Pages

Jumat, 03 Januari 2014

Time Do Flies

Hai kamu, yang dekat tetapi terasa jauh.
Hai kamu, yang lebih muda tetapi sudah sama dewasa, bahkan mungkin melebihi saya.
Hai kamu, saya menyapamu dan berharap dapat menyampaikan kata-kata ini.
Bukan disini, melainkan langsung dihadapanmu.
Sekarangpun kamu ada, setiap tanda-tanda kehidupan ada dalam dirimu.
Namun di antara kamu dan saya, sudah ada sebuah tembok yang tinggi.
Seperti tembok yang memisahkan kamar ibu dengan dapur.
Sudah terlalu tinggi untuk kupanjat apalagi kuruntuhkan.
Tahukah kamu, saya merindukanmu?

Hai kamu. Sejak masuk kuliah, kamu menjadi lebih pemurung dan pendiam di rumah. Kenapa denganmu? Saya yakin, kamu tidak sependiam ini ketika di kampus. Kamu adalah orang yang suka bercanda dan berusaha aktif. Setiap akhir pekan, kamu nyaris tidak pernah di rumah. Saat di rumahpun, kamu lebih banyak membaca novel-novel itu. Kamu menjadi lebih melankolis. Kamu menjadi serius. Banyak tugas yang harus kamu kerjakan. Begitulah hidupmu selama hampir 6 bulan ini. Bahagiakah kamu? Saya sedih melihatmu murung. Apakah harimu di kampus menyenangkan? Saya ingin bertanya, tapi saya tahu, hanya kebisuan yang akan menjawab. Bukan kamu.

Hai kamu. Sudah beberapa hari kamu libur, begitupun saya. Tetapi semuanya tidak sama lagi seperti dulu. Kemana anak laki-laki yang suka bermain FM dari pagi sampai siang? Kemana anak laki-laki yang pura-pura siaran radio? Yang genjreng-genjreng main gitar? Yang memandang hujan dari jendela? Yang suka membuat percobaan masakan-masakan aneh? Yang menonton film di TV? Yang mengobrol dengan saya? Kemana, hai kamu? Ah, itu kan entah berapa tahun yang lalu. Kamu berubah, sesederhana itu. Kamu mendewasa, meninggalkan saya yang terperangkap dalam kenangan lama tentang kamu. Kamu yang dulu. Yang bermain dengan saya waktu liburan tiba. Yang mengutarakan penyesalan ketika hari libur kita tak lagi sama. Kamu begitu berubah. Kita bahkan tak saling berbicara, tak lebih dari beberapa patah kata, hari ini, hari kemarin, dan kemarinnya lagi. Kamu menjadi tidak berbeda dengan sepupu yang pernah tinggal disini. Begitu dekat, sekaligus begitu asing. Apakah hanya saya yang merasa begitu, hai kamu?

Hai kamu. Saya ingat ketika kamu masih dalam masa kegalauan yang memuncak. Kita mengobrol banyak, dan kamu curhat kepada saya. Ah, betapa rindu masa-masa itu. Saya bisa berperan dengan selayaknya pada saat itu. Menjadi seseorang yang memang seharusnya mendengarkanmu dan memberi saran yang mungkin berguna. Tetapi sekarang, selepas kamu mencapai impianmu, kita tak pernah lagi saling bicara banyak. Seolah-olah kamu tidak membutuhkan saya lagi. Salahkah kalau saya sekarang lebih banyak mengobrol dengan kucing jantan saya? Meskipun ia tak mungkin menyahut. Kamu juga tidak pernah lagi mengobrol dengan kedua orangtuamu. Kamu berkurung dalam surga sempitmu sendiri setiap hari, kamar 3x3 m, kamarmu.

Hai kamu. Saya mempelajari psikologi perkembangan. Saya mempelajari remaja. Saya mengetahui mengapa kamu seperti itu. Tetapi mengetahui berbeda dengan memahami. Motif yang menyebabkanmu seperti itu, hanya kamu yang tahu. Saya tidak mengharapkanmu menjadi kamu yang dulu. Tidak sama sekali. Manusia selalu berproses, dan selama dalam proses ia dapat berubah menjadi pribadi yang berbeda. Begitupun kamu, yang kini terlihat lebih matang. Tetapi apakah kamu memang mengharapkan hubungan kita lebih beku dari es batu? Kita memang sejak dulu tidak dekat setiap hari. Selalu ada pertengkaran dan sakit hati. Tetapi sekali lagi, tidakkah kamu ingin lebih dekat dengan orang-orang yang kamu sebut keluargamu? Meskipun kamu dan saya akan segera terpisah jalan menuju hidup kita masing-masing.

Hai kamu. Tadi saya melihatmu membuka album-album foto lama. Entah apa yang kamu cari, saya tidak bertanya, karena sekali lagi hanya kebisuan yang akan menyahut. Bukan kamu. Hai lagi untukmu, apakah kamu sedang merindukan masa lalu? Saya juga. Malam ini, di sini. Dan kamu ada, terlelap di sebelah kamarku.

Hai kamu. Maaf jika saya memiliki salah padamu. Mungkin saya lebih dahulu meninggalkanmu. Tetapi waktu memang telah terbang jauh, membawa kita pada arus hidup masing-masing. Kamu dan saya telah tumbuh menjadi orang yang sama sekali berbeda. Meskipun darah kita adalah sama. Iya kan kamu, adik lelakiku?

Selamat atas status mahasiswamu yang baru, sebentar lagi kamu akan menerima IPK. Kamu sudah menjadi orang yang jauh lebih baik dari kakakmu. Bahkan sejak kita kecil. Semoga kamu sukses, dimanapun kamu berada. Dan semoga kamu bahagia, dengan kehidupan apapun yang kamu pilih sendiri.



You are standing in the middle of another world
It's hard to feel your real emotions
You are smiling in a shirt wet with bitter tears
Let me help you find a place to call it home

We are all trapped in a maze of relationships
Life goes on with or without you
I swim in the sea of the unconscious
I search for your heart, pursuing my true self

0 comments:

Posting Komentar