk mahasiswa universitas negeri, rakyat jugalah yang membiayai pendidikan kalian. Kalau kalian demo anarkis dan merugikan masyarakat di sekitarnya, diibaratkan seperti bertamu ke rumah orang, sudah disuguhi makanan enak, minuman segar, tetapi malah mengotori rumah. Apa kalian tidak malu? Saya yang cuma melihat saja sudah malu :3.

Belajar yang rajin, organisasi yang giat, demo jika perlu, dengan santun, dan ketika sudah lulus, kembalikan ilmumu pada masyarakat dengan mengabdi. Sebagai apa saja, asal bermanfaat.
Sebaik-baik orang, adalah yang bermanfaat bagi orang lain :).
HIDUP MAHASISWA! :D

Jumat, 31 Mei 2013

Catatan Perjalanan: Dua Kota, Empat Gunung (Magelang-Temanggung) Part III (End)

Jam 9 pagi di Temanggung, angin bertiup semilir. Matahari sudah mulai menebarkan kehangatannya. Tiga motor terlihat berjalan pelan menyusuri jalan beraspal yang sempit, naik turun, dan berkelak-kelok. Ya, kami berlima sedang menempuh perjalanan mencari kitab suci.. ehm.. ke bukit galau maksudnya. Jalan yang kami lewati sungguh indah, banyak sawah, kebon, dan kebun sayur. Pokoknya jalur ini lebih galau dari jalan alternatif kemarin, bahkan lebih galau dari jalan di dekat Selokan Mataram. Jadi ini adalah jalur yang super duper galau. Sayangnya saya tidak sempat memotretnya, karena harus pegang setang motor.

Perjalanannya sendiri lumayan membuat deg-degan karena naiknya curam dan jalannya sempit, ditambah bolong-bolong. Meskipun demikian, kami berhasil sampai dengan selamat di tempat tujuan, yaitu puncak bukit. Saya sangat takjub begitu sampai disana, karena pemandangannya indah sekali. Dari atas bukit itu terlihat seluruh kota Temanggung. Gunung Sumbing berdiri kokoh, dikelilingi ladang-ladang yang belum ditanami. Para petani sedang menanam tembakau di ladang mereka. Banyak bunga indah tumbuh di puncak bukit itu. Cantik sekali. Sayangnya saat itu cuaca tidak terlalu cerah dan ada kabutnya sehingga pemandangan yang terlihat jadi kurang optimal. Tapi tidak apalah, saya tidak menyesal pernah berkunjung kesana :). Kami semua bergantian mengabadikan pemandangan di sekitar bukit. Tidak lupa mengabadikan diri-sendiri tentunya :p. Karena matahari mulai terasa menyengat, akhirnya kami turun. Sebelum pulang ke rumah, terlebih dulu kami semua mampir ke sawah, karena Febri ingin berfoto-foto ria di sana.

Setelah beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk main ke alun-alun Temanggung. Di siang hari, alun-alun ini relatif lebih sepi. Namun ada mainan anak-anak dan penjual-penjual makanannya lebih banyak. Kami memutari alun-alun untuk melihat tugu petani tembakau lebih dekat, kemudian duduk di salah satu stan penjual untuk menikamti es buah. Kebetulan yang jualan adalah tetangganya Hani. Tiba-tiba saja, jalan di sekitar alun-alun menjadi ramai oleh suara knalpot blombongan dan rombongan orang-orang berpakaian merah. Ternyata hari itu ada kampanye pilkada calon bupati Temanggung. Yang mendapat jatah hari Minggu itu adalah cabup dari PD*P. Acara minum es kami jadi sedikit terganggu dengan suara berisik motor yang meraung-raung. Tapi lumayan juga, bisa menonton kampanye dan perilaku orang-orang yang sedang mengikutinya. Ada yang memakai topeng monyet, motornya ditempelin selimut/anduk merah MU, bawa bendera gede-gede, bawa anak, bawa istri, bawa sekeluarga, bawa pacar, bahkan tante-tante ikut kampanye. Setelah es nya habis, kami kembali ke rumah Hani. Lagipula suara kampanye sudah begitu memekakkan telinga.

Di rumah Hani, kami semua berkemas, bersiap untuk pulang. Sebenarnya, kami semua kecuali saya baru akan pulang hari Senin. Febri, Tyas, Yuni, dan Hani berencana untuk menginap dulu di Magelang sebelum pulang ke Jogja jadi baru berencana pergi dari Temanggung setelah Dhuhur. Sedangkan saya mau pulang duluan ke Jogja hari Minggu karena Senin-nya ada observasi ke TK untuk tugas kelompok. Namun ternyata, Yuni dan Febri ingin ikut saya pulang ke Jogja hari Minggu ini sehingga yang nginep di Magelang tinggal Hani dan Tyas. Tentu saja mereka tidak mau jika hanya berdua. Akhirnya diputuskan kami pulang ke Jogja hari ini (Minggu) juga. Tetapi sebelumnya kami mampir ke rumah Tyas di Magelang dulu. Karena itu, kami memutuskan untuk berangkat ke Magelang pukul 11.

Saat pamitan pun tiba. Kami berpamitan dengan orang tua Hani, adiknya, serta Rembo dan Patty, kucing-kucing Hani. Ibunya Hani berpesan agar kami semua segera main lagi ke sana, dan waktunya yang lama karena akan diajak piknik kemana-mana. Saya mau sekali dengan tawaran ini :p. Setelah perpisahan yang mengharukan (lebai), kami kembali bermotor ria menuju Magelang. Perjalanannya tidak usah diceritakan, karena sama saja. Tetapi kali ini saya naik motor sendiri, dan rencananya begitu hingga sampai ke Jogja. Semoga saja saya tidak tepar, amin..

Sebelum ke rumah Tyas, kami mampir dulu di alun-alun Magelang. Biasalah, foto-foto dulu, karena alun-alunnya memang keren. Padahal saat itu sudah tengah hari, panas menyengat sampai ubun-ubun. Kami berfoto di tulisan "Magelang" besar-besar, di nol kilometer Kota Magelang, klenteng, dan di depan patung Pangeran Diponegoro. Setelah puas, barulah kami ke rumah Tyas yang ternyata tidak begitu jauh dari Artos. Di samping rumahnya ada lapangan yang saat itu sedang dipakai untuk pertunjukan lumba-lumba. Masuk ke dalam rumah Tyas, kami langsung disambut oleh orang tuanya dan disuguhi bakso yang enak sekali. Selesai makan bakso, kami memindah foto-foto ke laptop sambil cekikan mengenang saat ketika foto itu diambil :').

Semua foto sudah aman tersimpan di flash disk, tujuan berikutnya adalah kamar Tyas untuk tidur-tiduran. Entah setan apa yang meniup-niup, atau memang saat itu sedang hujan sehingga hawanya enak sekali, kami semua tertidur, dan baru terbangun pukul empat sore. Kecuali Tyas, karena saat itu ia sedang sibuk mengerjakan laporan tes Rorschach. Sebelum kembali ke Jogja, kami berkemas dan menyelesaikan urusan yang belum selesai. Pukul 5 sore, kami semua bertolak menuju ke Jogja. Tetapi kami lebih dulu mampir ke toko pulsa dan toko oleh-oleh di jalan raya depan rumah Tyas. Saya membeli moaci dan getuk trio untuk buah tangan bagi orang-orang tercinta yang menunggu di rumah.

Perjalanan pulang dilewati tanpa kejadian yang luar biasa, kecuali ketika sampai di Muntilan. Kami sempat terjebak hujan deras dua kali sehingga mengakibatkan perjalanan Magelang-Jogja yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam, molor menjadi 2 jam lebih. Padahal di Kota Magelang hujan sudah reda dan di Jogja tidak turun hujan. Seharusnya bukan hanya Bogor yang dijuluki kota hujan, Muntilan juga pantas mendapat predikat itu -_-. Selanjutnya, sisa perjalanan dari Muntilan ke Jogja dilalui dengan lancar jaya tidak kurang suatu apa. Akhirnya, sampailah saya di rumah tercinta. Alhamdulillah. Badan saya pegal-pegal dan sedikit kedinginan karena basah, tetapi saya senang sekali. Semoga lain kali saya dapat melakukan perjalanan menyenangkan seperti ini, karena terus terang saja, saya ketagihan :3. Terima kasih atas kesabarannya dalam membaca tulisan ini, sampai jumpa di perjalanan saya selanjutnya :D.

Berikut persembahan terakhir foto-foto perjalanan saya kali ini:

bunga kuning di puncak bukit

dari atas bukit 


sayang gunungnya tidak kelihatan :(
 ini juga dari puncak bukit

sweet hanii ;) 

es buah ala temanggung 

kampanye 

rumah hani 

rembo 

alun-alun Magelang

nol kilometer Magelang

klenteng Magelang 

plang nama jalan di selatan alun-alun Magelang 

di depan sang pangeran 

bakso Magelang enak

Catatan Perjalanan: Dua Kota, Empat Gunung (Magelang-Temanggung) Part II

Hujan gerimis mengiringi laju mobil berpenumpang 7 orang, kami berlima ditambah ibu dan omnya Hani sebagai supir. Sepanjang jalan, terlihat kabut yang turun menyelimuti ladang-ladang. Hani menyesalkan keadaan itu karena katanya kalau cuaca sedang cerah, Gunung Sumbing dapat kelihatan jelas. Bagiku tidak masalah, pemandangannya sudah indah. Kami melewati jalan beraspal yang agak sempit dan berliku-liku, bahkan sebuah tempat angker bernama Bendo Peri, yang katanya banyak peri berbaju merah dan sebagai tempat mencari pesugihan. Hii, tempatnya gelap sekali, seram. Dalam hati saya bersyukur tidak jadi bawa motor sendiri. Selama perjalanan, seperti biasa kami melakukan foto-foto narsis layaknya sedang photo box.

Sampailah kami di sebuah rumah dengan gudang tembakau di sampingnya. Perlu diketahui, Temanggung merupakan daerah penghasil tembakau yang ternama. Begitu turun, kami langsung disambut oleh tantenya Hani dan saudara-saudaranya. Sepertinya keluarga Hani ramah semua orangnya. Kamipun segera digiring menuju kolam ikan yang terletak di belakang rumah. Tetapi sampai disana, kami bukannya memancing, malah foto-foto di sawah yang diselimuti kabut (kereeen). Setelah puas foto-foto, barulah kami mau pegang pancing. Tetapi dapat ikan di situ luar biasa sulitnya. Menunggu lama sampai jongkok-jongkok juga tidak dapat. Ternyata yang dapat ikan malah oomnya Hani. Ikan yang malang itu kemudian kami salahgunakan untuk (lagi-lagi) berfoto ala mancing mania mantab.

penyalahgunaan terhadap ikan

Bosan memancing, kami semua pergi ke dapur. Ternyata tantenya Hani sudah menyiapkan ikan yang tinggal dibakar :o. Akhirnya kami semua membakar ikan di dapur, dengan wajan teflon yang bisa dibolak-balik. Masak-masakan selesai saat Maghrib, tinggal dinikmati. Namun sebelumnya saya keluar dulu karena kabutnya agak menipis. Niatnya mau melihat gunung di malam hari. Gunungnya memang terlihat, tapi hanya sebagian bawahnya. Cantik sekali, dengan nyala lampu berkelip-kelip di kaki gunung. Sayang kabutnya belum hilang.

Setelah sholat Maghrib, kami mulai menyantap hidangan ikan bakar, lengkap dengan lalapan, sambel, ditambah buah semangka pencuci mulut. Belum habis ikannya, Omnya Hani tiba dengan membawa gule tengkleng kambing khas Temanggung. Rasanya enak sekali, kenyil-kenyil gimana gitu, sehingga saya makannya lumayan banyak. Akibatnya badan terasa panas dan agak pusing-pusing, mungkin karena tekanan darah naik. Padahal saya ini tekanan darahnya rendah. Puas makan, kami ke dapur dan mencuci  piring bekas makan, kemudian pamit pulang ke rumah Hani.

Sampai di rumah Hani, kami mandi-mandi dulu. Badan rasanya lengket karena belum mandi dari sore dan perjalanan jauh. Padahal air di Temanggung malam-malam dingin sekali, seperti dimasukkan lemari es :/. Selesai mandi, kami semua pergi ke alun-alun untuk jalan-jalan dan membeli martabak manis. Wow, ternyata alun-alun Temanggung ada kabutnya, lumayan tebal pula. Baru kali ini saya lihat alun-alun berkabut. Disana kami foto-foto dengan menggunakan lampu, dibuat seolah-olah sedang kamehameha. Hasilnya lucu sekali. Sayangnya di alun-alun banyak pemuda alay yang suka menggoda pemudi, jadi kami merasa risih dan memutuskan pergi saja.

kamehameha! 


ini bukan prewed lho ya :3

Sebelum pulang, kami membeli martabak manis alias terang bulan dulu karena Yuni sedang ngidam ingin makan makanan itu. Pak penjualnya mangkal di sebelah barat alun-alun, dekat rutan Temanggung. Martabak manis sudah matang, kamipun kembali ke rumah Hani. Sampai di rumahnya, Hani dan Yuni langsung tiduran karena lelah, sementara saya, Tyas, dan Febri main Uno yang sengaja saya bawa dari Jogja. Ketika sedang asyik main Uno, ibunya Hani masuk membawa teh panas, gorengan, dan nasi kucing. Padahal martabak manisnya belum habis, dan kami masih kenyang sekali. Akhirnya sebelum tidur, kami makan dulu sebagian makanannya. Kami para tamu, empat orang tidur dalam satu kasur, desak-desakan seperti pindang :3. Saya segera tertidur karena kecapekan, tetapi masih sempat mendengar Tyas mengobrol dengan Oyol di telpon :").

Pukul 5 pagi saya bangun. Tumben, karena di Jogja jarang sekali bisa bangun jam segitu :p. Hari ini kami semua merencanakan untuk jalan-jalan ke sebuah bukit yang disebut "Bukit Cinta" oleh Hani dan "Bukit Galau" oleh ibunya. Setelah mandi, dandan cantik, dan sarapan, kami berangkat naik motor bersama-sama. Tyas dan Yuni sempat ketinggalan karena Hani sang penunjuk jalan naik motornya seperti pembalap. Beruntung mereka dapat ditemukan dan belum tersesat di Temanggung. Kamipun berangkat dengan riang gembira, menuju ke Bukit Galau pada pukul 9 pagi. Apa itu Bukit Galau? Apa yang kami lakukan disana? Apa yang selanjutnya terjadi pada kami semua? Nantikan lanjutan ceritanya di Part III!! :3.

foto di sawah 







lagi mancing 

gunung sumbing malam itu 

mari makan :9 

Alun-Alun Temanggung 

martabak manis