Tiupan terompet membahana
Kembang api meledak di angkasa
Menandai datangnya tahun yang baru.
Saatnya mengganti kalender di dinding.
Saatnya mengganti kalender di dinding.
| a big-ass firework with loud explosion, probably from 0 km |
| A beautiful pink flower tree |
Untuk apa? Kata-kata itu berdenting di pikiran saya seperti lonceng ketika mendapati dua orang teman saya sudah menunggu di dekat pintu perpus pusat yang sudah tutup. Saya sempat jengkel, kalau tahu perpusnya sudah tutup, saya tidak usah kesini saja. Teman saya malah mengajak saya untuk tahun baruan sekalian di Tugu Jogja. Sebenarnya saya sedang malas, suasana hati saya sedang kurang baik karena suatu hal. Tetapi karena sudah terlanjur sampai di situ, akhirnya saya mengiyakan saja. Apalagi dia berjanji akan pulang sebelum jalanan macet, kira-kira pukul 10. Akhirnya kami bertiga tambah seorang lagi teman saya jadi berempat pergi ke Tugu Jogja setelah sebelumnya memarkir motor kami di sebuah restoran cepat saji yang berada di daerah Terban. Malam itu suasananya ramai meskipun lagi-lagi masih gerimis. Kami berjalan. Berfoto di Tugu. Berfoto di jembatan. Berfoto di jalan. Mengobrol. Bercanda. Tertawa. Sama seperti orang-orang lainnya, yang tampak gembira. Muda-mudi, Orang tua. Anak-anak. Ada penjual terompet, ada penjual kembang api, ada penjual makanan, ada tukang parkir, ada kru dari televisi. Lelah dan lapar segera mendera, sehingga kami memutuskan untuk makan di restoran cepat saji yang menjadi tempat parkir tadi. Makan ayam, minum soda, glek, mahal juga harganya. Salah satu peserta perjalanan ini, yang merupakan teman sefakultas teman SMAku, ternyata teman SMP teman sefakultasku. Bingung? Tidak apa. Kebetulan bertemu dengan dua orang teman sefakultas di restoran itu, setelah sebelumnya bertemu dengan sepasang kekasih dari fakultas yang sama di Masjid Kampus. Intinya? Dunia ini sempit, selalu, bahkan di akhir tahun yang penuh orang.
Selesai makan, sebenarnya saya mau langsung pulang saja. Tetapi jalanan mulai padat merayap, macet, karena saat itu jam pendek hampir menunjuk ke angka 11 dan jarum panjang di angka 6. Setengah sebelas malam. Saya tidak jadi pulang dan memutuskan sms bapak bahwa saya sampai rumah terlambat. Kamipun berjalan ke barat, terbawa arus manusia ke Tugu Jogja. Saat itu jalanan mulai sangat ramai, mobil dan motor tumpah ruah, berdesak-desakan tanpa bisa bergerak. Orang-orang membanjiri trotoar atau duduk-duduk di atas jembatan. Semuanya menghadap ke arah Tugu, mengharapkan satu hal. Lucu juga, sebegitu banyak kepala, tetapi hanya ada satu keinginan. Beberapa terompet berbunyi, beberapa kembang api diledakkan, tetapi belum masuk ke acara utama, belum sama sekali. Lama kami menunggu di pinggir jalan, di depan gerbang sebuah rumah, sementara jalan di depan kami makin penuh hingga macet total. Tampak beberapa orang turun dari atas motor dan mobil mereka, berdiri di jalanan. Anak kecil yang mengantuk, digandeng maupun digendong oleh orangtuanya. Pasangan-pasangan sejauh mata memandang, berdiri berdampingan di trotoar, atau duduk memeluk pasangannya di atas motor. Saya belum pernah melewatkan malam tahun baru di tempat umum seperti ini dan ternyata suasananya jauh lebih ramai dari yang saya kira. Penuh manusia, dimana-mana ada manusia. Bahkan di atap mobil ada seorang manusia, yang dengan pedenya mengabadikan dirinya sendiri. Mengabadikan dirinya sendiri, yang sedang ada di tengah lautan manusia lainnya.
| mas2 yang narsis di atap mobil! |
Sekali lagi saya bertanya, untuk apa? Ketika itu kembang api mulai meledak gila-gilaan. Sangat besar dan banyak, memekakkan telinga, menghiasi langit dengan berbagai warna gemerlap. Wajah-wajah tengadah, mulut menganga, kamera-kamera mengarah ke langit, seruan kagum, bunyi terompet dan klakson membahana.Semua orang mengarahkan matanya ke langit tanpa diminta, bersorak dan berseru kagum tanpa aba-aba. Walaupun jalanan macet, mengantuk, lelah, mungkin juga lapar, mereka tetap bersemangat menyambut pergantian tahun. Padahal hari cuma sedang berganti, sekedar melewati hitungan 24 jam yang lain. Seperti malam-malam yang biasa dilewati dengan tidur nyenyak dan tahu-tahu sudah pagi. Pergantian tahun hanyalah bergantinya angka di kalender, suatu sistem kesepakatan untuk menandai waktu yang dibuat oleh manusia entah berapa ribu tahun yang lalu. Ah, manusia memang suka dengan selebrasi. Berbagai peringatan dan perayaan sepanjang kehidupannya yang sesingkat embun pagi. Setiap budaya punya perayaan, setiap agama ada hari raya, setiap orang memiliki hari yang dianggap istimewa. Caranya merayakan juga tersendiri, dengan hingar bingar maupun keheningan. Dengan pesta maupun berbagi. Merayakan atau tidak merayakan, terserah masing-masing saja. Bukankah manusia adalah makhluk simbolis yang suka membuat segala hal yang nyata menjadi abstrak? Salah satu salurannya ya, perayaan.
| Fireworks! |
| more fireworks! |
Saya beranjak pergi ketika orang-orang masih terlena dengan kerlip kembang api. Segera menuju parkiran sebelum jalanan makin ruwet, penuh dengan orang-orang yang mengantuk. Rupanya malam tahun baru adalah ajang pelanggaran lalu lintas besar-besaran pula. Banyak yang menerobos jalur lawan (termasuk saya), membunyikan klakson keras-keras, dan naik ke trotoar. Bapak-bapak polisi yang bertugas membiarkan saja, terlalu sibuk mengatur lalu lintas agar tidak makin semrawut. Bahkan ketika saya mau lewat dan di depan motor saya ada kaki pak polisi yang sepertinya punya pangkat tinggi (pakaian beliau beda dibanding polisi lain), beliau menyisih untuk memberi saya jalan. Padahal saya baru saja menerobos jalur lawan. Jangan ditiru ya, tidak baik bagi keselamatan. Mungkin saat itu saya terlalu lelah, mengantuk, dan ingin cepat pulang, mungkin itu jugalah yang terjadi pada orang-orang yang menerobos jalur lawan seperti saya. Atau mungkin karena itulah yang dilakukan kebanyakan orang saat itu. Melanggar lalu lintas. Termasuk menyalakan kembang api dan meniup trompet. Singkatnya merayakan tahun baru adalah konformitas. Konformitas. Yeah, right.
Oh ya, dalam perjalanan pulang, saya lewat bunderan UGM lagi, tempat demo yang sudah saya ceritakan di atas. Tempat itu sudah berubah menjadi lautan manusia dan (lagi-lagi) ada pesta kembang api. Untung saya berhasil lolos dari sana. Tetapi, ironis ya, tempat yang semula merupakan tempat demo mengecam perayaan tahun baru berubah 180 derajat menjadi tempat perayaan tahun baru. Apakah ada yang salah? Apakah organisasi itu salah? Saya rasa tidak, karena itu tempat umum, memang sewajarnya menjadi titik kumpul seperti Tugu atau 0 km. Cuma saya merasa geli saja, tadi disini ada demo menolak, malamnya malah yang ditolak diadakan di tempat itu. Persis di tempat yang sama. Apa mas dan mbak yang demo tadi sore tahu ya? Kalau saya jadi mereka, saya akan merasa sedih. Berarti apa yang diserukan tadi tidak ada efeknya? Belum sepertinya. Karena untuk mengubah sesuatu yang sudah demikian besar itu tidak cukup dengan demo. Mungkin bisa dengan perda seperti di Aceh sana, dan diawasi oleh polisi serta bapak walikota, dan bapak-ibu yang berwenang lainnya (barusan baca koran mengenai pelarangan perayaan tahun baru di Aceh).
Hujan gerimis kembali turun ketika saya dalam perjalanan. Hujan yang menurunkan kabut dan seakan menghapus segala gempita yang baru saja terjadi. Membawanya dalam keheningan dini hari, tanpa terompet dan kembang api. Yang ada hanya jalanan lengang, sisa pesta, dan aspal basah. Kerumunan orang mulai menipis. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah euforia sesaat itu hanya mimpi yang berkerjap hilang ditelan fase tidur yang jauh lebih panjang. Kembali ke kehidupan. Kembali ke pergantian hari yang biasanya. Tahun baru memang seperti kembang api yang selalu menyertainya. Gebyar, gemerlap, warna-warni, dan mengagumnkan, namun hanya sebentar. Terlalu sebentar, hingga setelahnya tak tersisa apa-apa, hanya hidup yang biasanya saja.
Sampai di rumah, saya disambut oleh Weweh, kucing hitam-putih saya yang baru saja turun dari atap. Mungkin dia habis tahun baruan juga. Manis sekali ia, selalu ingin dekat-dekat saya seolah sedang rindu. Akhirnya kami tidur berdampingan di kasur. Tahun ini saya awali dengan tidur bersama kucing, dalam kedamaian dan ketenangan dini hari yang sesungguhnya, setelah menjalani perayaan konformitas yang melelahkan. Setelah menyimak kegigihan manusia yang berjuang dalam melakukan apa yang mereka yakini. Berlari, berdemo, dan berdesakan, semuanya di tengah hujan. Dan segala pertanyaan untuk apa dalam kepala saya. Untuk apa saya menulis ini? Tulisan panjang yang ngalor ngidul ini? Biarlah, ini adalah hak saya, yang memang saya yakini. Sebelum mengakhiri, saya mengucapkan selamat menempuh tahun (lain) yang baru. Semoga tetap hidup dan tetap bermakna.
ditulis dengan Weweh di pangkuan, hangat rasanya :)
0 comments:
Posting Komentar