Untuk kalian yang (merasa) bernasib sama :*
Menjadi pengurus organisasi, apalagi jika organisasi itu sedang berada dalam masa krisis memang tidak mudah. Butuh keberanian dan kemauan ekstra. Kita harus rela berkorban, waktu, tenaga, pikiran, bahkan tak jarang dengan dana. Kita dituntut berkomitmen dan bekerja keras, mengabdi dengan diiringi cinta yang tulus. Namun adakalanya, ada rasa jenuh, bosan, dan lelah yang menghampiri, apalagi di tengah-tengah masa kepengurusan. Ingin rasanya pergi jauh-jauh dan melempar semua beban ke laut yang dalam biar tak muncul lagi. Marah rasanya melihat orang-orang yang datang pergi seenaknya, mengabaikan tugas dan panggilan, tak mempedulikan semua usaha keras kita. Wajar jika merasa frustasi apabila kewajiban menumpuk dan tak berjalan sesuai harapan. Namun, life must go on kan. Kita tak bisa terus-menerus merutuki nasib. Tak bisa terus terpuruk dalam kebosanan dan kejenuhan. Ada tugas yang menanti di depan, ada yang harus dikerjakan. Bukan hanya untuk kita, namun juga untuk teman-teman di dalam organisasi. Keluarga kita. Di bawah ini ada sebuah tulisan yang semoga dapat menjadi sejumput inspirasi untuk menumbuhkan semangat baru. Meskipun aneh dan tidak begitu penting :p.
***
Pulang rapat hari ini, di tengah siraman lampu merkuri jalan raya, di bawah bulan sabit yang membuat langit seakan memiliki seulas senyum, saya menemukan sebuah perbandingan yang aneh, namun menarik. Saya membandingkan rasanya mengurus organisasi dengan masuk rumah hantu. Mengapa rumah hantu? Karena beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman mengunjungi Haunted House Festival di daerah Babarsari. Rumah hantu yang didirikan di sana sukses membuat kami menjerit-jerit nggak jelas. Dan sukses memberikan inspirasi untuk menulis ini.
Sebelum masuk rumah hantu, kami tentu saja membeli tiket, dalam kasus ini sebuah tiket berharga Rp. 15.000,00. Sedangkan untuk menjadi pengurus, saya dan teman-teman lain juga memiliki "tiket". Tetapi kami tidak membeli, kami diberi oleh teman-teman anggota yang lain sebuah tiket bernama kepercayaan. Dengan bermodalkan itu, kami diperbolehkan mencicipi "rumah hantu" kepengurusan organisasi. Mengapa saya menggunakan istilah rumah hantu? Bagi sebagian orang, rumah hantu merupakan sesuatu yang sangat menakutkan sehingga mereka tak berani masuk. Rumah hantu penuh risiko, kita tak tahu seperti apa bentuk ruangan di dalamnya dan wujud setan yang bergentayangan. Hanya orang-orang yang berani dan mau, yang masuk ke dalamnya. Demikian juga dengan organisasi, adalah "rumah hantu" dalam kehidupan nyata. Kita tak tahu seperti apa lika-likunya dan "setan" apa yang akan menyantroni ketenangan hidup sebelum masuk kedalamnya. Dan hanya orang yang mampu dan mau, yang akan memasuki dunia kepengurusan organisasi. Meskipun ia mampu tetapi ketika ia tidak mau, ia tidak akan masuk ke "rumah hantu", begitu juga sebaliknya.
Oke, tiket sudah di tangan, sekarang kita akan mulai menjelajah si rumah hantu ini. Wow, begitu banyak setan di dalamnya, mengelilingi saya dan empat orang teman lain. Kami berteriak-teriak ketakutan, berbaris berbanjar, dan saling memeluk erat pundak kawan di depannya. Para hantu muncul dari sudut manapun, dari balik kegelapan, mengagetkan kami dengan wajah dan suaranya yang seram. Menjadi pengurus juga tak berbeda. Para "hantu" masalah selalu muncul, mengelilingi kami, tak pergi-pergi. Kadang-kadang mereka muncul dari balik kegelapan, tiba-tiba, dan dari sudut yang sama sekali tak terduga. Ketika satu hilang, maka yang lain akan muncul, tiada akhir. Kami berusaha sekeras mungkin memecahkannya, dengan segala macam coping yang terpikir, seperti ketika di dalam rumah hantu, kami berteriak. Ada juga masalah yang membuat jatuh dan sangat down, apalagi ketika terjadi pada pemimpin, mirip dengan saat salah satu teman terjatuh dengan posisi jongkok di depan dua orang setan *eh. Begitu sulitnya untuk bangun, karena ia ada di paling depan, membuat teman-teman di belakang ikutan jongkok sehingga makin mempersulit usahanya untuk bangkit. Namun pada saat itu, saya tidak sendiri. Kalian tidak sendiri. Ada yang tangan memegang dari belakang, memeluk bahu, saling menguatkan *kecuali yang paling belakang, bisa dipeluk setan, hehe, g deng :p. Ada yang dipeluk, ada yang dijadikan sandaran di depan. Kami tidak sendirian, kami bersama-sama melalui "hantu-hantu", saling berbagi teriakan frustasi dan kehangatan tangan.
Ketika keluar dari rumah hantu dan melihat rumpun-rumpun bambu, rasanya lega sekali. Namun mas-mas pemandu mengatakan "Mbak, masih ada satu lagi rumah hantunya". Kami semua terkejut dan pasrah, ternyata masih ada lagi -____-. Seperti tanggung jawab dan tugas yang datang silih berganti. Sebuah acara selesai dilaksanakan, kami mengeluarkan nafas lega namun terpaksa menariknya lagi, karena acara lain akan segera menjelang, begitu terus selama setahun kepengurusan. Maka kami masuk ke rumah hantu yang lain lagi. Bedanya, di kepengurusan rumah hantunya tidak hanya dua, tetapi ada banyak ._.
Ada hal unik yang saya alami ketika berada di dalam rumah hantu. Ketika setan-setan yang menggoda sudah mulai terasa annoying dan tak tertahankan, maka suara saya yang semula adalah teriakan ketakutan, berubah menjadi tertawa. Kira-kira bunyinya seperti ini, "Aaaaaaaahhhhhhhhhha..ha...hahahaHAHAHAHAHA". Mungkin saking frustasinya, kenapa ini setan nggak mau pergi-pergi dan membiarkan saya menjalani rumah hantu yang normal *lah... saya jadi tertawa, mentertawakan hantu-hantunya, rumah hantunya, dan terutama mentertawakan ketakutan saya. Wong mereka juga manusia yang hanya menyaru, pura-pura jadi hantu, mengapa saya harus takut? Namun setelah tawa saya reda, saya kembali merasa takut.. dan begitu seterusnya. Di kehidupan nyata, saya rasa juga sama. Saya begitu jengkel dengan masalah yang datang terus-menerus, hingga di suatu titik puncaknya, saya akan meledak, entah menangis, atau malah tertawa. Tetapi ketika merasa seperti itu, sebenarnya saya ingin membaginya dengan orang-orang yang memiliki beban yang sama. Kami dapat sama-sama berteriak seperti di rumah hantu, kemudian tertawa menyadari semua kekonyolan, meskipun saya tahu, akhirnya ketakutan yang baru akan tumbuh kembali.
Dan..akhirnyaaa..rumah hantu kedua terlewati sudah. Kami keluar, bersimbah peluh, masih gemetar, namun dengan ekspresi lega dan senyum yang lebar. Kemudian kami saling bercerita dengan bersemangat, me-rewind apa yang terjadi di dalam, tentang betapa gelap dan seramnya, seperti apa hantu-hantunya, suasananya, apa yang dilakukan, kejadian lucu, kekonyolan teman, dan saling mentertawakan. Lalu kami berfoto di bawah spanduk yang dipasang penyelenggara, dengan bangga. Sepanjang perjalanan pulang dan saat makan, kami tak henti-henti mengulang cerita momen-momen "indah" kami di dalam rumah hantu, mengingat setiap detail terkecil. Itulah yang akan terjadi ketika akhirnya masa kepengurusan berakhir. Kami akan melihat ke belakang, ke kejadian-kejadian yang dulunya terasa berat dan menyakitkan, namun kini dikenang sebagai sesuatu yang indah. Kekonyolan, banyolan, rapat tiap sore, melembur tugas organisasi, dikejar deadline, semuanya akan menjadi semacam romantika yang sulit untuk terulang, menimbulkan sebuah kerinduan. Dan pada akhirnya kami akan menjadi seseorang yang memperoleh pengalaman lebih, karena telah berhasil melewati "rumah hantu". Sesuatu yang patut dibanggakan. Tidak setiap orang memperoleh kesempatan itu dan lebih sedikit lagi yang berhasil menyelesaikan, bertahan hingga akhir. Dan terkadang, setelah keluar dari "rumah hantu", akan ada keinginan untuk menjajal "rumah hantu" lain. Karena sesuatu yang mendebarkan itu membuat ketagihan :3.
***
Demikian untuk post kali ini. Tiada gading yang tak retak, maafkan jika ada kesalahan kata yang menyinggung perasaan. Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita semua, meskipun jelas bukan jalan yang mudah. Dan semoga kita diberi kekuatan dan semangat yang senantiasa lebih untuk mengarunginya, sampai pada garis finish, akhir tahun ini, hehehehe :D.
You're not alone, never alone actually :).
0 comments:
Posting Komentar