para peserta jalan-jalan yang paling yahud
dari kiri ke kanan: saya, yuni, febri, hani, tyas
dari kiri ke kanan: saya, yuni, febri, hani, tyas
Long weekend lalu, tanggal 9-12 Mei 2013, menjelang di pelupuk mata seperti gajah lewat yang sukar diabaikan. Pokoknya liburan kali ini saya harus punya kegiatan yang lain, tak terlupakan, dan kalau bisa keluar dari Yogya. Gayung bersambut, salah seorang teman bernama Hani mengajak jalan-jalan ke rumahnya di Temanggung dan sekalian mampir ke rumah Tyas di Magelang serta Ketep. Ajakan itu disambut meriah dan antusias oleh banyak orang. Diputuskan kami semua akan berangkat hari Sabtu karena Jumatnya ada praktikum.
Malang tak dapat ditolak, rombongan touring yang semula berjumlah sekitar 8 orang berkurang menjadi hanya 5 pada hari H. Ada yang batal karena sakit, kedatangan teman, seleksi UKP, dan karena temannya sedang ikut seleksi UKP. Lima orang itu adalah Hani, Tyas, Yuni, Febri, dan saya sendiri tentu saja. Meskipun jumlah peserta berkurang, kami tetap maju terus pantang kendur. Maka dimulailah perjalanan mengarungi dua kota yang terletak di antara empat gunung; Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro.
Tujuan pertama kami adalah tempat wisata di daerah pegunungan Magelang yang dingin, Ketep Pass. Dari Yogya ke Magelang jalannya mulus, bagus, lurus, seperti direbonding. Tantangan sebenarnya adalah menempuh perjalanan dari Blabak sampai Ketep dengan medan yang naik turun seenak perut dan jalan yang sudah ambrol. Si Vega, motor saya yang tercinta, dipaksa mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendaki tanjakan demi tanjakan. Dia berhasil juga, meskipun sempat ketinggalan jauh dari dua motor teman dan ngos-ngosan begitu sampai tempat parkir. Kami menghabiskan waktu di Ketep dengan berfoto-foto ria selama hampir dua jam. Benar-benar dua jam itu untuk foto, kami tidak masuk ke museumnya, bahkan saat makan pun masih juga foto. Hasrat narsis kami yang meluap-luap terpuaskan saat itu juga. Setelah capek foto-foto, kami turun lagi ke Magelang untuk melanjutkan perjalanan ke Temanggung. Kali ini, saya membonceng Hani sedangkan si Vega yang bohay dikendarai oleh Febri.
Setelah melewati kota Magelang dan bukit Tidarnya, serta jalan ke Magelang-Semarang yang macet, penuh truk-truk raksasa berasap hitam, sampailah rombongan kecil kami di jalan alternatif menuju Temanggung. Jalan ini tidak terlalu lebar dan agak berkelok-kelok, tapi indah sekali, dengan sawah di kanan kirinya. Udaranya juga sejuk dengan angin yang semilir. Pokoknya, kalau kata adik saya itu namanya "jalur galau". Ternyata si jalur galau itu lumayan panjang, masih ditambah perjalanan menuju kota Temanggungnya. Kota ini ternyata tidak seramai yang saya bayangkan. Jalannya lancar tanpa macet, bangjonya sedikit, di pinggir jalan banyak pohon rindang. Meskipun kalah ramai dibanding Jogja, salah satu bangjo di Temanggung, kalau tidak salah di dekat terminal, bisa bersuara. Maksudnya ada toa alias pengeras suara yang mengeluarkan suara seorang ibu-ibu. Beliau menyampaikan himbauan kepada pengendara selama lampu menyala merah. Kalau di Jogja itu semacam saat berhenti di palang perlintasan kereta api.
Akhirnya, setelah perjalanan yang memegalkan pantat, kami semua tiba di rumah Hani. Rumahnya ternyata tidak jauh dari alun-alun Temanggung dan ada di samping Pendapa Kabupaten (lupa namanya :p). Bahkan jika melongokkan kepala keluar pagar, alun-alunnya sudah kelihatan. Begitu menginjakkan kaki di pintu depan, kami semua langsung disambut ibunya dan ayahnya Hani yang ramah. Hal pertama yang kami lakukan begitu tiba disana adalah cuci muka (biasalah cewek-cewek), kemudian yang kedua adalah makan karena sudah ditawari oleh ibunya Hani. Selesai makan perut kenyang, kantuk menyerang. Sebagian besar dari kami, kecuali Tyas yang malah sibuk telpon-telponan dengan pacarnya (Oyol) dan Hani, tepar di kamar adiknya Hani. Saat saya sedang tidur-tidur ayam, adiknya Hani masuk ke kamarnya dan langsung mengeluarkan suara terkejut sambil berkata, "Woh iyo, ana mbak-mbak e, sori yo". Lalu Hani berkata, "Piye e?" dan adiknya menjawab "Lali e.." (kalau tidak salah begitu, ingatan tentang itu sudah agak mengabur). Siang sampai sore itupun saya habiskan dengan tidur, saking capeknya. Maklum anak rumahan, paling jauh naik motor ke Klaten.
Sorepun tiba, diiringi rintik hujan yang jatuh dari langit. Rencananya sore ini Hani akan mengajak kami semua ke rumah tantenya untuk mancing dan bakar ikan. Namun salah satu dari kami yaitu Febri belum bangun dari tidurnya, dan kami semua tidak tega membangunkannya. Lagipula di luar masih hujan. Kamipun memutuskan menunggu sampai hujan reda sambil nonton TV dan bermain-main dengan Patty, kucing betina milik Hani.
Hujan reda dan Febri sudah bangun ketika jam menunjukkan pukul 16.00. Tante Hani menawarkan untuk menjemput kami dengan mobil. Mulanya Hani ingin naik motor sendiri, namun setelah melihat cuaca yang masih mendung dan mengancam akan menurunkan persediaan airnya kapan saja, ia memutuskan untuk menerima tawaran itu. Dan dimulailah cerita semalam di Temanggung kami berlima. Tunggu di Part II ya :)
Sebagian (kecil) dari foto narsis di Ketep:
Patty, kucingnya Hani:
0 comments:
Posting Komentar