Pages

Jumat, 11 Oktober 2013

Ulat Bulu di Kebun Salak; Kisah 1, Adaptasi

Lagi-lagi saya malas menulis blog.. Sudahlah, tidak perlulah saya beralasan lagi, dengan segala macam skripsi ini, skripsi itu. Langsung saja saya tulis kisah di tempat KKN yang lama tertunda, bahkan mungkin ada yang terlupa *mendadak puitis*

Seperti layaknya memulai apapun, mulai sekolah, kuliah, bekerja, maupun hubungan, memulai KKN juga perlu adaptasi. Bagi saya minggu pertama adalah saat yang terberat. Bayangkan saja, terjebak serumah dengan orang-orang yang tidak dikenal, di lingkungan yang asing, belum tahu apa yang mau dilakukan, dan tanpa kegiatan yang jelas. Saya masih ingat dengan jelas, sejelas melihat monitor laptop ini, malam pertama tidur di pondokan. Sama sekali tidak bisa tidur, pikiran saya melayang kemana-mana, mengingat-ingat kejadian hari itu. Bertemu dengan perangkat dusun untuk pertama kalinya, saya malah membuat malu diri sendiri dengan tak sengaja "melontarkan" biji salak yang sedang dimakan ke arah Pak RT (sampai sekarang kejadian ini masih diingat oleh teman-teman --|||). Sambutan antusias dari anak-anak di dusun Kloposawit. Acara kumpulan dengan pemuda RW 05 malam harinya. Segala pikiran dan kecemasan bercampur aduk dalam benak saya. Bagaimana kalau saya tidak dapat akrab dengan teman-teman serumah? Bagaimana dengan program? Bagaimana.. bagaimana? Ditambah hawa yang sangat dingin menggigit dan selimut yang tidak memadai (tipis sekali), saya jadi semakin tidak dapat memejamkan mata. Akhirnya saya bisa tidur juga meskipun tidak nyenyak. Bahkan dini harinya, terjadi mati lampu. Gelap sekali, hanya hitam saja yang nampak, saya merasa sedang bermimpi, atau sudah mati? Untung saja saat itu saya tidak membayangkan yang aneh-aneh.

Anak-anak di dusun tempat KKN saya sangat antusias. Setiap hari mereka bermain-main ke pondokan, bahkan kami sampai harus mengusir dengan halus karena mainnya sampai malam. Di hari pertama datang, saya sudah diejek "monyet" oleh mereka. Ya ampun, belum apa-apa ini... Waktu mengajar TPA ada anak perempuan yang agresifnya luar biasa, sampai saya takut sendiri. Orang tuanya baik-baik saja, walaupun mereka sering menanyakan soal rumahnya, kok mau tinggal disana? Katanya rumah itu angker. Oke, kami sudah tahu, tidak usah ditegaskan. Bapak dan ibu semang kami, Pak Slamet dan Ibu Karsini baik sekali, apalagi setelah kami bantu-bantu cuci piring dan menyapu halaman depan pondokan. Masakannya juga enak, jadi saya tidak bermasalah dengan makanan, meskipun sempat tidak buang air besar selama 3 hari. Katanya sih belum betah.

Pada pagi kedua, atau ketiga ya?, kami sempat mengalami serangan fajar oleh anak-anak. Gara-garanya teman saya Mukhlis berjanji pada anak-anak untuk berjalan-jalan setelah Sholat Subuh, dengan syarat minimal 5 anak harus ikut sholat berjamaah di masjid. Ternyata tidak seorangpun yang ikut sehingga para cowok merasa lega dan bebas untuk tidur lagi. Tetapi kenyataan tidak seindah bayangan, pukul 5 pagi anak-anak itu datang ke pondokan dan menggedor pintu sambil berteriak-teriak "Mas KKN, Mas KKN" keras-keras. Ketiga cowok (saat itu Revta belum tiba) pura-pura tidur, mereka malas bangkit karena udara di luar (dan dalam) masih sangat dingin. Tetapi bukannya pergi, anak-anak itu malah semakin bersemangat. Gedor-gedor di pintu merambat ke jendela, bahkan salah satu anak sempat membuka jendela meskipun ia tidak masuk. Akhirnya karena tidak ada yang menyahut, mereka semua pulang. Kami semua sudah senam jantung saking cemasnya. Siangnya, mereka protes kepada Mukhlis, tetapi karena persyaratan memang tidak terpenuhi, mereka menyerah dan membuat perjanjian yang sama. Besoknya, anak-anak datang lagi di pagi hari untuk melakukan serangan fajar meskipun mereka juga tidak menepati janji. Karena sudah sangat menyebalkan, akhirnya Maya keluar untuk mengusir mereka dengan halus (tidak halus-halus amat sih). Hidup ibu kormasit!

Siang hari selalu kami jalani dengan kebosanan, karena memang belum ada program maupun kegiatan. Paling-paling hanya bermain dengan anak-anak yang sering datang ke pondokan. Menonton film atau tidur siang. Tiadanya kegiatan membuat kecemasan saya menumpuk. Saya takut pada banyak hal, soal program, soal masyarakat, dan soal teman. Pelaksanaan program masih terasa abstrak. Penerimaan masyarakat pada kami dan program kami. Penyesuaian diri dengan teman sepondokan, karena terus terang saja, saat itu saya merasa belum sreg dengan salah satu teman (tidak usah disebutkan).Cara kami bekerja sama nantinya. Perasaan rindu rumah, home sick yang akut. Pokoknya saya benar-benar "on the edge". Semua itu tumpah ketika saya pulang ke rumah sebentar untuk mengambil selimut yang lebih tebal (saya benar-benar susah tidur karena kedinginan). Di hadapan ibu, saya menangis dan mencurahkan semuanya. Perlu waktu lama untuk menenangkan diri sendiri, tetapi akhirnya saya berhasil. Untung saja saya KKN di tempat yang dekat dengan rumah. Coba kalau saya KKN di tempat yang jauh, mungkin saya akan depresi. Alloh memang tahu seberapa batas kekuatan dan apa yang terbaik bagi hamba-Nya :').

Adaptasi di tempat KKN ini memang tidak semudah yang saya bayangkan. Saya memang orang yang rapuh dan belum pernah tinggal jauh dari rumah (halah..). Tetapi pada akhirnya saya berhasil eek disana. Kemajuan pesat, saya sudah betah! Teman-teman lain tampaknya tidak sesulit saya dalam beradaptasi, meskipun Gantang pernah bilang bahwa ia awalnya juga tidak betah. Yah, itu hanya yang tampak dari luar, sekeras apa sebenarnya mereka berusaha untuk menyesuaikan diri, mana tahu? Yang jelas saya berhasil beradaptasi, kecuali dengan udaranya yang dingin, kalau dengan yang itu kami tak akan pernah terbiasa :p.

(to be continued)

Bonus Foto:

 jalan pagi, di pagi pertama
 masjid Al-Istiqomah pagi itu
 narsis sebentar :D
 trio macan, rawwrr
 pertemuan pemuda RW 05
 bersih-bersih masjid

1 comments:

Anonim mengatakan...

PokerStars Slots Rigged - StillCasino 온카지노 온카지노 우리카지노 우리카지노 6600cowboys rams over under slot machines

Posting Komentar