Pages

Jumat, 31 Mei 2013

Catatan Perjalanan: Dua Kota, Empat Gunung (Magelang-Temanggung) Part III (End)

Jam 9 pagi di Temanggung, angin bertiup semilir. Matahari sudah mulai menebarkan kehangatannya. Tiga motor terlihat berjalan pelan menyusuri jalan beraspal yang sempit, naik turun, dan berkelak-kelok. Ya, kami berlima sedang menempuh perjalanan mencari kitab suci.. ehm.. ke bukit galau maksudnya. Jalan yang kami lewati sungguh indah, banyak sawah, kebon, dan kebun sayur. Pokoknya jalur ini lebih galau dari jalan alternatif kemarin, bahkan lebih galau dari jalan di dekat Selokan Mataram. Jadi ini adalah jalur yang super duper galau. Sayangnya saya tidak sempat memotretnya, karena harus pegang setang motor.

Perjalanannya sendiri lumayan membuat deg-degan karena naiknya curam dan jalannya sempit, ditambah bolong-bolong. Meskipun demikian, kami berhasil sampai dengan selamat di tempat tujuan, yaitu puncak bukit. Saya sangat takjub begitu sampai disana, karena pemandangannya indah sekali. Dari atas bukit itu terlihat seluruh kota Temanggung. Gunung Sumbing berdiri kokoh, dikelilingi ladang-ladang yang belum ditanami. Para petani sedang menanam tembakau di ladang mereka. Banyak bunga indah tumbuh di puncak bukit itu. Cantik sekali. Sayangnya saat itu cuaca tidak terlalu cerah dan ada kabutnya sehingga pemandangan yang terlihat jadi kurang optimal. Tapi tidak apalah, saya tidak menyesal pernah berkunjung kesana :). Kami semua bergantian mengabadikan pemandangan di sekitar bukit. Tidak lupa mengabadikan diri-sendiri tentunya :p. Karena matahari mulai terasa menyengat, akhirnya kami turun. Sebelum pulang ke rumah, terlebih dulu kami semua mampir ke sawah, karena Febri ingin berfoto-foto ria di sana.

Setelah beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk main ke alun-alun Temanggung. Di siang hari, alun-alun ini relatif lebih sepi. Namun ada mainan anak-anak dan penjual-penjual makanannya lebih banyak. Kami memutari alun-alun untuk melihat tugu petani tembakau lebih dekat, kemudian duduk di salah satu stan penjual untuk menikamti es buah. Kebetulan yang jualan adalah tetangganya Hani. Tiba-tiba saja, jalan di sekitar alun-alun menjadi ramai oleh suara knalpot blombongan dan rombongan orang-orang berpakaian merah. Ternyata hari itu ada kampanye pilkada calon bupati Temanggung. Yang mendapat jatah hari Minggu itu adalah cabup dari PD*P. Acara minum es kami jadi sedikit terganggu dengan suara berisik motor yang meraung-raung. Tapi lumayan juga, bisa menonton kampanye dan perilaku orang-orang yang sedang mengikutinya. Ada yang memakai topeng monyet, motornya ditempelin selimut/anduk merah MU, bawa bendera gede-gede, bawa anak, bawa istri, bawa sekeluarga, bawa pacar, bahkan tante-tante ikut kampanye. Setelah es nya habis, kami kembali ke rumah Hani. Lagipula suara kampanye sudah begitu memekakkan telinga.

Di rumah Hani, kami semua berkemas, bersiap untuk pulang. Sebenarnya, kami semua kecuali saya baru akan pulang hari Senin. Febri, Tyas, Yuni, dan Hani berencana untuk menginap dulu di Magelang sebelum pulang ke Jogja jadi baru berencana pergi dari Temanggung setelah Dhuhur. Sedangkan saya mau pulang duluan ke Jogja hari Minggu karena Senin-nya ada observasi ke TK untuk tugas kelompok. Namun ternyata, Yuni dan Febri ingin ikut saya pulang ke Jogja hari Minggu ini sehingga yang nginep di Magelang tinggal Hani dan Tyas. Tentu saja mereka tidak mau jika hanya berdua. Akhirnya diputuskan kami pulang ke Jogja hari ini (Minggu) juga. Tetapi sebelumnya kami mampir ke rumah Tyas di Magelang dulu. Karena itu, kami memutuskan untuk berangkat ke Magelang pukul 11.

Saat pamitan pun tiba. Kami berpamitan dengan orang tua Hani, adiknya, serta Rembo dan Patty, kucing-kucing Hani. Ibunya Hani berpesan agar kami semua segera main lagi ke sana, dan waktunya yang lama karena akan diajak piknik kemana-mana. Saya mau sekali dengan tawaran ini :p. Setelah perpisahan yang mengharukan (lebai), kami kembali bermotor ria menuju Magelang. Perjalanannya tidak usah diceritakan, karena sama saja. Tetapi kali ini saya naik motor sendiri, dan rencananya begitu hingga sampai ke Jogja. Semoga saja saya tidak tepar, amin..

Sebelum ke rumah Tyas, kami mampir dulu di alun-alun Magelang. Biasalah, foto-foto dulu, karena alun-alunnya memang keren. Padahal saat itu sudah tengah hari, panas menyengat sampai ubun-ubun. Kami berfoto di tulisan "Magelang" besar-besar, di nol kilometer Kota Magelang, klenteng, dan di depan patung Pangeran Diponegoro. Setelah puas, barulah kami ke rumah Tyas yang ternyata tidak begitu jauh dari Artos. Di samping rumahnya ada lapangan yang saat itu sedang dipakai untuk pertunjukan lumba-lumba. Masuk ke dalam rumah Tyas, kami langsung disambut oleh orang tuanya dan disuguhi bakso yang enak sekali. Selesai makan bakso, kami memindah foto-foto ke laptop sambil cekikan mengenang saat ketika foto itu diambil :').

Semua foto sudah aman tersimpan di flash disk, tujuan berikutnya adalah kamar Tyas untuk tidur-tiduran. Entah setan apa yang meniup-niup, atau memang saat itu sedang hujan sehingga hawanya enak sekali, kami semua tertidur, dan baru terbangun pukul empat sore. Kecuali Tyas, karena saat itu ia sedang sibuk mengerjakan laporan tes Rorschach. Sebelum kembali ke Jogja, kami berkemas dan menyelesaikan urusan yang belum selesai. Pukul 5 sore, kami semua bertolak menuju ke Jogja. Tetapi kami lebih dulu mampir ke toko pulsa dan toko oleh-oleh di jalan raya depan rumah Tyas. Saya membeli moaci dan getuk trio untuk buah tangan bagi orang-orang tercinta yang menunggu di rumah.

Perjalanan pulang dilewati tanpa kejadian yang luar biasa, kecuali ketika sampai di Muntilan. Kami sempat terjebak hujan deras dua kali sehingga mengakibatkan perjalanan Magelang-Jogja yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam, molor menjadi 2 jam lebih. Padahal di Kota Magelang hujan sudah reda dan di Jogja tidak turun hujan. Seharusnya bukan hanya Bogor yang dijuluki kota hujan, Muntilan juga pantas mendapat predikat itu -_-. Selanjutnya, sisa perjalanan dari Muntilan ke Jogja dilalui dengan lancar jaya tidak kurang suatu apa. Akhirnya, sampailah saya di rumah tercinta. Alhamdulillah. Badan saya pegal-pegal dan sedikit kedinginan karena basah, tetapi saya senang sekali. Semoga lain kali saya dapat melakukan perjalanan menyenangkan seperti ini, karena terus terang saja, saya ketagihan :3. Terima kasih atas kesabarannya dalam membaca tulisan ini, sampai jumpa di perjalanan saya selanjutnya :D.

Berikut persembahan terakhir foto-foto perjalanan saya kali ini:

bunga kuning di puncak bukit

dari atas bukit 


sayang gunungnya tidak kelihatan :(
 ini juga dari puncak bukit

sweet hanii ;) 

es buah ala temanggung 

kampanye 

rumah hani 

rembo 

alun-alun Magelang

nol kilometer Magelang

klenteng Magelang 

plang nama jalan di selatan alun-alun Magelang 

di depan sang pangeran 

bakso Magelang enak

Catatan Perjalanan: Dua Kota, Empat Gunung (Magelang-Temanggung) Part II

Hujan gerimis mengiringi laju mobil berpenumpang 7 orang, kami berlima ditambah ibu dan omnya Hani sebagai supir. Sepanjang jalan, terlihat kabut yang turun menyelimuti ladang-ladang. Hani menyesalkan keadaan itu karena katanya kalau cuaca sedang cerah, Gunung Sumbing dapat kelihatan jelas. Bagiku tidak masalah, pemandangannya sudah indah. Kami melewati jalan beraspal yang agak sempit dan berliku-liku, bahkan sebuah tempat angker bernama Bendo Peri, yang katanya banyak peri berbaju merah dan sebagai tempat mencari pesugihan. Hii, tempatnya gelap sekali, seram. Dalam hati saya bersyukur tidak jadi bawa motor sendiri. Selama perjalanan, seperti biasa kami melakukan foto-foto narsis layaknya sedang photo box.

Sampailah kami di sebuah rumah dengan gudang tembakau di sampingnya. Perlu diketahui, Temanggung merupakan daerah penghasil tembakau yang ternama. Begitu turun, kami langsung disambut oleh tantenya Hani dan saudara-saudaranya. Sepertinya keluarga Hani ramah semua orangnya. Kamipun segera digiring menuju kolam ikan yang terletak di belakang rumah. Tetapi sampai disana, kami bukannya memancing, malah foto-foto di sawah yang diselimuti kabut (kereeen). Setelah puas foto-foto, barulah kami mau pegang pancing. Tetapi dapat ikan di situ luar biasa sulitnya. Menunggu lama sampai jongkok-jongkok juga tidak dapat. Ternyata yang dapat ikan malah oomnya Hani. Ikan yang malang itu kemudian kami salahgunakan untuk (lagi-lagi) berfoto ala mancing mania mantab.

penyalahgunaan terhadap ikan

Bosan memancing, kami semua pergi ke dapur. Ternyata tantenya Hani sudah menyiapkan ikan yang tinggal dibakar :o. Akhirnya kami semua membakar ikan di dapur, dengan wajan teflon yang bisa dibolak-balik. Masak-masakan selesai saat Maghrib, tinggal dinikmati. Namun sebelumnya saya keluar dulu karena kabutnya agak menipis. Niatnya mau melihat gunung di malam hari. Gunungnya memang terlihat, tapi hanya sebagian bawahnya. Cantik sekali, dengan nyala lampu berkelip-kelip di kaki gunung. Sayang kabutnya belum hilang.

Setelah sholat Maghrib, kami mulai menyantap hidangan ikan bakar, lengkap dengan lalapan, sambel, ditambah buah semangka pencuci mulut. Belum habis ikannya, Omnya Hani tiba dengan membawa gule tengkleng kambing khas Temanggung. Rasanya enak sekali, kenyil-kenyil gimana gitu, sehingga saya makannya lumayan banyak. Akibatnya badan terasa panas dan agak pusing-pusing, mungkin karena tekanan darah naik. Padahal saya ini tekanan darahnya rendah. Puas makan, kami ke dapur dan mencuci  piring bekas makan, kemudian pamit pulang ke rumah Hani.

Sampai di rumah Hani, kami mandi-mandi dulu. Badan rasanya lengket karena belum mandi dari sore dan perjalanan jauh. Padahal air di Temanggung malam-malam dingin sekali, seperti dimasukkan lemari es :/. Selesai mandi, kami semua pergi ke alun-alun untuk jalan-jalan dan membeli martabak manis. Wow, ternyata alun-alun Temanggung ada kabutnya, lumayan tebal pula. Baru kali ini saya lihat alun-alun berkabut. Disana kami foto-foto dengan menggunakan lampu, dibuat seolah-olah sedang kamehameha. Hasilnya lucu sekali. Sayangnya di alun-alun banyak pemuda alay yang suka menggoda pemudi, jadi kami merasa risih dan memutuskan pergi saja.

kamehameha! 


ini bukan prewed lho ya :3

Sebelum pulang, kami membeli martabak manis alias terang bulan dulu karena Yuni sedang ngidam ingin makan makanan itu. Pak penjualnya mangkal di sebelah barat alun-alun, dekat rutan Temanggung. Martabak manis sudah matang, kamipun kembali ke rumah Hani. Sampai di rumahnya, Hani dan Yuni langsung tiduran karena lelah, sementara saya, Tyas, dan Febri main Uno yang sengaja saya bawa dari Jogja. Ketika sedang asyik main Uno, ibunya Hani masuk membawa teh panas, gorengan, dan nasi kucing. Padahal martabak manisnya belum habis, dan kami masih kenyang sekali. Akhirnya sebelum tidur, kami makan dulu sebagian makanannya. Kami para tamu, empat orang tidur dalam satu kasur, desak-desakan seperti pindang :3. Saya segera tertidur karena kecapekan, tetapi masih sempat mendengar Tyas mengobrol dengan Oyol di telpon :").

Pukul 5 pagi saya bangun. Tumben, karena di Jogja jarang sekali bisa bangun jam segitu :p. Hari ini kami semua merencanakan untuk jalan-jalan ke sebuah bukit yang disebut "Bukit Cinta" oleh Hani dan "Bukit Galau" oleh ibunya. Setelah mandi, dandan cantik, dan sarapan, kami berangkat naik motor bersama-sama. Tyas dan Yuni sempat ketinggalan karena Hani sang penunjuk jalan naik motornya seperti pembalap. Beruntung mereka dapat ditemukan dan belum tersesat di Temanggung. Kamipun berangkat dengan riang gembira, menuju ke Bukit Galau pada pukul 9 pagi. Apa itu Bukit Galau? Apa yang kami lakukan disana? Apa yang selanjutnya terjadi pada kami semua? Nantikan lanjutan ceritanya di Part III!! :3.

foto di sawah 







lagi mancing 

gunung sumbing malam itu 

mari makan :9 

Alun-Alun Temanggung 

martabak manis

Selasa, 28 Mei 2013

Catatan Perjalanan: Dua Kota, Empat Gunung (Magelang-Temanggung) Part I

Sudah agak lama saya absen ngepost di blog, maklum ada banyak tugas yang menghadang. Mereka semua nempel-nempel ke saya, kepingin bermanja-manja. Ya sudah, terpaksalah saya ladeni mereka satu persatu walaupun rasanya sudah capek. Malam ini, ada juga kesempatan untuk menulis di blog ini, sebelum dia ngambek karena dicuekin. Kali ini saya ingin membagi pengalaman jalan-jalan ke Magelang dan Temanggung. Memang sudah agak basi, tetapi tetap berkesan di hati :3. Yuk kita mulai saja ceritanya:

para peserta jalan-jalan yang paling yahud
dari kiri ke kanan: saya, yuni, febri, hani, tyas

Long weekend lalu, tanggal 9-12 Mei 2013, menjelang di pelupuk mata seperti gajah lewat yang sukar diabaikan. Pokoknya liburan kali ini saya harus punya kegiatan yang lain, tak terlupakan, dan kalau bisa keluar dari Yogya. Gayung bersambut, salah seorang teman bernama Hani mengajak jalan-jalan ke rumahnya di Temanggung dan sekalian mampir ke rumah Tyas di Magelang serta Ketep. Ajakan itu disambut meriah dan antusias oleh banyak orang. Diputuskan kami semua akan berangkat hari Sabtu karena Jumatnya ada praktikum.

Malang tak dapat ditolak, rombongan touring yang semula berjumlah sekitar 8 orang berkurang menjadi hanya 5 pada hari H. Ada yang batal karena sakit, kedatangan teman, seleksi UKP, dan karena temannya sedang ikut seleksi UKP. Lima orang itu adalah Hani, Tyas, Yuni, Febri, dan saya sendiri tentu saja. Meskipun jumlah peserta berkurang, kami tetap maju terus pantang kendur. Maka dimulailah perjalanan mengarungi dua kota yang terletak di antara empat gunung; Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro.

Tujuan pertama kami adalah tempat wisata di daerah pegunungan Magelang yang dingin, Ketep Pass. Dari Yogya ke Magelang jalannya mulus, bagus, lurus, seperti direbonding. Tantangan sebenarnya adalah menempuh perjalanan dari Blabak sampai Ketep dengan medan yang naik turun seenak perut dan jalan yang sudah ambrol. Si Vega, motor saya yang tercinta, dipaksa mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendaki tanjakan demi tanjakan. Dia berhasil juga, meskipun sempat ketinggalan jauh dari dua motor teman dan ngos-ngosan begitu sampai tempat parkir. Kami menghabiskan waktu di Ketep dengan berfoto-foto ria selama hampir dua jam. Benar-benar dua jam itu untuk foto, kami tidak masuk ke museumnya, bahkan saat makan pun masih juga foto. Hasrat narsis kami yang meluap-luap terpuaskan saat itu juga. Setelah capek foto-foto, kami turun lagi ke Magelang untuk melanjutkan perjalanan ke Temanggung. Kali ini, saya membonceng Hani sedangkan si Vega yang bohay dikendarai oleh Febri.

Setelah melewati kota Magelang dan bukit Tidarnya, serta jalan ke Magelang-Semarang yang macet, penuh truk-truk raksasa berasap hitam, sampailah rombongan kecil kami di jalan alternatif menuju Temanggung. Jalan ini tidak terlalu lebar dan agak berkelok-kelok, tapi indah sekali, dengan sawah di kanan kirinya. Udaranya juga sejuk dengan angin yang semilir. Pokoknya, kalau kata adik saya itu namanya "jalur galau". Ternyata si jalur galau itu lumayan panjang, masih ditambah perjalanan menuju kota Temanggungnya. Kota ini ternyata tidak seramai yang saya bayangkan. Jalannya lancar tanpa macet, bangjonya sedikit, di pinggir jalan banyak pohon rindang. Meskipun kalah ramai dibanding Jogja, salah satu bangjo di Temanggung, kalau tidak salah di dekat terminal, bisa bersuara. Maksudnya ada toa alias pengeras suara yang mengeluarkan suara seorang ibu-ibu. Beliau menyampaikan himbauan kepada pengendara selama lampu menyala merah. Kalau di Jogja itu semacam saat berhenti di palang perlintasan kereta api.

Akhirnya, setelah perjalanan yang memegalkan pantat, kami semua tiba di rumah Hani. Rumahnya ternyata tidak jauh dari alun-alun Temanggung dan ada di samping Pendapa Kabupaten (lupa namanya :p). Bahkan jika melongokkan kepala keluar pagar, alun-alunnya sudah kelihatan. Begitu menginjakkan kaki di pintu depan, kami semua langsung disambut ibunya dan ayahnya Hani yang ramah. Hal pertama yang kami lakukan begitu tiba disana adalah cuci muka (biasalah cewek-cewek), kemudian yang kedua adalah makan karena sudah ditawari oleh ibunya Hani. Selesai makan perut kenyang, kantuk menyerang. Sebagian besar dari kami, kecuali Tyas yang malah sibuk telpon-telponan dengan pacarnya (Oyol) dan Hani, tepar di kamar adiknya Hani. Saat saya sedang tidur-tidur ayam, adiknya Hani masuk ke kamarnya dan langsung mengeluarkan suara terkejut sambil berkata, "Woh iyo, ana mbak-mbak e, sori yo". Lalu Hani berkata, "Piye e?" dan adiknya menjawab "Lali e.." (kalau tidak salah begitu, ingatan tentang itu sudah agak mengabur). Siang sampai sore itupun saya habiskan dengan tidur, saking capeknya. Maklum anak rumahan, paling jauh naik motor ke Klaten.

Sorepun tiba, diiringi rintik hujan yang jatuh dari langit. Rencananya sore ini Hani akan mengajak kami semua ke rumah tantenya untuk mancing dan bakar ikan. Namun salah satu dari kami yaitu Febri belum bangun dari tidurnya, dan kami semua tidak tega membangunkannya. Lagipula di luar masih hujan. Kamipun memutuskan menunggu sampai hujan reda sambil nonton TV dan bermain-main dengan Patty, kucing betina milik Hani.

Hujan reda dan Febri sudah bangun ketika jam menunjukkan pukul 16.00. Tante Hani menawarkan untuk menjemput kami dengan mobil. Mulanya Hani ingin naik motor sendiri, namun setelah melihat cuaca yang masih mendung dan mengancam akan menurunkan persediaan airnya kapan saja, ia memutuskan untuk menerima tawaran itu. Dan dimulailah cerita semalam di Temanggung kami berlima. Tunggu di Part II ya :)

Sebagian (kecil) dari foto narsis di Ketep:












Patty, kucingnya Hani:


Selasa, 14 Mei 2013

7 Keanehan Ipus Versi Saya

Alkisah, pada tahun 2013 hiduplah seekor kucing jantan. Warnanya hitam putih. Yang hitam cuma sebagian muka dan ekor, lainnya putih. Sepertinya dia baru masuk masa remaja. Matanya lebar, terlihat bersemangat dan berbinar-binar. Mukanya ganteng (ini serius). Kucing ini setiap hari datang ke rumah, bahkan sering juga menginap. Dan menurut saya, dia aneh.. aneh sekali..

Apanya yang aneh? Oke, kita mulai dari nama.
Karena wajahnya seperti model, dia adalah objek foto favorit saya. Fotonya pernah saya post ke FB, di blog ini, jadi wallpaper laptop, jadi wallpaper di HP. Kalau teman saya melihat, pasti ditanya, namanya siapa? Terus terang saya bingung dengan pertanyaan itu, karena:

  1. Sebelum dia punya nama, saya post fotonya di FB. Seorang teman tanya, namanya siapa? (-_-). Karena saya tidak pintar memberi nama, saya suruh dia yang menamai. Jadilah namanya Richard, karena katanya kucing itu mirip bule.
  2. Richard... sepertinya nama itu susah disebut tanpa keseleo lidah. Akhirnya saya memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Rito. Dari mana datangnya nama itu? Rahasia :p. Tapi ternyata nama ini hanya berlaku untuk saya sendiri T_T.
  3. Namun nama Richard maupun Rito, atau apalah, sepertinya tidak akan banyak berguna bagi sang kucing. Karena si kucing yang terhormat hanya mau menoleh kalau dipanggil "Pus", panggilan standar untuk kucing.
  4. Akhirnya dengan mengikuti teladan salah seorang teman yang memberi nama kucingnya Puspita (panggilannya pus), saya memberinya nama Ipusrito. Panggilannya pus kan? :3.  Tapi kenapa ada Rito? Untuk alasan egois saja, biar nama yang saya beri ke dia terpakai *defense.

Masih bertanya-tanya dimana anehnya Ipus? Kalau soal nama kan biasa saja, bahkan yang lebih aneh adalah yang punya. Tenang, anda belum mendengar semua ceritanya. Untuk mengobati rasa penasaran anda semua, berikut saya suguhkan 7 keanehan Ipus versi... saya sendiri:
  1. Makanan Favorit
    Kalau soal makanan, Ipus punya selera aneh. Dia tidak doyan yang namanya nasi campur gereh alias ikan asin seperti kebanyakan kucing di Indonesia. Iya gerehnya dimakan, nasinya tidak. Mungkin dia sedang diet karbohidrat :3. Selain itu, dia tidak suka daging sapi, sate ayam, dan telur, padahal kan enak. Makanan favorit? Ikan tentu saja, teruatam fillet ikan goreng tepung buatan ibu. Tidak aneh, kan semua kucing suka ikan. Makanan kegemaran lainnya adalah tempe, mulai dari tempe garit, mendoan, sampai kripik tempe, tapi harus gurih. Kalau tempe dapat dari besekan kenduren ia tidak mau makan, karena tidak gurih. Gandum goreng sisa menggoreng tempe pun ia suka. Ipus juga sangat gemar makanan yang kriuk-kriuk gurih seperti pangsit, kripik, krupuk, malkist abon, bahkan kacang koro. Sepertinya dia terobsesi pada makanan gurih...
  2. Minuman Favorit
    Stereotyping dari masyarakat, yang namanya kucing pasti minum susu. Tapi Ipus tidak, karena setelah minum susu dia pasti muntah. Pertama kali dia muntah setelah minum susu, saya kira dia tersedak tulang ayam. Tapi kali kedua, akhirnya saya tahu kalau dia muntahnya karena minum susu. Saya jadi trauma memberinya susu, karena harus membersihnkan muntahan yang berceceran ke mana-mana. Mungkin dia cuma pernah minum susu ibunya. Soal minuman kegemaran? Ipus suka minum air dari lubang WC. Ini serius. Dulu saya kira dia ke WC untuk boker dan senang karenanya. Sangat terlatih ya. Tapi kata ibu dan adik saya, Ipus ke WC bukan boker, tetapi minum. Pernah saya coba kasih minum air biasa, dia tidak mau kalau wadahnya tidak ceper. Dan karena saya tidak dapat menyediakan minum tiap saat, dia selalu rutin mengunjungi WC rumah. Oke... saya tidak bisa melarang kamu Pus...
  3. Tempat Tidur
    Tempat tidur favorit Ipus macam-macam dan berpindah-pindah. Dulu waktu awal datang kemari, ia suka tidur di kursi plastik hijau yang terletak di dapur. Kemudian berpindah ke kursi ruang tamu  yang menghadap timur, kursi sebelah kiri. Sempat tidur di keranjang plastik di kamar adikku, di dalam mobil ayahku, dan di bagian atas rak buku kamar sepupuku, akhirnya Ipus menemukan tempat favorit baru. Di atas sebuah sapu ijuk yang terletak di pojok garasi. Ya, setiap siang Ipus selalu tidur di situ. Membuat saya geli, karena bentuknya seperti seorang anak tiri yang teraniaya...
  4. Si Kucing Guling
    Ipus suka berguling-guling tidak jelas. Kalau sedang keluar rumah, ia pasti duduk-duduk dulu di depan pintu garasi lalu mulai berguling-guling ke kanan kiri. Entah apa maksudnya. Pada malam hari, Ipus suka nongkrong di kursi dapur. Ketika saya datang mengunjungi, ia pasti akan berguling-guling dengan semangat di atas kursi. Aksi berguling-gulingnya juga dapat dilakukan di sembarang tempat dan waktu. Tiba-tiba saja Ipus dapat menjatuhkan diri ke lantai dan mulai berguling-guling dengan hebohnya... Dasar kucing guling...
  5. Sadisme
    Soal berburu, Ipus terkenal kejam. Saya pernah melihat ia memain-mainkan cicak yang ditangkapnya dulu sebelum akhirnya dilahap. Sang cicak yang malang dilepas lalu ditangkap lagi. Ipus juga tidak segan memainkan tikus hasil buruannya. Darah si tikus sampai berceceran kemana-mana. Di balik kelucuan dan keluguannya ternyata dia adalah seekor kucing sadis :3.
  6. Suara Malam
    Pada malam hari, Ipus dapat mengeluarkan suara yang aneh sekali. Biasanya itu terjadi setelah tengah malam. Kalau melihat saya lewat di dapur, ia selalu mengeong. Tetapi meongannya menjadi aneh, bunyinya bukan "meong" lagi, malah menjadi "weh..weh...weh". Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya, mungkin ia kehabisan suara...
  7. Hubungan Tanpa Status
    Status Ipus juga aneh. Walaupun sering datang ke rumah, ia bukanlah kucing saya, setidaknya bukan secara resmi. Ia bisa datang dan pergi sesuka hati, jadi bolehlah dibilang kucing freelance :D.
Itulah si Ipus, kucing paling aneh sedunia. Selain aneh, dia juga cerewet dan ribut. Meongannya dahsyat sekali, apalagi kalau sedang dalam misi mencari sesuap ikan atau sekeping kripik tempe. Meskipun kadang aneh dan menyebalkan, saya tetap menyayanginya dan akan selalu cinta padanya. I love you, Pus :3

Berikut beberapa foto Ipusrito:




Kamis, 09 Mei 2013

Kucing... Kucing Dimana-mana

Saya suka kucing. Dari kecil dulu sampai sekarang. Kucing pertama yang saya sentuh adalah kucing betina berwarna kembang asem alias oranye milik tetangga. Mulanya saya takut menyentuh dia, tapi lama-lama saya berani, karena memang kucing itu manis sekali. Ia mengeong dan mau diajak bermain-main. Sejak itu, hidup saya seperti penuh kucing. Mulai dari Pusy sang kucing betina pertama, sampai dengan keturunannya, karena dia rajin sekali beranak. Semua anaknya saya namai, bahkan saya dan teman-teman masa kecil pernah membuat pesta ulang tahun untuk anak-anak kucing tersebut. Padahal itu kucing tetangga. Dan sepertinya mereka tidak mau dirayakan ulang tahunnya karena malah kabur. Tinggalah kami anak-anak kecil, makan-makan dengan (tetap) riang gembira. Sayangnya, Pusy sekarang sudah meninggal karena keracunan racun tikus dan anak-anaknya entah dimana.

Sejak saat itu, hidup ini seperti dikelilingi kucing. Dimanapun saya berada, setiap ada kucing pasti dikejar. Meskipun saya maniak dengan kucing, tetapi saya belum pernah memelihara kucing sekalipun. Kedua orang tua saya tidak membolehkan. Katanya bulunya bisa membuat sakit, suka muntah, dan suka berak dimana-mana. Padahal beliau-beliau juga punya kucing waktu masih kecil. Curang...

Pengalaman terdekat saya memelihara kucing adalah waktu masih tinggal di rumah simbah. Pusy melahirkan dua ekor anak kembar warna oranye putih di gudang rumah. Kedua kucing kecil itu disembunyikan di sebuah kardus. Saya dan adik kemudian mengunjungi mereka setiap hari dan memberi makan juga. Saya senang sekali, serasa punya kucing sendiri. Tetapi ketika kucing-kucing itu sudah dapat berjalan, mereka keluar dari gudang, padahal kami berdua sudah berusaha mencegah. Ketahuan deh peliharaan kami oleh ibu, bapak, dan simbah. Akhirnya kedua kucing itu dikeluarkan dari rumah dan ditaruh di rumah tetangga, karena memang mereka anak Pusy. Waktu itu saya sedih sekali karena kalau mau main dengan kucing harus pergi ke rumah tetangga.

Waktu pindah ke rumah ini, sekali lagi datanglah kucing-kucing dalam kehidupan saya. Yang pertama saya temui adalah kucing hitam tua yang jelek banget. Sumpah, dia jelek sekali, bulunya sudah rontok dan gundul. Namun saya tetap suka, karena seperti Pusy, dia rajin beranak dan anaknya hitam-hitam, jarang yang warnanya lain. Dan anaknya selalu ditaruh di dekat rumah jadi sehingga dapat selalu bermain dengan mereka. Sekarang mereka semua juga telah tiada, entah dimana.

Pernah juga kucing-kucing bagus milik orang lain datang ke rumah. Ada yang belang-belang hitam putih seperti sapi dan putih bersih. Semuanya masih remaja. Yang hitam-putih ada dua ekor, sangat imut dan langsing. Yang putih badannya gendut, bulunya bersih, putih seperti bakpao. Mereka semua sangat sering main ke rumah, kadang sendiri-sendiri, kadang bersama. Bahkan saya pernah memandikan si putih sampai dia trauma dan tidak datang ke rumah untuk sementara waktu. Namun lagi-lagi saya harus berpisah dengan mereka. Setelah badannya dipilok wana pink oleh entah siapa, si putih tidak pernah datang lagi. Si sapi pun ikut-ikutan menghilang.

Setelah itu, kucing-kucing seperti datang dan pergi. Mereka hanya datang beberapa hari, kemudian menghilang selamanya. Ada kucing calico yang agak lama datangnya, suka tidur di rumah juga. Tetapi saat itu ia dalam keadaan sakit sehingga mungkin sekarang sudah meninggal. Ada juga kucing yang datangnya cuma sebentar, tetapi meninggalkan kenang-kenangan tak terlupakan. Pada suatu hari, kucing itu terjebak di rumah saya yang kosong. Waktu ibu pulang, ia menemukan tahi kucing di atas tumpukan cucian yang telah disetrika, tepatnya di atas bra. Walhasil, kucing tidak tahu diri itu diusir dari rumah dan kali berikutnya ia datang, pasti diusir lagi dengan sapu. Kucing itupun kapok dan tidak pernah datang lagi. Selain yang dipukulin sapu karena tidak tahu diri, kucing lain yang teraniaya adalah seekor kucing kembang asem yang menjadi sasaran percobaan aneh adikku. Tapi bedanya, dia tidak salah apa-apa. Tak tahu kenapa ia jadi sasaran. Mungkin karena wajahnya memang teraniaya. Kucing ini pernah dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik hitam besar, atau diajak menari-nari liar. Tidak heran setelah beberapa kali kunjungan, kucing itu tidak pernah muncul di rumah kami.

Sekarang, di rumah saya ada seekor kucing. Tetapi belum akan saya ceritakan sekarang, karena kucing ini istimewa sekali. Butuh satu post penuh hanya untuk menceritakan tentang dia saja. Selain di rumah, saya juga suka mengejar-ngejar kucing kampus (maksudnya kucing yang tinggal di kampus). Akan saya ceritakan di post lain juga, karena lumayan banyak. Oke, saya memang playboy cap kucing yang suka mengejar cinta para kucing :p. Jadi post ini menjadi semacam prolog untuk memasuki dunia perkucingan yang telah saya tekuni selama hampir 21 tahun ini ;).

Berikut adalah beberapa foto kucing-kucing yang pernah singgah di hidup saya:

kucing kampus di fakultas psikologi UGM

kucing yang sekarang, paling aneh sedunia :3

dia sedang bermain dengan tetangga sebelah

kucing pertama yang datang setelah pindah, si hitam

sepertinya ini si kucing tidak tahu diri :p

kucing yang teraniaya :')

kucing calico yang sakit :'(

ini cinta satu malam, datang sekali lalu pergi