Mengapa saya begitu heboh ingin menghubungi dia dan mengapa saya begitu suka bersebelahan dengannya di hari Senin? Jangan mikir yang aneh-aneh, saya bukannya ada hubungan terlarang dengan dia atau ada bisnis-bisnis yang berbahaya. Saya dan dia cuma ingin mengobrolkan satu hal, yaitu "SEPAK BOLA".
"Itu masih aneh mbak. Mana ada cewek-cewek ngobrolin bola, yang ada mereka suka ngegosip kalee", mungkin itu suara batin anda ketika membaca dua kata yang sengaja saya tulis dengan huruf kapital tersebut. Saya akui, saya memang suka bergosip layaknya cewek-cewek lain, namun saya juga senang ngobrol sepakbola, apalagi dengan teman saya tersayang itu. Hari Senin belum lengkap rasanya jika tidak mengobrolkan sepakbola. Tentang Liga Inggris, Liga Champions, Chelsea yang seri, Manchester United yang tergelincir di pekan-pekan akhir, pemain-pemain ganteng, El Clasico, kartu merah, kuning, wasit, offside, gol, dan lain sebagainya. Entah mengapa saya merasa senang saat melakukannya. Entah mengapa ada kepuasan tersendiri saat larut dalam obrolan, meskipun kami hanya merewind pertandingan yang sudah berlalu, saling mendukung dan mencemooh tim, maupun berkomentar aneh-aneh.
Kalau berbicara sepak bola, saya jadi ingat pembicaraan dengan mantan teman sekelas saya waktu SMP. Alkisah di suatu siang yang panas, saya dan dia duduk di teras rumahnya yang lumayan lebar. Saya sedang memangku helm merah saya yang paling bagus sedunia dan mulai mengoceh nggak penting. Mari saya verbatimkan pembicaraan tersebut:
S: saya ; T: teman, pembicaraan asli menggunakan bahasa jawa, tetapi telah diterjemahkan demi alasan nasionalisme dan menuruti sumpah pemuda :)
S: "Liat ni helm ku, banyak stikernya kan? Ini stiker SMP, SMA, kuliah, dan yang ini stiker klub bola kesukaanku". (menunjuk masing-masing stiker sambil nyengir-nyegir gak jelas)
T: (mengerutkan kening) "Kamu kok suka banget sih sama sepak bola?"
S: "Ya iya dong, sepak bola itu seru, tau".
T: "Iih, apaan olahraga kaya' gitu. Gak penting banget, masa' satu bola diperebutin sama 22 orang? Mending beli sendiri-sendiri".
S: (ketawa sedikit kecut) "Weeh, kamu sendiri suka nonton basket. Itu kan juga termasuk rebutan bola?"
T: "Kan basket lebih proporsional daripada bola. Orang yang ngrebutin cuma 10, bolanya juga lebih gede. Lagian pemain basket itu cakep-cakep" (dengan mata berbinar-binar)
S: "Ganteng pemain bola ah, daripada pemain basket. Kebanyakan mukanya cina-cina gitu".
T: "Justru itu. Lagian mereka juga tinggi, tambah keren dong".
S: "Ah, tetep seru sepak bola. Basket apaan, kebanyakan "gol"nya, tiap 5 detik sorak-sorak, tepuk tangan. Kalo sepak bola kan nunggunya lama, bikin deg-degan"
T: "Asikan basket, kalo sepakbola nunggu golnya kelamaan, kan kalo di basket bisa sorak sampe puas"
S: ".... (Udah deh, sampai sini dulu, intinya udah nangkep kan?selanjutnya cuma perdebatan yang makin g penting,,hehe)
T: "Asikan basket, kalo sepakbola nunggu golnya kelamaan, kan kalo di basket bisa sorak sampe puas"
S: ".... (Udah deh, sampai sini dulu, intinya udah nangkep kan?selanjutnya cuma perdebatan yang makin g penting,,hehe)
Begitulah perdebatan antara dua orang perempuan dengan kesukaan (nonton) olahraga yang berbeda. Namun, saya sungguh tergelitik dengan pernyataan teman saya, yang mengatakan bahwa sepak bola adalah olahraga nggak penting. 22 orang memperebutkan 1 bola, dan banyak diantara mereka adalah miliader yang bisa membeli bola sebanyak satu kontainer dengan mudahnya? Permainan macam apa itu? Lagipula jam tayangnya kebanyakan malam dan dini hari. Apa nggak ngantuk?
Menurut saya, sepak bola adalah sebuah drama yang dimainkan selama 90 menit + extra time. Aktornya adalah 22 orang laki-laki yang dibagi dalam dua tim berbeda. Panggungnya adalah lapangan hijau. Berbagai peran dimainkan diatasnya, kiper, defender, midfielder, winger, playmaker, striker, wasit, hakim garis, manager. Berbagai ekspresi pemain ditampilkan, tendangan bebas, penalti, selebrasi, diving, kemarahan, kesedihan, penyesalan, kegembiraan. Anthem yang dinyanyikan para suporter adalah musik latar. Lambaian bendera dan spanduk-spanduk adalah background panggung. Stadion adalah gedung teater. Suporter adalah penonton sekaligus pendukung. Hanya ada tiga akhir cerita, menang, kalah, atau seri. Dan semuanya itu mampu menghasilkan suatu daya magis yang luar biasa, mampu menyihir mata para penontonnya, bahkan yang cuma menonton lewat bantuan satelit dan TV.
Memang selera setiap orang berbeda-beda. Dan saya juga masih awam soal sepakbola. Namun saya begitu menyukai momen ketika drama itu sedang tayang di televisi rumah. Ikut bersorak ketika ada gol, ikut bahagia ketika tim yang saya dukung menang, dan jadi bad mood ketika yang terjadi adalah sebaliknya. Mengagumi taktik sang manager, memaki ketika tim lawan mendapat penalti, dan berdebar-debar ketika pertandingan hampir berakhir.
Dan kami bersedia bangun dini hari untuk menonton drama luar biasa itu. Apalagi jika menyangkut partai final maupun tim kesayangan yang sedang bertanding. Meskipun paginya terpaksa telat bangun, tidak sarapan, dan dalam kasus teman saya, tidak berangkat kuliah, tetapi kami tetap melakukannya. Saya ingin menjadi bagian dari sebuah sejarah dan melihat sendiri bagaimana proses dari sebuah legenda. Sepak bola jugalah yang membuat saya rela melakukan taruhan dengan pacar saya, makan mie ayam dua mangkok apabila tim yang didukung kalah, dan kami sama-sama pernah melakukan hal bodoh itu. Bukankah bodoh, mempercayakan nasib perut pada sebuah tim yang bahkan tidak tahu dirimu mendukungnya, dan tidak ada cara mengontrol hasil pertandingan kecuali dengan berdoa? Namun, kami tetap menikmatinya.
Ada satu lagi pertanyaan yang juga menggugah saya. Pertanyaan ini berasal dari salah satu senior di fakultas saya. Pada suatu hari, ia memergoki saya dan teman yang sudah saya sebutkan di awal, membicarakan seorang pemain sepak bola yang menurut kami ganteng di status miliknya. Sang senior bertanya "Cewek itu kalo liat bola, yang dilihat permainannya, atau pemainnya?". Dan sayapun menjawab dengan sejujurnya, tentu saja kami, para wanita, lebih menyukai pemain bola yang ganteng dan bertubuh seksi. Namun, tujuan utama kami menonton bola adalah melihat permainannya. Adanya pemain ganteng nan seksi dapat dianggap sebagai bonus spesial untuk kami. Jadi, wanita yang menonton sepak bola akan mendapat keuntungan lebih. Menonton permainan yang memukau dan menyejukkan mata dengan wajah beberapa pemainnya yang ganteng-ganteng :p.
0 comments:
Posting Komentar