Pages

Jumat, 20 April 2012

KISAH SAWAH

Aku yakin, setiap orang pasti pernah mendengarkan dongeng. Tentang putri cantik, pangeran tampan, kastil, naga-naga, peri, dan segala keajaiban negeri dongeng. Mereka tidak benar-benar ada, mereka hanyalah fantasi dari pengarangnya. Namun, karena itulah orang-orang menyukai dongeng. Fantasi tiada henti, yang mengajak para penikmatnya melanglang buana dalam pikirannya, tanpa batas ruang maupun waktu.
Tetapi, kadang-kadang hal yang nyata pun bisa menjadi dongeng. Bila dulu ia ada, namun kemudian menghilang selamanya. Dan yang tertinggal hanyalah dongeng-dongeng usang tentangnya.  Seperti yang telah terjadi di negeriku.
Namaku Reiha. Aku adalah seorang gadis yang baru saja berusia 17 tahun. Aku tinggal di negara yang terletak di sebuah pulau kecil. Negara Jalatra, itulah namanya. Meskipun negeriku kecil, namun kata orang ini negara terkeren di dunia. Bagaimana tidak, negaraku adalah negara kaya. Setiap jengkal tanahnya ditutupi gedung pencakar langit yang megah. Mall, kafe, pabrik, dan perkantoran berjajar di sepanjang jalan raya yang lurus dan lebar. Taman kota diletakkan di antara kepadatan gedung, atau di depan komplek perumahan elit. Kolam renang berair jernih dibangun di depan apartemen mewah. Padang golf yang terhampar luas menjadi tempat berakhir pekan dan membangun relasi bisnis yang sempurna. Singkatnya, negeriku ini adalah negeri untuk orang-orang kaya.
Aku termasuk beruntung, bisa hidup enak di negara ini. Itu karena ayahku adalah bos pabrik makanan olahan. Aku tinggal di sebuah perumahan elit di Kota Madra, tak jauh dari ibukota Jalatra. Setiap hari, aku menikmati hidup mewah di kota yang tertata rapi ini. Namun, ada sesuatu yang kucari. Sesuatu yang selama ini tak pernah kutemukan, di pelosok negeri  sekalipun. Aku mencari sawah. Ya, sawah. Lahan tempat penanaman padi ini tidak ada di negaraku.  Atau, dulunya ada namun sekarang hilang, begitu menurut nenekku. Beliau pernah menceritakan tentang masa kecilnya yang indah padaku. Konon, dulu di sekitar rumahnya banyak sawah. Meski orang tua nenekku bukan petani, tetapi nenekku sangat senang bermain di sawah bersama teman-temannya. Namun, ketika beliau beranjak remaja, sawah-sawah itu mulai menghilang, digantikan gedung-gedung beton. Puncaknya sekarang, sepertinya seluruh sawah sudah lenyap, hingga negeri kami terpaksa mengimpor bahan makanan dari sebuah negara kepulauan bernama Nusantara. Kata Ayah, di Nusantara masih banyak sawah. Kami mengimpor bahan makanan mentah dari sana, kemudian mengolahnya dan menjualnya lagi kesana, tentu saja dengan harga lebih mahal. Agak licik kan?
Mungkin orang-orang menganggapku aneh. Bagaimana tidak, aku ingin melihat sesuatu yang tidak ada. Tetapi aku benar-benar penasaran dengan sawah. Kata nenek, sawah itu sangat indah. Seperti hamparan karpet hijau bila masih muda, sewarna padang golf, dan bila bulir-bulir padi sudah masak akan berubah menjadi permadani kuning emas. Aku ingin melihatnya meskipun sekali saja. Sebenarnya aku bisa saja langsung terbang ke Nusantara dan melihat sawah, namun ayahku melarang gara-gara ada teroris yang meledakkan bom di sebuah hotel internasional. Hah, aneh-aneh saja.
Suatu siang yang cerah di akhir pekan, aku sedang duduk di bangku taman kota dekat rumah. Sebuah notebook merah kuletakkan di pangkuan. Saat ini, aku sedang berinternet ria dengan gratis karena taman ini dilengkapi hot spot. Canggih kan? Seperti biasa, setiap berinternet aku mencari informasi tentang sawah. Kupandangi gambar hamparan sawah hijau zamrud di layar notebook-ku dengan sendu. Entah kapan aku bisa melihatnya sendiri. Kakakku pernah memergokiku sedang memandang gambar sawah dengan tatapan memuja. Setelah itu bisa ditebak, dia mentertawakanku dan mengejekku sinting. Sejak saat itu, aku tidak mau ngenet di rumah lagi.
Aku mengerucutkan bibir. Memori yang benar-benar menyebalkan. Kumatikan notebook-ku dan kututup keras-keras. Aku melihat jam dan memutuskan untuk pulang sekarang. Semoga kakakku yang super menyebalkan itu sedang tidak ada di rumah. Aku bangkit berdiri, melemaskan tubuh sejenak, sambil memandang ke sekitarku. Tampak sepasang kekasih sedang asyik bermesraan di balik sebatang pohon. Dua ekor kucing menyelinap keluar dari serumpun bunga lili merah yang sedang berkembang, mungkin habis pacaran juga. Ketika sedang memandang kucing kedua yang berhenti sejenak untuk menjilati badannya, aku melihat sesuatu yang lain. Di antara rumpun lili merah itu, tampak sebuah benda persegi yang sepertinya dari kulit. Warnanya hitam. Perlu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa benda itu adalah dompet.
Aku menuju ke tempat dompet itu berada dan memungutnya. Sepertinya dompet ini sudah agak lama berada di situ karena sudah lembab dan kotor. Aku heran, mengapa tidak ada yang mengambilnya? Kubuka dompet itu, dan seketika kutemukan jawabannya. Memang di dalamnya ada surat-surat penting, id card, SIM, STNK, dan kuitansi-kuitansi. Namun, tidak ada selembar pun uang. Aku mendengus pelan. Pantas saja tidak ada yang memungutnya. Aku hampir saja membuangnya, ketika sebuah pikiran melintas di benakku. Bagaimana kalau pemilik dompet ini memerlukan surat-surat yang ada di dalamnya? Dan aku mau membuangnya begitu saja? Perasaan bersalah seketika menyergapku. Kubuka dompet hitam itu dan kuambil id card di dalamnya. Ternyata pemilik dompet ini adalah seorang perempuan berusia 52 tahun bernama Anita. Dia tinggal di Perumahan Bougenvile no 77. Aku tersenyum. Tempat itu tidak begitu jauh dari sini. Kira-kira 15 menit naik motor pasti sampai.
Kukurangi kecepatan motorku ketika memasuki sebuah gerbang bercat hijau  bertuliskan “Perumahan Bougenvile”. Kuamati setiap rumah, mencari rumah no 77. Perumahan ini lebih sederhana daripada perumahan tempatku tinggal. Meskipun demikian, lingkungannya juga sama bersihnya. Aku mengedarkan pandang lagi ke sekitarku. Seharusnya sudah hampir sampai, karena rumah yang baru saja kulewati menunjukkan angka 70. Aku mencari dengan lebih teliti, berharap cepat menemukannya. Dan, bingo! Itu dia, rumah nomor 77! Dengan hati gembira, kuarahkan motorku kesana, memasuki halamannya yang lumayan luas.
Rumah itu dipagari dengan pagar tanaman tetehan yang rimbun. Halamannya cukup luas, dan ditanami berbagai macam pohon, dari pohon mangga sampai tanaman hias. Rumahnya sendiri terdiri dari dua lantai dan dicat hijau muda. Pot-pot tanaman hias diatata dengan rapi di teras berlantai keramik hijau tua. Pagar kayu tinggi menempel di kedua sisi dinding samping rumah, memanjang sampai batas halaman. Entah apa fungsi pagar itu. Mungkin pemilik rumah ini mempunyai kolam renang di belakang rumah.
Aku memarkir motor, kemudian melangkah menuju teras yang sejuk. Kupencet bel di samping pintu rumah dan menunggu. Terdengar suara langkah-langkah menuju pintu, kemudian daun pintu berwarna cokelat tua itu terbuka. Seorang wanita setengah baya muncul dan ketika melihatku wajahnya menyiratkan kebingungan.
“Maaf, anda mencari siapa?” tanya wanita itu sopan.
“Um,  saya mencari Ibu Anita,” aku menjawab, sedikit gugup.
“Oh, saya sendiri. Ada apa ya?”
“Eh, begini, saya tadi menemukan sebuah dompet. Apa ini milik ibu?” kuulurkan dompet kulit hitam itu.

Bu Anita menerima dompet yang kuulurkan dan membukanya. Setelah memeriksanya beberapa saat, ia tersenyum dan mendesah gembira. Kemudian dia berseru memanggil seseorang, “Mardin, sayang, cepat kemari!” 
Terdengar suara langkah lagi, kemudian muncul seorang laki-laki yang usianya hampir sama, mungkin sedikit lebih tua. Sudah pasti ini suami Bu Anita. Laki-laki itu memandang wajah Bu Anita yang girang dengan ekspresi bertanya. Bu Anita tersenyum lebar, melambaikan dompetnya lalu menunjukku. Seketika, wajah lelaki itu memancarkan keceriaan yang sama. Ia berjalan ke arahku dan menggenggam tanganku, matanya bersinar-sinar.
“Apakah kau yang menemukannya? Dimana?” ia bertanya, nadanya riang.
“Ya, saya menemukannya di taman dekat rumah saya, Pak…em..” aku nyengir gugup padanya.
“Mardin, namaku Mardin,” ia tersenyum dan berpaling kepada istrinya, “Kurasa kita tidak perlu lagi membuat STNK baru sore ini”
“Ya, kau benar. Kukira setelah dicopet kemarin, dompet ini akan hilang selamanya. Kita benar-benar harus berterima kasih pada gadis ini,” Bu Anita tersenyum lembut padaku, “Dan kurasa kau belum memberitahu kami siapa namamu, cantik?”
Aku sedikit tersipu, “Reiha.”
“Oh, nama yang bagus. Nah Reiha, bagaimana kalau sedikit ucapan terima kasih? Kau mau makan siang bersama kami? Kebetulan hari ini aku membuat puding,” sungguh menggiurkan tawaran Bu Anita ini. Kebetulan aku juga belum makan siang. Tapi…
“Ayolah nak, hanya dengan ini kami bisa berterima kasih padamu,” melihat ekspresi ragu-ragu di wajahku, Pak Mardin ikut mendesak. Kurasa aku tidak bisa menolak…
Makan siang telah selesai. Masakan Bu Anita memang benar-benar enak. Perutku rasanya penuh sekali. Sekarang, kami duduk mengelilingi meja makan dan Pak Mardin menceritakan tentang anak-anaknya yang merantau ke Nusantara. Tiba-tiba perutku melilit, alarm untuk melakukan panggilan alam. Sambil meringis, aku bertanya letak toilet. Bu Anita menunjuk sebuah pintu di belakangku. Aku langsung berlari, sambil menahan malu.
Selesai mengeluarkan isi perut, aku berjalan melewati sebuah lorong pendek, kali ini dengan berjalan kaki. Di lorong itu terdapat sebuah jendela kaca. Ketika meliriknya, secercah warna hijau tertangkap oleh mataku. Aku berhenti, dan menempelkan wajahku ke kaca untuk melihatnya lebih jelas. Seketika mulutku menganga dalam jeritan tanpa suara, membeku. Begtu tersadar dari kebekuan, aku berlari menuju pintu kayu di sebelah kanan jendela dan menyentaknya hingga terbuka.
Hamparan padi nan hijau menyambutku begitu membuka pintu. Angin yang bertiup membuat daunnya meliuk seperti tangan penari. Sinar matahari siang membuat warna hijaunya makin cemerlang, bagai zamrud yang berkilau. Meskipun tidak luas, tapi tetap memukau, bahkan lebih indah daripada yang selama ini kubayangkan. Inilah yang kucari selama ini. Inilah, sawah.
Sejak hari itu, aku sering berkunjung ke rumah pasangan yang baik hati itu untuk sekedar melihat sawah. Kuamati perkembangannya, sampai saat bulir-bulir padinya berwarna keemasan. Aku merasa sangat bahagia dan damai bila berada disana. Seolah-olah, kelelahanku tersapu oleh angin yang selalu bertiup di sekitar sepetak sawah itu.
Hari ini aku tidak sabar menunggu waktu pulang sekolah. Sudah dua minggu lamanya aku tidak mengunjungi Pak Mardin dan Bu Anita, karena sedang ada ujian. Terakhir aku kesana, yaitu saat membantu mereka memanen padi. Aku berharap bisa ikut bertanam padi bersama mereka.
Ketika motorku mendekati rumah no 77, kerinduanku seolah tak bisa dibendung lagi. Aku ingin segera melihat sepetak sawah itu. Oase pribadiku di tengah gedung-gedung beton kota ini. Sampai di depan rumah no 77, aku menoleh dengan gembira. Tetapi yang kulihat sungguh di luar perkiraan. Rumah itu sudah rata dengan tanah, begitu juga dengan sawahnya. Yang terlihat hanya tanah yang telah dibangun pondasi. Aku terkejut, lemas. Kenapa semua ini harus terjadi?
“Maaf, kami menjualnya seminggu yang lalu. Kami akan berangkat ke Nusantara hari ini. Selama ini kami menunggumu datang, untuk menjelaskan,” terdengar suara lemah Bu Anita di sampingku.
Aku terpaku, tak sanggup berbicara, apalagi bergerak. Ketika akhirnya aku bisa berbicara, yang bisa kukatakan hanya, “Mengapa?”
“Kami terpaksa. Hasil dari sawah sempit kami tidak memadai. Sudah tidak ada irigasi, dan tanah di sini sudah tercemar bahan kimia,” Pak Mardin menghela napas berat, “Kami akan pindah ke Nusantara, dan bertani di sana, bersama anak-anak kami. Kami mohon kau mau memaafkan kami, Reiha.”

Aku tidak sanggup mengatakan apa-apa. Aku turun dari motor dan memeluk pasangan setengah baya itu, menangis sesenggukan. Mereka juga meneteskan air mata dan mengelus punggungku. Hilang sudah, sawah terakhir di negeri ini. Aku hanya berharap sawah-sawah di Nusantara tidak mengalami nasib yang sama dengan sawahku yang hilang. Agar mereka tidak kekurangan makan, agar anak cucu mereka bisa tetap melihat keindahannya. Agar hamparan sawah itu tetap ada, dan tidak menjadi sekedar dongeng tentang keindahan purba di setiap helai daun padinya.



*Cerpen jaman SMA,, buat tugas Bahasa Indonesia,,bener-bener g jelas ceritanya,,hahaha :p

0 comments:

Posting Komentar