Pages

Sabtu, 25 Januari 2014

Jalan-jalan Gila; Semarang, The Hot City

Setelah mengunjungi Solo, kali ini saya dan geng gila yang unyu-unyu mengunjungi ibu kota Provinsi Jawa Tengah. Yap, kami akan mbolang ke Semarang. Sebenarnya perjalanan ke Semarang ini sudah terjadi cukup lama, tepatnya 13 Oktober 2013 lalu, tetapi saya baru sempat (ehm.. ingin) menulisnya sekarang. Baiklah, tidak usah banyak basa-basi, saya awali saja cerita perjalanan ala geng gila.

Perjalanan ke Semarang ini sudah kami rencanakan sejak lama. Tidak seperti saat ke Solo kemarin, kami menggunakan mobil sewaan untuk pergi ke Semarang, bukan dengan transportasi umum. Alasannya, kemarin kami kurang dapat menikmati Kota Solo dan waktunya hanya habis di jalan saja. Syscha menyewakan sebuah mobil travello di tempat temannya. Mobil ini bodinya besar, bisa muat 10 orang, karena yang ingin ikut ada 9 (lho?). Saya, Patrick, Bekti, Syscha, Indah, Widi, Een, Ratri, dan Simbok. Plus sopirnya juga. Kalau menggunakan mobil keluarga biasa seperti Avanza atau Xenia pasti tidak cukup, jadi kami memutuskan meyewa travello saja walaupun harganya jadi lebih mahal. Tidak apa-apa, yang penting nyaman. Kami memutuskan berangkat dari Yogyakarta jam 5 pagi, kumpul jam 4 di rumah Syscha.

Malam sebelum hari H, saya dan Patrick menginap di rumah Een karena rumah kami letaknya jauh dari rumah Syscha, takut kalau besoknya malah terlambat. Malam itu, seperti biasa kalau tidak tidur di rumah, saya susah tidur dan gampang terbangun sehingga pada tanggal 13 itu kami benar-benar tiba jam 4 pagi di rumah Syscha. Rasanya ngantuk dan lelah, ditambah lapar juga karena pagi itu hanya minum energen. Sebenarnya ingin makan nasi, tetapi pekewuh dengan ibunya Een. Ternyata, seperti yang biasanya terjadi di Indonesia Raya Merdeka-Merdeka, teman-teman lain datangnya ngaret. Ditambah sebuah kabar buruk menyusul kabar buruk lain tadi malam. Tadi malam Simbok SMS kalau ia tidak bisa ikut karena Pakdhenya meninggal. Dan paginya, Ratri mengabarkan tidak bisa berangkat ke Semarang karena dilarang oleh masnya. Sial, kenapa tidak dari kemarin-kemarin ngelarangnya? Akhirnya peserta darmawisata ke Semarang tinggal bertujuh tambah satu sopir, membuat mobilnya terasa legaaa... membuat kami menyesal juga tidak menyewa Avanza yang lebih murah. Dan akhirnya, kami baru memulai perjalanan jam setengah 6 pagi *sigh*.

Tidak ada yang istimewa selama perjalanan, kecuali kalau kealayan kami di mobil dianggap istimewa. Isinya perjalanan itu hanya ngobrol, makan, mengomentari pemandangan, tidur, dan alay. Saat berhenti sebentar di pom bensin daerah Ambarawa, saya sempat muntah-muntah karena belum sarapan, sehingga di sisa perjalanan saya merasa lapar sekali. Mendekati daerah Semarang, mulai terasa udara yang panas karena matahari sudah agak tinggi. Dan macet, minta ampun, di daerah pabrik-pabrik, lupa nama daerahnya, pokoknya yang ada pabrik Coca-cola dan biskuit Khong Huan. Kami berhenti di sebuah warung soto Sokaraja pinggir jalan (yang halamannya agak luas untuk parkir mobil). Saya sudah membayangkan nikmatnya pagi-pagi sarapan dengan soto. Tetapi ternyata, sotonya kurang lezat, rasanya seperti makan loncang (aka. daun bawang), bukan makan soto. Soto with loncang flavour. Semakin terasa tidak enak karena soto loncang ini berharga Rp. 10.000 dan es tehnya Rp. 5.000. What the... mending kalau sotonya enak. Harga es tehnya juga sungguh irasional. Ini namanya pemerasan terhadap pelancong --".

soto loncang dan es teh mahal

penampakan soto loncang

Tapi sudahlah, lupakan that damn soto loncang, karena sejam kemudian kami telah sampai di Semarang.
Tujuan pertama kami adalah klenteng Sam Poo Kong yang membuat pengunjungnya serasa sedang di Beijing (kayak pernah ke Beijing aja). Sangat eksotis dan serba merah, cocok untuk memuaskan hasrat berfoto yang tak terbendung, meskipun hari itu cuaca sedang panas sekali. Setelah puas berfoto (dan sudah kepanasan), kami bergerak menuju tujuan berikutnya. Mulanya kami hendak ke Simpang Lima yang legendaris, karena mengira tempat itu semacam alun-alun, Tugu, atau nol kilometer di Jogja. Ternyata Simpang Lima adalah sebuah persimpangan (ya iyalah!) dengan taman dan sebuah tugu bernama Tugu Muda di tengah-tengahnya. Berhubung hari itu panasnya minta ampun, kami memutuskan untuk tidak sukarela membakar diri di Simpang Lima, melainkan menuju Lawang Sewu yang berada tidak jauh dari situ.

salah satu bagian klenteng

inilah kami bertujuh :D

musim bunga
 
Saya merasa agak seperti bermimpi ketika saya menginjakkan kaki di Lawang Sewu, salah satu landmark Kota Semarang yang legendaris dan (katanya) mistis. Kami bertujuh berjalan-jalan mengitari bangunan peninggalan Belanda yang super luas ini dengan ditemani seorang mas-mas pemandu yang, maaf, sudah saya lupakan namanya. Mas ini baik sekali, mau memotretkan kami bertujuh yang hasrat narsisnya belum juga teredam. Ternyata memang benar tempat ini dinamai Lawang Sewu, karena pintunya banyak sekali. Satu sisi dinding saja pintunya ada belasan. Kasihan yang dulu jadi tukang mengunci atau membuka pintu disini, pasti capek sekali. Setelah puas menjelajahi bagian atas Lawang Sewu, kami berlima, karena Widi dan Indah menolak ikut, masuk ke ruang bawah tanah. Untuk dapat masuk ke dalam, kami harus memakai sepatu boot karena katanya lantainya basah, dan harus bayar lagi. Sebenarnya saya ngeri juga dengan ruang bawah tanah ini, karena pernah masuk TV untuk uji nyali dan ada penampakan yang muncul. Tetapi saya sudah sampai Semarang dan tidak tahu kapan (atau akan) kembali kesini lagi sehingga sayang sekali kalau kesempatan ini dilewatkan.

pintunya banyak kan?

lawang sewu

pintu tampak depan

Maka masuklah kami berlima ke ruang bawah tanah dengan ditemani mas pemandu dan senternya. Di bawah gelap, pengap, dan basah sekali. Tidak sekedar basah sih sebenarnya, kami seperti mengarungi selokan saat berjalan. Air dimana-mana. Kata mas pemandu, ruang bawah tanah ini difungsikan sebagai pendingin sehingga suhu gedung di atasnya selalu sejuk. Canggih juga orang-orang Belanda itu. Selain sebagai pendingin, ruang bawah tanah ini juga digunakan sebagai penjara. Penjaranya juga bukan main-main, tidak seperti penjara sekarang dimana (beberapa) penghuninya bisa memperoleh ruang ber-AC dan fasilitas mewah, melainkan penjara jongkok dan berdiri. Yang namanya penjara jongkok lebih mirip dengan kolam-kolam kecil bertembok setinggi paha. Konon dulu bagian atasnya ditutupi dengan jeruji sehingga penghuninya harus berjongkok sepanjang waktu. Perlu diketahui juga, isi satu kotak penjara ini tidak cuma satu orang, melainkan beberapa orang yang harus berdesak-desakan disini. Penjara berdiri tidak lebih baik, cuma bedanya dan peningkatannya, sang tahanan bisa berdiri di dalamnya. Pasti mengerikan sekali dipenjara di tempat seperti ini. Coba penjara koruptor seperti ini, pasti pada kapok semua (tapi pasti dibilang melanggar HAM kan ya?). Selain penjara, di ruang bawah tanah juga ada tempat eksekusi mati tahanan. Bentuknya seperti kolam. Konon tahanan dimasukkan ke kolam ini kemudian kepalanya dipenggal. Saat itu saya merinding membayangkannya. Tetapi ada hal lucu yang terjadi saat mas pemandu memperlihatkan ruang tersebut. Saat mas pemandu sedang menjelaskan cara eksekusi, seorang ibu-ibu tiba-tiba nyeletuk "Kalau dipenggal kepalanya mati ya?". Ya iyalah... you don't say ._.

Berada di dalam bumi, er.. ruang bawah tanah, tidak membuat kenarsisan kami ikut terkubur. Kami tetap berfoto-foto di dalam, didukung oleh mas pemandu yang setia mengambilkan gambar kami berlima. Kadang dengan kamera saya, kadang dengan smartphone Syscha. Ada sebuah kejadian aneh saat kami sedang berfoto. Salah seorang teman saya, Patrick, ingin berfoto di bawah sebuah lampu model lama yang berada pada jarak-jarak tertentu di sepanjang lorong. Ketika Patrick berada di bawah lampu tersebut tiba-tiba, pet, lampunya mati begitu saja. Kemudian mas pemandu berkata, "Berarti nggak dibolehin foto di situ mbak". Kami langsung ngibrit meninggalkan tempat itu. Sampai di luar, kami berjalan ke pintu depan Lawang Sewu sambil melihat-lihat foto di HP Syscha. Dan.. tadaaa.. terdapat sebuah foto misterius di antara foto-foto lainnya. Foto itu sepertinya tidak sengaja terambil oleh mas pemandu karena sebagian besar foto berwarna putih. Dan.. di foto itu tergambar jelas wajah dingin seorang wanita berambut panjang. Kami semua langsung kaget, heboh, dan memberitahu mas pemandu mengenai foto itu. Mas pemandu itupun menjawab kalem "Ya kadang terjadi mbak, kalau lagi beruntung". Di perjalanan menuju destinasi berikutnya, kami kembali mengamati foto itu, bahkan Widi berencana mengirim foto itu lewat WA kepada pacarnya. Tetapi setelah kami perhatikan benar-benar, foto itu ternyata merupakan hasil dari salah satu efek yang terdapat dalam kamera HP itu, yaitu "ghost effect". Kami semua langsung merasa pekok dan malu karena sudah heboh tadi, apalagi hebohnya pada mas pemandu. Mungkin masnya tidak sengaja mencet, atau sengaja? Hanya masnya dan Tuhan yang tahu.

lampu (yang lain)

mencoba penjara berdiri

di lorong ruang bawah tanah

Tugu Muda Semarang

Setelah kasus "foto hantu" tadi, kami kembali memusatkan perhatian pada jalanan karena kami tersesat. Bapak sopirnya ternyata lupa dimana Masjid Agung Jawa Tengah berada. Setelah berputar-putar cukup lama, kami sampai juga di masjid megah itu. Saat itu waktu Dhuhur telah tiba, matahari berada pas di atas kepala. Kami meninggalkan pak supir di mobil karena mau sholat dulu. Di masjid, saya bertemu dengan salah satu teman sefakultas yang sedang njagong bersama ayah ibunya. Dunia ternyata benar-benar sempit. Singkat cerita, teman-teman yang sholat segera mengambil air wudhu sementara yang sedang tidak sholat berusaha berteduh dan sempat diajak berkenalan oleh mas-mas dari Bandung yang sedang jalan-jalan. Selesai sholat, kami menuju parkiran untuk bertemu pak supir dan mencari makan siang. Ternyata, mobilnya sudah tidak ada! Jangan-jangan kami ditinggalkan karena pak supir sebal dengan tingkah kami yang alay. Kami sempat panik, tidak terbayang rasanya ditinggal di kota sejauh Semarang. Tak berapa lama kemudian pak supir menelepon, beliau sedang mencuci mobil sekaligus makan siang dan akan kembali dua jam lagi. Kamipun melewatkan waktu dengan (lagi-lagi) berfoto-foto di semacam teras masjidnya (teras, tapi luas sekali). Arsitekturnya membuat kami merasa sedang berada di Timur Tengah. Setelah kering menunggu kepanasan di bawah pilar masjid, pak supirpun datang dan kami menuju ke tujuan berikutnya, Kota Lama dan Gereja Blenduk.

masjid agung jawa tengah

serasa di timur tengah

kupinang kau dengan bismillah :D


Hari menjelang sore ketika kami sampai di tempat itu. Sebenarnya niat awalnya adalah mengunjungi Gereja Blenduk, ternyata Kota Lama letaknya di samping gereja, malah gereja itu masuk bagian kota lama --". Akhirnya kamipun berjalan-jalan mengelilingi kota lama yang memiliki bangunan-bangunan eksotis peninggalan Belanda dan cocok sekali untuk prewed (saat itu ada yang sedang prewed disana). Sayangnya banyak bangunan kurang terawat dan terlihat terbengkalai, hanya ada beberapa yang terawat baik. Selokannya juga berbau menyengat dan kelihatannya tidak mengalir. Padahal kalau ditata tempat itu pasti kelihatan indah, karena berada di sana membuat saya seperti di Eropa, meskipun dengan suasana yang lebih kumuh. Setelah puas berkeliling, kami kembali ke gereja, yang saat itu sayangnya sedang tidak buka. Kami membeli minuman di dekat gereja dan memutuskan untuk makan siang/sore sekalian pulang.

ada yang tahu artinya tulisan di atas pintu?

penulis di kota lama :)

suasana kota lama semarang

tanaman tumbuh di bangunan

seperti di eropa

prewed?

model saya :)

gereja blenduk

Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 4 ketika kami meninggalkan gereja untuk melakukan perjalanan pulang. Tetapi sebelum pulang, kami melakukan ritual yang rasanya dilakukan oleh seluruh wisatawan di dunia yaitu membeli oleh-oleh. Pertama-tama, kami menuju ke "Loenpia" (atau lumpia) Mbak Lien, yang menurut mbak-mbak penjual es tadi adalah lumpia terenak di Semarang. Loenpia Mbak Lien ini memang besar, enak, dan terkenal, tetapi harganya juga mantab, paling murah sepuluh ribu per biji. Yap, anda tidak salah baca, satu gulung kulit dari terigu berisi daging ayam atau udang itu berharga paling murah sepuluh ribu. Kalau punya uang banyak, bolehlah membawa lumpia ini sebagai buah tangan. Tetapi kalau uangnya hampir habis seperti saya, lebih baik urungkan niat dan cari lumpia yang lebih murah di Jalan Pandanaran. Di sepanjang jalan ini terdapat banyak toko oleh-oleh dan harganya beragam, bisa pilih toko yang sesuai dengan isi dompet. Saya membeli lumpia kering yang harganya 7500an perbiji, harga yang sedang-sedang saja, ada yang lebih murah dan banyak yang lebih mahal. Selain itu saya juga membeli bandeng Juwana yang enak, patungan dengan dua orang teman untuk membeli sekilo bandeng duri lunak yang isi 6 ekor (karena kalau beli sekilo sendirian mahal).

loenpia mbak lien

tumpukan lumpia siap digoreng

Sore itu di Jalan Pandanaran turun hujan, demikian pula sepanjang perjalanan pulang. Kami memutuskan untuk makan malam nanti saja, kalau sudah sampai di warung SS Muntilan. Karena itu ketika pak supir menawarkan untuk makan di warung yang ada di Ambarawa kami semua menolak. Tetapi ternyata perut yang belum diisi sejak siang tidak mau berkompromi lagi. Semua penumpang mengeluh lapar di sepanjang jalan. Sumpah, saat itu sebenarnya saya malu mengeluh dan mendengar keluhan kami semua. Apa kata pak supir? Tetapi mau bagaimana lagi, kami benar-benar sangat lapar sampai tidak tertahankan. Ketika mobil kami melewati jalan raya Magelang-Semarang, tepatnya di daerah Secang, pak supir tiba-tiba berkata, "Itu ada SS". Waaahhhh, kami semua langsung berteriak kegirangan seperti musafir yang melihat oase di tengah padang pasir. Menurut saya itu adalah momen yang paling "nggak banget" selama jalan-jalan. Memalukan :p.

Setelah mobil selesai parkir, kami segera masuk dan pesan makanan. Sialnya, pesanan kami lama datangnya karena sang pengantar makanan sedang istirahat sehingga ketika sampai pada kami nasi dan lauk-lauknya sekalian sudah dingin. Tetapi tidak masalah, yang penting makan. Kami makan dengan bernafsu, kemudian naik mobil lagi untuk kembali ke DIY tercinta. Di perjalanan pulang tidak ada hal yang menarik, karena sudah kelelahan sebagian besar dari kami tertidur. Sampai di rumah Syscha lagi, sudah pukul 10 malam. Saya segera pulang karena sudah mengantuk dan capek berat. Besoknya saya tepar seharian. Meskipun lelah, ini adalah acara jalan-jalan yang menyenangkan. Sekali lagi saya bisa mengunjungi tempat-tempat indah dengan teman-teman saya. Sampai jumpa di jalan-jalan geng gila berikutnya, semoga yang selanjutnya kami bisa pergi dengan formasi lengkap :D.

wajah lelah

mau pesan apa?

0 comments:

Posting Komentar