Pages

Sabtu, 28 April 2012

Cemburu

Sebuah emosi yang identik dengan para pecinta. Sering diangkat dalam karya sastra, lagu, film, dari yang Hollywood sampai FTV. Begitu sering membaca, begitu sering mendengar, hingga merasa dapat memahami tentangnya. Namun, membayangkan ternyata berbeda dengan merasakan. Cemburu rasanya tidak menyenangkan, begitu membingungkan. Akal sehat sepertinya telah mati. Meskipun terus-menerus meyakinkan diri, tetap hadir rasa tak enak di hati. Marah bercampur gelisah, tak dapat tidur, tak dapat menikmati hal yang lain, terus memikirkan dia..dia..dan dia lagi.
Mencemburui dan dicemburui, dua hal yang bertolak belakang, tetapi berasa sama, sama-sama sakit. Ketika menjadi pencemburu, seluruh dunia seakan tak ramah lagi. Hati membara dibakar cemburu meluap-luap. Ketika dicemburui, rasanya lebih sakit. Seperti kehilangan kepercayaan, apalagi jika memang tak melakukan apa-apa. Rasa yang terluka, hati yang kecewa, seolah-olah dituduh melakukan pengkhianatan tak termaafkan.
Kata orang, cemburu itu tanda cinta. Mungkin benar, mungkin juga tidak. Yang jelas, mencemburui dan dicemburui itu sama sekali tidak ada enak-enaknya.

Senin, 23 April 2012

Sepak Bola di Mata Wanita

Hari ini, sudah Senin lagi. Ada sebuah ritual yang selalu saya lakoni setiap datang hari di awal minggu ini. Begitu masuk ke kelas Psikologi Klinis di ruang K 202, yang saya cari pertama kali bukanlah ibu dosen maupun teman cowok saya yang ganteng (sayangnya memang nggak ada, bagi saya -__-), namun salah seorang teman saya, yang sama-sama perempuan dan berkerudung. Walaupun kadang kuliah sudah dimulai, saya tidak peduli, yang penting bisa berkontak mata dengannya dan bertukar kata dalam bisikan, bahkan kalau bisa duduk di sebelahnya.

Mengapa saya begitu heboh ingin menghubungi dia dan mengapa saya begitu suka bersebelahan dengannya di hari Senin? Jangan mikir yang aneh-aneh, saya bukannya ada hubungan terlarang dengan dia atau ada bisnis-bisnis yang berbahaya. Saya dan dia cuma ingin mengobrolkan satu hal, yaitu "SEPAK BOLA".
"Itu masih aneh mbak. Mana ada cewek-cewek ngobrolin bola, yang ada mereka suka ngegosip kalee", mungkin itu suara batin anda ketika membaca dua kata yang sengaja saya tulis dengan huruf kapital tersebut. Saya akui, saya memang suka bergosip layaknya cewek-cewek lain, namun saya juga senang ngobrol sepakbola, apalagi dengan teman saya tersayang itu. Hari Senin belum lengkap rasanya jika tidak mengobrolkan sepakbola. Tentang Liga Inggris, Liga Champions, Chelsea yang seri, Manchester United yang tergelincir di pekan-pekan akhir, pemain-pemain ganteng, El Clasico, kartu merah, kuning, wasit, offside, gol, dan lain sebagainya. Entah mengapa saya merasa senang saat melakukannya. Entah mengapa ada kepuasan tersendiri saat larut dalam obrolan, meskipun kami hanya merewind pertandingan yang sudah berlalu, saling mendukung dan mencemooh tim, maupun berkomentar aneh-aneh.

Kalau berbicara sepak bola, saya jadi ingat pembicaraan dengan mantan teman sekelas saya waktu SMP. Alkisah di suatu siang yang panas, saya dan dia duduk di teras rumahnya yang lumayan lebar. Saya sedang memangku helm merah saya yang paling bagus sedunia dan mulai mengoceh nggak penting. Mari saya verbatimkan pembicaraan tersebut:

S: saya ; T: teman, pembicaraan asli menggunakan bahasa jawa, tetapi telah diterjemahkan demi alasan nasionalisme dan menuruti sumpah pemuda :)

S: "Liat ni helm ku, banyak stikernya kan? Ini stiker SMP, SMA, kuliah, dan yang ini stiker klub bola kesukaanku". (menunjuk masing-masing stiker sambil nyengir-nyegir gak jelas)
T: (mengerutkan kening) "Kamu kok suka banget sih sama sepak bola?"
S: "Ya iya dong, sepak bola itu seru, tau".
T: "Iih, apaan olahraga kaya' gitu. Gak penting banget, masa' satu bola diperebutin sama 22 orang? Mending beli sendiri-sendiri".
S: (ketawa sedikit kecut) "Weeh, kamu sendiri suka nonton basket. Itu kan juga termasuk rebutan bola?"
T: "Kan basket lebih proporsional daripada bola. Orang yang ngrebutin cuma 10, bolanya juga lebih gede. Lagian pemain basket itu cakep-cakep" (dengan mata berbinar-binar)
S: "Ganteng pemain bola ah, daripada pemain basket. Kebanyakan mukanya cina-cina gitu".
T: "Justru itu. Lagian mereka juga tinggi, tambah keren dong".
S: "Ah, tetep seru sepak bola. Basket apaan, kebanyakan "gol"nya, tiap 5 detik sorak-sorak, tepuk tangan. Kalo sepak bola kan nunggunya lama, bikin deg-degan"
T: "Asikan basket, kalo sepakbola nunggu golnya kelamaan, kan kalo di basket bisa sorak sampe puas"
S: ".... (Udah deh, sampai sini dulu, intinya udah nangkep kan?selanjutnya cuma perdebatan yang makin g penting,,hehe)

Begitulah perdebatan antara dua orang perempuan dengan kesukaan (nonton) olahraga yang berbeda. Namun, saya sungguh tergelitik dengan pernyataan teman saya, yang mengatakan bahwa sepak bola adalah olahraga nggak penting. 22 orang memperebutkan 1 bola, dan banyak diantara mereka adalah miliader yang bisa membeli bola sebanyak satu kontainer dengan mudahnya? Permainan macam apa itu? Lagipula jam tayangnya kebanyakan malam dan dini hari. Apa nggak ngantuk?

Menurut saya, sepak bola adalah sebuah drama yang dimainkan selama 90 menit + extra time. Aktornya adalah 22 orang laki-laki yang dibagi dalam dua tim berbeda. Panggungnya adalah lapangan hijau. Berbagai peran dimainkan diatasnya, kiper, defender, midfielder, winger, playmaker, striker, wasit, hakim garis, manager. Berbagai ekspresi pemain ditampilkan, tendangan bebas, penalti, selebrasi, diving, kemarahan, kesedihan, penyesalan, kegembiraan. Anthem yang dinyanyikan para suporter adalah musik latar. Lambaian bendera dan spanduk-spanduk adalah background panggung. Stadion adalah gedung teater. Suporter adalah penonton sekaligus pendukung. Hanya ada tiga akhir cerita, menang, kalah, atau seri. Dan semuanya itu mampu menghasilkan suatu daya magis yang luar biasa, mampu menyihir mata para penontonnya, bahkan yang cuma menonton lewat bantuan satelit dan TV.
Memang selera setiap orang berbeda-beda. Dan saya juga masih awam soal sepakbola. Namun saya begitu menyukai momen ketika drama itu sedang tayang di televisi rumah. Ikut bersorak ketika ada gol, ikut bahagia ketika tim yang saya dukung menang, dan jadi bad mood ketika yang terjadi adalah sebaliknya. Mengagumi taktik sang manager, memaki ketika tim lawan mendapat penalti, dan berdebar-debar ketika pertandingan hampir berakhir.

Dan kami bersedia bangun dini hari untuk menonton drama luar biasa itu. Apalagi jika menyangkut partai final maupun tim kesayangan yang sedang bertanding. Meskipun paginya terpaksa telat bangun, tidak sarapan, dan dalam kasus teman saya, tidak berangkat kuliah, tetapi kami tetap melakukannya. Saya ingin menjadi bagian dari sebuah sejarah dan melihat sendiri bagaimana proses dari sebuah legenda. Sepak bola jugalah yang membuat saya rela melakukan taruhan dengan pacar saya, makan mie ayam dua mangkok apabila tim yang didukung kalah, dan kami sama-sama pernah melakukan hal bodoh itu. Bukankah bodoh, mempercayakan nasib perut pada sebuah tim yang bahkan tidak tahu dirimu mendukungnya, dan tidak ada cara mengontrol hasil pertandingan kecuali dengan berdoa? Namun, kami tetap menikmatinya.

Ada satu lagi pertanyaan yang juga menggugah saya. Pertanyaan ini berasal dari salah satu senior di fakultas saya. Pada suatu hari, ia memergoki saya dan teman yang sudah saya sebutkan di awal, membicarakan seorang pemain sepak bola yang menurut kami ganteng di status miliknya. Sang senior bertanya "Cewek itu kalo liat bola, yang dilihat permainannya, atau pemainnya?". Dan sayapun menjawab dengan sejujurnya, tentu saja kami, para wanita, lebih menyukai pemain bola yang ganteng dan bertubuh seksi. Namun, tujuan utama kami menonton bola adalah melihat permainannya. Adanya pemain ganteng nan seksi dapat dianggap sebagai bonus spesial untuk kami. Jadi, wanita yang menonton sepak bola akan mendapat keuntungan lebih. Menonton permainan yang memukau dan menyejukkan mata dengan wajah beberapa pemainnya yang ganteng-ganteng :p.

Sabtu, 21 April 2012

Semangkok Mie Ayam


“Menurutku, inilah makanan terenak di dunia” :D
Pertama kali mengenal makanan ini, pada waktu diriku masih SD, entah kelas berapa. Pada suatu malam, aku diajak keluargaku jalan-jalan di seputaran Malioboro, dan kami semua makan malam di sebuah warung tenda. Aku memesan makanan ini, karena penasaran dengan rasanya, seperti apakah rasa sebuah makanan yang dijual oleh bapak-bapak bergerobak ungu yang sering mangkal di dekat tiang listrik yang tak jauh dari rumah, yang kompor gasnya selalu mengeluarkan bunyi desisan, serta kuahnya menguarkan aroma harum kemana-mana? Pada akhirnya untuk pertama kali aku mencoba, dan saat itu jugalah aku langsung jatuh hati padanya, bahkan sampai sekarang. :)

Sejak itulah, hari-hariku seperti tidak pernah lepas dari makanan ini, tetapi bukan karena aku menyantapnya tiap hari. Hanya karena dia begitu istimewa dan memberikan kenangan tersendiri bagiku, dimanapun aku menyantapnya, baik di rumah makan maupun warung tenda, dan dengan siapapun aku melakukannya.

Waktu SMP, mie ayam merupakan makanan mewah karena harganya yang mahal untuk ukuran kantong anak seusiaku. Pertama kali beli dengan uang sendiri adalah waktu pulang sekolah, dengan seorang teman baikku. Kami duduk di warung tenda yang ada di sebelah sekolah tetanggaku. Dan aku malu sendiri ketika melihat temanku bisa makan mie ayam pakai sumpit, rasanya ingin belajar, tapi entah kenapa sampai sekarang kok tidak bisa juga. Ketika main-main ke rumahnya pun, makan siangnya adalah mie ayam yang dengan baik hati dibelikannya untukku, lagi-lagi letaknya di dekat sebuah sekolah. Pertama kali beli mie ayam sendiri adalah waktu aku tidak bisa masuk rumah gara-gara tidak bawa kunci. Seorang anak SMP pemalu yang kurus kecil dan kelaparan membeli mie ayam di warung dekat sebuah perempatan, yang kelak di kemudian hari akan kudatangi lagi, berkali-kali, termasuk dengan seorang laki-laki yang istimewa bagiku. Bicara tentang laki-laki, pertama kalinya pula aku diajak makan oleh seorang laki-laki adalah waktu SMP juga, di warung mie ayam dekat sekolah tetanggaku, hanya saja itu baru sebatas janji, karena pada hari H nya malah terjadi gempa besar yang mengagal-totalkan rencana itu.

Pada masa SMA, kedekatanku dengan mie ayam bertambah lagi. Pada hari pertama masuk sekolah dan mengenal kantin sekolahku, makanan yang kupesan pertama adalah mie ayam, bukan nasi rames, soto, apalagi bakso. Masih ingat rasanya ketika itu, mie ayam Mas Atang yang waktu itu agak keasinan namun tetap enak, selalu jadi makanan favoritku di kantin, bahkan sampai lulus. Di SMA tercinta jugalah aku bertemu dengan sesama penggemar mie ayam, yang quote-nya sampai sekarang masih kuingat, “Aku masih bisa membedakan rasa antara satu bakso dengan lainnya, bisa tahu mana yang enak dan tidak, tetapi aku tidak bisa membedakan rasa mie ayam, karena di lidahku rasanya enak semua. Inilah makanan paling enak di dunia.” Quote yang agak lebai ya? Tapi menurutku itu ada benarnya juga. Dan pada masa inilah aku bersama teman-temanku mulai banyak main-main ke seluruh sudut Jogja, dan mencoba mie ayam juga. Paling berkesan adalah ketika mencoba mie ayam dengan teman sebangkuku di sebuah rumah makan yang berada di Tamsis pada malam hari yang suram, setelah mengikuti seminar yang ternyata adalah kedok sebuah MLM untuk merekrut anggota baru. Setelah melarikan diri dari sana, kami makan di rumah makan itu sambil menertawakan kebodohan kami dan berencana membalas dendam pada teman yang mengundang kami.

Kuliah… kalau untuk menulis pengalaman dengan mie ayam di masa sekarang ini, sudah banyak, walaupun aku baru menduduki bangku kuliah selama setahun. Sebagian besar karena seseorang yang tadi sudah kusebutkan secara sekilas di atas, seseorang yang sangat berarti bagiku, dan membuat kegemaranku pada makanan ini makin menjadi-jadi. Pada waktu pertama kali ke rumahnya, saat itu juga aku ditraktir mie ayam yang warungnya ada di dekat sebuah lapangan. Kalau pergi kemana-mana, paling sering pulangnya mampir ke warung mie ayam. Dia juga yang merekomendasikan warung mie ayam enak dan murah padaku, walaupun sebenarnya dia dapat dari orang lain juga. Dan yang paling sering, adalah taruhan sepakbola atau apapun, tetapi bukan dengan uang, melainkan mie ayam, yang lebih sering kumenangkan. Caranya makan krupuk dengan kuah mie ayam yang selalu kutertawakan. Atau diguncang gempa waktu makan mie ayam sehabis muter-muter lihat pengungsi di Maguwoharjo dan diguyur hujan lebat. Atau…ah sudah tak terhitung banyaknya kekonyolan dan kenangan yang kulalui bersamanya menyangkut makanan satu ini, meskipun tentu saja tidak semua bersamanya. Masih segar di ingatanku ketika pergi ke warung mie ayam dekat kampus bersama seorang temanku, dan kami ngobrol, curhat-curhat galau di meja lesehan, dan akhirnya teman perempuanku ini membuatku takjub dengan memesan semangkok lagi.

Inilah semangkok kehangatan di waktu dingin dan semangkok kesegaran di waktu panas. Betapa aku menikmati setiap untai mienya yang lembut, ayamnya yang berbumbu, sawi hijau yang memberi warna segar di tengah tumpukan cokelat putih, dan kuahnya yang kental, dengan ditambah kecap manis, saos botolan dengan isinya yang kadang susah dikeluarkan, serta sesendok kecil sambal cabai. Mungkin bukan makanan yang terlalu memenuhi standar kesehatan dan tidak baik dimakan setiap hari. Namun aku sudah begitu cintanya dengan makanan ini, sehingga kalau ada kesempatan selalu menyantapnya (apalagi kalau ditraktir ^^). Karena semangkok mie ayam telah banyak memberi kenangan bagiku dan betapa kebahagiaan kehidupan bisa ditemukan di dalam hal-hal yang kecil, seperti dalam semangkok mie ayam. Menyantapnya saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri, karena kita masih bisa membelinya, makan, dan hidup. Apalagi dengan keberadaan orang-orang yang membuat semangkok mie ayam menjadi lebih bermakna, lebih dari sekedar pengganjal perut. Betapa hidup ini indah, namun kita sering luput melihatnya, karena dibutakan oleh hal-hal yang jauh dan besar, padahal ada banyak hal-hal kecil yang patut kita syukuri setiap harinya.


#hanyasekedarisengiseng :p

Jumat, 20 April 2012

KISAH SAWAH

Aku yakin, setiap orang pasti pernah mendengarkan dongeng. Tentang putri cantik, pangeran tampan, kastil, naga-naga, peri, dan segala keajaiban negeri dongeng. Mereka tidak benar-benar ada, mereka hanyalah fantasi dari pengarangnya. Namun, karena itulah orang-orang menyukai dongeng. Fantasi tiada henti, yang mengajak para penikmatnya melanglang buana dalam pikirannya, tanpa batas ruang maupun waktu.
Tetapi, kadang-kadang hal yang nyata pun bisa menjadi dongeng. Bila dulu ia ada, namun kemudian menghilang selamanya. Dan yang tertinggal hanyalah dongeng-dongeng usang tentangnya.  Seperti yang telah terjadi di negeriku.
Namaku Reiha. Aku adalah seorang gadis yang baru saja berusia 17 tahun. Aku tinggal di negara yang terletak di sebuah pulau kecil. Negara Jalatra, itulah namanya. Meskipun negeriku kecil, namun kata orang ini negara terkeren di dunia. Bagaimana tidak, negaraku adalah negara kaya. Setiap jengkal tanahnya ditutupi gedung pencakar langit yang megah. Mall, kafe, pabrik, dan perkantoran berjajar di sepanjang jalan raya yang lurus dan lebar. Taman kota diletakkan di antara kepadatan gedung, atau di depan komplek perumahan elit. Kolam renang berair jernih dibangun di depan apartemen mewah. Padang golf yang terhampar luas menjadi tempat berakhir pekan dan membangun relasi bisnis yang sempurna. Singkatnya, negeriku ini adalah negeri untuk orang-orang kaya.
Aku termasuk beruntung, bisa hidup enak di negara ini. Itu karena ayahku adalah bos pabrik makanan olahan. Aku tinggal di sebuah perumahan elit di Kota Madra, tak jauh dari ibukota Jalatra. Setiap hari, aku menikmati hidup mewah di kota yang tertata rapi ini. Namun, ada sesuatu yang kucari. Sesuatu yang selama ini tak pernah kutemukan, di pelosok negeri  sekalipun. Aku mencari sawah. Ya, sawah. Lahan tempat penanaman padi ini tidak ada di negaraku.  Atau, dulunya ada namun sekarang hilang, begitu menurut nenekku. Beliau pernah menceritakan tentang masa kecilnya yang indah padaku. Konon, dulu di sekitar rumahnya banyak sawah. Meski orang tua nenekku bukan petani, tetapi nenekku sangat senang bermain di sawah bersama teman-temannya. Namun, ketika beliau beranjak remaja, sawah-sawah itu mulai menghilang, digantikan gedung-gedung beton. Puncaknya sekarang, sepertinya seluruh sawah sudah lenyap, hingga negeri kami terpaksa mengimpor bahan makanan dari sebuah negara kepulauan bernama Nusantara. Kata Ayah, di Nusantara masih banyak sawah. Kami mengimpor bahan makanan mentah dari sana, kemudian mengolahnya dan menjualnya lagi kesana, tentu saja dengan harga lebih mahal. Agak licik kan?
Mungkin orang-orang menganggapku aneh. Bagaimana tidak, aku ingin melihat sesuatu yang tidak ada. Tetapi aku benar-benar penasaran dengan sawah. Kata nenek, sawah itu sangat indah. Seperti hamparan karpet hijau bila masih muda, sewarna padang golf, dan bila bulir-bulir padi sudah masak akan berubah menjadi permadani kuning emas. Aku ingin melihatnya meskipun sekali saja. Sebenarnya aku bisa saja langsung terbang ke Nusantara dan melihat sawah, namun ayahku melarang gara-gara ada teroris yang meledakkan bom di sebuah hotel internasional. Hah, aneh-aneh saja.
Suatu siang yang cerah di akhir pekan, aku sedang duduk di bangku taman kota dekat rumah. Sebuah notebook merah kuletakkan di pangkuan. Saat ini, aku sedang berinternet ria dengan gratis karena taman ini dilengkapi hot spot. Canggih kan? Seperti biasa, setiap berinternet aku mencari informasi tentang sawah. Kupandangi gambar hamparan sawah hijau zamrud di layar notebook-ku dengan sendu. Entah kapan aku bisa melihatnya sendiri. Kakakku pernah memergokiku sedang memandang gambar sawah dengan tatapan memuja. Setelah itu bisa ditebak, dia mentertawakanku dan mengejekku sinting. Sejak saat itu, aku tidak mau ngenet di rumah lagi.
Aku mengerucutkan bibir. Memori yang benar-benar menyebalkan. Kumatikan notebook-ku dan kututup keras-keras. Aku melihat jam dan memutuskan untuk pulang sekarang. Semoga kakakku yang super menyebalkan itu sedang tidak ada di rumah. Aku bangkit berdiri, melemaskan tubuh sejenak, sambil memandang ke sekitarku. Tampak sepasang kekasih sedang asyik bermesraan di balik sebatang pohon. Dua ekor kucing menyelinap keluar dari serumpun bunga lili merah yang sedang berkembang, mungkin habis pacaran juga. Ketika sedang memandang kucing kedua yang berhenti sejenak untuk menjilati badannya, aku melihat sesuatu yang lain. Di antara rumpun lili merah itu, tampak sebuah benda persegi yang sepertinya dari kulit. Warnanya hitam. Perlu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa benda itu adalah dompet.
Aku menuju ke tempat dompet itu berada dan memungutnya. Sepertinya dompet ini sudah agak lama berada di situ karena sudah lembab dan kotor. Aku heran, mengapa tidak ada yang mengambilnya? Kubuka dompet itu, dan seketika kutemukan jawabannya. Memang di dalamnya ada surat-surat penting, id card, SIM, STNK, dan kuitansi-kuitansi. Namun, tidak ada selembar pun uang. Aku mendengus pelan. Pantas saja tidak ada yang memungutnya. Aku hampir saja membuangnya, ketika sebuah pikiran melintas di benakku. Bagaimana kalau pemilik dompet ini memerlukan surat-surat yang ada di dalamnya? Dan aku mau membuangnya begitu saja? Perasaan bersalah seketika menyergapku. Kubuka dompet hitam itu dan kuambil id card di dalamnya. Ternyata pemilik dompet ini adalah seorang perempuan berusia 52 tahun bernama Anita. Dia tinggal di Perumahan Bougenvile no 77. Aku tersenyum. Tempat itu tidak begitu jauh dari sini. Kira-kira 15 menit naik motor pasti sampai.
Kukurangi kecepatan motorku ketika memasuki sebuah gerbang bercat hijau  bertuliskan “Perumahan Bougenvile”. Kuamati setiap rumah, mencari rumah no 77. Perumahan ini lebih sederhana daripada perumahan tempatku tinggal. Meskipun demikian, lingkungannya juga sama bersihnya. Aku mengedarkan pandang lagi ke sekitarku. Seharusnya sudah hampir sampai, karena rumah yang baru saja kulewati menunjukkan angka 70. Aku mencari dengan lebih teliti, berharap cepat menemukannya. Dan, bingo! Itu dia, rumah nomor 77! Dengan hati gembira, kuarahkan motorku kesana, memasuki halamannya yang lumayan luas.
Rumah itu dipagari dengan pagar tanaman tetehan yang rimbun. Halamannya cukup luas, dan ditanami berbagai macam pohon, dari pohon mangga sampai tanaman hias. Rumahnya sendiri terdiri dari dua lantai dan dicat hijau muda. Pot-pot tanaman hias diatata dengan rapi di teras berlantai keramik hijau tua. Pagar kayu tinggi menempel di kedua sisi dinding samping rumah, memanjang sampai batas halaman. Entah apa fungsi pagar itu. Mungkin pemilik rumah ini mempunyai kolam renang di belakang rumah.
Aku memarkir motor, kemudian melangkah menuju teras yang sejuk. Kupencet bel di samping pintu rumah dan menunggu. Terdengar suara langkah-langkah menuju pintu, kemudian daun pintu berwarna cokelat tua itu terbuka. Seorang wanita setengah baya muncul dan ketika melihatku wajahnya menyiratkan kebingungan.
“Maaf, anda mencari siapa?” tanya wanita itu sopan.
“Um,  saya mencari Ibu Anita,” aku menjawab, sedikit gugup.
“Oh, saya sendiri. Ada apa ya?”
“Eh, begini, saya tadi menemukan sebuah dompet. Apa ini milik ibu?” kuulurkan dompet kulit hitam itu.

Bu Anita menerima dompet yang kuulurkan dan membukanya. Setelah memeriksanya beberapa saat, ia tersenyum dan mendesah gembira. Kemudian dia berseru memanggil seseorang, “Mardin, sayang, cepat kemari!” 
Terdengar suara langkah lagi, kemudian muncul seorang laki-laki yang usianya hampir sama, mungkin sedikit lebih tua. Sudah pasti ini suami Bu Anita. Laki-laki itu memandang wajah Bu Anita yang girang dengan ekspresi bertanya. Bu Anita tersenyum lebar, melambaikan dompetnya lalu menunjukku. Seketika, wajah lelaki itu memancarkan keceriaan yang sama. Ia berjalan ke arahku dan menggenggam tanganku, matanya bersinar-sinar.
“Apakah kau yang menemukannya? Dimana?” ia bertanya, nadanya riang.
“Ya, saya menemukannya di taman dekat rumah saya, Pak…em..” aku nyengir gugup padanya.
“Mardin, namaku Mardin,” ia tersenyum dan berpaling kepada istrinya, “Kurasa kita tidak perlu lagi membuat STNK baru sore ini”
“Ya, kau benar. Kukira setelah dicopet kemarin, dompet ini akan hilang selamanya. Kita benar-benar harus berterima kasih pada gadis ini,” Bu Anita tersenyum lembut padaku, “Dan kurasa kau belum memberitahu kami siapa namamu, cantik?”
Aku sedikit tersipu, “Reiha.”
“Oh, nama yang bagus. Nah Reiha, bagaimana kalau sedikit ucapan terima kasih? Kau mau makan siang bersama kami? Kebetulan hari ini aku membuat puding,” sungguh menggiurkan tawaran Bu Anita ini. Kebetulan aku juga belum makan siang. Tapi…
“Ayolah nak, hanya dengan ini kami bisa berterima kasih padamu,” melihat ekspresi ragu-ragu di wajahku, Pak Mardin ikut mendesak. Kurasa aku tidak bisa menolak…
Makan siang telah selesai. Masakan Bu Anita memang benar-benar enak. Perutku rasanya penuh sekali. Sekarang, kami duduk mengelilingi meja makan dan Pak Mardin menceritakan tentang anak-anaknya yang merantau ke Nusantara. Tiba-tiba perutku melilit, alarm untuk melakukan panggilan alam. Sambil meringis, aku bertanya letak toilet. Bu Anita menunjuk sebuah pintu di belakangku. Aku langsung berlari, sambil menahan malu.
Selesai mengeluarkan isi perut, aku berjalan melewati sebuah lorong pendek, kali ini dengan berjalan kaki. Di lorong itu terdapat sebuah jendela kaca. Ketika meliriknya, secercah warna hijau tertangkap oleh mataku. Aku berhenti, dan menempelkan wajahku ke kaca untuk melihatnya lebih jelas. Seketika mulutku menganga dalam jeritan tanpa suara, membeku. Begtu tersadar dari kebekuan, aku berlari menuju pintu kayu di sebelah kanan jendela dan menyentaknya hingga terbuka.
Hamparan padi nan hijau menyambutku begitu membuka pintu. Angin yang bertiup membuat daunnya meliuk seperti tangan penari. Sinar matahari siang membuat warna hijaunya makin cemerlang, bagai zamrud yang berkilau. Meskipun tidak luas, tapi tetap memukau, bahkan lebih indah daripada yang selama ini kubayangkan. Inilah yang kucari selama ini. Inilah, sawah.
Sejak hari itu, aku sering berkunjung ke rumah pasangan yang baik hati itu untuk sekedar melihat sawah. Kuamati perkembangannya, sampai saat bulir-bulir padinya berwarna keemasan. Aku merasa sangat bahagia dan damai bila berada disana. Seolah-olah, kelelahanku tersapu oleh angin yang selalu bertiup di sekitar sepetak sawah itu.
Hari ini aku tidak sabar menunggu waktu pulang sekolah. Sudah dua minggu lamanya aku tidak mengunjungi Pak Mardin dan Bu Anita, karena sedang ada ujian. Terakhir aku kesana, yaitu saat membantu mereka memanen padi. Aku berharap bisa ikut bertanam padi bersama mereka.
Ketika motorku mendekati rumah no 77, kerinduanku seolah tak bisa dibendung lagi. Aku ingin segera melihat sepetak sawah itu. Oase pribadiku di tengah gedung-gedung beton kota ini. Sampai di depan rumah no 77, aku menoleh dengan gembira. Tetapi yang kulihat sungguh di luar perkiraan. Rumah itu sudah rata dengan tanah, begitu juga dengan sawahnya. Yang terlihat hanya tanah yang telah dibangun pondasi. Aku terkejut, lemas. Kenapa semua ini harus terjadi?
“Maaf, kami menjualnya seminggu yang lalu. Kami akan berangkat ke Nusantara hari ini. Selama ini kami menunggumu datang, untuk menjelaskan,” terdengar suara lemah Bu Anita di sampingku.
Aku terpaku, tak sanggup berbicara, apalagi bergerak. Ketika akhirnya aku bisa berbicara, yang bisa kukatakan hanya, “Mengapa?”
“Kami terpaksa. Hasil dari sawah sempit kami tidak memadai. Sudah tidak ada irigasi, dan tanah di sini sudah tercemar bahan kimia,” Pak Mardin menghela napas berat, “Kami akan pindah ke Nusantara, dan bertani di sana, bersama anak-anak kami. Kami mohon kau mau memaafkan kami, Reiha.”

Aku tidak sanggup mengatakan apa-apa. Aku turun dari motor dan memeluk pasangan setengah baya itu, menangis sesenggukan. Mereka juga meneteskan air mata dan mengelus punggungku. Hilang sudah, sawah terakhir di negeri ini. Aku hanya berharap sawah-sawah di Nusantara tidak mengalami nasib yang sama dengan sawahku yang hilang. Agar mereka tidak kekurangan makan, agar anak cucu mereka bisa tetap melihat keindahannya. Agar hamparan sawah itu tetap ada, dan tidak menjadi sekedar dongeng tentang keindahan purba di setiap helai daun padinya.



*Cerpen jaman SMA,, buat tugas Bahasa Indonesia,,bener-bener g jelas ceritanya,,hahaha :p

The Opening Speech

Q: Kenapa bikin blog?
A: Ya pengen aja,,emang g boleh?
Q: Bukannya gitu,,tapi denger-denger adekmu juga bikin, kamu pasti ikut-ikutan ya?
A: Mungkin,, abis kayaknya seru sih :D
Q: Dasar.. bisanya ikut-ikutan aja -__-
A: Ya biarin toh,,kan bikin blog itu hak asasi,,semua orang boleh bikin ^^
Q: Emang tujuanmu bikin blog apaan sih?
A: Just for fun aja,,hehe
Q: Mana ada tujuan kaya' gitu? ga jelas...ababil banget sih nih orang -.-
A: Weww,, Why's so serious?
Q: Haruslah..kan...
Me: STOP, both of you drive me nuts >,<

Don't mind this meaningless conservation,, just ENJOY the next post!! ^^