Nah nah, lagi-lagi blog ini terabaikan. Tadi saya tidak sengaja nonton YKS dan ada lagu dangdut oplosan. Langsung saya ingat pada KKN dan tulisan ini, yang sudah lama mangkrak. Sekarang saya terpikir untuk melanjutkan, mumpung sedang ingin. Pada tulisan ini, saya ingin menceritakan mengenai program-program yang kami lakukan pada saat KKN. Karena esensi dari KKN adalah programnya. KKN tanpa program seperti sayur asam tanpa asam, dengan kata lain, tidak mungkin. Mau dapat nilai E atau bagaimana? Oke, saya sudah terlalu banyak melantur, mari langsung saja disimak...
Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan saya sebelumnya, ketika mendapatkan lokasi KKN di tempat ini saya langsung otomatis berpikir "What the hell? Pfft, what to do? what to do?". Sebelum KKN mulai, saya (dan teman-teman) mendapatkan pembekalan dari fakultas. Mengenai program, pihak fakultas ingin kami membuat program yang "nyikologis" dan tidak hanya mendompleng program kluster lain. Intinya, kami dituntut untuk berkontribusi sesuai ilmu kami. Hal itu membuat saya merancang beberapa program (dalam pikiran) yang sangat, sangat idealis, sangat psikologis. Saya berangkat ke lokasi KKN masih dengan mindset saya-mahasiswa-psikologi-maka-saya-akan-membuat-program-yang-nyikologis, semacam itulah.
Ternyata, kenyataan di lapangan sangat berbeda dengan idealisme saya. Sudah ada beberapa program yang harus dikerjakan kluster soshum, yang sudah disusun oleh kormater. Program tersebut cukup banyak untuk dibagi kepada seluruh mahasiswa kluster soshum. Lagipula di setiap sub-unit, yang dari soshum hanya ada 2-3 orang, sehingga pembagiannya mudah. Alhasil, saya melakukan program-program yang tidak terkait dengan psikologi. Membuat perpustakaan desa. Mengajar TPA. Membuat media promosi susu kambing. Membuat cookies. Membuat papan nama masjid. 17 Agustusan. Jalan-jalan ke kandang kambing (ini serius). Ada sih satu yang psikologi, tapi kurang optimal pelaksanaannya, gara-gara tidak ada saat yang tepat, dan gara-gara saya sendiri malas melaksanakan.
Alhasil, kerjaan saya waktu KKN adalah membantu teman-teman kluster sainstek melaksanakan program mereka yang memang banyak dan butuh tangan-tangan ekstra untuk menyelesaikannya. Membuat nomor rumah dan memasangnya, pelatihan komputer, plangisasi, sensus, peta, dan sebagainya. Saya makin terampil menggunting dan mengelem gara-gara program membuat nomor rumah dengan bahan semacam busa. Kaki saya menjadi kuat dan sehat karena jalan-jalan saat sensus dan memasang nomor rumah. Saya juga jadi berinteraksi dengan warga, dari rumah ke rumah. Saya jalan-jalan naik motor untuk survei lapangan saat membuat peta. Mengajari bapak-bapak membuat logo dengan corel draw. Melelahkan, tetapi juga menyenangkan.
Saya sangat bersyukur, mendapatkan teman satu sub-unit yang mau saling membantu. Kebanyakan program kami lakukan bersama-sama, kecuali jika ada yang berhalangan. Kami jalan-jalan melakukan sensus, memasang nomor rumah, mengajar TPA, pergi ke SD, ikut 17 Agustusan, memberikan penyuluhan, datang ke pertemuan warga, bertujuh. Bahkan kami pernah membuat DPL datang sekali lagi ke pondokan, karena pada saat kedatangan beliau yang pertama, kami semua sedang tidak ada. Kami berlima, karena Gantang sedang ada acara dan Rizka menjemput ustadzah pengajian di bawah, sedang memasang nomor rumah, ketika kabar kedatangan DPL sampai kepada kami. Tentu saja kami langsung shock dan pulang ke pondokan, mendapati ibu dosen sudah pergi, membuat kami cemas dan lumayan takut juga. Untung saja ibu DPS bersedia datang lagi besok sorenya dan memantau (padahal masuk pondokan saja tidak).
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, kontribusi kami di tempat KKN cukup minim. Tidak ada program yang "uwow, keyeen, luarr biasa". Tetapi seperti yang dikatakan salah satu pemuda dusun kami, "Mas/Mbak KKN ini programnya saya akuin biasa saja, tidak kelihatan. Tapi saya senang, karena Mas dan Mbak mau "srawung" (bergaul) dengan warga di sini". Yap, KKN memang tidak melulu soal program. Itu penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa dapat berbaur dengan masyarakat di sekitarnya. Bagaimana mahasiswa dapat meninggalkan kesan baik dan diterima oleh masyarakat. Syukur-syukur dapat memberdayakan, itu akan sangat lebih baik. Percuma saja programnya keren, bagus, tetapi tidak dapat srawung dengan masyarakat, pasti eksekusinya akan berantakan. Karena bagaimanapun, masyarakat adalah sasaran dari program, tanpa kerjasama dari mereka maka program sebagus apapun akan sia-sia.
Terus terang, saya merasa sangat bahagia dan bangga ketika ada seorang warga yang memuji kami sebagai tim KKN yang semanak dan mau bergaul dengan warga. Itu semua berkat jasa duta besar kami, Mukhlis, yang menghubungkan semua anggota sub-unit kami pada warga, dengan bahasa Jawanya yang keren dan diplomasinya yang memikat. Gantang juga, yang ramah, lucu, dan dirindukan semua orang, baik tua maupun muda. Maya sang kormasit, yang mewakili segala negoisasi dengan pak dukuh dan warga. Rizka yang sabar dengan anak-anak. Memey yang selalu menjadi partner Mukhlis, dekat dengan pengurus masjid dan pemuda-pemuda. Revta, yang meskipun tidak bisa bahasa Jawa, komunikasinya dengan pihak yang "berkuasa" sangat bagus (dan sangat membantu saya, terima kasih, you're truly a communication science student :p). Dan saya? Berusaha menjadi partner yang baik bagi mereka semua, mungkin :).
Regarder gratuitement DONBASS Disponible
-
[Gratuit * HD *] Surveillance DONBASS (2018) Film complet. DONBASS peut
être regardé pour vous inscrire gratuitement. Regarder DONBASS avec la
qualité HD....
7 tahun yang lalu
0 comments:
Posting Komentar