Pages

Kamis, 29 Agustus 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Pra Keberangkatan, Awal yang Mencemaskan

Kenapa sih kita harus KKN?
KKN lama, cuma untuk 3 SKS?
KKN bikin repot...
Hah? KKN dua bulan? Puasa dan lebaran di tempat KKN? LPPM, are you kidding me?!

Rasanya dua bulan ke depan pengen aku skip aja deh, atau di fast forward.
LPPM A**!!!

Itulah yang ada di benak saya, dan mungkin juga teman-teman mahasiswa yang lain begitu memikirkan soal KKN. Apalagi ketika mendapat pengumuman dari LPPM bahwa KKN akan dilangsungkan selama dua bulan dan para mahasiswa harus berlebaran bersama masyarakat (tidak pulang). Segala jenis umpatan langsung berlompatan dari mulut saya, baik yang disengaja maupun yang tidak. Betapa tidak, lebaran adalah waktu untuk kumpul keluarga, malah kita masih di tempat KKN. Kakak angkatan tahun lalu juga cuma KKN 1,5 bulan, di hari lebaran mereka sudah pulang. Mereka juga dengan puasnya mengejek kami sebagai angkatan 2010 yang harus menjalani masa KKN lebih lama. Persiapan KKN juga menurut saya sangat ribet, seperti pembekalan, general test, tes kesehatan, bayar KKN, lalalala. Pokoknya banyak lah. Sampai di situ saya sudah cukup sebal.

Penentuan kelompok KKN juga simpang siur beritanya. Awalnya para mahasiswa sudah membentuk kelompok sendiri-sendiri, termasuk saya yang rencananya masuk ke kelompok yang KKN di Umbul Sidomukti, Bandungan, Jawa Tengah. Ternyata LPPM yang akan menentukan anggota kelompok untuk yang KKN di DIY dan sekitarnya. Terpaksalah saya keluar dari kelompok sebelumnya karena memang bukan tim pengusul. Untungnya ada teman yang menawarkan angin segar dengan mengajak saya gabung ke kelompok KKN-nya di Boyolali. Nama saya akan diusulkan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)-nya ke LPPM sebagai anggota kelompok. Saat itu saya tenang-tenang saja, serasa sudah mendapat jaminan akan KKN di situ. Sebenarnya saya bisa saja memilih KKN di kategori II yaitu di luar DIY dan sekitarnya yang memang mahasiswa memilih sendiri, tetapi karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk KKN di kategori I saja.

Hari pengumuman penentuan anggota kelompok tiba dengan cepat. Saya sudah di sms oleh salah satu teman yang KKN di Boyolali untuk mengecek web LPPM. Penuh percaya diri dan pengharapan, saya membuka plotting lokasi KKN demi melihat tulisan "BOYOLALI" tertera di sana. Ternyata.. di lokasi KKN saya tertulis "GIRIKERTO, TURI, SLEMAN" dengan kode unit "SLM-13". Belum hilang kagetnya, terbacalah tema KKN yang membuat saya makin jedag-jedug "Optimasi UMKM Susu Kambing Etawa" (kalau tidak salah). Girikerto? SLM-13? KAMBING? Seandainya saya punya penyakit jantung, mungkin saya sudah kena serangan dan mati saat itu juga. Saya berpikir, apa ini? Apa yang bisa saya lakukan? Mengapa bisa begini?. Ternyata memang semua nama yang diusulkan ke LPPM oleh DPL tidak diterima. Untung saja di unit itu ada satu teman yang sama-sama dari Psikologi, dan untungnya lagi kami cukup dekat sehingga saya sudah nyicil ayem.

Perjumpaan saya dengan teman-teman seperjuangan dan calon teman kumpul kebo serumah diawali pada siang hari yang terik di Fakultas Filsafat UGM. Saya yang datang telat langsung mengikuti prosesi acara yang dipimpin oleh Ibu Yuni selaku DPL, berkenalan dengan teman-teman baru, dan tibalah saat yang menegangkan, pembagian sub unit. Betapa tidak, dengan merekalah saya kelak akan berbagi rumah, bersama menjalani program, dan hidup bersama selama dua bulan penuh. Ternyata, saya ditempatkan di sub unit dua yang bertempat di Dusun Kloposawit. 

Awalnya saya merasa sedih juga ditempatkan di Kloposawit. Tidak satupun dari anggota sub unit yang saya kenal. Waktu observasi, tempatnya paling jauh. Rumahnya? Jangan ditanya. Paling horor dan kotor di antara semua sub unit. Pada saat observasi pondokan, ada dua rumah di satu halaman. Yang satu sangat bersih, berkeramik, bercat orange. Intinya bagus sekali. Yang satunya lagi kotor, catnya mengelupas, dan terkesan menakutkan. Kami sangat berharap ditempatkan di rumah yang orange. Apa daya, ternyata itu rumahnya Pak Slamet, sang induk semang, dan pondokan kami tak lain tak bukan adalah rumah kotor nan horor itu. Pembersihannya saja memakan waktu dua hari karena saking kotornya, penuh guci berisi sekam. Lebih dahsyatnya lagi, ada kelelawarnya! Kamar mandinya juga jauh sekali, berada di luar rumah, harus berjalan melewati lorong yang kalau malam gelap, karena tidak ada lampu. Sinyal di rumah itu juga paling minim dibanding pondokan lain. Benar-benar rumah super... 

Untuk masalah makan, kami dapat jaminan dimasakkan oleh pemilik rumah. Namun Pak Slamet memberi syarat, istrinya tidak boleh memasak lebih dari sekali dalam sehari sehingga menu dari pagi sampai malam sama semua. Kami semua tidak terlalu keberatan, yang penting bisa makan. Kalau bosan tinggal meluncur ke Jalan Palagan, semua pasti beres. Soal air tidak perlu pusing, karena airnya melimpah sampai tumpeh-tumpeh. Bahkan pipa yang mengalirkan air dari sungai ke kamar mandi tidak pernah dimatikan atau disumpal. Mengalir terus siang dan malam, tidak putus-putus.

Soal teman sub unit, Kloposawit yang paling tidak jelas. Sub unit ini sering sekali berganti personil. Awalnya kami bertujuh, lima lelaki dan dua wanita. Anggota saat itu saya lupa, yang jelas ada saya, Maya Ramadhani Indarto alias Maya, Revta Fariszy alias Revta, dan Pethit Gantang Dewantoro alias Gantang. Bahkan saat itu Gantang tidak datang. Ternyata, tidak ada satupun dari kami yang pengusul tema. Masuklah Ariyanto Hernowo alias Ari alias Memey. Setelah dilihat, perempuannya cuma dua, maka masuklah Mbak Shofi. Pada perkembangannya, ada salah satu anggota yang tidak mengikuti KKN sehingga harus diambilkan dari sub unit lain karena kami tinggal berenam. Awalnya yang akan pindah adalah Putri, tetapi entah kenapa tidak jadi. Maka datanglah anggota berikutnya, Mukhlis Nur Afifi alias Afif alias Mukhlis. Anggota kami berubah lagi saat menyadari bahwa ada tiga orang dari kluster soshum dan dua orang dari komunikasi. Mulanya Mbak Shofi akan ditukar ke Kemirikebo dengan Dioni, tetapi tidak jadi karena alasan tertentu. Akhirnya anggota terakhir yang datang adalah Rizkalia Atika alias Rizka. Lengkaplah sudah anggota sub unit Kloposawit yang akan bertahan hingga dua bulan ke depan.

Awal yang kami alami cukup mencemaskan. Dari anggota yang berganti-ganti sampai rumah yang kotor. Bagaimana para seven icon akan menjalani kehidupan KKN yang tidak kalah seru dari sinetron? Tunggu post berikutnya dari saya ;)

Bonus Foto:
 bersih-bersih kamar yang penuh sekam (akhirnya ini kamar g dipake)

 keadaan rumah sebelum dibersihkan

 kamar mandi...

 rumahnya pak slamet

 yang hitam-hitam itu kelelawar

ini dia rupa sang pondokan pujaan

kami menemukan beginian di dalam rumah :3

Ulat Bulu Telah Kembali!!

Si ulat bulu is back!!
Tak terasa dua bulan (lebih) telah berlalu sejak terakhir kali saya menulis di blog ini *sambiltiupdebu. Bukannya sudah melupakan blog ini, atau sudah males mengisinya (mungkin yang ini ada benarnya), tetapi memang saya baru saja kembali dari masa karantina dua bulan di tengah kebun salak. Yap, saya baru saja selesai melaksanakan Kuliah Kerja Nyata - Pembelajaran Pengabdian Masyarakat alias KKN-PPM di dusun Kloposawit, Girikerto, Turi, Sleman yang dekat dengan gunung Merapi dan banyak pohon salaknya. Perlu diketahui bersama, daerah itu memiliki sinyal yang minus sehingga saya sama sekali tidak bisa mengakses internet. Boro-boro internet, sms saja susah. Memang sinyal yang sulit itu dapat mengganggu hubungan cinta :") *ups.

Selama dua bulan yang penuh canda dan prahara, saya mendapat banyak sekali cerita untuk dibagikan. Terlalu banyak, sehingga mungkin ada yang terlewatkan oleh ingatan. Oleh karena itu, mulai dari post ini, saya akan menceritakan berbagai pengalaman yang didapat selama KKN di tengah kepungan kebun salak. Dua bulan yang mengubah hidup saya...

So, this is my story....