“Menurutku, inilah makanan terenak di dunia” :D
Pertama kali mengenal makanan ini, pada waktu diriku masih SD, entah kelas berapa. Pada suatu malam, aku diajak keluargaku jalan-jalan di seputaran Malioboro, dan kami semua makan malam di sebuah warung tenda. Aku memesan makanan ini, karena penasaran dengan rasanya, seperti apakah rasa sebuah makanan yang dijual oleh bapak-bapak bergerobak ungu yang sering mangkal di dekat tiang listrik yang tak jauh dari rumah, yang kompor gasnya selalu mengeluarkan bunyi desisan, serta kuahnya menguarkan aroma harum kemana-mana? Pada akhirnya untuk pertama kali aku mencoba, dan saat itu jugalah aku langsung jatuh hati padanya, bahkan sampai sekarang. :)
Sejak itulah, hari-hariku seperti tidak pernah lepas dari makanan ini, tetapi bukan karena aku menyantapnya tiap hari. Hanya karena dia begitu istimewa dan memberikan kenangan tersendiri bagiku, dimanapun aku menyantapnya, baik di rumah makan maupun warung tenda, dan dengan siapapun aku melakukannya.
Waktu SMP, mie ayam merupakan makanan mewah karena harganya yang mahal untuk ukuran kantong anak seusiaku. Pertama kali beli dengan uang sendiri adalah waktu pulang sekolah, dengan seorang teman baikku. Kami duduk di warung tenda yang ada di sebelah sekolah tetanggaku. Dan aku malu sendiri ketika melihat temanku bisa makan mie ayam pakai sumpit, rasanya ingin belajar, tapi entah kenapa sampai sekarang kok tidak bisa juga. Ketika main-main ke rumahnya pun, makan siangnya adalah mie ayam yang dengan baik hati dibelikannya untukku, lagi-lagi letaknya di dekat sebuah sekolah. Pertama kali beli mie ayam sendiri adalah waktu aku tidak bisa masuk rumah gara-gara tidak bawa kunci. Seorang anak SMP pemalu yang kurus kecil dan kelaparan membeli mie ayam di warung dekat sebuah perempatan, yang kelak di kemudian hari akan kudatangi lagi, berkali-kali, termasuk dengan seorang laki-laki yang istimewa bagiku. Bicara tentang laki-laki, pertama kalinya pula aku diajak makan oleh seorang laki-laki adalah waktu SMP juga, di warung mie ayam dekat sekolah tetanggaku, hanya saja itu baru sebatas janji, karena pada hari H nya malah terjadi gempa besar yang mengagal-totalkan rencana itu.
Pada masa SMA, kedekatanku dengan mie ayam bertambah lagi. Pada hari pertama masuk sekolah dan mengenal kantin sekolahku, makanan yang kupesan pertama adalah mie ayam, bukan nasi rames, soto, apalagi bakso. Masih ingat rasanya ketika itu, mie ayam Mas Atang yang waktu itu agak keasinan namun tetap enak, selalu jadi makanan favoritku di kantin, bahkan sampai lulus. Di SMA tercinta jugalah aku bertemu dengan sesama penggemar mie ayam, yang quote-nya sampai sekarang masih kuingat, “Aku masih bisa membedakan rasa antara satu bakso dengan lainnya, bisa tahu mana yang enak dan tidak, tetapi aku tidak bisa membedakan rasa mie ayam, karena di lidahku rasanya enak semua. Inilah makanan paling enak di dunia.” Quote yang agak lebai ya? Tapi menurutku itu ada benarnya juga. Dan pada masa inilah aku bersama teman-temanku mulai banyak main-main ke seluruh sudut Jogja, dan mencoba mie ayam juga. Paling berkesan adalah ketika mencoba mie ayam dengan teman sebangkuku di sebuah rumah makan yang berada di Tamsis pada malam hari yang suram, setelah mengikuti seminar yang ternyata adalah kedok sebuah MLM untuk merekrut anggota baru. Setelah melarikan diri dari sana, kami makan di rumah makan itu sambil menertawakan kebodohan kami dan berencana membalas dendam pada teman yang mengundang kami.
Kuliah… kalau untuk menulis pengalaman dengan mie ayam di masa sekarang ini, sudah banyak, walaupun aku baru menduduki bangku kuliah selama setahun. Sebagian besar karena seseorang yang tadi sudah kusebutkan secara sekilas di atas, seseorang yang sangat berarti bagiku, dan membuat kegemaranku pada makanan ini makin menjadi-jadi. Pada waktu pertama kali ke rumahnya, saat itu juga aku ditraktir mie ayam yang warungnya ada di dekat sebuah lapangan. Kalau pergi kemana-mana, paling sering pulangnya mampir ke warung mie ayam. Dia juga yang merekomendasikan warung mie ayam enak dan murah padaku, walaupun sebenarnya dia dapat dari orang lain juga. Dan yang paling sering, adalah taruhan sepakbola atau apapun, tetapi bukan dengan uang, melainkan mie ayam, yang lebih sering kumenangkan. Caranya makan krupuk dengan kuah mie ayam yang selalu kutertawakan. Atau diguncang gempa waktu makan mie ayam sehabis muter-muter lihat pengungsi di Maguwoharjo dan diguyur hujan lebat. Atau…ah sudah tak terhitung banyaknya kekonyolan dan kenangan yang kulalui bersamanya menyangkut makanan satu ini, meskipun tentu saja tidak semua bersamanya. Masih segar di ingatanku ketika pergi ke warung mie ayam dekat kampus bersama seorang temanku, dan kami ngobrol, curhat-curhat galau di meja lesehan, dan akhirnya teman perempuanku ini membuatku takjub dengan memesan semangkok lagi.
Inilah semangkok kehangatan di waktu dingin dan semangkok kesegaran di waktu panas. Betapa aku menikmati setiap untai mienya yang lembut, ayamnya yang berbumbu, sawi hijau yang memberi warna segar di tengah tumpukan cokelat putih, dan kuahnya yang kental, dengan ditambah kecap manis, saos botolan dengan isinya yang kadang susah dikeluarkan, serta sesendok kecil sambal cabai. Mungkin bukan makanan yang terlalu memenuhi standar kesehatan dan tidak baik dimakan setiap hari. Namun aku sudah begitu cintanya dengan makanan ini, sehingga kalau ada kesempatan selalu menyantapnya (apalagi kalau ditraktir ^^). Karena semangkok mie ayam telah banyak memberi kenangan bagiku dan betapa kebahagiaan kehidupan bisa ditemukan di dalam hal-hal yang kecil, seperti dalam semangkok mie ayam. Menyantapnya saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri, karena kita masih bisa membelinya, makan, dan hidup. Apalagi dengan keberadaan orang-orang yang membuat semangkok mie ayam menjadi lebih bermakna, lebih dari sekedar pengganjal perut. Betapa hidup ini indah, namun kita sering luput melihatnya, karena dibutakan oleh hal-hal yang jauh dan besar, padahal ada banyak hal-hal kecil yang patut kita syukuri setiap harinya.
#hanyasekedarisengiseng :p
0 comments:
Posting Komentar