Tahun ini, ada dua sepupuku yang hendak kuliah. Satu orang sudah diterima di salah satu universitas negeri lewat jalur undangan, sementara yang satu lagi hendak mengikuti SNMPTN 12-13 Juni nanti. Sepupuku yang sudah diterima lewat jalur undangan merasa bahagia dan ingin segera merasakan menjadi mahasiswa. Semua itu terlihat dari status-status FBnya (kepo mode on :p). Sementara sepupuku yang satunya lagi, tidak tahu perasaannya bagaimana, karena aku tidak tahu FBnya (bersyukurlah dia, selamat dari ke-kepo-anku :p). Melihat sepupu-sepupuku itu, aku jadi ingat diriku sendiri, 2 tahun yang lalu. Waktu itu, aku baru saja diterima di U** (sensor :D) jurusan psikologi melalui jalur UM (ujian masuk) tertulis. Rasanya luar biasa senang, karena berhasil diterima di U**, pilihan pertama lagi, padahal orang yang mengikuti ujian itu banyaknya minta ampun. Setelah diterima, aku mengalami libur terlama seumur hidup, yaitu 3 bulan. Maklum, sebagai anak sekolahan, libur semesteran paling mentok cuma 3 minggu. Ketika liburan hampir selesai, rasanya jantungku berdebar-debar, campuran antara senang dan takut. Senang, karena akan menjadi mahasiswa. Takut, karena aku buta terhadap seperti apa kehidupan mahasiswa sebenarnya.
Mahasiswa. Sebagai anak SMA, tentu saja aku punya bayangan tersendiri mengenai makhluk satu ini. Ketika mendengar kata "mahasiswa", yang ada di pikiranku adalah makhluk yang "wawww... kereen" dan derajatnya lebih tinggi lebih tinggi dari siswa, namanya juga maha + siswa. Menurutku (dulu), berdasarkan cerita, stereotipe, dan "dengar-dengar" dari orang lain, mahasiswa itu ada tiga tipe, yaitu:
- Mahasiswa teladan: Mahasiswa yang kerjaannya dapat prestasi melulu, entah dari lomba, maupun prestasi akademik. Mahasiswa ini suka ke perpus, selalu ngumpulin tugas tepat waktu, aktif di kelas, berilmu banyak, dan suka ikutan lomba-lomba (dan menang). Ia juga suka mencari beasiswa, terutama yang student exchange, sehingga baginya pergi keluar negeri ibarat pergi ke Kaliurang naik motor. Ia mengikuti seminar-seminar, akrab dengan dosen, jadi asisten dosen, lulusnya cepat + cum laude, dan nilainya kebanyakan A.
- Mahasiswa aktivis: Mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang suka ikutan demo-demo, berorganisasi, dan rapat setiap hari. Mereka menjadikan kampus sebagai rumah kedua, saking sibuknya berorganisasi. Hobinya pulang malam dan ngmpul dengan teman-teman. Jika sedang ribet-ribetnya dengan organisasi, kadang-kadang kuliahnya yang menjadi korban. Mahasiswa tipe ini identik dengan lulusnya lama.
- Mahasiswa hedonis: Tipe yang sering digambarkan di sinetron-sinetron. Mahasiswa borjuis yang setiap hari naik mobil ke kampus, kalau pulang kuliah sering nongkrong di mall-mall. Dandanannya mengikuti mode masa kini dan sangat up to date (termasuk gadgetnya :D). Orang tuanya kaya dan ia akan mewarisi perusahaan bokapnya (menurut FTV --"). Ia juga memakai bahasa gaul "elo" "gueeh" dan tidak mau bergaul dengan orang yang menurutnya tidak sederajat (sekali lagi, ini menurutku dulu, akibat observasi sekilas-sekilas pada FTV dan sinetron).
Selain tiga tipe di atas, aku juga mempersepsi bahwa mahasiswa itu makhluk yang bebas. Dari mulai pakaian, mereka sudah tidak berseragam. Memillih mata kuliah juga bebas, bebas dari pengawasan orang tua (bagi yang ngekos), bebas mau lulus kapan, bebas mau masuk atau nggak (karena dengar-dengar ada jatah mbolos),sampai yang ikut pergaulan bebas beneran. Mahasiswa juga makhluk yang mandiri, teman-teman sekelas mereka selalu berganti, sehingga harus terbiasa kemana-mana sendiri. Selain itu, mahasiswa identik dengan masuk siang, libur di hari Sabtu, dan libur semesteran yang lama.
Dan apakah yang terjadi setelah aku menjadi seorang mahasiswa "beneran"?
Well, ternyata tidak sesuai dengan persepsiku dulu dan yang jelas, tidak seindah bayanganku. Mahasiswa memang pakai baju bebas, namun ternyata hal itu membuat bingung juga, besok pakai baju apa lagi? Kalau kebanyakan ganti, cucian menggunung, kalau nggak pernah ganti, dikira nggak punya baju, walaupun ada mahasiswa yang tidak peduli dengan hal itu, kebanyakan dari mereka adalah cowok (berdasarkan observasi pribadi). Memilih mata kuliah juga bebas, tapi hal itu baru terasa semester 5 karena 4 semester sebelumnya mata kuliah yang ditawarkan kebanyakan atau seluruhnya bertanda WAJIB. Setelah bebaspun, malah jadi bingung dan galau, sampai survei kepada kakak angkatan mengenai bagaimana rasanya mengambil mata kuliah tersebut (pengalaman pribadi). Mandiri? Waah, aku juga belum bisa seperti itu, aku memiliki teman dekat yang kemana-mana selalu bersama dan sekelas terus selama semester ini, meskipun semester depan tidak lagi semuanya. Itu membuatku merasa agak insecure dan cemas karena tidak ada mereka di kelas (it's a bit sad :( ). Juga ada sesuatu yang tidak kuketahui pada saat SMA, ternyata tugas kuliah dari dosen itu BANYAK BANGET!! Apalagi laporan praktikum yang menuntut daya tahan terhadap kantuk yang lebih kuat (baca: bergadang). Sehingga bagi mahasiswa, tidur merupakan suatu kenikmatan tiada tara :3. Liburan akhir pekan pun kadang-kadang tidak bisa dilakukan karena kuliah pengganti, apalagi jika mengikuti organisasi.
Sementara mengenai tipe-tipe mahasiswa yang sudah kuungkapkan sebelumnya, memang ada mahasiswa yang sesuai dengan tipe tersebut. Ada teman yang merupakan tipe pertama, ada yang tipe kedua, dan bahkan tipe ketiga juga ada. Ada juga yang merupakan tipe kombinasi, entah 1 dengan 2, atau 1 dengan 3. Lalu, aku termasuk tipe yang mana dong?
Jawabannya adalah: TIDAK ADA.
Aku baru menyadari ketika sudah hampir dua tahun kuliah, bayanganku terhadap mahasiswa dulu melenceng semua. Dan soal tipe-tipe itu, aku tidak termasuk dalam salah satupun. Aku memang memilki nilai yang cukup lumayan, tetapi tak pernah berprestasi, apalagi sampai keluar negeri. Aku ikut organisasi, tapi tidak pernah ikut demonstrasi dan kadang-kadang mbolos rapat, kalau lagi males. Aku sama sekali tidak gaul dan kaya, jadi tidak bisa hedonis deh. Aku ini memang mahasiswa yang nanggung, yang serba tidak jelas, dan abstrak. Jika diibaratkan tipe-tipe mahasiswa di atas (terutama yang berprestasi dan teladan, karena itu yang diharapkan semua universitas) adalah sesuatu yang "normal", maka diriku ini pasti yang namanya "abnormal". Mahasiswa yang abnormal.
Memang pada awalnya aku kurang puas dengan diriku yang sekarang. Kenapa aku nggak bisa seperti si dia yang keluar negeri? Yang berprestasi? Yang berhasil di organisasi? Yang ikut demonstrasi? Yang berpikir kritis? Yang ortunya kaya? (nggak deng). Semakin aku berusaha untuk "menjadi mereka", maka semakin sulit rasanya, dan semakin tidak puas diriku. Aku yang pendiam, aku yang nggak jelas, aku yang nggak aktif, aku yang ortunya nggak kaya (eh..). Mahasiswa yang bukan apa-apa dan siapa-siapa. Tidak terkenal di kampus, bahkan di angkatan sendiri. Pokoknya aku nggak bisa jadi seperti mereka dan aku (agak) kurang puas dengan itu.
Tadi saat kuliah antropologi, pak dosen mengatakan sesuatu yang bagiku menarik. Katanya, orang yang bahagia adalah orang yang bisa "nrimo" keadaannya. Bukankan itu falsafah hidup orang Jawa? Nrimo dalam arti ia tetap berusaha, namun hasil akhirnya diserahkan pada Yang Kuasa. Menerima hidup yang dijalaninya sekarang dan tidak ngoyo dalam mengejar sesuatu. Kata pak dosen, itulah yang membuat orang Yogya memiliki harapan hidup yang tinggi, karena dengan nrimo, mereka bahagia, dan bahagia memperpanjang usia. Meskipun ia "hanya" pedagang gorengan, atau pemilik angkringan. Mereka bisa bahagia dengan hal-hal kecil di sekelilingnya. Sedangkan aku? Mahasiswa yang belum bahagia karena tidak dapat menerima keadaan diriku sekarang. Walaupun sebenarnya, hidupku penuh hal-hal yang membahagiakan. Aku punya banyak orang yang peduli padaku. Orang tua yang masih melimpahkan cinta dan mampu membiayai kuliahku. Kehidupan yang normal. Kesehatan tubuh yang baik, meskipun kesehatan jiwanya kadang-kadang diragukan :p.
Jadi, apa kesimpulan dari tulisan yang panjang ini? Aku akan menerima seperti apa diriku sekarang, sambil berusaha memperbaikinya. Jika ada bagian diriku yang tidak berubah menjadi lebih baik lagi, mungkin itu sudah terukir di atas batu. Walaupun kenyataan kehidupanku sebagai mahasiswa tidak sesuai bayangan dan harapan, namun semua itu tidak masalah, karena kalau dilihat dari sudut yang lain, jadi mahasiswa abnormal itu sebenarnya menyenangkan, paling tidak bagi perasaanku. Menurut Rogers, hal ini seperti membuat konsep diri dan pengalaman menjadi kongruen, semakin tidak kongruen, maka orang itu akan semakin rentan menderita gangguan jiwa. Karena aku tidak mau menderita gangguan jiwa, maka konsep diriku yang awalnya adalah "jadi mahasiswa itu harus berprestasi, begini, begitu..." diubah dan disesuaikan dengan pengalaman yang ada sekarang, yaitu mahasiswa yang standar-standar saja. Namun, bukan berarti aku tidak pengen lulus cepat dengan predikat cumlaude :p.
Maka dengan bangga aku akan bilang bahwa aku adalah MAHASISWA ABNORMAL YANG BAHAGIA!! ^v^b
berbahagialah wahai mahasiswa abnormal, dan bagi para calon mahasiswa, kalau bisa jangan ikuti jejak saya, jadilah mahasiswa yang "normal" (tapi usahakan jangan tipe yang ketiga yaa :p). Namun jika pada akhirnya anda tetap jadi mahasiswa abnormal, tetaplah tersenyum dan semangat :).
dan saya mohon jangan jadi manusia yang abnormal, dalam keadaan psikologisnya....
0 comments:
Posting Komentar