Pages

Rabu, 01 Januari 2014

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 6, Romansa Cinlok

Beberapa sore yang lalu, saya melewati jalan Palagan setelah pemilihan PU Psikomedia yang melelahkan. Sendirian, di tengah deraian hujan, berusaha menyelip-nyelip diantara kemacetan. Tiba-tiba saya ingat, jalan ini adalah jalan yang selalu saya lewati pada saat berangkat dan pulang dari tempat KKN nun di Turi sana. Memang pada akhir masa KKN, saya menemukan jalan lain yang lebih efektif dan efisien, 30 menit saja dari rumah jika ngebut dan yang paling penting, bebas macet. Tetapi saya bukan mau membahas segala macam jalan yang saya lalui. Saya akan menulis mengenai apa yang mendadak apa yang saya ingat sore itu. Mengenai cinta lokasi. Ya, cerita mengenai KKN rasanya kurang lengkap apabila tidak membahas yang satu ini. Dua bulan tinggal bersama dapat melahirkan persaudaraan yang erat, bahkan cukup memungkinkan untuk menghadirkan cinta diantara sepasang manusia. Disini, saya akan menulis mengenai cinta lokasi yang terjadi pondokan, dengan nama disamarkan, karena saya tidak ingin merusak kredibilitas yang bersangkutan. Sebut saja dua orang perempuan selain saya Mawar dan Melati. Sedangkan para lelaki, sebut saja Elang, Macan, Singa, dan Naga. Oke, nama bunga dan binatang, seperti regu pramuka.

Kisah cinta di pondokan kami ada dua jenis, yang berakhir bahagia dan sedih. Bersatu dan patah hati. Sepertinya akan lebih menyenangkan apabila dimulai dari kisah yang bahagia dulu. Kisah dari Melati dan Elang, sebut saja begitu. Pada awal KKN, Melati adalah perempuan yang sudah punya pacar, sedangkan Elang masih jomblo. Awalnya tidak ada yang istimewa dari hubungan mereka berdua. Sangat biasa, seperti teman yang belum lama akrab. Memang sih, Elang lebih suka memboncengkan Melati ketika ada acara. Dan lama-kelamaan lebih akrab dan perhatian dengan Melati dibanding dengan yang lain. Meskipun begitu, belum ada yang aneh dari hubungan mereka. 

Tetapi semua berubah ketika Melati dan pacarnya yang nun jauh di Jogja mengalami masalah. Melati yang sudah sejak dulu memendam perasaan tidak suka pada sifat pacarnya yang cuek, mencapai titik puncaknya pada KKN ini. Dia benar-benar telah merasa lelah menghadapi sifat pacarnya itu, padahal ia sudah memberi perhatian pada lelaki itu. Ditambah lagi dengan sifat Melati sendiri yang suka dan ingin diperhatikan. Akhirnya mereka putus. Oke, sebenarnya tidak sesederhana kalimat itu. Prosesnya memakan waktu yang lumayan, berhari-hari sesi curhat di malam hari, bertetes-tetes air mata, puk-puk di punggung, dan segala macam kalimat "kompor" dari saya dan Mawar, akhirnya mereka putus lewat SMS. Putusnya juga tidak semulus memotong tali dengan gunting yang tajam. Lebih seperti memotong kain dengan gunting tumpul. Susahnya minta ampun. Melati berkali-kali tergoda untuk balik lagi karena cowoknya menjadi bersikap manis. Bahkan cowok itu sampai menyusul ke Turi. Melati galau maksimal sepanjang hari, selama seminggu penuh. Saya yakin, kalau tidak ada saya dan Mawar mereka pasti balikan. Dan kita bisa langsung akhiri kisahnya disini karena hal-hal yang akan diceritakan berikutnya tidak terjadi.

Di titik ini, saya (dan Mawar juga) baru menyadari sesuatu. Bahwa perhatian yang diberikan Elang kepada Melati berbeda. Ada sesuatu yang lebih intens terbangun diantara mereka sejak peristiwa Melati mendadak menangis saat ada Elang dan Macan. Mereka menjadi lebih sering berdua, berboncengan kemana-mana, dan cara mereka saling menatap, sungguh berbeda. Elang meminjamkan bantal dan gulingnya untuk Melati, padahal kami yang lain tidak boleh menyentuhnya. Elang meminjamkan kupluknya untuk Melati. Memegang tangannya saat menonton film horor. Mengantar Melati kemana-mana. Membelikan roti, membuatkan mie. Meminjamkan jaketnya. Saya dan Mawar terkejut melihat perkembangan ini, karena pada saat Melati baru saja putus dengan pacarnya, kami sempat menjodohkannya dengan Elang. Hanya main-main tentu saja. Ketika kami bertanya tentang perasaan Melati, mulanya ia mengelak dan tidak percaya bahwa perhatian Elang yang luar biasa itu hanya ditujukan bagi dirinya. Tetapi lama-kelamaan ia luluh dengan segala perhatian itu. Dan mengakui bahwa ia suka pada Elang.

Jatuh cintanya sepasang insan, ternyata tidak sesederhana di dalam FTV. Jatuh cinta, jadian, lalu bahagia selama-lamanya. Tamat, habis perkara. Tidak seperti itu, apalagi di pondokan yang berisi 7 kepala. Pada saat kedekatannya dengan Elang mulai dipublikasikan, Melati mengakui kepada saya bahwa ia cemburu apabila melihat Mawar sedang dekat dengan Elang. Apalagi Mawar berstatus jomblo cantik, dan pernah mengaku pada kami bahwa Elang itu cowok paling ganteng di sub-unit, bahkan unit. Melati pernah merasa sangat cemburu saat Elang meminta waktu privat dengan Mawar, meminta maaf akibat telah membajak twitternya. Tetapi rasa itu akhirnya menghilang ketika kami bertiga blak-blakan mengenai hubungan Melati dan Elang. Mawar memang sempat mempertimbangkan Elang, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya setelah melihat sifatnya yang sukar ditebak dan sangat moody.

Ada sebuah ungkapan, ketika sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak. Ungkapan ini rupa-rupanya terbukti benar, setidaknya di pondokan kami. Setelah sebulan tinggal bersama, pasangan yang dimabuk asmara ini semakin lengket seperti perangko, membuat lima orang yang lain merasa tersisih. Seolah-olah ada sebuah gelembung tak kasat mata yang mengurung mereka berdua, membuat tembok pemisah antara mereka dan kami berlima. Lebih tidak nyaman lagi saat hanya bertiga dengan Melati dan Elang, karena selalu mengobrol berdua, meninggalkan orang ketiga sebagai obat nyamuk. Kami semua pernah mengalami "awkward moment" seperti itu sekurang-kurangnya satu kali. Naga malah lebih parah, semalaman ditinggal bertiga dengan Melati dan Elang karena yang lain sedang turun. Dan mereka tidur bertiga di depan. Saya tebak Melati dan Elang tidur berdampingan, sementara Naga tidur sendiri di pojokan. Singa malah lebih frontal menyatakan ketidaksukaannya. Saat itu ia sedang tidur siang dan ditinggalkan bertiga dengan mereka. Begitu terbangun dan menyadari mereka cuma bertiga, ia langsung bangkit dan masuk ke kamar cewek-cewek dimana ada saya, Mawar, dan Macan yang sedang tiduran, sambil berkata agak keras "Aku numpang tidur disini ya". Duh deek...

Ternyata ada seseorang yang kurang senang dengan bersatunya mereka. Sebenarnya bukan begitu juga sih. Lebih tepatnya merasa terkhianati dan ditinggalkan. Namanya Macan. Sebelum Elang dekat dengan Melati, ia adalah sahabat dekatnya. Mereka berdua sangat dekat, bahkan Elang tidak rela kalau Macan turun ke Jogja. Elang kadang ikut Macan turun dan bisa ngambek seharian jika tidak bisa ikut. Setelah Elang dekat dengan Melati, Macan ditinggalkan begitu saja. Tentu saja Macan geram dengan polah Elang tersebut. Ia mungkin merasa seperti ampas tebu yang telah dihisap habis sarinya *halah*. Ia juga curiga dengan kemungkinan Elang cuma "mempermainkan" Melati. Ah, yang itu tidak perlu diceritakan lebih lanjut disini. Yang jelas, kecurigaan terang-terangan Macan membuat Melati gundah, bahkan mengira Macan memilki rasa yang khusus (cemburu) dan hubungan yang istimewa (homo *ehem*) dengan Elang. Tentu saja bukan seperti itu, saya menjelaskan padanya.

Tetapi walaupun sempat menimbulkan berbagai prahara di pondokan, hubungan mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya, membuat para jomblo (kebetulan sub-unit kami paling banyak jomblonya) dan LDR-ers merasa sedikit ngenes. Bayangkan, pada malam penuh bintang, Elang dan Melati memotret bintang berduaan di halaman rumput rumah Pak Slamet, sementara saya dan Mawar ditinggal duduk di rumput berduaan (karena Naga sudah tidur, Macan dan Singa sedang pulang). Karena telah menjadi sepasang obat nyamuk dengan sukses, kami duduk di atas rumput sambil menatap bintang dan mengkhayalkan bulan madu. Absurd. Sebaiknya saya akhiri saja kisah yang ini sekarang, kalau tidak saya bisa keceplosan menceritakan berbagai kengenesan kami yang lain saat berhadapan dengan sepasang merpati itu.

Kisah cinlok selanjutnya datang dari Mawar, sang jomblo cantik. Bisa dibilang ia adalah kembang unit kami, karena di masing-masing sub-unit ia memiliki minimal satu penggemar. Statusnya macam-macam, ada yang sesama jomblo, ada pula yang sebenarnya sudah punya gandengan. Tetapi sang Mawar nan mewangi ini mematahkan hati semua lelaki yang mengharapkan cintanya dengan alasan tidak ada di antara mereka yang disukainya. Dari yang secara langsung menggombal dan menyatakan perasaannya, sampai yang diam-diam suka dan harus didukung penuh oleh temannya, bahkan sampai temannya itu menceritakan tentang perasaan si *tiiitt* (sensor) pada Mawar (tanpa persetujuan si (sensor lagi) tentunya). Saking banyaknya yang menaksir dirinya, Mawar sampai galau dan harus curhat kepada saya, Melati, atau Singa. Sepertinya tidak hanya anak KKN yang mengagumi Mawar, ada salah satu warga Dusun Kloposawit yang sering SMS dia. Padahal mas itu sudah punya istri.

Paling nyesek adalah ketika kami mendengar pengakuan mengejutkan bahwa ada salah satu teman pondokan yang suka pada Mawar dari awal KKN, dari pandangan pertama. Padahal ia tidak memperlihatkan rasa suka dan sikapnya pada Mawar biasa saja. Tenyata, sampai ada acara mandi bareng (baca: sebelahan) dengan teman dekatnya, khusus untuk sesi membahas Mawar. Sebenarnya kami yang lain sering curiga juga, mengapa mereka kalau mandi selalu bareng? Tidak mau bersebelahan dengan yang lain? Alibinya sih mereka membahas program, kebetulan memang mereka satu kluster. Ternyata mereka melakukan curhat soal Mawar selama mandi. *Piip* juga jadi sering meninggalkan pondokan dan main ke sub-unit lain karena merasa agak "gimana gitu" tinggal sepondokan dengan gadis yang disukainya, namun ia tidak kunjung memiliki keberanian untuk mendekatinya. Teman-teman dekat si *piipp* yang suka pada Mawar meminta Mawar yang sudah menolak mentah-mentah sejak awal, untuk mempertimbangkan soal lelaki itu. Katanya ia cowok setia, pandai, baik, meskipun mungkin kurang sesuai dengan kriteria Mawar. Temannya juga bilang bahwa sang cowok berenacana menembak Mawar saat perpisahan KKN nanti (pendengar langsung hening, shock *ziingg*). Tetapi Mawar tetap teguh pada pendiriannya dan meminta teman-teman baik si *piiip* untuk menyampaikan penolakannya dengan halus dan hati-hati, kalau bisa jangan sampai tersinggung. Dan hari itu, kami terpaksa melihat pemandangan wajahnya si *piipp* yang masam dan pahit seharian. Dan sejak hari itu ia semakin tidak betah di pondokan. Sedih :'(.

Sebenarnya masih ada kisah cinlok di tempat KKN ini, baik yang tersembunyi maupun yang sensasional (ini serius), tetapi sayangnya saya sudah capek mengetik panjang sekali. Saya hanya menceritakan kisah yang dapat saya observasi secara langsung (bukan partisipan lho ya) sehingga dapat memperoleh seluruh detailnya dari awal sampai akhir. Ternyata soal cinlok KKN itu bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan. Bayangkan saja, hidup serumah dua bulan dengan orang yang itu-itu saja, bisa saja cinta bersemi secara bertahap. Seperti kata peribahasa Jawa "Witing tresna jalaran saka kulina". Jadi bagi para jomblo-jomblo, KKN adalah saat yang tepat untuk mencari tambatan hati, seperti yang dikatakan sendiri oleh salah satu dosen saya sebelum kami berangkat KKN, "Carilah jodoh saat KKN, biar kalian tidak jadi STMJ (Semester Tujuh Masih Jomblo)". Meskipun tidak semua orang berhasil, ada yang habis KKN masih saja jomblo, ada yang habis KKN malah putus, ada pula yang habis KKN malah dikejar-kejar teman satu sub-unit padahal dia sudah punya pacar *ups*, saran dosen saya layak dicermati mblo, bagi anda sekalian yang tidak mau mengalami STMJ lho ya :D.

Ah cinta, kisahnya memang tiada habisnya.

0 comments:

Posting Komentar