Kehidupan kami dimulai ketika terdengar ketukan pintu dari luar, suara yang memanggil-manggil, dan suara itu tidak akan berhenti sampai salah satu dari kami menyahut. Suara seseorang yang sangat baik, yang tulus melakukannya meskipun kami tidak meminta secara langsung. Suara milik seseorang yang rela menempuh perjalanan menembus udara pagi yang dingin, tepat jam 4 pagi, saat bulan Ramadhan. Suara itu tidak lain adalah milik bapak semang kami, Pak Slamet. Beliau rela menahan bekunya udara Turi di pagi hari untuk membangunkan dan membuat kami selalu makan sahur. Saya yakin, apabila kami harus memasak sendiri, kami tidak akan makan sahur setiap hari.
Kehidupan kami di masa KKN dapat dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase Ramadhan dan bukan Ramadhan. Pada saat puasa, kami bangun pukul 4 pagi untuk sahur. Kami tidak melaksanakan makan sahur di pondokan, tetapi pindah ke rumah Pak Slamet yang masih satu halaman dengan pondokan kami. Sampai di sana, kami biasanya sudah disambut dengan karpet yang tergelar dan makanan yang terhidang, nasi, sayur, lengkap dengan lauk pauk. Tujuh gelas teh panas dan sebuah teko plastik berisi air putih hangat. Kami makan sambil menonton TV, biasanya menonton YKS yang ada goyang caesar-nya. Setelah makan, yang kebagian jatah piket akan mencuci piring dan gelas di sumur yang dinginnya minta ampun. Kemudian kami akan pontang-panting ke masjid untuk mengikuti sholat Subuh dan pasti jadi makmum masbuk. Sebenarnya apapun sholatnya, kami selalu masbuk, padahal jarak pondokan dengan masjid sangat dekat.
Setelah sholat Subuh, biasanya kami semua akan tidur lagi. Sekitar pukul 6 pagi, orang yang mendapat jatah piket biasanya akan bangun dulu untuk menyapu halaman depan pondokan. Kami memang memiliki jatah piket, setiap hari ada 2 orang yang harus piket, tugas-tugasnya mencuci piring, menyapu halaman, dan menyapu pondokan. Setelah selesai menyapu halaman, biasanya tidur dilanjutkan sampai jam 9. Kalau ada program kami akan bangun lebih pagi, kalau sedang kecapekan (contohnya tadi malam nonton film sampai jam 1), kami bisa bangun lebih siang. Kalau soal mandi, jangan ditanyakan lagi, kami minimal mandi jam 10 pagi kalau sedang tidak kemana-mana. Bahkan pernah kami semua mandi pukul 12 siang. Saat mandi, biasanya saya selalu berteriak-teriak saking dinginnya. Lebih heboh lagi kalau di kamar mandi sebelah ada Maya, kami berdua saling menanyakan keadaan dan berteriak bareng, menimbulkan paduan suara. Kadang-kadang saat mandi dijadikan ajang curhat, karena kamar mandinya bersebelahan dan kalau sedang mandi biasanya teman-teman lain menunggu di pondokan sehingga kondisinya lumayan ideal untuk curhat mengenai teman sepondokan.
Hal lain yang biasa kami lakukan jam segitu adalah mencuci pakaian. Cowok-cowok mencuci sendirian dan bergantian, sementara cewek-cewek lebih sering mencuci bareng. Bahkan kami pernah mencuci bertiga sekaligus. Selain mencuci, kami juga bersih-bersih pondokan, apalagi kalau pondokan sudah mulai terlihat berantakan. Pada jam pulang sekolah, anak-anak sekitar suka bermain di halaman depan pondokan dan di dalam pondokan. Kalau tidak ada program, kami akan meladeni mereka sampai capek sendiri. Siang hari (kalau berhasil mengusir anak-anak keluar) kami tidur siang sampai sore menjelang. Setelah Ashar, kami, atau lebih seringnya beberapa dari kami berangkat ke masjid untuk ikut mengajar TPA. Kemudian takjilan di masjid bersama pemuda/i masjid dan anak-anak TPA, snack, minum, plus makan. Lengkap pokoknya. Belum lagi teh dan penganan yang selalu disediakan Bu Karsini, istri Pak Slamet di pondokan. Setelah itu dilanjutkan sholat Maghrib, tadarus bersama di pondokan, barulah sholat Tarawih. Pulang Tarawih, di rumah Pak Slamet sudah tersedia makan malam. Pantas saja setelah pulang KKN badan saya menggendut. Kadang kalau sedang ingin jajan atau melarikan diri dari TPA, kami buka bersama di luar. Makan-makan bareng di slenget enthok, mbakso, atau nyate, dan baru pulang menjelang atau setelah sholat tarawih.
Seusai tarawih, masjid dusun kami menyelenggarakan tadarus Al-Quran. Saya hanya pernah ikut beberapa kali saja, karena tidak kuat dengan dingin dan ngantuknya. Sedangkan Mukhlis dan Memey ikut hampir setiap malam, kecuali kalau ada program atau sedang balik. Bahkan mereka ikut i'tikaf di masjid. Kereen. Kami yang lain menghabiskan malam dengan nonton film dan mengobrol, menunggu Mukhlis dan Memey pulang. Ada lagi ritual malam yang sering kami lakukan saat sedang lapar berjamaah, yaitu membuat indomie. Di pondokan ada sebuah kompor gas yang dipinjamkan Pak Slamet. Dengan itu, beberapa bungkus indomi yang dibeli salah satu dari kami saat turun, cabe rawit, sawi hijau, dan kadang-kadang telur, kami membuat pesta kecil sendiri. Makan mie panas bersama-sama dan saling mencicipi mie milik teman, sambil ngobrol atau nonton film. Biasanya kami semua baru akan tidur tengah malam, setelah lelah dengan bergam "pesta" yang kami adakan sendiri.
Saat bukan bulan Ramadhan, inti kegiatan sehari-hari kami sebenarnya sama saja. Hanya bangun setelah sholah Subuhnya saja yang berbeda, yaitu pukul 7 pagi, kalau piket pukul 6 pagi. Walaupun sudah diundur bangun paginya, tetap saja Pak Slamet harus mengetok-ngetok pintu saat tiba waktu sarapan. Memang super kebo para mahasiswa ini. Selanjutnya sisa hari berjalan seperti biasa, minus takjilan dan sholat tarawih, TPA juga libur setelah lebaran. Perbedaan lain, ada makan siang dan tidak ada lagi cuci piring sebelum Subuh.
Tempat KKN kami tidak jauh dari Kota Jogja, karena itu kami sering pulang, baik ke rumah maupun ke kosan. Minimal seminggu sekali, salah satu dari kami pasti akan meninggalkan pondokan. Alasannya beragam, mulai dari mengurus program, ada acara di rumah, buka bareng teman, mau bertemu dengan seseorang, futsalan, mau membeli barang, sampai karena tidak mau ditinggal temannya yang sedang turun (lho?). Selalu menyenangkan bisa melepaskan diri sejenak dari dinginnya udara di lereng Merapi. Tetapi ketika sedang turun, saya selalu kepikiran dengan pondokan dan teman-teman yang tinggal di atas. Bahkan pernah saat sedang menginap semalam di rumah, saya mengalami disorientasi ketika baru bangun tidur. Kaget dan heran, ketika mendapati saya tidur sendiri, di kamar yang berbeda, dengan perabot yang berbeda, dan tanpa keberadaan dua, atau enam manusia lain di samping saya. Ternyata saya bisa juga merasa betah pada sebuah tempat yang mulanya saya anggap sebagai "neraka yang dingin".
Itulah gambaran kehidupan sehari-hari kami sewaktu KKN. Santai, jauh lebih santai daripada yang berani saya kira. Mungkin kami tidak terlalu serius, atau apalah, tetapi yang jelas setiap detik di sana meninggalkan kenangan tersendiri. Kalau saya ingat saat sebelum dan pertama kali datang, yang sempat merasa takut tentang bagaimana saya harus menjalani hidup, rasanya sangat lucu, karena semuanya tidak seperti yang pernah saya takutkan, atau harapkan, terjadi. Semuanya jauh, jauh lebih menyenangkan. Memang kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam sebuah kolam, seberapa dingin airnya, dan seberapa dalamnya, sampai kaki kita sendiri masuk ke kolam itu :).
Kehidupan kami di masa KKN dapat dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase Ramadhan dan bukan Ramadhan. Pada saat puasa, kami bangun pukul 4 pagi untuk sahur. Kami tidak melaksanakan makan sahur di pondokan, tetapi pindah ke rumah Pak Slamet yang masih satu halaman dengan pondokan kami. Sampai di sana, kami biasanya sudah disambut dengan karpet yang tergelar dan makanan yang terhidang, nasi, sayur, lengkap dengan lauk pauk. Tujuh gelas teh panas dan sebuah teko plastik berisi air putih hangat. Kami makan sambil menonton TV, biasanya menonton YKS yang ada goyang caesar-nya. Setelah makan, yang kebagian jatah piket akan mencuci piring dan gelas di sumur yang dinginnya minta ampun. Kemudian kami akan pontang-panting ke masjid untuk mengikuti sholat Subuh dan pasti jadi makmum masbuk. Sebenarnya apapun sholatnya, kami selalu masbuk, padahal jarak pondokan dengan masjid sangat dekat.
Setelah sholat Subuh, biasanya kami semua akan tidur lagi. Sekitar pukul 6 pagi, orang yang mendapat jatah piket biasanya akan bangun dulu untuk menyapu halaman depan pondokan. Kami memang memiliki jatah piket, setiap hari ada 2 orang yang harus piket, tugas-tugasnya mencuci piring, menyapu halaman, dan menyapu pondokan. Setelah selesai menyapu halaman, biasanya tidur dilanjutkan sampai jam 9. Kalau ada program kami akan bangun lebih pagi, kalau sedang kecapekan (contohnya tadi malam nonton film sampai jam 1), kami bisa bangun lebih siang. Kalau soal mandi, jangan ditanyakan lagi, kami minimal mandi jam 10 pagi kalau sedang tidak kemana-mana. Bahkan pernah kami semua mandi pukul 12 siang. Saat mandi, biasanya saya selalu berteriak-teriak saking dinginnya. Lebih heboh lagi kalau di kamar mandi sebelah ada Maya, kami berdua saling menanyakan keadaan dan berteriak bareng, menimbulkan paduan suara. Kadang-kadang saat mandi dijadikan ajang curhat, karena kamar mandinya bersebelahan dan kalau sedang mandi biasanya teman-teman lain menunggu di pondokan sehingga kondisinya lumayan ideal untuk curhat mengenai teman sepondokan.
Hal lain yang biasa kami lakukan jam segitu adalah mencuci pakaian. Cowok-cowok mencuci sendirian dan bergantian, sementara cewek-cewek lebih sering mencuci bareng. Bahkan kami pernah mencuci bertiga sekaligus. Selain mencuci, kami juga bersih-bersih pondokan, apalagi kalau pondokan sudah mulai terlihat berantakan. Pada jam pulang sekolah, anak-anak sekitar suka bermain di halaman depan pondokan dan di dalam pondokan. Kalau tidak ada program, kami akan meladeni mereka sampai capek sendiri. Siang hari (kalau berhasil mengusir anak-anak keluar) kami tidur siang sampai sore menjelang. Setelah Ashar, kami, atau lebih seringnya beberapa dari kami berangkat ke masjid untuk ikut mengajar TPA. Kemudian takjilan di masjid bersama pemuda/i masjid dan anak-anak TPA, snack, minum, plus makan. Lengkap pokoknya. Belum lagi teh dan penganan yang selalu disediakan Bu Karsini, istri Pak Slamet di pondokan. Setelah itu dilanjutkan sholat Maghrib, tadarus bersama di pondokan, barulah sholat Tarawih. Pulang Tarawih, di rumah Pak Slamet sudah tersedia makan malam. Pantas saja setelah pulang KKN badan saya menggendut. Kadang kalau sedang ingin jajan atau melarikan diri dari TPA, kami buka bersama di luar. Makan-makan bareng di slenget enthok, mbakso, atau nyate, dan baru pulang menjelang atau setelah sholat tarawih.
Seusai tarawih, masjid dusun kami menyelenggarakan tadarus Al-Quran. Saya hanya pernah ikut beberapa kali saja, karena tidak kuat dengan dingin dan ngantuknya. Sedangkan Mukhlis dan Memey ikut hampir setiap malam, kecuali kalau ada program atau sedang balik. Bahkan mereka ikut i'tikaf di masjid. Kereen. Kami yang lain menghabiskan malam dengan nonton film dan mengobrol, menunggu Mukhlis dan Memey pulang. Ada lagi ritual malam yang sering kami lakukan saat sedang lapar berjamaah, yaitu membuat indomie. Di pondokan ada sebuah kompor gas yang dipinjamkan Pak Slamet. Dengan itu, beberapa bungkus indomi yang dibeli salah satu dari kami saat turun, cabe rawit, sawi hijau, dan kadang-kadang telur, kami membuat pesta kecil sendiri. Makan mie panas bersama-sama dan saling mencicipi mie milik teman, sambil ngobrol atau nonton film. Biasanya kami semua baru akan tidur tengah malam, setelah lelah dengan bergam "pesta" yang kami adakan sendiri.
Saat bukan bulan Ramadhan, inti kegiatan sehari-hari kami sebenarnya sama saja. Hanya bangun setelah sholah Subuhnya saja yang berbeda, yaitu pukul 7 pagi, kalau piket pukul 6 pagi. Walaupun sudah diundur bangun paginya, tetap saja Pak Slamet harus mengetok-ngetok pintu saat tiba waktu sarapan. Memang super kebo para mahasiswa ini. Selanjutnya sisa hari berjalan seperti biasa, minus takjilan dan sholat tarawih, TPA juga libur setelah lebaran. Perbedaan lain, ada makan siang dan tidak ada lagi cuci piring sebelum Subuh.
Tempat KKN kami tidak jauh dari Kota Jogja, karena itu kami sering pulang, baik ke rumah maupun ke kosan. Minimal seminggu sekali, salah satu dari kami pasti akan meninggalkan pondokan. Alasannya beragam, mulai dari mengurus program, ada acara di rumah, buka bareng teman, mau bertemu dengan seseorang, futsalan, mau membeli barang, sampai karena tidak mau ditinggal temannya yang sedang turun (lho?). Selalu menyenangkan bisa melepaskan diri sejenak dari dinginnya udara di lereng Merapi. Tetapi ketika sedang turun, saya selalu kepikiran dengan pondokan dan teman-teman yang tinggal di atas. Bahkan pernah saat sedang menginap semalam di rumah, saya mengalami disorientasi ketika baru bangun tidur. Kaget dan heran, ketika mendapati saya tidur sendiri, di kamar yang berbeda, dengan perabot yang berbeda, dan tanpa keberadaan dua, atau enam manusia lain di samping saya. Ternyata saya bisa juga merasa betah pada sebuah tempat yang mulanya saya anggap sebagai "neraka yang dingin".
Itulah gambaran kehidupan sehari-hari kami sewaktu KKN. Santai, jauh lebih santai daripada yang berani saya kira. Mungkin kami tidak terlalu serius, atau apalah, tetapi yang jelas setiap detik di sana meninggalkan kenangan tersendiri. Kalau saya ingat saat sebelum dan pertama kali datang, yang sempat merasa takut tentang bagaimana saya harus menjalani hidup, rasanya sangat lucu, karena semuanya tidak seperti yang pernah saya takutkan, atau harapkan, terjadi. Semuanya jauh, jauh lebih menyenangkan. Memang kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam sebuah kolam, seberapa dingin airnya, dan seberapa dalamnya, sampai kaki kita sendiri masuk ke kolam itu :).

