Naik becak bertiga merupakan pengalaman yang lucu bagi saya, karena ditertawakan orang di jalan, terutama becak tempat Een berada. Karena tutupnya dibuka, orang-orang dapat melihat mereka dengan jelas. Bahkan ada dua orang mas-mas di pinggir jalan yang tertawa terang-terangan sambil menunjuk becak kami dan berkata "Ana turis". Sekali-kali mas, merasakan jadi turis, di Jogja kami belum pernah lho, malu :p.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak dapat dikatakan nyaman sambil mengobrol dengan bapak becak yang suka memuji Pak Jokowi, sampailah kami di Kraton Solo. Langsung saja kami beli tiket masuk seharga Rp. 10.000/ orangnya. Begitu masuk kraton, saya, Bekti, Simbok, dan Indah langsung pipis. Setelah itu, saya dan Patrick memisahkan diri dari rombongan darmawisata karena ingin berfoto ria di halaman kraton. Tidak lupa kami masuk ke dalam museum kraton, kali ini bersama Indah juga dan tidak lupa berfoto di dalamnya. Sedangkan teman-teman yang lain tidak tahu sedang melakukan apa. Belakangan aku tahu bahwa Bekti, Widi, dan Simbok (kalau tidak salah) bertemu dengan bapak-bapak bule dan anaknya. Kemudian Widi digoda bapak bule dengan kata-kata "You're so funny" (eaaaakkk). Sementara itu saya masuk ke bangunan utama kraton berombongan dan (lagi-lagi) kami bernarsis ria. Ada juga foto kami di depan tempat masuk raja dengan prajurit kraton yang kemudian minta tip. Ini fotonya:
Setelah puas melihat Kraton Solo, kami berencana menuju tujuan berikutnya, Solo Square, dengan naik bus Trans Solo. Kali ini, kami berjalan kaki menuju jalan raya, melewati Pasar Klewer, Alun-alun, dan Masjid Agung. Sepanjang perjalanan itu, kami berpapasan dengan ormas Islam yang akan berdemo menolak RUU Ormas. Sebelum sampai jalan raya, Senca hendak mengambil uang di ATM Mandiri. Karena hari sangat panas, beberapa dari kami ikut masuk ATM untuk sekedar ngadem, tidak mempedulikan CCTV yang dengan setia mengawasi sang ATM. Singkat kata, sampailah kami di jalan raya, dan segera mencari halte bus. Untung saja kami segera mendapatkan bus yang mengantarkan kami ke Solo Square, sebuah mall besar di Kota Solo. Sampai di Solo Square, kami berjalan-jalan sebentar. Namun karena cacing-cacing di perut sudah berdemo riuh rendah tak terkendali, kami memutuskan untuk makan di sana sekalian. Ternyata mencari tempat makan tidak semudah yang kami kira. Sempat terjadi kebingungan dan perdebatan, sebelum akhirnya diputuskan untuk masuk ke sebuah gerai es teler. Seorang pramusaji menyatukan tiga meja dan memberikan daftar menu pada kami.
Alamak, ternyata harga makanan dan minuman di gerai ini muaahaalll pakai banget. Kami saling berbisik dan bingung mau pesan apa, karena sayang juga, uang sebanyak habis itu cuma untuk sekali makan. Akhirnya yang pesan hanya tiga orang. Senca, Widi, dan Simbok menyelamatkan muka kami dengan memesan es teler, sementara saya dan Bekti hanya dapat memandang menu dengan tatapan putus asa yang akut. Tidak mau menanggung malu lebih lama lagi, ditambah dengan tatapan tajam mas-mas pramusaji yang seperti menyilet-nyilet jiwa, kami yang tidak memesan memutuskan untuk meninggalkan tempat dan berjalan-jalan lagi. Karena tidak tahan lapar, saya dan Bekti membeli sepaket ayam goreng kremes + es teh, makanan termurah yang dapat kami temukan di food court lantai tiga. Patrick dan Indah mengikuti jejak kami, sementara Een dan Ratri berjalan-jalan ke Gramedia setelah sebelumnya membeli es teh.
Setelah makan, Een, Pat, dan Indah masuk ke Hypermart di lantai dasar untuk membeli minuman, sementara saya, Bekti, dan Ratri menunggu di luar swalayan itu sambil mengamati anak-anak bermain otopet. Ternyata ada yang membuka jasa penyewaan otopet di depan Hypermart. Padahal menurut saya agak bahaya juga, ada banyak orang yang lalu lalang, ditambah jika anak tersebut belum memiliki koordinasi yang bagus. Saya juga sempat melihat seorang anak main otopet sambil dikejar-kejar seorang laki-laki yang mungkin bapaknya. Kasihan bapak itu, pasti dia capek...
Urusan beli minum selesai, kami menuju halaman depan Solo Square untuk bertemu kembali dengan trio es teler. Kami hendak segera naik bus ke Stasiun Purwosari, karena ada Prameks berangkat jam 15.00, padahal saat itu sudah sekitar jam 14.00. Kali ini bus yang kami tumpangi penuh, dengan mas-mas tentara :p. Untung saja perjalanannya tidak lama. Sebentar kemudian kami sampai di Stasiun Purwosari dan langsung mengantri tiket. Begitu mendapat tiket, ternyata kereta yang kami tunggu baru saja datang sehingga kami langsung saja naik. Berbeda dengan pada saat berangkat, kereta yang kami tumpangi sekarang adalah Prameks non AC, dengan tempat duduk menghadap samping dan tempat berdiri yang luas. Dapat dibayangkan, seperti apa suasana di dalam kereta. Ramai dan sumpek sekali, banyak penumpang yang berdiri, bahkan duduk di lantai gerbong. Untung saja ketika kereta berhenti di Solo Balapan, kami berhasil memperoleh kursi, kecuali Senca, Ratri, dan Een yang terpaksa lesehan di lantai gerbong. Bagus juga di kereta tersebut tidak ada pedagang asongan cangcimin, seperti jaman dulu. Adanya hanya kereta dorong yang memang disediakan PT KAI. Coba kalau ada, pasti rasanya sumpek sekali. Mengenai jajanan kereta dorong, saya mendeteksi perbedaan cara berpakaian mbak-mbak pendorong kereta makanan antara Sriwedari dan Prameks. Mbak-mbak di kereta Sriwedari memakai rok dengan stoking hitam, sementara di Prameks, mbak-mbaknya memakai celana panjang. Mungkin ini berkaitan juga dengan cara duduk penumpang. Di Sriwedari, hampir semua penumpang memiliki tempat duduk, yang tidak akan memilih berdiri di dekat pintu gerbong. Sementara di Prameks, sebagian besar penumpang lesehan di lantai. Tentu saja bisa ditebak apa akibatnya jika mbak-mbak di Prameks memakai rok :3
Mari kita lupakan mbak-mbak itu, karena kereta yang kami tumpangi sudah berangkat menuju Yogyakarta tercinta. Kepadatan penumpang tak juga berkurang, padahal kereta ini melewati beberapa stasiun kecil. Untuk mengusir bosan, sepanjang perjalanan saya dan Bekti bernyanyi, mulai dari Mars SMA 7 sampai lagunya Bruno Mars. Dari lagu galau sampai lagu aneh. Semoga saja tidak ada penumpang yang mendengar senandung gila kami. Tanpa terasa, sampailah kami di Stasiun Lempuyangan. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 17.00. Setelah membereskan urusan utang piutang a.k.a meminjam uang teman, kami saling mengucapkan selamat tinggal dan berjanji untuk mbolang lagi. Kemudian kami menaiki motor masing-masing dan menatap matahari terbenam yang indah sambil berkendara menuju rumah :').
Terima kasih teman-teman SMA-ku tercinta: Patrick sang EO, Bekti sang Biduanita, Indah yang sedia teh pagi-pagi, Duo Teh T*ng Tj*: Een yang gila dan Ratri yang yahud, Trio es teler, Syscha yang mempesona, Simbok yang dahsyat, dan Widi yang lucu (you're so funny) :p.
Tujuan Mbolang Gila berikutnya: Malang.
Semoga tercapai ya teman-teman. *pray... ^^
1 comments:
kak sma n 7 jogja?
Posting Komentar